ログインNazha menatap nanar rumah yang bertahun-tahun di tempati, kini ia harus rela meninggalkan rumah itu, tak ada satu barang berharga pun yang ditinggalkan Laras.
“Laras mengambil semua perabotan, yang ditinggalkan hanya perabotan kuno dan rusak, dijual pun tak laku,” ujar Agung sedih.
Nazha berpikir keras, di dompetnya hanya ada dua lembar uang merah, kemana Ia harus menyewa tempat tinggal, wajahnya cantiknya berubah murung terlihat gurat kesedihan, dua travel bag yang berisi pakaian sudah di depan pintu, bahkan untuk ongkos taksi pun Nazha tak punya.
Ia fokus ke layar ponsel, tangannya sibuk menyentuh layar mencari tempat kost murah.
“Ayah, aku sudah menemukan tempat untuk kita , aku akan memanggil bajai dulu, maaf uang tidak cukup untuk naik taksi,” ujar Nazha.
“Tak mengapa Naz… “
Nazha berjalan keluar rumah menuju tepi jalan, berjalan sedikit ke jalan utama, matanya terfokus di jalanan mencari bajai yang saat ini memang jarang terlihat, tapi ia berharap bisa menemukannya.
Tiba-tiba sebuah mobil warna silver berhenti dan kaca jendela terbuka.
“Hai Naz…mau kemana?” tanya pria yang dikenal Nazha.
“Dimas…heumm aku mau mencari bajai,”
“Naiklah… aku akan mengantarmu , akan lama jika kamu naik bajai,” tawar Dimas.
“Tapi aku dengan ayahku, beliau sakit, nanti merepotkanmu,” tolak Nazha.
“Tidak merepotkan, naiklah, sebentar lagi hujan,”
Nazha akhirnya menerima tawaran Dimas, matanya menatap langit mendung,
“Baiklah,”
Nazha naik mobil silver lalu mobil melaju menuju rumah untuk menjemput Agung.
“Apa kamu bertengkar dengan suamimu, kenapa dia membiarkanmu sendiri ?”
“Ada masalah kesalahpahaman, kami dijodohkan dan belum memahami karakter,” jawab Nazha ragu ia tak dapat menyembunyikan jika dirinya dan Reymon sedang bertengkar.
Tak lama mobil silver berhenti, disana Agung tampak cemas memikirkan Nazha, Ketika melihat Nazha turun dari mobil, pria paruh baya itu lega.
“Ayah, kenalkan ini Dimas, ia akan mengantarkan kita ke tempat kontrakan,” ujar Nazha sambil berjalan mendekati sang ayah di belakang Dimas.
Perkenalan singkat antara Dimas dan Agung terjadi, setelah saling berjabat tangan, Dimas membantu Agung untuk menaiki mobil, memasukan dua travel bag ke dalam bagasi, kemudian barulah Nazha dan Dimas, naik mobil.
Mobil silver melaju cepat menembus jalanan ibu kota, mendung semakin pekat, titik -titik air mulai berjatuhan, hingga hujan deras membasahi bumi, dalam waktu sekejap, air sudah megenangi jalan.
“Wah…jalan yang kamu tuju banjir Naz…bagaimana ini, apa ada tempat lain yang kamu tuju?”
“Aku mencari rumah kontrakan, jika kamu punya informasi rumah kontrakan yang murah, kita kesana,” pinta Nazha
Dimas tampak terdiam, ia berbikir lalu menatap Nazha. ”Aku punya apartemen tidak jauh dari sini, apa kamu mau tinggal disana,” tawar Dimas.
“Ahhh aku tak mau merepotkanmu lagi,”
“Hanya sementara Naz, sampai kamu menemukan rumah kontrakan, lihatlah, banjir diman-mana , ini sudah mulai malam, ayahmu pasti sudah capek, ingin beristirahat,“
Nazha tak punya pilihan lain, kecuali menerima tawaran Dimas.
“Baiklah, sekali lagi aku merepotkanmu, aku pasti akan membalas semua kebaikanmu,” jawab Nazha.
“Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Dimas melempar senyum hangat.
Sekitar 30 menit sampailah mereka di unit apartemen, milik Dimas. Sebuah apertemen yang cukup mewah ada dihadapan Nazha dan Agung.
“Nah…tinggllah disini sementara waktu, kamar yang ini boleh kamu pakai. “Dimas menujukkan salah satu kamar. ”Jangan sungkan pakailah apa yang ada disini, aku menempati apartemen ini jika weeked saja, di dalam kulkas ada bahan masakan kamu boleh memakainya,” lanjut tawar Dimas.
