LOGIN"Bang Komandan!"Tidak ada tanggapan berupa kata-kata dari Ziandra. Sebagai jawaban, tangan kekar Ziandra mulai bergerak lancang, menyusup masuk ke balik atasan piyama yang dikenakan Almira, mengusap pinggang rampingnya dengan sentuhan yang membakar kulit."Hemmmph..." Almira mendesah samar tanpa sadar, merasakan sensasi aneh seperti aliran arus listrik bertegangan tinggi yang menyengat seluruh pembuluh darahnya.“Bang Komandan, liar juga tapi aku suka.”Sialnya, suara desahan halus itu justru menjadi pemantik yang membuat Ziandra benar-benar hilang kendali. Pegangannya di pinggang Almira semakin erat, siap membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih jauh."Pak, saya sudah buatkan bubur un—"Bi Sumi yang baru saja datang dari arah dapur dengan membawa senampan bubur ayam hangat mendadak menghentikan ucapannya di udara. Matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan 'panas' di atas sofa pagi-pagi buta.Almira dan Ziandra sama-sama membeku, lalu menoleh ke samping secara bersamaan den
Apa yang terjadi?" gumam Ziandra dengan suara serak yang hampir habis saat kelopak matanya perlahan terbuka.Rasa pening masih menggelayuti kepalanya, namun pandangannya langsung tertuju pada sesosok gadis yang tertidur pulas dalam posisi duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi sofa tepat di samping lengannya. Itu Almira. Ziandra menyentuh keningnya sendiri yang kini tertutup selembar handuk kecil yang sudah mulai mengering.Ia mencoba mengingat kembali kejadian malam hari melalui potongan memori yang samar. “Dia merawatku semalaman?” batin Ziandra. Detak hatinya mendadak mulai bergetar asing. Matanya menatap Almira intens, memindai garis alisnya yang tegas namun cantik, bulu matanya yang lentik, lalu turun pada belahan bibir tipis istrinya yang sedikit terbuka.Glek!Ziandra menelan ludah dengan susah payah saat memori malam itu mendadak berputar lebih jelas. Ia ingat bagaimana Almira mengunci pergelangan tangannya dan mencium bibirnya secara brutal demi menyalurkan air min
"Mimpi apa ya, aku nikah sama Komandan Militer?"Ziandra hanya mengangguk kaku mendengar pesan dari Pak RT dan Pak RW, sebuah gerakan yang lebih mirip seperti robot yang kehabisan baterai daripada sebuah jawaban.Begitu masuk ke dalam mobil SUV hitam yang kedap suara, atmosfer seketika berubah.Ziandra duduk di pojok kanan, Almira di pojok kiri. Jarak di antara mereka cukup luas untuk menampung satu unit motor matic."Bang Ziandra," panggil Almira memecah keheningan."Jangan panggil aku dengan sebutan itu," sahut Ziandra tanpa menoleh, matanya fokus pada layar ponselnya."Terus panggil apa? Sayang? Mas? Hubby? Atau... My Commander?" Almira mencoba berbagai nada suara, mulai dari yang imut sampai yang dibuat-buat seksi.Ziandra memejamkan mata sejenak, tampak sedang mengumpulkan kesabaran yang tersisa di dasar jiwanya. "Panggil namaku atau jangan bicara sama sekali.""Oke, Bang Ziandra. Galak amat sih, padahal kan baru sah. Mana maharnya cuma logam mulia doang, nggak ada cokelat-cokela
"Ulangi panggilan kamu barusan?”“Pak Kulkas dua pintu.”“Beraninya kamu,” geram Ziandra. "Bapak boleh tinggi, boleh ganteng, dikit sih menurut saya, tapi jangan sombong ya. Saya memang kayak anak ayam, tapi saya ini anak ayam petarung! Lagian, saya ke sini karena mau nolongin Nenek saya, dan kebetulan mau nolongin Bapak juga biar nggak dianggap jomblo karatan sama ibu Bapak."Nyonya Stella menutup mulutnya, menahan tawa. Belum pernah ada orang yang berani memanggil Komandan Ziandra dengan sebutan 'Kulkas Dua Pintu'."Ma, keluarkan dia. Aku tidak mau menikah dengan gadis yang otaknya hilang separuh," desis Ziandra tajam."Keputusan sudah bulat, Ziandra. Ingat hutang budi kakekmu pada mendiang suami Nenek Sarmila. Jika kamu menolak, Mama akan pastikan karir kamu di dunia militer selesai dan fokus jadi pengusaha," ancam Nyonya Stella tenang namun mematikan. “Mama sudah mengurus berkas pernikahanmu.”Ziandra terdiam. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya terlihat menonjol. Ia menatap
