Share

Bab 2

Author: Tujuh
Aku tersentak kaget dan mengintip keluar melalui celah tirai jendela ruang istirahat.

Aku melihat kaca jendela besar yang terbentang dari lantai hingga langit-langit di area luar pecah berkeping-keping.

Angin kencang langsung berhembus menerobos masuk.

Ada sesuatu yang terbang melalui lubang pecahan kaca itu dan membentur keras pintu ruang isitirahat.

Aku sangat ketakutan hingga berusaha menahan pintu itu dengan menggeser sofa, pikiranku mendadak menjadi kosong. Saat tersadar, aku sudah menekan nomor Darwin.

Telepon berdering hampir setengah menit sebelum akhirnya diangkat.

Sebelum aku sempat bicara, Darwin sudah berkata dengan tergesa-gesa.

"Jessi, tunggu sebentar ya, aku agak sibuk sekarang ...."

Aku menahan rasa takutku dan berkata, "Darwin, aku masih di kantor, kaca jendela di luar pecah, aku takut sekali ...."

Butuh beberapa saat baginya untuk menjawab.

"Jendela mana yang pecah? Jendela ruang tamu? Kalau begitu, kamu cepat masuk kamar dan tetap di sana. Tidak apa-apa, aku akan menyuruh seseorang memperbaikinya besok ...."

Aku samar-samar mendengar suara gim dimainkan dari ujung telepon.

Detik berikutnya, Yolanda bersorak keras, "Hore ... aku menang lagi!"

Darwin berkata dengan nada pasrah namun penuh kasih sayang, "Iya, iya, aku kalah. Taruhan tetap taruhan. Lain kali aku akan mentraktirmu makan."

"Lain kali apa? Besok!"

"Oke, oke ...."

Semua kata-kata itu seakan tersangkut di tenggorokanku dalam sekejap.

Pada saat itu, aku akhirnya benar-benar menyadari sesuatu.

Hubungan tujuh tahunku dengan Darwin akhirnya harus kalah dari rekan kerja perempuan yang baru dikenalnya selama tiga tahun ini.

Tiga tahun lalu, ketika pertama kali dia menyebut nama Yolanda padaku, kata-katanya penuh dengan nada ketidakberdayaan.

Gadis itu bergabung dengan perusahaan pada hari yang sama dengannya, dan manajer menugaskan mereka dalam satu tim yang sama.

Darwin mengatakan bahwa Yolanda telah salah memasukkan data hingga menyebabkan dia harus bekerja lembur selama dua malam untuk memperbaikinya.

Dia juga pernah mengatakan bahwa Yolanda secara tidak sengaja menumpahkan kopi ke tubuhnya dan mengotori jaket favoritnya.

Untuk waktu yang cukup lama, dia selalu menghela napas setiap kali menyebut nama Yolanda.

Kemudian, dia mengajakku ke acara jamuan makan bersama departemennya, dan baru saat itulah aku pertama kali melihat Yolanda.

Dia setahun lebih muda dari kami, wajahnya bulat dan sedikit berpipi tembam.

Yolanda diperkenalkan padaku. Darwin berkata kepadanya, "Panggil Kakak."

Gadis itu pun dengan patuh memanggilku, "Kak Jessi."

Cara Darwin memandang Yolanda di hari itu membuatku sangat tidak nyaman.

Sekarang aku baru mengerti bahwa itu adalah tatapan penuh kasih sayang.

Kemudian, aku ingin Darwin menemaniku pergi ke pameran seni di akhir pekan.

Dia bilang kalau komputer Yolanda rusak dan harus memperbaikinya.

Melihatku terdiam, dia menjelaskan bahwa semua data tim mereka ada di komputer itu.

Aku bilang ada film misteri bagus yang baru saja dirilis, dan bertanya apakah mau menontonnya bersama.

Dia tertegun sejenak, lalu berkata kalau sudah menontonnya bersama Yolanda.

Dia bilang kalau perusahaan memberi mereka tiket, dan seluruh departemen mereka pergi bersama.

Tetapi belakangan aku baru mengetahui bahwa mereka berdua memilih tempat duduk yang paling sudut, jauh terpisah dari rekan-rekan departemen lainnya.

Kemudian, dia mulai mengantar gadis itu pulang saat hari hujan, mengingat masa menstruasinya dan membelikannya minuman hangat, tahu bahwa gadis itu tidak suka daun bawang dan bawang putih sehingga akan memberi tahu pelayan terlebih dahulu .…

Aku melihat semua itu di depan mata dan bertanya kepadanya.

"Darwin, apakah kamu menyukai Yolanda?"

Dia tertegun sejenak, lalu tertawa, "Bagaimana mungkin aku menyukai gadis bodoh itu? Aku hanya membantunya sebagai rekan kerja."

Gadis bodoh itu ... Sebuah panggilan yang penuh kasih sayang.

Namun, apa yang dilakukannya telah jauh melampaui batas dari hanya sekadar membantu rekan kerja.

Aku tidak tahu kapan mulai tertidur.

