Share

Bab 6 Sang Penolong

Author: Endah Tanty
last update publish date: 2026-03-26 21:08:08

Nazha menatap nanar rumah yang bertahun-tahun di tempati, kini ia harus rela meninggalkan rumah itu, tak ada satu barang berharga pun yang ditinggalkan Laras.

“Laras mengambil semua perabotan, yang ditinggalkan hanya perabotan kuno dan rusak, dijual pun tak laku,” ujar Agung sedih.

Nazha berpikir keras, di dompetnya hanya ada dua lembar uang merah, kemana Ia harus menyewa tempat tinggal, wajahnya cantiknya berubah murung terlihat gurat kesedihan, dua travel bag yang berisi pakaian sudah di depan pintu, bahkan untuk ongkos taksi pun Nazha tak punya.

Ia fokus ke layar ponsel, tangannya sibuk menyentuh layar mencari tempat kost murah.

“Ayah, aku sudah menemukan tempat untuk kita , aku akan memanggil bajai dulu, maaf uang tidak cukup untuk naik taksi,” ujar Nazha.

“Tak mengapa Naz… “

Nazha berjalan keluar rumah menuju tepi jalan, berjalan sedikit ke  jalan utama, matanya terfokus di jalanan mencari bajai yang saat ini memang jarang terlihat, tapi ia berharap bisa menemukannya.

Tiba-tiba sebuah mobil warna silver berhenti dan kaca jendela terbuka.

“Hai Naz…mau kemana?” tanya pria yang dikenal Nazha.

“Dimas…heumm aku mau mencari bajai,”

“Naiklah… aku  akan mengantarmu , akan  lama jika kamu naik bajai,” tawar Dimas.

“Tapi aku dengan ayahku, beliau sakit, nanti merepotkanmu,” tolak Nazha.

“Tidak merepotkan, naiklah, sebentar lagi hujan,”

Nazha akhirnya menerima tawaran Dimas, matanya menatap langit mendung,

“Baiklah,”

Nazha naik mobil silver lalu mobil melaju menuju rumah   untuk menjemput Agung.

“Apa kamu bertengkar dengan suamimu, kenapa dia membiarkanmu sendiri ?”

“Ada masalah kesalahpahaman, kami dijodohkan dan belum memahami karakter,” jawab Nazha ragu ia tak dapat menyembunyikan jika dirinya dan Reymon sedang bertengkar.

Tak lama mobil silver berhenti, disana Agung tampak cemas memikirkan Nazha, Ketika melihat Nazha turun dari mobil, pria paruh baya itu lega.

“Ayah, kenalkan ini Dimas, ia akan mengantarkan kita ke tempat kontrakan,” ujar Nazha sambil berjalan mendekati sang ayah di belakang  Dimas.

Perkenalan singkat antara Dimas dan Agung terjadi, setelah saling berjabat tangan, Dimas membantu Agung untuk menaiki mobil, memasukan dua travel bag ke dalam bagasi, kemudian barulah Nazha dan Dimas, naik mobil.

Mobil silver melaju cepat menembus jalanan ibu kota, mendung semakin pekat, titik -titik air mulai berjatuhan, hingga hujan deras membasahi bumi, dalam waktu sekejap, air sudah megenangi jalan.

“Wah…jalan yang kamu tuju banjir Naz…bagaimana ini, apa ada tempat lain yang kamu tuju?”

“Aku mencari rumah kontrakan, jika kamu punya informasi rumah kontrakan yang murah, kita kesana,” pinta Nazha

Dimas tampak terdiam, ia berbikir lalu menatap Nazha. ”Aku punya apartemen tidak jauh dari sini,  apa kamu mau tinggal disana,” tawar Dimas.

“Ahhh aku tak mau merepotkanmu  lagi,”

“Hanya sementara Naz, sampai kamu menemukan rumah kontrakan, lihatlah, banjir diman-mana , ini sudah mulai malam, ayahmu pasti  sudah capek, ingin beristirahat,“

Nazha tak punya pilihan lain, kecuali menerima tawaran Dimas.

“Baiklah, sekali lagi aku merepotkanmu, aku pasti akan membalas semua kebaikanmu,” jawab Nazha.

“Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Dimas melempar senyum hangat.

Sekitar 30 menit sampailah mereka di unit apartemen, milik Dimas. Sebuah apertemen yang cukup mewah ada dihadapan Nazha dan Agung.

“Nah…tinggllah disini sementara waktu, kamar yang ini boleh kamu pakai. “Dimas menujukkan salah satu kamar. ”Jangan sungkan pakailah apa yang ada disini, aku menempati apartemen ini jika weeked saja, di dalam  kulkas ada bahan masakan kamu boleh memakainya,” lanjut tawar Dimas.

Nazha terdiam, ia merasa takut akan kebaikan pria yang tak lama dikenalnya itu, apakah ini semua kebetulan, batin Nazha berkecamuk, tapi tak punya pilihan lain.

“Dimas, bapak berterima kasih padamu,” sela Agung.

Dimas mengangguk, lalu berpamitan pergi.

Nazha menatap Agung, ”Aku tak mengenal lama Dimas, kami bertemu waktu aku dan Reymon di vila, ia tinggal beberapa meter dari vila Reymon, dan kebetulan kami bertemu di jalan tadi,” jelas Nazha.

“Setidaknya ada orang baik yang menolong kita Naz,” sahut Agung.

Nazha mengedarkan mata menatap apartemen dengan dua kamar tidur, lalu membuka salah satu kamar, yang Dimas tujukan kamar untuknya.

Ceklek suara pintu terbuka, sebuah kamar yang  yang bersih dan cukup luas, ada satu tempat tidur .

“Ayah tidur di kamar, aku akan tidur di sofa,” ujar Nazha lalu membantu sang ayah untuk masuk ke kamar.

“Ayah membuatmu susah, seandainya ayah tidak  tidak berhutang, usaha mebel ayah pasti masih berjalan, dan tak perlu mengadaikan sertifikat rumah di tempat Reymon,” ujar Agung dengan mata berkilat menahan tangis.

“Sudahlah Yah, semuanya itu juga demi kesehatan Nazha yang seharusnya minta maaf,” jawab Nazha.

“Naz…apa benar yang dikatakan Reymon, jika kamu  tidak suci lagi?” tanya Agung dengan hati-hati ia sangat percaya pada Nazha, tapi tuduhan Reymon tak disangkal Nazha dan itu membuat Agung penasaran.

“Aku masih suci waktu pernikahan, kesucianku hilang dua minggu waktu di vila, malam itu gelap , aku pikir pria yang bersamaku adalah Reymon, tapi ternyata orang lain, aku bahkan tak bisa melihat wajah pria  itu,” jelas Nazha.

Nazha menangis , Agung meraih tangan putrinya.

“Aku sudah mencari tahu salah satunya aku minta tolong Dimas, untuk memperlihatkan cctv di vilanya, karena di vila Reymon tidak ada cctv, tapi rekaman tak menjangkau depan vila Reymon.

“Lalu,” Agung penasaran.

“Aku memutuskan diam, karena aku tak punya bukti, malam berikutnya, aku minum terlalu banyak, aku tak ingat malam itu, yang pasti paginya Reymon marah, dan mengetahui jika aku tak suci lagi,” ungkap Nazha.

“Tega sekali, siapa pria itu Naz…kenapa juga Reymon tidak mengetahui jika ada pria asing masuk ke dalam vilanya,” Agung merasa geram.

”Aku percaya padamu, seandainya aku sembuh dari sakit  ini, aku  pasti akan mencari bajingan itu,” lanjut Agung.

“Ayah tak usah cemas,  lebih baik kita fokus ke depan.” Nazha berusaha tegar agar tak membuat sang ayah cemas.

“Apa kamu mau bekerja, ayah punya beberapa koneksi yang mungkin bisa memberimu pekerjaan,” ucap Agung.

Nazha mengangguk, lalu sang ayah tampak meraih ponsel dan terlihat berbicara serius di seberang ponsel, ada beberapa nomer yang diihubungi Agung tapi tak satupun, orang yang dihubungi memberi pekerjaan pada Nazha.

