Share

Bab 3

Author: Tujuh
Saat aku tiba di kantor, para pekerja sudah sibuk memperbaiki jendela kaca yang pecah.

Rekan-rekan kerjaku masih teringat rasa mencekam itu.

"Ya Tuhan, untung saja kita pulang lebih cepat kemarin, kalau tidak pasti akan mengerikan sekali."

Seorang rekan menyapa saat melihatku.

"Jessi, pacarmu jadi menjemput kemarin, kan?"

Aku tersenyum dan berkata, "Tidak, dia sibuk mengantar rekan perempuannya pulang."

Kantor pun berubah menjadi hening.

Seseorang dengan hati-hati bertanya, "Jadi, kamu pulang naik taksi sendirian kemarin?"

"Aku terjebak di kantor."

Semua orang langsung menahan napas.

Setelah beberapa lama, seorang rekan menepuk bahuku untuk menenangkan.

"Jessi, kamu sangat kuat."

Aku merasa tidak ada yang salah dengan mengatakan semua itu.

Lagipula, bukan aku orang yang melakukan kesalahan.

Menjelang akhir jam kerja, Darwin mengirim pesan.

[Aku ada di bawah kantormu.]

Mataku berkedip, tertegun dengan apa yang kubaca.

Dia sudah hampir setahun tidak pernah menjemputku pulang kerja.

Kadang-kadang dia berjanji akan menjemput, tetapi selalu dibatalkan karena urusan Yolanda.

Aku turun ke lantai bawah, dan benar saja, kulihat mobilnya terparkir di sana.

Aku langsung berjalan ke arahnya, tanganku hampir menyentuh gagang pintu penumpang ketika jendela mobil diturunkan dan memperlihatkan wajah Yolanda yang menggemaskan itu.

"Hai, Kak Jessi."

Darwin menjelaskan dari kursi pengemudi.

"Yolanda bilang ada restoran hidangan kuah pedas yang sangat enak dan baru buka di dekat kantormu. Aku sudah memesan tempat, apa kamu mau ikut?"

Aku menatapnya dan menjawab dengan suara yang sangat halus dan datar.

"Darwin, aku tidak bisa makan makanan pedas."

Pria itu sempat tertegun, ada sedikit rasa malu yang terlintas di wajahnya.

Akhirnya, mereka pergi meninggalkanku.

Dia bukan datang untuk menjemputku pulang kerja, dia hanya kebetulan teringat padaku.

Dia bahkan lupa bahwa aku tidak bisa makan makanan pedas.

Dulu, dia akan dengan hati-hati dan teliti memisahkan setiap cabai dari hidanganku jika lupa memberi tahu pelayan untuk tidak memakai cabai.

Mataku terasa sedikit perih, tetapi kelembapan itu mengering dengan cepat tertiup angin.

Aku hendak putus dengan Darwin ketika tiba-tiba dia berkata secara misterius bahwa ada acara besar pada hari Sabtu dan aku harus datang lebih awal.

Aku sedikit terkejut.

Sabtu adalah ulang tahun hubungan kami yang ketujuh.

Jadi, dia masih mengingatnya.

Meskipun aku tidak tahu apa yang dia rencanakan, namun aku akan tetap minta putus dengannya hari itu.

Darwin menyuruhku datang pukul sepuluh.

Tetapi jalanan macet parah, dan aku baru sampai pukul setengah sebelas.

Saat berjalan ke ruangan yang sudah dipesan, beberapa kenangan terlintas di benakku.

Dia selalu memeras otak untuk membuat berbagai macam kejutan di momen ulang tahun hubungan kami.

Dia menata lilin membentuk tanggal pertama kali kami bertemu.

Dia diam-diam belajar bermain gitar dan menyanyikan lagu yang pernah kusebutkan secara sepintas.

Dia membuat album berisi semua kenangan manis kami.

Namun sejak tiga tahun lalu, perayaan itu terpaksa berhenti di tengah jalan setiap tahunnya.

Tiga tahun lalu, Yolanda sakit, dan dia bilang hari jadi kami masih bisa dirayakan di lain waktu, sementara gadis itu sangat menyedihkan karena harus terbaring sendirian di rumah sakit.

Dua tahun lalu, Yolanda bilang ada orang yang membuntutinya, dan dia langsung melemparkan kue yang baru dipotong setengah dan bergegas pergi ke sana untuk menemuinya.