Aku hanya merasa seperti mengalami mimpi panjang yang melelahkan.

Ketika terbangun, hari sudah terang, angin dan hujan pun telah berhenti, dan jalanan kembali ramai dengan suara-suara.

Syukurlah, mimpi itu benar-benar berakhir.

Aku lalu pulang, mandi, dan berganti pakaian.

Saat keluar dari kamar mandi, Darwin kebetulan membuka pintu dan masuk.

Melihatku, dia menghela napas lega dan bertanya dengan nada khawatir, "Apakah semuanya baik-baik saja kemarin? Kaca jendelanya .…"

Dia melihat jendela di ruang tamu, lalu tertegun sejenak saat melihat semuanya masih utuh.

Aku berkata dengan tenang, "Aku cuma mimpi buruk."

Dia pun mengangguk.

Melihatku hendak pergi lagi, dia tiba-tiba memanggilku. Ekspresi wajahnya tampak ragu-ragu, tetapi tetap berkata.

"Jessi, apa kita bisa menunda makan malam dengan orang tuamu Rabu depan?"

Aku meliriknya tanpa ekspresi.

"Kenapa?"

Dia berkata dengan nada sedih.

"Rabu depan itu hari peringatan kematian ibunya Yolanda. Ayahnya di luar negeri dan tidak bisa pulang. Kasihan kalau dia harus pergi sendirian."

Kuku-kuku mencengkeram erat ke telapak tanganku.

Aku mencoba untuk tetap tenang.

"Ini sudah keempat kalinya kau membatalkan janji denganku, dan tiket pesawat orang tuaku sudah dibeli ...."

Dia memotong ucapanku dengan nada mencela, "Lalu, apa kau berharap aku hanya duduk diam saja? Kami ini rekan kerja."

‘Tetapi, kita ini kekasih.’

Namun, aku tidak mengucapkan kata-kata itu dengan lantang.

Aku tidak bisa tidur nyenyak semalam, pelipisku berdenyut terasa nyeri.

Aku memijatnya pelan dan berkata tanpa ekspresi, "Ya sudah, pergi saja."

Ekspresinya langsung berubah cerah. "Aku tahu kau pasti akan mengerti. Jangan khawatir, aku pasti akan mengunjungi orang tuamu lain kali."

Nada dering yang sangat familiar terdengar, dia segera menjawab sambil berjalan masuk ke kamar.

"Jessi sudah setuju. Rabu depan, aku akan pergi menemanimu ...."

Sementara itu, aku mengirim pesan kepada ibuku.

[Bu, bukannya Ibu tidak pernah setuju dengan Darwin dan bilang mau mengenalkanku ke anaknya teman Ibu yang tampan itu? Ayo, kita bertemu Rabu depan.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 9

    Rekan kerja Jessi memutar bola matanya dengan malas."Bagaimana aku bisa tahu? Tanya saja pada dirimu sendiri.""Yang kutahu, dia dengan penuh harapan menunggu pacarnya datang menjemput setelah pulang kerja, tapi pacarnya malah tidak datang sampai dia harus terjebak di kantor.""Jendela kantor pecah, dan dia harus bersembunyi sendirian di ruang istirahat. Apa kau tahu betapa takutnya dia malam itu? Tapi apa yang kau lakukan saat itu?"Darwin menggelengkan kepala."Mustahil ... Bagaimana mungkin dia bisa ada di kantor? Aku jelas-jelas sudah mengiriminya pesan ...." Tangannya gemetar saat membuka kunci ponselnya, lalu menelusuri riwayat obrolan mereka hingga akhirnya menemukan pesan yang telah dikirimnya hari itu.[Jessi, aku ada urusan mendesak. Kau pulang naik taksi saja ya. Hati-hati di jalan.]Namun, di samping pesan itu terdapat tanda seru merah terang yang sangat menyolok.Itu menunjukkan bahwa pesan tersebut gagal terkirim.Tubuhnya mendadak bergoyang hebat, dan wajahnya berubah

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 8

    Rekan-rekan kerja yang lain merasa sangat terkejut.Darwin menolak Yolanda?Apakah matahari terbit dari barat?Ditolak di depan umum, Yolanda merasa wajahnya memerah.Matanya memerah, dia merasa ingin menangis.Suaranya terdengar sedikit sengau dan dipenuhi kesedihan."Kenapa? Kamu bawa mobil, kan?" Darwin menoleh dan meliriknya sekilas, tatapannya begitu dingin hingga mampu membuat bulu kuduk merinding.Pria itu berkata dengan nada tidak sabar, "Aku harus menjemput pacarku pulang kerja, tentu saja aku tidak punya waktu."Mendengar hal itu, semua rekan kerja menghentikan pekerjaan mereka dan mulai menguping.Rekan kerja yang duduk di seberang sempat ragu sejenak, tetapi akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahu."Hmm, Darwin, bukannya kau selalu bilang kalau pacarmu itu sangat mandiri dan bisa pulang sendiri, sama sekali tidak butuh dijemput?"Darwin tertegun."Apa aku pernah bicara begitu?"Semua rekan kerjanya mengangguk.Seorang rekan kerja perempuan seolah teringat sesuatu."Aku

