Teilen

3. Rasa Frustasi Alyssa

last update Veröffentlichungsdatum: 28.04.2026 00:03:43

Pukul sepuluh malam dan Alyssa sudah menunggu Arsenio pulang hampir tiga jam sejak Nathan tertidur. Hingga tak lama kemudian, suara lift yang berdenting halus menandakan kepulangan sang pemilik hunian.

Arsenio melangkah masuk, sambil melepaskan jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas meja konsol. Ia tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam saat mendapati Alyssa masih terjaga. Tanpa sepatah kata, ia duduk di sofa tunggal di depan Alyssa dan melemparkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja kopi.

“Apa ini?” tanya Alyssa sambil mengerutkan kening.

“Tiket keselamatan ayahmu, atau beban hidupmu yang baru. Tergantung bagaimana kau membacanya,” jawab Arsenio dengan nada datar.

Alyssa membuka amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. Lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas berkop surat Ars’s Legal. “Kontrak kerja sama... pengasuh eksklusif?”

“Baca poin utamanya, Nona Verena. Aku tidak suka mengulang penjelasan,” ujar Arsenio sambil menyandarkan punggungnya, memperhatikan reaksi Alyssa.

Alyssa memindai baris demi baris dengan cepat. “Tiga bulan masa percobaan? Harus tinggal di sini dua puluh empat jam? Tuan Valmer, Anda meminta saya menjadi tahanan rumah dengan kedok pengasuh?”

“Tidak. Yang inginkan adalah dedikasi. Nathan tidak butuh pengasuh paruh waktu yang datang dan pergi sesuka hati. Dia butuh stabilitas. Jika dalam tiga bulan kau berhasil membuatnya stabil, mulai dari pola makan hingga emosinya, aku akan turun tangan langsung sebagai kuasa hukum utama Johan Verena.”

“Tiga bulan?” Alyssa terkejut mendengar ucapan Arsenio barusan.

Dia kemudian menggelengkan kepalanya sambil meletakkan dokumen itu dengan kasar. “Tiga bulan itu terlalu lama, Tuan! Sidang lanjutan Ayah akan dilakukan dua minggu lagi. Jika Anda baru bergerak tiga bulan kemudian, Ayah saya sudah membusuk di sel yang lebih gelap!”

“Hukum bukan tentang kecepatan, Alyssa. Ini tentang momentum,” sahut Arsenio dengan nada yang sangat tenang, seolah teriakan Alyssa hanyalah angin lalu.

“Tapi dia tidak bersalah!” Alyssa mencondongkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Arsenio.

“Dengarkan saya baik-baik, Tuan. Ayah saya difitnah oleh rekan bisnisnya, Hendra Gunawan. Semua dokumen pencucian uang itu direkayasa. Ayah saya hanya menandatangani berkas yang dia kira adalah kontrak pengadaan, bukan pengalihan dana ilegal. Dia dikambinghitamkan!”

Arsenio hanya menatapnya dengan ekspresi kosong, seolah Alyssa baru saja menceritakan dongeng sebelum tidur yang membosankan.

“Cerita yang menyentuh. Sayangnya, jaksa punya lima tumpuk bukti fisik, sementara kau hanya punya air mata dan keyakinan seorang anak.”

“Kenapa Anda tidak percaya sedikit pun pada saya?” tanya Alyssa dengan nada penuh frustasi.

“Aku tidak dibayar untuk percaya, aku dibayar untuk menang. Dan saat ini, reputasiku jauh lebih berharga daripada kasus Ayahmu yang berantakan itu. Jika aku mengambil kasus ini sekarang tanpa persiapan dan kalah, namaku ikut hancur. Ingat satu hal ini, Alyysa. Aku tidak mengambil risiko untuk sesuatu yang belum pasti nilainya.”

Alyssa tertawa pahit, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. “Jadi ini semua hanya tentang reputasi Anda? Tentang nama besar Valmer? Di sana ada nyawa manusia yang sedang dipertaruhkan!”

“Selamat datang di dunia nyata, Nona Verena. Di mana keadilan punya label harga,” Arsenio lantas berdiri sambil mengancingkan kembali satu kancing kemejanya yang terbuka. “Sudah larut. Kamar pengasuh ada di sebelah kamar Nathan. Tidurlah.”

“Saya tidak akan tidur di sini,” tegas Alyssa sambil ikut berdiri, kemudian menyambar tasnya yang usang dengan kasar.

Arsenio menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit. “Apa maksudmu?”

“Kesepakatan ini tidak membuahkan hasil. Anda ingin saya memberikan seluruh hidup saya selama tiga bulan hanya untuk sebuah 'mungkin'? Anda bahkan tidak berniat meninjau berkasnya besok pagi. Saya akan pulang.”

Arsenio mendengus kasar. “Kau lupa satu hal, Alyssa. Di luar sana, tidak ada satu pun firma hukum yang mau menyentuh nama Johan Verena karena mereka takut pada jaringan Hendra Gunawan. Hanya aku yang punya nyali untuk melawan mereka.”

