Masukmeraih travel bagnya, dengan membantu Agung berjalan, ia meninggalkan unit apartemen, setelah meninggalkan catatan untuk Dimas, karena Nazha lupa meminta nomer ponsel Dimas.
Tiga puluh menit berlalu, Reymon sudah di depan apartemen ada rasa heran kenapa Nazha bisa tingal di apartemen yang cukup mewah tapi rasa penasarannya ditepisnya, ia tak perduli, yang penting bisa membawa Nazha.
Nazha tersentak dari lamunanya ketika ponselnya tiba-tiba berdering, dengan cepat diraihnya benda pipih diatas meja, ia sedikit ragu karena dilayar tertera nomer Reymon.
“Hallo Rey,” sapa Nasha dengan nada ragu.
“Naz..aku ingin bicara denganmu, bisakah besok kita bertemu.” nada suara Reymon terdengar pelan dan lembut.
“Apa kamu akan membicarakan masalah perceraian?”
“Tidak Naz…aku ingin membahas kesalahpahaman kita, kamu share lokasinya besok siang aku akan menjemputmu,” pinta Reymon.
“Baiklah.”
Nazha menutup ponsel, wajahnya berkerut heran, kenapa Reymon berubah lembut padanya padahal kemarin ia begitu buasnya menyalahkannya dan bahkan menghinanya.
Nazha mencoba memejamkan matanya hingga akhirnya ia terlelap, beberapa jam kemudian, ia tersentak bangun karena mimpi buruk, dalam mimpi itu bayangan pria malam itu hadir kali ini ia menarik membawa Nazha pergi.
Napas Nazha sampai tersengal-segal walau itu cuma mimpi tapi terasa nyata.
“Siapa pria itu, kini ia hadir dalam mimpi burukku,” gumam Nazha sambil mengusap keningnya yang berkeringat.
Nazha kembali menangis, air mata meleleh di pipinya, mengingat kejadian malam itu. Sepanjang malam itu ia tak bisa tidur, kepalanya terus berputar mengingat wajah pria yang merengut kesuciannya dan menghancurkan pernikahannya. Ia hanya bisa merasakan badan kekar pria itu, hampir sama dengan tubuh yang dimiliki Reymon.
***
Sementara itu Reymon, sedang duduk di kursi dengan fokus ke layar laptop, ia melihat berbagai kriminal melenyapkan orang yang terlihat seperti kecelakaan.
‘Apa yang akan aku lakukan pada Nazha, supaya terlihat seperti kecelakaan,’ batin Reymon dengan wajah serius.
“Siapa yang akan kamu lenyapkan?” Tiba-tiba suara berat dari belakang membuat Reymon berjingkat terkejut sambil menoleh ke arah belakang sofa.
“Shit… kamu bikin jantungku terhenti!” bentak Reymon menatap tajam seorang pria yang sudah berdiri di belakangnya, di tangannya memegang sebotol soft drink.
“Siapa yang akan kamu lenyapkan hingga kamu serius mencermati kasus kriminal,” cerca pria berwajah tegas.
“Bukan urusanmu, kenapa kamu tak hadir dalam pernikahanku,” balik tanya Reymon
“Pekerjaanku banyak, dari tadi aku mencari adik iparku, kenapa dia tidak ada, apa kamu belum membawanya ke rumah ini?”
“Itu bukan urusanmu Devon, lagi pula aku tak mencintai Nazha,“ jawab Reymon pada kakaknya.
Pria yang benama Devon tersenyum getir, lalu duduk di sebelah Reymon menepuk punggung adiknya. ”Lantas kamu ingin menyingkirkannya?”
Reymon tak menjawab pertanyaan kakak kandung yang hanya selisih dua tahun itu, ia hanya tersenyum misteri lalu membawa laptop ke kamarnya.
Devon menghabiskan soft drink di tangannya, hubungannya dengan adiknya memang tak pernah baik sejak pembagian warisan yang dirasa tidak adil, Reymon mendapatkan peninggalan orang tuanya lebih banyak termasuk perusahaan yang bergerak di bidang property, Devon, hanya mendapatkan sejumlah uang untuk memulai membuka usaha kafe dan night clup di Bali.