Tahun lalu, Yolanda mabuk berat di sebuah kelab, dia bilang hanya akan pergi untuk mengantar gadis itu pulang, tetapi kenyataannya malah tidak kembali sepanjang malam.

Kali ini, aku pun sudah tidak berharap banyak. Aku hanya ingin menyelesaikan makananku dan mengatakan apa yang ingin kusampaikan.

Aku membuka pintu.

Bang!

Potongan kertas warna-warni memenuhi ruangan, dan berjatuhan mengenai wajahku.

Ruangan itu penuh dengan wajah-wajah yang tidak kukenal.

Ketika melihatku, mereka semua langsung tertegun serempak.

"Hei, itu bukan Yolanda."

"Bukannya kamu bilang langkah kaki itu mirip seperti Yolanda?"

"Cepat bersiap, yang selanjutnya pasti dia!"

Aku berdiri terpaku di sana dengan tatapan kosong.

Sampai Darwin menarikku ke samping dan menyodorkan sebuah tabung semprot konfeti ke tanganku.

"Bukannya sudah kubilang untuk datang lebih awal? Cepat, saat Yolanda masuk, putar bagian ini."

Butuh beberapa saat bagiku untuk bisa kembali berbicara, dan rasanya sangat konyol sampai hampir membuatku tertawa geli.

Aku menatapnya dan bertanya, "Sebenarnya ini ada apa?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 9

    Rekan kerja Jessi memutar bola matanya dengan malas."Bagaimana aku bisa tahu? Tanya saja pada dirimu sendiri.""Yang kutahu, dia dengan penuh harapan menunggu pacarnya datang menjemput setelah pulang kerja, tapi pacarnya malah tidak datang sampai dia harus terjebak di kantor.""Jendela kantor pecah, dan dia harus bersembunyi sendirian di ruang istirahat. Apa kau tahu betapa takutnya dia malam itu? Tapi apa yang kau lakukan saat itu?"Darwin menggelengkan kepala."Mustahil ... Bagaimana mungkin dia bisa ada di kantor? Aku jelas-jelas sudah mengiriminya pesan ...." Tangannya gemetar saat membuka kunci ponselnya, lalu menelusuri riwayat obrolan mereka hingga akhirnya menemukan pesan yang telah dikirimnya hari itu.[Jessi, aku ada urusan mendesak. Kau pulang naik taksi saja ya. Hati-hati di jalan.]Namun, di samping pesan itu terdapat tanda seru merah terang yang sangat menyolok.Itu menunjukkan bahwa pesan tersebut gagal terkirim.Tubuhnya mendadak bergoyang hebat, dan wajahnya berubah

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 8

    Rekan-rekan kerja yang lain merasa sangat terkejut.Darwin menolak Yolanda?Apakah matahari terbit dari barat?Ditolak di depan umum, Yolanda merasa wajahnya memerah.Matanya memerah, dia merasa ingin menangis.Suaranya terdengar sedikit sengau dan dipenuhi kesedihan."Kenapa? Kamu bawa mobil, kan?" Darwin menoleh dan meliriknya sekilas, tatapannya begitu dingin hingga mampu membuat bulu kuduk merinding.Pria itu berkata dengan nada tidak sabar, "Aku harus menjemput pacarku pulang kerja, tentu saja aku tidak punya waktu."Mendengar hal itu, semua rekan kerja menghentikan pekerjaan mereka dan mulai menguping.Rekan kerja yang duduk di seberang sempat ragu sejenak, tetapi akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahu."Hmm, Darwin, bukannya kau selalu bilang kalau pacarmu itu sangat mandiri dan bisa pulang sendiri, sama sekali tidak butuh dijemput?"Darwin tertegun."Apa aku pernah bicara begitu?"Semua rekan kerjanya mengangguk.Seorang rekan kerja perempuan seolah teringat sesuatu."Aku