“Nyali tanpa aksi adalah omong kosong, Tuan Valmer,” balas Alyssa sengit. “Saya akan mencari cara lain. Terima kasih untuk tawarannya yang menghina ini.”

Arsenio awalnya terdiam dan akan membiarkan Alyssa dengan gertakannya itu. Namun, ketika melihat Alyssa membuka pintu apartemen tersebut, Arsenio mengeluarkan kartu terakhirnya.

“Jika kau berani keluar dari pintu itu, maka jangan pernah berharap bisa melewati resepsionis kantorku lagi,” ancam Arsenio dengan suara rendah namun penuh penekanan.

Alyssa berhenti tepat di depan pintu lift, kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Lebih baik saya bekerja di firma kecil sebagai pesuruh daripada menjadi tawanan di sini tanpa kepastian bagi Ayah saya.”

Alyssa menoleh ke arah Arsenio untuk terakhir kalinya. “Semoga Nathan bisa menemukan pengasuh yang lebih sabar dan mau menerima kondisinya yang rapuh itu! Selamat malam!”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   Bab 35

    Suasana kamar rawat mendadak menjadi sangat gelap setelah Jonny mematikan saklar utama dan menyelinap keluar untuk memantau koridor.Satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendar hijau redup dari layar monitor detak jantung Arsenio yang berbunyi dengan ritme konstan. Alyssa berdiri tegak di samping ranjang, kedua tangannya mencengkeram erat tiang infus besi, matanya menatap tajam ke arah pintu. Ketegangan memenuhi udara.Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah tangan kekar tiba-tiba bergerak dari balik selimut dan menyambar pergelangan tangan Alyssa. Sentuhan itu kuat dan tidak terduga, membuat Alyssa terkesiap pelan."Lepaskan, Arsenio! Apa yang kau lakukan?" bisik Alyssa dengan suara tertahan, mencoba menarik tangannya namun cengkeraman Arsenio justru semakin erat.Arsenio menarik tubuh Alyssa hingga wanita itu terpaksa mencondongkan tubuhnya ke atas ranjang. Di bawah temaram cahaya hijau, sepasang mata gelap Arsenio berkilat penuh gairah yang tidak tertahan."Dalam keadaa

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   Bab 34

    Alyssa mendudukkan dirinya kembali di kursi besi samping bangsal, berniat menemani Arsenio yang masih harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Meski kondisi fisiknya masih lemah, pria itu tampaknya tidak kekurangan energi untuk terus mengeluarkan ocehan dan nostalgia masa lalu tentang hubungan mereka sebelum kecelakaan.Alyssa mendengarkan setiap cerita dengan kening berkerut. Rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan di ujung lidah akhirnya memuncak juga. Ia menatap Arsenio dengan pandangan menyelidik."Tuan Valmer, ada satu hal yang mengganjal di otakku," ujar Alyssa, mengetuk-ngetuk jarinya di atas pembatas ranjang. "Kenapa kita bisa memiliki anak, padahal kau bilang hubungan asmara kita saat itu baru berjalan dua tahun? Apa hubungan kita dahulu begitu intim dan panas, sampai Nathan lahir bahkan sebelum kita sempat meresmikan pernikahan?"Arsenio hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan blak-blakan dari wanita di hadapannya. Ia menatap Alyssa dengan pandan

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   33. Jatuh Cinta pada Arsenio

    Arsenio perlahan menggeser tubuhnya, bersandar pada bantal rumah sakit yang ditinggikan hingga ia berada dalam posisi duduk.Sambil menahan ringisan kecil akibat jahitan di perutnya, sepasang matanya tidak lepas memandangi Alyssa. Keheningan kamar rawat itu mendadak mencair saat senyum tipis mulai terbit di wajah pucat sang pengacara."Kau tahu, Freya? Dulu, sebelum kecelakaan itu menghapus semua memorimu, kau adalah wanita yang paling merepotkan," ujar Arsenio, suaranya masih parau namun terdengar jauh lebih hidup.Alyssa menghentikan gerakannya yang sedang merapikan selimut di ujung bangsal. Ia lalu menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. "Merepotkan bagaimana?""Kau punya hobi makan yang luar biasa, persis seperti Nathan yang tidak bisa melihat camilan menganggur," kenang Arsenio, matanya menerawang menatap langit-langit kamar."Kau juga sangat manja, selalu menuntut perhatian, dan kadang-kadang suka sekali masuk ke ruang kerjaku hanya untuk mengacaukan tumpukan berkas perkara ya

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   32. Akan Membuatmu Ingat Kembali