Sedangkan bisnis yang yang dipegang oleh Reymon justru terancam bangkrut, oleh karena itu Reymon memakai segala cara untuk menyelamatkan keuangan perusahaannya.
***
Sementara itu Dimas pria yang menolong Nazha meminjamkan apartemen miliknya terlihat memasuki loby hotel, dengan langkah cepat ia menuju kafe hotel, ada seorang wanita berusia 50 tahunan sedang duduk di kursi, mata tajamnya seakan menyuruh Dimas untuk duduk.
“Bagaimana keadaan Nazha, apa kamu sudah tahu kenapa suaminya mengusirnya?”
“Ini rekaman pembicaraan Nazha dan Pak Agung di dalam apartemen.” Dimas memutar rekaman pembicaraan Nazha dan Agung.
Wanita yang tampak cantik di usia senjanya itu mendengarkan setiap percakapan yang terdengar dalam rekaman..
“Jadi ada pria yang menodai Nazha di malam pertamanya?” gumam wanita berpenampilan sederhana tapi terlihat elegan.
“Iya Nyonya Salma, itu sebabnya Nazha, ingin melihat rekaman cctv, karena ingin mengetahui siapa pria yang menodainya,” jawab Dimas.
“‘Apa kamu yakin tidak ada yang mencurigakan?”
“Cctv di vila tidak menangkap apapun kejadian di depan vila Reymon,” jelas Dimas.
Wanita yang bernama Salma tampak semakin serius, keningnya berkerut. Lalu kembali menatap Dimas.
“Aku ingin kamu menyakinkan Nazha, supaya ia tetap tinggal di apartemen itu, aku dan tawarkan dia pekerjaan, dia sedang mencari pekerjaankan ‘kan?”
“Tapi apa dia tidak curiga jika kita sudah dari awal menguntitinya?”
“Buatlah senatural mungkin, jangan sampai dia curiga jika kita memang berniat membantu menyelesaikan masalahnya,”
“Bu Salma, kenapa tidak menemuinya dan mengakui jika Anda adalah ibu kandungnya,” saran Dimas.
Salma menghela napas dalam, kepalanya tertunduk, menyembunyikan air bening yang menggantung di matanya, dan terasa air itu menetes, dengan pelan diusapnya dan pelan mendongakkan kepalanya.
“Apa pantas, aku ibu yang meninggalkanya sejak ia berumur dua tahun, bahkan saat aku seharusnya mengajarinya berbicara, aku meninggalkan hanya karena rasa egoisku, sakit hatiku atas pengkhianatan Agung dan Laras. Seharusnya sebagai seorang ibu aku membawa juga Nazha, tapi aku tak peduli akan hidupnya, aku meninggalkan begitu saja,” jelas Salma.
“Tapi sekarang berbeda, Nazha sangat membutuhkan kehadiran ibu kandungnya , ia saat ini terpuruk ia membutuhkan pelukan seorang ibu. Bu Laras dan Adiknya bahkan tak peduli lagi,” ungkap Dimas.
“Jika suamiku tahu aku memiliki anak, dia pasti akan menceraikanku dan aku kembali miskin tanpa dukungan finansialnya, aku belum siap, saat ini aku merintis usaha di Jakarta dan aku masih membutuhkan dukungan finansial dari Frans, suamiku.
***
Di pagi itu Nazha terbangun, ia sudah memasak menu sederhana untuk sarapan, Sementar Agung sudah terbangun, ia berjalan menggunakan tongkat keluar dari kamar.
“Ayah, biar aku bawakan ke kamar saja, untuk sarapannya,” ujar Nazha.
“Tidak usah Naz, keadaan ayah jauh lebih baik, sekarang, aku sudah bisa menggunakan tongkat lagi,”jawab Agung berusaha terlihat kuat dihadapan Nazha.
“Baiklah duduklah.” Nazha menarik kursi makan dan membantu sang ayah duduk.