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 7

    Darwin duduk di kursi kerjanya sambil menatap kosong ke arah layar ponselnya yang sunyi.Dua hari telah berlalu sejak Jessi memperingatkannya untuk tidak mengirim pesan lagi.Dia berpikir Jessi hanya masih emosi saja.Setelah amarahnya mereda, wanita itu pasti akan menghubunginya secara sukarela. Lagipula, hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya.Bahkan ketika Jessi marah, dia akan kembali ceria seperti biasa dalam waktu dua hari.Namun kali ini, Darwin merasakan gelombang kepanikan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Pada hari itu, tatapan Jessi kepadanya begitu dingin.Tidak ada senyum, tidak ada kebencian, atau menyalahkan.Seolah-olah dia sedang menatap orang asing.Dulu, dia pasti akan mengamuk, menangis, membuat keributan, dan berulang kali bertanya apakah Darwin tidak mencintainya lagi.Meskipun merasa sedikit kesal dan risih, namun dia juga merasakan kegembiraan dan kebanggaan yang tersembunyi di dalam hati.Karena hal itu menunjukkan bahwa Jessi sangat menyukain

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 6

    Setelah berpisah dengan Ronald, aku kembali ke hotel bersama orang tuaku.Malam itu, pesan-pesan dari Darwin terus berdatangan.Karena tahu aku tidak akan menjawab teleponnya, jadi dia terus mengirim pesan.[Jessi, apakah kamu marah karena aku memintamu memberi penjelasan tentang Yolanda? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu akan sangat peduli tentang ini. Aku sudah menyuruhnya untuk menghapus unggahan itu.][Atau apakah kamu marah karena kami mengadakan pesta perayaan untuknya? Itu ide dari rekan-rekan setimku. Kalau kamu tidak suka, aku tidak akan ikut lagi dalam acara-acara seperti itu.][Kamu boleh marah, kamu boleh memukulku, kamu boleh membentakku, tapi tolong jangan bilang soal putus, ya?][Kamu dulu tidak pernah menyebut kata putus, saat marah sekalipun.]Memang benar, karena saat itu aku tidak rela mengakhiri hubungan ini.Aku tak sanggup kehilangan sosoknya, orang yang rela tangannya terbakar saat berlatih memasak agar bisa membuatkanku makanan sehat dan bergizi.Aku ta

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 5

    Aku bersama orang tuaku dan seorang pemuda asing tampak sedang duduk di ruangan itu.Pria itu duduk di sebelahku.Dia sedang mengambilkan lauk untukku ketika Darwin masuk.Ibuku yang duduk di seberang, tersenyum dan berkata kepada ayahku."Ronald masih sama seperti dulu, selalu perhatian. Aku cuma bilang sekali kalau Jessi tidak bisa makan makanan pedas, coba lihat itu, dia sudah mengambilkan Jessi makanan yang tidak ada cabainya."Ayahku mengangguk riang penuh rasa puas.Darwin menjatuhkan barang-barang yang dipegangnya hingga berbunyi, dan berbicara dengan terbata-bata."Paman, Bibi, Jessi, ini ... sebenarnya ada apa ini?"Orang-orang kemudian baru memperhatikan keberadaannya.Senyum ibuku sedikit memudar, namun dia memilih untuk tetap diam.Ayahku juga meliriknya dengan wajah dingin.Pantas saja kalau orang tuaku tidak menyukainya.Dua tahun lalu, mereka berinisiatif untuk bertemu dengan Darwin.Saat itu, kami sudah bersama selama lebih dari empat tahun.Awalnya, Darwin menyetujui r

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 4

    Darwin fokus menatap pintu dengan lekat dan berkata padaku."Aku lupa memberi tahumu kalau proyek Yolanda sebelumnya berhasil dengan sukses, jadi atasan berencana untuk mempromosikannya."“Jadi, ini adalah pesta perayaan untuk Yolanda.”Perhatian Darwin masih tertuju pada sisi lain dan tidak menyadari bahwa nada suaraku sudah terdengar dingin.“Iya. Lagipula, kamu selalu mengeluh kalau aku bermain dengan rekan-rekanku tanpa mengajakmu, jadi aku mengajakmu kali ini.”“Darwin, apakah kamu masih ingat hari ini hari apa?”Darwin menatapku kosong.Aku tersenyum tipis dan mengangguk.“Darwin, ayo kita putus.”Bang!"Selamat Yolanda ... untuk promosimu yang akan datang!"Suara letusan konfeti dan sorakan riang menenggelamkan suaraku.Dan Darwin pun sudah bergegas ke sisi Yolanda dan merangkulnya dengan satu tangan.Aku mengangkat sudut mulutku dan membentuk senyuman mengejek, lalu berbalik dan melangkah pergi.Aku mengeluarkan ponsel dan menemukan bahwa ibuku telah mengirim pesan setengah jam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status