Nazha terdiam, ia merasa takut akan kebaikan pria yang tak lama dikenalnya itu, apakah ini semua kebetulan, batin Nazha berkecamuk, tapi tak punya pilihan lain.
“Dimas, bapak berterima kasih padamu,” sela Agung.
Dimas mengangguk, lalu berpamitan pergi.
Nazha menatap Agung, ”Aku tak mengenal lama Dimas, kami bertemu waktu aku dan Reymon di vila, ia tinggal beberapa meter dari vila Reymon, dan kebetulan kami bertemu di jalan tadi,” jelas Nazha.
“Setidaknya ada orang baik yang menolong kita Naz,” sahut Agung.
Nazha mengedarkan mata menatap apartemen dengan dua kamar tidur, lalu membuka salah satu kamar, yang Dimas tujukan kamar untuknya.
Ceklek suara pintu terbuka, sebuah kamar yang yang bersih dan cukup luas, ada satu tempat tidur .
“Ayah tidur di kamar, aku akan tidur di sofa,” ujar Nazha lalu membantu sang ayah untuk masuk ke kamar.
“Ayah membuatmu susah, seandainya ayah tidak tidak berhutang, usaha mebel ayah pasti masih berjalan, dan tak perlu mengadaikan sertifikat rumah di tempat Reymon,” ujar Agung dengan mata berkilat menahan tangis.
“Sudahlah Yah, semuanya itu juga demi kesehatan Nazha yang seharusnya minta maaf,” jawab Nazha.
“Naz…apa benar yang dikatakan Reymon, jika kamu tidak suci lagi?” tanya Agung dengan hati-hati ia sangat percaya pada Nazha, tapi tuduhan Reymon tak disangkal Nazha dan itu membuat Agung penasaran.
“Aku masih suci waktu pernikahan, kesucianku hilang dua minggu waktu di vila, malam itu gelap , aku pikir pria yang bersamaku adalah Reymon, tapi ternyata orang lain, aku bahkan tak bisa melihat wajah pria itu,” jelas Nazha.
Nazha menangis , Agung meraih tangan putrinya.
“Aku sudah mencari tahu salah satunya aku minta tolong Dimas, untuk memperlihatkan cctv di vilanya, karena di vila Reymon tidak ada cctv, tapi rekaman tak menjangkau depan vila Reymon.
“Lalu,” Agung penasaran.
“Aku memutuskan diam, karena aku tak punya bukti, malam berikutnya, aku minum terlalu banyak, aku tak ingat malam itu, yang pasti paginya Reymon marah, dan mengetahui jika aku tak suci lagi,” ungkap Nazha.
“Tega sekali, siapa pria itu Naz…kenapa juga Reymon tidak mengetahui jika ada pria asing masuk ke dalam vilanya,” Agung merasa geram.
”Aku percaya padamu, seandainya aku sembuh dari sakit ini, aku pasti akan mencari bajingan itu,” lanjut Agung.
“Ayah tak usah cemas, lebih baik kita fokus ke depan.” Nazha berusaha tegar agar tak membuat sang ayah cemas.
“Apa kamu mau bekerja, ayah punya beberapa koneksi yang mungkin bisa memberimu pekerjaan,” ucap Agung.
Nazha mengangguk, lalu sang ayah tampak meraih ponsel dan terlihat berbicara serius di seberang ponsel, ada beberapa nomer yang diihubungi Agung tapi tak satupun, orang yang dihubungi memberi pekerjaan pada Nazha.
Wajah Agung tampak murung, menatap nanar sang putri yang sibuk membuat masakan di dapur.
“Yah, makanlah, aku membuat mie goreng untuk makan malam kita,” ajak Nazha dengan senyum mengembang.
“Naz,..tidak satupun teman ayah yang memberimu pekerjaan,” ujar Agung bernada sedih.
“Jangan khawatir, besok pasti Nazha mendapat pekerjaan, dan kita akan tinggalkan apartemen ini secepatnya supaya tidak merepotkan Dimas, ayah tak usah khawatir,“ jawab Nazha berusaha membuat ayahnya tenang, padahal dalam hatinya merasakan kekhawatiran akan besok pagi.
