LOGINPukul sepuluh malam dan Alyssa sudah menunggu Arsenio pulang hampir tiga jam sejak Nathan tertidur. Hingga tak lama kemudian, suara lift yang berdenting halus menandakan kepulangan sang pemilik hunian.
Arsenio melangkah masuk, sambil melepaskan jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas meja konsol. Ia tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam saat mendapati Alyssa masih terjaga. Tanpa sepatah kata, ia duduk di sofa tunggal di depan Alyssa dan melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja kopi.
“Apa ini?” tanya Alyssa sambil mengerutkan kening.
“Tiket keselamatan ayahmu, atau beban hidupmu yang baru. Tergantung bagaimana kau membacanya,” jawab Arsenio dengan nada datar.
Alyssa membuka amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. Lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas berkop surat Ars’s Legal. “Kontrak kerja sama... pengasuh eksklusif?”
“Baca poin utamanya, Nona Verena. Aku tidak suka mengulang penjelasan,” ujar Arsenio sambil menyandarkan punggungnya, memperhatikan reaksi Alyssa.
Alyssa memindai baris demi baris dengan cepat. “Tiga bulan masa percobaan? Harus tinggal di sini dua puluh empat jam? Tuan Valmer, Anda meminta saya menjadi tahanan rumah dengan kedok pengasuh?”
“Tidak. Yang inginkan adalah dedikasi. Nathan tidak butuh pengasuh paruh waktu yang datang dan pergi sesuka hati. Dia butuh stabilitas. Jika dalam tiga bulan kau berhasil membuatnya stabil, mulai dari pola makan hingga emosinya, aku akan turun tangan langsung sebagai kuasa hukum utama Johan Verena.”
“Tiga bulan?” Alyssa terkejut mendengar ucapan Arsenio barusan.
Dia kemudian menggelengkan kepalanya sambil meletakkan dokumen itu dengan kasar. “Tiga bulan itu terlalu lama, Tuan! Sidang lanjutan Ayah akan dilakukan dua minggu lagi. Jika Anda baru bergerak tiga bulan kemudian, Ayah saya sudah membusuk di sel yang lebih gelap!”
“Hukum bukan tentang kecepatan, Alyssa. Ini tentang momentum,” sahut Arsenio dengan nada yang sangat tenang, seolah teriakan Alyssa hanyalah angin lalu.
“Tapi dia tidak bersalah!” Alyssa mencondongkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Arsenio.
“Dengarkan saya baik-baik, Tuan. Ayah saya difitnah oleh rekan bisnisnya, Hendra Gunawan. Semua dokumen pencucian uang itu direkayasa. Ayah saya hanya menandatangani berkas yang dia kira adalah kontrak pengadaan, bukan pengalihan dana ilegal. Dia dikambinghitamkan!”
Arsenio hanya menatapnya dengan ekspresi kosong, seolah Alyssa baru saja menceritakan dongeng sebelum tidur yang membosankan.
“Cerita yang menyentuh. Sayangnya, jaksa punya lima tumpuk bukti fisik, sementara kau hanya punya air mata dan keyakinan seorang anak.”
“Kenapa Anda tidak percaya sedikit pun pada saya?” tanya Alyssa dengan nada penuh frustasi.
“Aku tidak dibayar untuk percaya, aku dibayar untuk menang. Dan saat ini, reputasiku jauh lebih berharga daripada kasus Ayahmu yang berantakan itu. Jika aku mengambil kasus ini sekarang tanpa persiapan dan kalah, namaku ikut hancur. Ingat satu hal ini, Alyysa. Aku tidak mengambil risiko untuk sesuatu yang belum pasti nilainya.”
Alyssa tertawa pahit, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. “Jadi ini semua hanya tentang reputasi Anda? Tentang nama besar Valmer? Di sana ada nyawa manusia yang sedang dipertaruhkan!”
“Selamat datang di dunia nyata, Nona Verena. Di mana keadilan punya label harga,” Arsenio lantas berdiri sambil mengancingkan kembali satu kancing kemejanya yang terbuka. “Sudah larut. Kamar pengasuh ada di sebelah kamar Nathan. Tidurlah.”
“Saya tidak akan tidur di sini,” tegas Alyssa sambil ikut berdiri, kemudian menyambar tasnya yang usang dengan kasar.