Wajah Agung tampak murung, menatap nanar sang putri yang sibuk membuat masakan di dapur.

“Yah, makanlah, aku membuat mie goreng untuk makan malam kita,” ajak Nazha dengan senyum mengembang.

“Naz,..tidak satupun teman ayah yang memberimu pekerjaan,” ujar Agung bernada sedih.

“Jangan khawatir, besok pasti Nazha mendapat pekerjaan, dan kita akan tinggalkan apartemen ini secepatnya supaya tidak merepotkan Dimas, ayah tak usah khawatir,“ jawab Nazha berusaha membuat ayahnya tenang, padahal dalam hatinya merasakan kekhawatiran akan besok pagi.

Bab

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 72 Kesepakatan

    Untuk sementara pembangunan hotel dihentikan Devon dan Nazha kembali ke Jakarta, sementara si Mandor melaksanakan tugasnya, untuk menyelidiki Jamal, pelaku penusukan.Dua minggu berlalu Jamal, sudah keluar dari penjara dan langsung menuju rumah sakit, disana ia menemui Eneng putri satu-satunya yang sakit, dan hari ini gadis kecil itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan hal itu membuat jamal senang.“Bapak senang kamu sembuh, “ucap Jamal memeluk putrinya lalu memberesi pakaian berjalan keluar kamar. Tanpa sepengetahuan Jamal, Mandor mengikuti setiap gerak geriknya , hingga Jamal sampai di rumah berdinding kusam sederhananya,“Bapak cari uang dulu ya, “ujar JamalJamal terus berjalan menuju arah pasar, seperti biasa memungut parkir liar disepanjang jalan pasar.Sementara itu di Jakarta, Nazha sedang membantu Devon menganti perban bekas luka tusuk, dengan cekatan Nazha mengolesi obat sebelum luka ditutup kembali, Devon menatap wajah cantik Nazha,yang begitu dekat , hidung mancung, d

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 71 Memburu Otak Penyerangan

    Tiga hari berlalu, Devon sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit“Sebelum ke Jakarta aku ingin ke proyek hotel Meira dulu,”kata Devon sambil tangannya memegang perutnya yang terluka.“Apa sebaiknya kamu istirahat dulu, jangan pikirkan dulu soal proyek hotel,”Nazha membantu Devon memakaikan kancing kemeja.“Tidak Naz..aku juga ingin tahu kenapa ada kesalah pahaman dengan warga, hingga memicu pertengkaran ini.”Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Nazha mempersilahkan pengetuk pintu masuk dan terlihat dua orang polisi melangkah masuk“Pak Devon sudah bisa kami mintai keterangan?”tanya polisi“Silahkan.”jawab Devon“Orang yang melakukan penusukan belum teridentifikasi karena wajahnya tertutup kain, tapi sudah dipastikan jika itu dari kelompok preman,”jelas polisiLalu polisi memperlihatkan gambar wajah pria yang tertutup kain itu pada Devon. “Mungkin anda mengenalnya?”tanya polisi“Aku tidak mengenalnya , apa lagi setengah wajahnya tertutup.”“Baiklah, menurut investigasi kam

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 70 Masih Bersama

    Taksi yang ditumpangi Nazha melaju cepat menuju kota Bandung, beberapa jam kemudian, taksi sudah sampai di sebuah rumah sakit, lalu dengan cepat Nazha berjalan menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Devon“Operasi Pak Devon sedang berlangsung, ibu harus menandatangani berkas persetujuan operasi dan menyelesaikan administrasi rumah sakit,”ucap staf resepsionis“Baik.”Setelah menyelesaikan semuanya Nazha berjalan ke arah ruang operasi, ia duduk disalah satu bangku hatinya gelisah dan sekaligus takut, takut kehilangan Devon karena saat ini hanya dialah yang dimilki Nazha, bulir bening dan rapalan doa terus dipanjatkan. Menit-menit berlalu terasa lama, cemas dan takut menjadi satu hingga pintu ruang operasi terbuka, terlihat dokter keluar, Nazha langsung berdiri“Dok..bagaimana operasinya?”suara Nazha gemetar“Operasinya berhasil, kurang satu senti pisau itu merobek, lambungnya,”jelas dokterNazha terduduk lemas, tapi sedikit lega, setidaknya nyawa Devon terselamatkan.Brankar