Keduanya menikmati makan pagi, sederhana, Sebuah chat masuk ke ponsel Nazha, dengan cepat Nazha meraih benda pipih yang tergeletak di meja makan, lalu dibacanya chat dari Reymon.
{Naz…shere lokasi akan menjemputmu dan Pak Agung}
Nazha sempat ragu, tapi ia menatap sang ayah, yang membuat keraguannya memudar .lalu Nazha mengshare lokasi kemudian chat Reymon masuk lagi.
{Tunggulah 30 menit, aku akan menjemputmu}
Nazha lalu mematikan ponselnya dan menatap sang Ayah.
“Ayah…Reymon akan menjemput kita, dia akan memperbaiki hubungan kami,” ucap Nazha.
“Ohh..syukurlah Naz, ayah akan tenang jika pernikahanmu tak jadi hancur,” jawab Agung senyum kecil dan harapan akan kebahagiaan sang putri terukir di bibirnya yang keriput.
Nazha Reymon membuka pintu mobil, dan bersikap lembut pada Nazha dan Agung. Ia bahkan membantu Agung untuk masuk ke dalam mobil.
“Naz, aku minta maaf atas perlakuanku, dan aku ingin memperbaikinya,” ucap Reymon bernada lembut.
Nazha hanya tersenyum. “Kita akan kemana, apa kamu kamu akan mengembalikan rumah ayahku?”
“Maaf Naz, rumah itu sudah terjual, sebagai gantinya, aku aku sudah menyiapkan rumah untuk Pak Agung dan Bu Laras, ya ..meskipun tidak mewah tapi nyaman, sedang kamu ikut denganku ke rumahku,” jawab Reymon.
“Pergilah dengan Reymon, jangan pikirkan Ayah,” ucap Agung pada Nazha.
Nazha menoleh ke arah Agung, tampak sedih lalu memeluk sang ayah seakan perpisahan yang terakhir kali.
Mobil Reymon melaju cepat ke arah pingiran Jakarta lalu melambat ketika memasuki kawasan pemukiman dan mobil berhenti di sebuah rumah sederhana tapi bersih.
“Nah kita sudah sampai, Pak Agung akan tinggal disini, aku sudah menghubungi Bu Laras, sebentar lagi pasti sampai,” ucap Reymon.
Apa yang dikatakan Reymon benar, tak berselang lama, Laras datang dengan taksi, lalu turun membawa tas jinjing besar.
“Nazha, sekarang kau pergilah bersama suamimu, aku akan menjaga ayahmu,” ucap Laras sambil tersenyum hangat.
Nazha menjadi lega, lalu kembali berpamitan dengan sang ayah, dengan wajah sedih tapi juga tenang, akhirnya Nazha pergi bersama Reymon.
Sebelum menyetir mobil, Reymon mengirim chat pada Laras.
{Temani Pak Agung, sampai rencanaku berhasil, uang sudah aku transfer ke rekening Bu Laras}
Pagi bersinar dengan cerah, Vidya dan Daniel kembai makan bersama pagi ini, keduanya mulai akrap“Hari ini aku akan mengajakmu ke kantorku, “ucap Daniel“Oke.”jawab Vidya tersenyum hangatSelesai makan pagi Daniel memenuhi janjinya membawa Vidya ke kantor, disana Vidya diperkenalkan dengan Frans“Vidya kenalkan ini papahku sekaligus pimpinan perusahaan.”“Vidya..”ucap Vidya“Frans,”sahut Frans. Lalu Vidya dan Frans saling berjabat tangan.“Untuk membicarakan bisnis aku harus melibatkankan Papahku, lagi pula aku belum pengalaman sama-sekali soal bisnis,”ujar Vidya“Oke, Vidya, tak perlu buru-buru, pikirkan secara matang kerja sama ini, “jawab Frans^^^Satu bulan setelah kejadian di Singapura….Hubungan Vidya dan Daniel semakin serius, keduanya sudah berkomitmen untuk menjalin cinta ditengah hubungan kerja sama perusahaan. Mahesapun merestui hubungan itu.“Baiklah Vidya sudah saatnya kamu menikah denagn pria yang mencintaimu, papah akan restui hubunganmu dengan Daniel, tapi kamu juga