Arsenio menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit. “Apa maksudmu?”
“Kesepakatan ini tidak membuahkan hasil. Anda ingin saya memberikan seluruh hidup saya selama tiga bulan hanya untuk sebuah 'mungkin'? Anda bahkan tidak berniat meninjau berkasnya besok pagi. Saya akan pulang.”
Arsenio mendengus kasar. “Kau lupa satu hal, Alyssa. Di luar sana, tidak ada satu pun firma hukum yang mau menyentuh nama Johan Verena karena mereka takut pada jaringan Hendra Gunawan. Hanya aku yang punya nyali untuk melawan mereka.”
“Nyali tanpa aksi adalah omong kosong, Tuan Valmer,” balas Alyssa sengit. “Saya akan mencari cara lain. Terima kasih untuk tawarannya yang menghina ini.”
Arsenio awalnya terdiam dan akan membiarkan Alyssa dengan gertakannya itu. Namun, ketika melihat Alyssa membuka pintu apartemen tersebut, Arsenio mengeluarkan kartu terakhirnya.
“Jika kau berani keluar dari pintu itu, maka jangan pernah berharap bisa melewati resepsionis kantorku lagi,” ancam Arsenio dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Alyssa berhenti tepat di depan pintu lift, kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Lebih baik saya bekerja di firma kecil sebagai pesuruh daripada menjadi tawanan di sini tanpa kepastian bagi Ayah saya.”
Alyssa menoleh ke arah Arsenio untuk terakhir kalinya. “Semoga Nathan bisa menemukan pengasuh yang lebih sabar dan mau menerima kondisinya yang rapuh itu! Selamat malam!”
Taksi berwarna biru itu berhenti perlahan di depan gerbang besi tinggi yang dijaga ketat. Alyssa turun dengan perasaan berkecamuk, meremas tali tasnya hingga jemarinya memutih.Udara di sekitar rumah tahanan ini terasa lebih berat dan dingin dibandingkan gedung apartemen mewah Arsenio. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan administrasi yang melelahkan, ia akhirnya dipandu ke sebuah ruang pertemuan sempit dengan sekat kaca yang kusam.Begitu pintu terbuka dan sosok pria paruh baya dengan seragam tahanan oranye muncul, pertahanan Alyssa runtuh. Ia segera menghambur, memeluk ayahnya erat-erat melalui celah kursi yang tersedia seolah takut pria itu akan menguap jika ia melepaskannya.“Ayah... Ayah baik-baik saja, kan? Mereka tidak menyakitimu di sini?” tanya Alyssa dengan suara parau, tangannya gemetar memeriksa wajah Johan yang tampak jauh lebih kurus dan kusam.Johan mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang dipaksakan untuk menenangkan putrinya. “Ayah baik-baik saja, Alyssa. Ja
Pukul delapan tepat, suasana ruang tengah sudah riuh. Nathan tampak segar dengan kaus kuning cerah dan aroma sabun bayi yang lembut. Ia tertawa melengking, berlarian mengejar Alyssa yang sengaja menjauhkan robot merah kesayangannya.“Ayo, ambil kalau bisa! Kak Alyssa larinya cepat, lho!” seru Alyssa sambil menjulurkan lidah, menggoda bocah itu dengan ekspresi jenaka.Nathan yang merasa tertantang berhenti sejenak, wajahnya memerah karena gemas. Ia memungut sebuah bola plastik warna-warni dari lantai dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah Alyssa. “Aaa! Nakal!” teriaknya sambil tertawa.Alyssa merunduk dengan tangkas, namun ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, pintu kamar utama baru saja terbuka.Puk!Bola plastik ringan itu mendarat tepat di kening Arsenio Valmer yang baru saja muncul dengan kemeja putih bersih yang belum dikancingkan sepenuhnya. Ruangan itu mendadak hening. Nathan langsung menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya, matanya mengerjap jenaka sambil terkik