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 69 Tumbang

    Sang preman terpaku dan tersenyum sinis.”Maksudnya orang yang tadi, pemilik hotel itu?”“Betul, habisi dia, dalam kerusuhan kamu harus bisa mengerahkan beberapa temanmu dan membuat kekacauan disana, bataklah pertemuan kalian dan buat kerusuhan dan ambil kesempatan untuk menghabisi Devon, aku akan membayarmu banyak jika berhasil!”perintah DimasPria berbadan besar itu tampak berpikir lalu teringat saat ini ia membutuhkan uang dalam jumlah banyak untuk pengobatan anaknya.“Baiklah, saat ini aku butuh 5 juta, berikan aku uang 5 juta, sisanya setelah pekerjaan berhasil,”“Oke, satu lagi tutup mulutmu, jangan libatkan aku!”perintah Dimas dengan bernada tegas“Oke..aku sudah banyak menghajar orang, keluar masuk penjara, asalkan kamu memenuhi janjimu, aku siap menangung resikonya,”jawab sang preman dengan sangat seriusMalam berlalu dengan cepat, Devon yang semalam beristirahat disalah satu hotel, kini sudah siap mengadakan pertemuan dengan perwakilan preman yang menganggu jalannya proyek.

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 68 Bahaya Mengintai

    Devon menatap penuh arti ada yang menganjal hatinya, ketika melihat tatapan Dimas pada istrinya, tatapan seorang pria yang tengah jatuh cinta.Makan siang berlalu, setelah Dimas dan dokter Nia serta seorang staf pun berpamitan meninggalkan apartemen.“Ahhh…semuanya berjalan lancar, terima kasih Devon, kamu sangat membantuku dan mendukungku,”ucap Nazha sambil membereskan semua perabotan kotor.“Lihatlah hujan deras sekali diluar sana, aku lebih tenang jika kamu ada di apartemen, “sahut Devon menatap balkon apartemen yang terkena hujan lebat.“Kamu benar,”***Dimas menikmati secangkir kopi malam dingin, hujan sudah mulai reda tersisa rintik -rintiknya, pria itu tampak serius memikirkan sesuatu, niatnya sudah bulat yaitu meninginkan Nazha dan jalan-satu-satunya adalah melenyapkan Devon. Tangannya meletakan cangkir kopi yang telah habis, ditatapnya luka sayat di tanganya, terkena pisau waktu melawan Devon.‘Devon..kamu harus mati, dengan begitu Nazha akan menjadi miliku, dan kami akan

  • BUTIRAN CINTA DI MALAM PERTAMA   BAB 67 Pertemuan di Apartemen

    Beberapa jam berlalu, Nazha sudah ada di depan pintu unit apartemenya dengan pelan dibukanyaCeklek.. ketika pintu terbuka terlihat Devon bernapas lega dan berjalan mendekati Nazha, memeluknya sangat erat, seakan tak mau terlepas lagi.“Syukurlah kamu baik-baik saja, apa yang terjadi, aku menemukan ponselmu di proyek mall terbengkalai ?”tanya Devon“Jadi kamu mencariku ke sana?”“Iya, aku sudah mencoba menghubungi Dimas, tapi ponselnya mati, sedangkan ponselmu aktif tapi kamu tidak mengangkatnya, aku takut terjadi sesuatu yang buruk, jadi aku melacak GPS ponselmu,”ungkap Devon“Maaf Dev, aku membuatmu cemas“Sudahlah , kamu pasti capek, lebih baik beristirahat,”ajak Devon lalu menarik tangan Nazha ke dalam kamar“Hai kenapa lenganmu, seperti tersayat benda tajam?”“Semalam waktu aku mencari ponselmu, ada seseorang yang menyerang, mungkin dia pencuri, atau anak brandal yang mabuk,”jawab Devon“Apa sudah diobati?”“Sudah, jangan cemas, ini luka kecil, ““Wajahmu juga penuh memar Dev, a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status