Almira menatap Ziandra dengan sorot mata sendu. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu sebelum ia menjadi istri Ziandra. "Ini surat tagihan pasien atas nama Nenek Sarmila,” ucap salah satu pegawai rumah sakit bagian administrasi.“Makasih, Mbak,” jawab seorang gadis cantik meski wajahnya tanpa make-up dan rambut di kuncir seadanya.Lembaran kertas berlogo Rumah Sakit Medika itu tampak seperti vonis hukuman mati di mata Qiana. Deretan angka yang tercetak di sana membuat matanya yang besar semakin melotot, nyaris keluar dari sarangnya.Rp. 185.000.000,00.Almira menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ia memandang pintu ruang ICU tempat Nenek Sarmila terbaring.Nenek Sarmila, satu-satunya manusia di bumi ini yang memberinya nama, memberinya rumah, dan memberinya alasan untuk tetap bernapas setelah ia mengalami kecelakaan setahun lalu tanpa satu pun ingatan di kepalanya."Seratus delapan puluh lima juta..." gumam Almira pada udara kosong. "Gimana cara bayarnya? K
"Ya ampun, Bang Komandan kenapa?!" teriak Almira panik setengah mati melihat tubuh tegap suaminya terjerembab ke atas lantai lobi dalam rumah.Almira langsung berlutut, tangannya menyentuh kening Ziandra yang biasanya sejuk sekeras batu es. "Aduh, panas banget badannya kayak pantat wajan di atas kompor! Ini Abang habis ikut latihan militer apa habis ikut lomba debus di gurun pasir sih?!"Dengan susah payah, Almira memapah dan mengangkat tubuh berat Ziandra naik ke atas sofa panjang di ruang tengah. Napasnya tersengal-sengal."Aduh, mana Bi Sumi udah pulang ke rumahnya lagi," gumam Almira celingukan bingung. "Ok, tenang Almira, rileks. Anggap aja ini lagi evakuasi korban perang ganteng."Almira bergegas mencari kotak obat di lemari ruang tengah. Setelah membongkar isinya, ia mengeluarkan sebotol obat penurun panas dosis tinggi. Ia kembali ke sisi sofa, berlutut di samping wajah suaminya yang tampak luar biasa pucat namun tetap terlihat menawan."Bang, bangun, Bang, " bisik Almira, mene
“Mereka benar-benar profesional.”Ziandra kembali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memastikan posisi musuh. Namun, dahi sang komandan langsung berkerut dalam. Mobil sedan hitam itu sudah menghilang, melebur di antara padatnya arus kendaraan yang mengantri masuk ke kawasan pusat perbelanjaan
Ziandra sedikit merundukkan posisi duduknya sendiri sembari menekan kepala Almira agar tetap berada di bawah garis kaca jendela. Ia harus menjaga Almira dari segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi jika peluru tiba-tiba menembus kaca mobil.Almira yang diperlakukan seperti itu tentu saja ter
"Saya, Mayor Ziandra. Suami dari gadis ini. Dan saya rasa, istri saya tidak butuh kenalan dengan dokter yang terlalu ramah seperti Anda."Dokter Adrian tidak langsung menarik tangannya. Alih-alih gentar oleh cengkeraman kuat Ziandra yang bisa saja meremukkan tulang pergelangan tangan pria biasa, ia
Rahang Ziandra mengeras. Urat di lehernya tampak menonjol. "Tidak bisa, Ma. Ini urusan sangat penting."Di seberang sana, Nyonya Stella sama sekali tidak terdengar gentar. "Padahal Mama ingin bertemu dengannya.""Masalah ini tidak boleh Almira tahu sedikit pun.""Kenapa?""Mama masih bertanya kena