Vidya menyambut uluran tangan Daniel.“Terima kasih Daniel, jika kamu bersedia, aku akan mentraktirmu makan malam,”ujar Vidya“Oke, aku tunggu undanganmu makan malam, ini nomer ponselku, “Daniel memperlihatkan nomer ponselnya kemudian Vidya meyimpan nomer DanielDaniel pun berpamitan pergi meninggalkan kamar Vidya. Ia menuju kamarnya. Deringan ponselnya berdering nyaring, Daniel menghela napas kesal, lalu mengangkat panggilan dari Frans“Dan, dimana kamu dua hari ini tidak masuk kantor, kmau tahu ‘kan akibat ulahmu, kita merugi dan kamu melarikan diri,”“Bukan melarikan diri Pah, aku pasti akan bertanggung jawab, papah ‘kan menyuruhku mencari istri, aku lagi berusaha pah, mencari istri seperti kiteria papah, anak seorang pengusaha, supaya bisa menyelamatkan usaha kita yang diambang kebangkrutan,”jawab DanielTanpa menunggu jawaban Frans, Daniel langsung menutup ponsel dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.Sementara itu di loby hotel, Nazha terlihat masih cemberut dan menunggu tak
“Pernikahanku dipertaruhkan,”Nazha berkata dengan tegas“Ini demi Bara, jika Devon tidak melakukannya maka akan sulit membawa Bara kembali, tolonglah Naz…redam amarahmu,”mohon Yuni“Ha..ha..Naz lihat saja, Devon pasti masuk perangkap pernikahan yang katanya hanya pura-pura, kamu telah dikhianati Devon,”timpal Reymon sambil tertawa puas“Rey…dia!”gertak YuniNazha menghala napas berat lalu melangkah cepat meninggalkan apartemen, Yuni pun mengejar tapi ia kehilangan Nazha ketika Nazha masuk ke liftReymon tertawa puas melihat Nazha yang terlihat frustasi“Ini baru permulaan aku belum puas jika belum melihatmu hancur,”gumam ReymonNazha terus berjalan ke jalan lalu menaiki taksi, sementara Yuni berusaha menghubungi Devon“Hallo Devon?”“Ada apa Tante?”“Nazha tahu jika kamu ke Singapura bersama Vidya, ia juga tahu tentang pernikahan puar-pura ini, tapi seperti yang aku duga dia sangat marah dan kecewa,”jelas Yuni“Aku akan meneleponnya Tente dan berusaha menjelaskannya,”jawab DevonDevo
“Lebih baik kamu keluar dari kamar ini, kamu tahu ‘kan kesehatan Nazha sedang tidak baik, seharusnya kamu jaga ucapanmu itu!”bentak Yuni dengan mata menajam kearah ReymonReymon terlihat kesal, lalu ia memungut pecahan ponselnya dari lantai dan pergi keluar kamar.Yuni menghela napas lega dan kembali menatap Nazha.“Naz..jangan berpikir yang buruk tentang Devon, Tante jamin, Devon adalah suami yang setia, dia sangat mencintaimu,”jelas Yuni“Jangan khawatir Tante, aku sudah tak percaya dengan ucapan Reymon, ia bilang Devon saat ini menikah, sungguh pernyataan penuh kebohongan,”jawab Nazha“Oke, Naz, aku ingin kamu diperiksa Dokter sebelum keluar dari rumah sakit,”Nazha mengangguk, lalu Yuni memanggil Dokter. Beberapa menit kemudian Nazha sudah diperiksa Dokter dan diizinkan untuk kembali ke rumah.Nazha dan Yuni sudah kembali ke rumah, Nazha bahagia dan tangis haru mewarnai rumah saat itu, Nazha memeluk Bara sambil menangis, sejak dilahirkan ini pertama kali Nazha memeluk anaknya.“Ba