Bab
Pagi bersinar dengan cerah, Vidya dan Daniel kembai makan bersama pagi ini, keduanya mulai akrap“Hari ini aku akan mengajakmu ke kantorku, “ucap Daniel“Oke.”jawab Vidya tersenyum hangatSelesai makan pagi Daniel memenuhi janjinya membawa Vidya ke kantor, disana Vidya diperkenalkan dengan Frans“Vidya kenalkan ini papahku sekaligus pimpinan perusahaan.”“Vidya..”ucap Vidya“Frans,”sahut Frans. Lalu Vidya dan Frans saling berjabat tangan.“Untuk membicarakan bisnis aku harus melibatkankan Papahku, lagi pula aku belum pengalaman sama-sekali soal bisnis,”ujar Vidya“Oke, Vidya, tak perlu buru-buru, pikirkan secara matang kerja sama ini, “jawab Frans^^^Satu bulan setelah kejadian di Singapura….Hubungan Vidya dan Daniel semakin serius, keduanya sudah berkomitmen untuk menjalin cinta ditengah hubungan kerja sama perusahaan. Mahesapun merestui hubungan itu.“Baiklah Vidya sudah saatnya kamu menikah denagn pria yang mencintaimu, papah akan restui hubunganmu dengan Daniel, tapi kamu juga
Vidya menyambut uluran tangan Daniel.“Terima kasih Daniel, jika kamu bersedia, aku akan mentraktirmu makan malam,”ujar Vidya“Oke, aku tunggu undanganmu makan malam, ini nomer ponselku, “Daniel memperlihatkan nomer ponselnya kemudian Vidya meyimpan nomer DanielDaniel pun berpamitan pergi meninggalkan kamar Vidya. Ia menuju kamarnya. Deringan ponselnya berdering nyaring, Daniel menghela napas kesal, lalu mengangkat panggilan dari Frans“Dan, dimana kamu dua hari ini tidak masuk kantor, kmau tahu ‘kan akibat ulahmu, kita merugi dan kamu melarikan diri,”“Bukan melarikan diri Pah, aku pasti akan bertanggung jawab, papah ‘kan menyuruhku mencari istri, aku lagi berusaha pah, mencari istri seperti kiteria papah, anak seorang pengusaha, supaya bisa menyelamatkan usaha kita yang diambang kebangkrutan,”jawab DanielTanpa menunggu jawaban Frans, Daniel langsung menutup ponsel dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.Sementara itu di loby hotel, Nazha terlihat masih cemberut dan menunggu tak
“Pernikahanku dipertaruhkan,”Nazha berkata dengan tegas“Ini demi Bara, jika Devon tidak melakukannya maka akan sulit membawa Bara kembali, tolonglah Naz…redam amarahmu,”mohon Yuni“Ha..ha..Naz lihat saja, Devon pasti masuk perangkap pernikahan yang katanya hanya pura-pura, kamu telah dikhianati Devon,”timpal Reymon sambil tertawa puas“Rey…dia!”gertak YuniNazha menghala napas berat lalu melangkah cepat meninggalkan apartemen, Yuni pun mengejar tapi ia kehilangan Nazha ketika Nazha masuk ke liftReymon tertawa puas melihat Nazha yang terlihat frustasi“Ini baru permulaan aku belum puas jika belum melihatmu hancur,”gumam ReymonNazha terus berjalan ke jalan lalu menaiki taksi, sementara Yuni berusaha menghubungi Devon“Hallo Devon?”“Ada apa Tante?”“Nazha tahu jika kamu ke Singapura bersama Vidya, ia juga tahu tentang pernikahan puar-pura ini, tapi seperti yang aku duga dia sangat marah dan kecewa,”jelas Yuni“Aku akan meneleponnya Tente dan berusaha menjelaskannya,”jawab DevonDevo
“Lebih baik kamu keluar dari kamar ini, kamu tahu ‘kan kesehatan Nazha sedang tidak baik, seharusnya kamu jaga ucapanmu itu!”bentak Yuni dengan mata menajam kearah ReymonReymon terlihat kesal, lalu ia memungut pecahan ponselnya dari lantai dan pergi keluar kamar.Yuni menghela napas lega dan kembali menatap Nazha.“Naz..jangan berpikir yang buruk tentang Devon, Tante jamin, Devon adalah suami yang setia, dia sangat mencintaimu,”jelas Yuni“Jangan khawatir Tante, aku sudah tak percaya dengan ucapan Reymon, ia bilang Devon saat ini menikah, sungguh pernyataan penuh kebohongan,”jawab Nazha“Oke, Naz, aku ingin kamu diperiksa Dokter sebelum keluar dari rumah sakit,”Nazha mengangguk, lalu Yuni memanggil Dokter. Beberapa menit kemudian Nazha sudah diperiksa Dokter dan diizinkan untuk kembali ke rumah.Nazha dan Yuni sudah kembali ke rumah, Nazha bahagia dan tangis haru mewarnai rumah saat itu, Nazha memeluk Bara sambil menangis, sejak dilahirkan ini pertama kali Nazha memeluk anaknya.“Ba