Dua jam berlalu dalam keheningan yang hanya dipecah oleh bunyi gesekan kertas dan denting halus jarum jam. Alyssa membetulkan letak kacamatanya, matanya mulai terasa panas setelah menyisir ribuan angka dalam laporan audit yang diberikan Arsenio. Sesekali ia melirik tumpukan map di sudut meja, merasa takjub sekaligus ngeri melihat bagaimana pria di hadapannya ini mengelola puluhan kasus raksasa secara bersamaan.“Pantas saja dia jarang sekali kalah. Cara berpikirnya benar-benar sistematis sampai ke hal terkecil,” gumam Alyssa pelan, bermaksud memuji pria yang duduk di hadapannya itu.Namun, saat Alyssa mendongak untuk menanyakan satu poin yang mengganjal, ia tertegun. Arsenio tidak lagi berkutat dengan layar monitornya. Pria itu telah memejamkan mata, kepalanya tertumpu pada sebelah tangan yang tertekuk di atas meja kayu jati tersebut. Napasnya terdengar teratur, sangat kontras dengan wajah tegang yang ia tunjukkan sepanjang hari.Alyssa menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggu
Arsenio menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, matanya tak lepas dari Alyssa sementara tangannya lincah memutar-mutar pulpen perak. Cahaya lampu meja yang remang memberikan kesan dramatis pada rahangnya yang kokoh.“Tentu saja tanda tangan itu identik dengan milik Johan,” ucap Arsenio memecah kesunyian, suaranya terdengar seperti gumaman yang mematikan. “Bahkan ahli forensik digital pun akan butuh waktu lama untuk menyangkalnya.”Alyssa mengembuskan napas panjang, bahunya merosot. “Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan, Tuan Valmer. Jika identik, lalu bagaimana cara kita menang?”“Menang bukan hanya soal membuktikan tanda tangan itu palsu,” sahut Arsenio tenang. “Tapi soal memahami kenapa ayahmu sempat menolakku sebagai pendamping hukumnya di persidangan tadi.”Alyssa tertegun. Ia memajukan posisi duduknya. “Ayah menolak Anda? Kenapa?”“Dia bilang dia tidak ingin reputasiku hancur hanya karena membela kasus yang sudah dianggap 'mati' oleh publik,” Arsenio tersenyum miri
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam lewat beberapa menit. Alyssa baru saja menutup pintu kamar Nathan dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada suara sekecil apa pun yang bisa membangunkan balita yang kini telah terlelap itu.Saat berbalik ke ruang tengah, Alyssa merasakan pegal yang luar biasa di pundaknya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk meregangkan otot, tanpa sadar membuat kaus katun oversized yang ia kenakan terangkat naik, memperlihatkan sedikit bagian perutnya.Cklek.Pintu utama apartemen terbuka tepat pada detik itu. Alyssa tersentak kaget dan mengeluarkan teriakan kecil sembari buru-buru menarik turun kausnya.Ia berdiri kaku saat melihat Arsenio melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah tidak serapi pagi tadi. Dasinya sudah melonggar, dan kancing teratas kemejanya terbuka.Arsenio berjalan tanpa beban, seolah tidak baru saja mengejutkan seseorang hingga hampir jantungan. Ia berhenti tepat di hadapan Alyssa, menatapnya dengan sisa ketaja
Alyssa membetulkan posisi duduknya, menatap Nathan yang kini sedang asyik menyusun balok kayu di atas karpet. Rasa penasaran yang sedari tadi terendam di balik amarahnya kini mulai merembes keluar, menciptakan lubang besar dalam logikanya.“Nathan,” panggil Alyssa lembut. “Boleh Kakak tanya sesuatu?”Bocah itu mendongak, matanya yang bulat dan jernih menatap Alyssa dengan polos. “Ya, Mami?”Alyssa mengembuskan napas panjang, jarinya memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. “Itu dia masalahnya. Kenapa kau memanggilku Mami? Aku bukan ibumu, Jagoan. Namaku Alyssa.”Nathan tidak tampak bingung. Ia justru merangkak mendekat, lalu telunjuk mungilnya menyentuh pipi Alyssa dengan ragu. “Mami,” ucapnya lagi, kali ini dengan senyum lebar yang memperlihatkan lesung pipi samar, mirip sekali dengan milik Arsenio saat pria itu sedang menyeringai tipis.“Astaga... kau keras kepala sekali, persis ayahmu,” gumam Alyssa sambil menyandarkan kepalanya di bantalan sofa yang empuk. “Apa mamimu mirip de