Devon tampak masih cemas, menatap ke arah Yuni.”Benar , Tante akan menikah dengan pak Mahesa?”“Ha..ha..”Yuni tertawa kecil,”Tante akan bahagia Devon, Mahesa adalah satu-satunya pria yang aku cinta, dulu waktu remaja kami menjalin asmara, tapi sayang waktu itu Mahesa dijodohkan dan dia tak bisa menepati janjinya padaku, mungkin baru berjodoh disaat usia kami menjelang senja,”jawab yuni“Aku mencemaskan Tante.”“Jangan cemaskan aku, sekarang aku lega , kamu dapat menyelamatkan pernikahanmu dengan Nazha dan Bara akan kembali,”Yuni bernapas lega“Terima kasih Tante, lalu apa yang harus aku lakukan setelah pernikahan palsu?”“Bawa Vidya, ke Singapura, disana Mahesa sudah mengadakan janji dengan seorang Dokter jiwa, lakukan pemeriksaan, jika Vidya dinyatakan sehat , kamu boleh meninggalkannya.”Yuni menjelaskan rencananya pada Devon“Oke Tante, “jawab DevonSepanjang malam itu Devon tidak bisa tidur, matanya terus menatap langit-langit kamar, ‘semoga semuanya berjalan dengan baik, sesuai re
Yuni menghela napas dalam, gagal sudah rencananya, lalu ia pun berpamitan pergi, menjauh dari rumah Vidya. Sambil melamun Yuni berjalan menuju taksi yang menunggunya, baru saja ia melangkah keluar pagar sebuah mobil sedan berhenti, dan kaca jendela mobil terbuka“Yuni…kamu Yuni ‘kan?”“Mahes..”balas YuniMahesa langsung turun dari mobil mendekati Yuni.“Kamu datang ke rumahku ada apa?”“Ini rumahmu? aku kesini menemui Vidya,”jawab Yuni sambil terbengong“Kamu mengenal Vidya?”“Aku mengenalnya waktu dia berteman dengan Meira, aku juga Tante Devon.”Mahesa tertawa renyah.”Dunia sempit sekali Yun, kabar yang aku dengar terakhir kamu pindah ke Bali, sekarang tanpaku mencari, kamu datang ke rumahku, Vidya adalah putriku,”“Jadi Vidya putrimu,”Yuni terkejut menatap Mahesa“Yuni…bisakah kita berbicara aku ingin melepas rinduku padamu?”“Baik,”jawab Yuni dengan wajah bersemu merahMahesa membuka pintu mobil dan mempersilahkan Yuni masuk, setelah itu Mahesa duduk dan menyetir mobil,“Kita aka
Taksi yang ditumpangi Nazha melaju cepat menuju kota Bandung, beberapa jam kemudian, taksi sudah sampai di sebuah rumah sakit, lalu dengan cepat Nazha berjalan menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Devon“Operasi Pak Devon sedang berlangsung, ibu harus menandatangani berkas persetujuan oper
“Ahh sudahlah Bu.. tak ada gunanya membahas ibu kandung Nazha, lebih baik kita focus dengan rencanaku, aku ingin sekali menyingkirkan Nazha dari apartemen ini, “ucap Sheren dahinya berkerut mulai memikirkan cara licik“Ahhh…susah sekali menyingkirkan gadis itu, “gumam Laras“Bu…lebih baik ibu pula
Pagi itu tak terlihat langit mendung, Devon sudah berangkat ke kantor,Nazha masih di dalam kamar demikian juga dengan Sheren. Hingga sebuah bel pintu membuat Nazha keluar kamar. Nazha melihat siapa yang datang, lalu ia membukakan pintu setelah tahu di luar pintu ada Andi.“Maaf Bu Nazha, saya ke s
Sheren memendam amarah atas perkataan Devon. “Aku mengandung anakmu, sedangkan Nazha mengandung anak pria misterius yang nggak jelas!”“Sheren aku tak mau berdebat denganmu, keluar dari kantorku, jangan kamu temui Nazha!”perintah Devon“Kamu harus bertangung jawab atas perbuatanmu, atau, aku sebark