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 7

    Darwin duduk di kursi kerjanya sambil menatap kosong ke arah layar ponselnya yang sunyi.Dua hari telah berlalu sejak Jessi memperingatkannya untuk tidak mengirim pesan lagi.Dia berpikir Jessi hanya masih emosi saja.Setelah amarahnya mereda, wanita itu pasti akan menghubunginya secara sukarela. Lagipula, hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya.Bahkan ketika Jessi marah, dia akan kembali ceria seperti biasa dalam waktu dua hari.Namun kali ini, Darwin merasakan gelombang kepanikan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Pada hari itu, tatapan Jessi kepadanya begitu dingin.Tidak ada senyum, tidak ada kebencian, atau menyalahkan.Seolah-olah dia sedang menatap orang asing.Dulu, dia pasti akan mengamuk, menangis, membuat keributan, dan berulang kali bertanya apakah Darwin tidak mencintainya lagi.Meskipun merasa sedikit kesal dan risih, namun dia juga merasakan kegembiraan dan kebanggaan yang tersembunyi di dalam hati.Karena hal itu menunjukkan bahwa Jessi sangat menyukain

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 6

    Setelah berpisah dengan Ronald, aku kembali ke hotel bersama orang tuaku.Malam itu, pesan-pesan dari Darwin terus berdatangan.Karena tahu aku tidak akan menjawab teleponnya, jadi dia terus mengirim pesan.[Jessi, apakah kamu marah karena aku memintamu memberi penjelasan tentang Yolanda? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu akan sangat peduli tentang ini. Aku sudah menyuruhnya untuk menghapus unggahan itu.][Atau apakah kamu marah karena kami mengadakan pesta perayaan untuknya? Itu ide dari rekan-rekan setimku. Kalau kamu tidak suka, aku tidak akan ikut lagi dalam acara-acara seperti itu.][Kamu boleh marah, kamu boleh memukulku, kamu boleh membentakku, tapi tolong jangan bilang soal putus, ya?][Kamu dulu tidak pernah menyebut kata putus, saat marah sekalipun.]Memang benar, karena saat itu aku tidak rela mengakhiri hubungan ini.Aku tak sanggup kehilangan sosoknya, orang yang rela tangannya terbakar saat berlatih memasak agar bisa membuatkanku makanan sehat dan bergizi.Aku ta

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 5

    Aku bersama orang tuaku dan seorang pemuda asing tampak sedang duduk di ruangan itu.Pria itu duduk di sebelahku.Dia sedang mengambilkan lauk untukku ketika Darwin masuk.Ibuku yang duduk di seberang, tersenyum dan berkata kepada ayahku."Ronald masih sama seperti dulu, selalu perhatian. Aku cuma bilang sekali kalau Jessi tidak bisa makan makanan pedas, coba lihat itu, dia sudah mengambilkan Jessi makanan yang tidak ada cabainya."Ayahku mengangguk riang penuh rasa puas.Darwin menjatuhkan barang-barang yang dipegangnya hingga berbunyi, dan berbicara dengan terbata-bata."Paman, Bibi, Jessi, ini ... sebenarnya ada apa ini?"Orang-orang kemudian baru memperhatikan keberadaannya.Senyum ibuku sedikit memudar, namun dia memilih untuk tetap diam.Ayahku juga meliriknya dengan wajah dingin.Pantas saja kalau orang tuaku tidak menyukainya.Dua tahun lalu, mereka berinisiatif untuk bertemu dengan Darwin.Saat itu, kami sudah bersama selama lebih dari empat tahun.Awalnya, Darwin menyetujui r

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 4

    Darwin fokus menatap pintu dengan lekat dan berkata padaku."Aku lupa memberi tahumu kalau proyek Yolanda sebelumnya berhasil dengan sukses, jadi atasan berencana untuk mempromosikannya."“Jadi, ini adalah pesta perayaan untuk Yolanda.”Perhatian Darwin masih tertuju pada sisi lain dan tidak menyadari bahwa nada suaraku sudah terdengar dingin.“Iya. Lagipula, kamu selalu mengeluh kalau aku bermain dengan rekan-rekanku tanpa mengajakmu, jadi aku mengajakmu kali ini.”“Darwin, apakah kamu masih ingat hari ini hari apa?”Darwin menatapku kosong.Aku tersenyum tipis dan mengangguk.“Darwin, ayo kita putus.”Bang!"Selamat Yolanda ... untuk promosimu yang akan datang!"Suara letusan konfeti dan sorakan riang menenggelamkan suaraku.Dan Darwin pun sudah bergegas ke sisi Yolanda dan merangkulnya dengan satu tangan.Aku mengangkat sudut mulutku dan membentuk senyuman mengejek, lalu berbalik dan melangkah pergi.Aku mengeluarkan ponsel dan menemukan bahwa ibuku telah mengirim pesan setengah jam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status