    Dua hari kemudian, keheningan di kamar rawat intensif itu pecah oleh suara lenguhan lirih dari atas bangsal.Alyssa, yang sedang duduk terjaga di kursi samping tempat tidur, langsung menegakkan punggungnya.Ia melihat jemari tangan kanan Arsenio bergerak sedikit, disusul oleh kelopak matanya yang berkedip berat, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan."Fre... Freya..." bisik Arsenio, suaranya sangat parau dan lemah di balik masker oksigen yang terpasang di wajahnya.Alyssa menoleh cepat, sepasang matanya membola sempurna saat melihat kedua netra gelap pria itu akhirnya terbuka.Rasa syok sekaligus lega yang luar biasa menghantam dadanya seketika. Dengan gerakan refleks, Alyssa langsung menekan tombol darurat di dinding untuk memanggil dokter, sebelum kembali condong ke arah ranjang."Arsenio? Kau bisa mendengarkanku?" Alyssa meraih dan memegang erat tangan pria itu, merasakan kehangatan yang menjalar di antara jemari mereka. "Syukurlah... demi Tuhan, kau akhirnya bangun

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   31. Pria yang Begitu Mencintainya

    "Kau... kau bercanda, kan, Alyssa? Ini tidak lucu! Bagaimana bisa kau adalah Clara Freya?"Anna menganga lebar, matanya bergerak panik antara Alyssa dan tubuh Arsenio yang terbaring koma setelah mendengar cerita panjang dari Alyssa."Aku tidak sedang bercanda, Anna. Ini kenyataannya," jawab Alyssa, suaranya terdengar datar namun bergetar menahan tekanan. "Johan Verena bukan ayah kandungku. Dia mengubah wajahku tiga tahun lalu untuk menyembunyikan identitasku sebagai Freya setelah kecelakaan itu."Anna membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat karena syok. "Pantas saja, demi Tuhan, Alyssa! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa sahabat yang kutemui tiga tahun lalu, yang terlihat begitu murung dan kebingungan di taman kota, ternyata adalah Freya yang dicari-cari oleh Arsenio Valmer!"Alyssa menoleh, menatap Anna dengan kening berkerut. "Apakah penampilanku seburuk itu saat pertama kali kita bertemu?""Lebih dari buruk. Kau tampak sangat aneh dan seperti wanit

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   30. Kejadian di Masa Itu

    Alyssa kembali melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit Pusat Oakhaven dengan ritme kaki yang jauh lebih cepat. Di dalam dadanya, badai emosi berkecamuk antara tidak percaya, marah, dan asing. Begitu pintu kamar rawat intensif terbuka, sepasang matanya langsung tertuju pada tubuh Arsenio yang masih mematung di balik balutan alat-alat medis.Ia mendekati ranjang, menatap lurus ke dalam guratan wajah pria itu. Alyssa meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa dingin."Aku tidak mengingatmu," bisik Alyssa pada keheningan ruangan. Ia menoleh ke arah Jonny yang berdiri berjaga di dekat pintu. "Aku benar-benar tidak ingat apa pun tentang dia. Wajah ini, nama ini... bahkan Nathan. Kepalaku kosong, Jonny. Tolong jelaskan padaku. Jelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi."Jonny melangkah mendekat, mengembuskan napas berat sebelum memulai penjelasannya. "Tuan Arsenio dan Anda maksud saya, Clara Freya telah menjalin hubungan asmara yang sangat kuat selama dua tahun. Hubungan itu dipenuhi te

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   8. Panggilan yang Mengejutkan

    Arsenio tetap tenang, bahkan ketika ponsel di tangannya terus bergetar. Ia lalu mematikan layar dengan gerakan jempol yang santai, lalu meletakkan benda itu kembali ke atas meja seolah-olah nama yang baru saja muncul hanyalah gangguan kecil seperti iklan sampah.“Kau pikir aku bisa memenangkan kasu

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   7. Panggilan yang Membuat Alyssa Terkejut

    “Tuan Valmer, saya sudah menyiapkan semuanya. Nathan sudah mandi, sarapannya habis, dan sekarang dia sedang bermain blok susun dengan Bibi Maria,” lapor Alyssa cepat, matanya melirik jam dinding dengan gelisah. “Sidang pembacaan dakwaan Ayah dimulai satu jam lagi. Saya harus berangkat sekarang.”Sa

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   6. Debat yang Tak Berujung

    Pukul sembilan malam saat Alyssa berhasil menidurkan Nathan, dia diminta untuk datang ke ruang kerja Arsenio. Katanya, ada banyak hal yang ingin tunjukkan padanya.Alyssa kini sedang duduk di kursi kayu di hadapannya, dengan punggung tegak, matanya tak lepas dari map berwarna krem yang terbuka di t

  • Babysitter Pemikat Hati sang Lawyer   5. Satu Kesempatan lagi

    Setelah Alyssa mengangguk setuju, mereka kembali ke penthouse dan kini telah tiba. Alyssa melangkah keluar sembari masih menimang Nathan yang kini mulai terbangun dari tidur singkatnya. Sementara Arsenio berjalan mendahului, langkah kakinya yang berat beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status