Devon tampak masih cemas, menatap ke arah Yuni.”Benar , Tante akan menikah dengan pak Mahesa?”“Ha..ha..”Yuni tertawa kecil,”Tante akan bahagia Devon, Mahesa adalah satu-satunya pria yang aku cinta, dulu waktu remaja kami menjalin asmara, tapi sayang waktu itu Mahesa dijodohkan dan dia tak bisa menepati janjinya padaku, mungkin baru berjodoh disaat usia kami menjelang senja,”jawab yuni“Aku mencemaskan Tante.”“Jangan cemaskan aku, sekarang aku lega , kamu dapat menyelamatkan pernikahanmu dengan Nazha dan Bara akan kembali,”Yuni bernapas lega“Terima kasih Tante, lalu apa yang harus aku lakukan setelah pernikahan palsu?”“Bawa Vidya, ke Singapura, disana Mahesa sudah mengadakan janji dengan seorang Dokter jiwa, lakukan pemeriksaan, jika Vidya dinyatakan sehat , kamu boleh meninggalkannya.”Yuni menjelaskan rencananya pada Devon“Oke Tante, “jawab DevonSepanjang malam itu Devon tidak bisa tidur, matanya terus menatap langit-langit kamar, ‘semoga semuanya berjalan dengan baik, sesuai re
Yuni menghela napas dalam, gagal sudah rencananya, lalu ia pun berpamitan pergi, menjauh dari rumah Vidya. Sambil melamun Yuni berjalan menuju taksi yang menunggunya, baru saja ia melangkah keluar pagar sebuah mobil sedan berhenti, dan kaca jendela mobil terbuka“Yuni…kamu Yuni ‘kan?”“Mahes..”balas YuniMahesa langsung turun dari mobil mendekati Yuni.“Kamu datang ke rumahku ada apa?”“Ini rumahmu? aku kesini menemui Vidya,”jawab Yuni sambil terbengong“Kamu mengenal Vidya?”“Aku mengenalnya waktu dia berteman dengan Meira, aku juga Tante Devon.”Mahesa tertawa renyah.”Dunia sempit sekali Yun, kabar yang aku dengar terakhir kamu pindah ke Bali, sekarang tanpaku mencari, kamu datang ke rumahku, Vidya adalah putriku,”“Jadi Vidya putrimu,”Yuni terkejut menatap Mahesa“Yuni…bisakah kita berbicara aku ingin melepas rinduku padamu?”“Baik,”jawab Yuni dengan wajah bersemu merahMahesa membuka pintu mobil dan mempersilahkan Yuni masuk, setelah itu Mahesa duduk dan menyetir mobil,“Kita aka
Tarikan napas keluar dari bibir Salma di hadapannya Dimas memperlihatkan berkas pengambilalihan kepemilikan S’kontruksi atas namanya beralih atas nama Nazha.“Anda tanda tangan di berkas ini Bu Salma, aku sudah berbicara dengan Nazha, tentu saja dengan dalih pendirian yayasan dan dia setuju,”jelas
“Boleh aku masuk “pinta NazhaWanita renta dengan daster yang kusut dan sedikit berlubang sesaat terlihat bingung, ada gurat rasa cemas di wajah tuanya.“Heumm lebih baik kamu segera pergi dari sini, tidak ada yang bisa kami bicarakan tentang kejadian delapan tahun yang lalu,”jawabnya menolak kehad
Pagi masih berselimut kabut, suasana disekitar apartemen masih sepi, beberapa penghuni apartemen berjalan -jalan menyusuri taman dan saat ini Nazha juga jalan santai di sekitaran taman, sebuah panggilan yang tak asing suaranya terdengar di telinga Nazha, dengan malas Ia membalikan badannya“Nazha
Suara bel pintu membuat keduanya menghentikan sarapan dan saling tatap“Siapa yang datang sepagi ini?”Devon bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, waktu dibukanya terlihat kurir membawakan parcel buahKurir memberikannya pada Devon.”Ada paket untuk Nazha .”ucapnyaDevon meraihnya dan kem







