Share

5. Makan Malam

Penulis: Al
last update Tanggal publikasi: 2026-07-15 22:33:26

Tatapan Vindra masih tertuju pada jalan yang baru saja dilalui Aya. Untuk beberapa saat, pria itu tetap diam di balik kemudi mobilnya.

“Kenapa aku malah memperhatikannya?” Vindra menggeleng pelan, seolah ingin membuang pertanyaan yang baru saja muncul.

Baginya, Aya hanyalah salah satu karyawan yang baru mulai bekerja hari itu. Tak lebih dari seorang teman lama yang kembali ia temui secara kebetulan.

***

Sebulan berlalu sejak Aya mulai bekerja. Kesibukan yang dulu terasa asing kini perlahan berubah menjadi rutinitas. Tangannya semakin terbiasa memilah pakaian, mencatat pesanan, hingga melayani pelanggan yang silih berganti datang.

Siang itu, mereka berempat berkumpul di ruang istirahat lantai dua untuk menikmati makan siang setelah sibuk melayani pelanggan sejak pagi.

Alya membuka kotak bekalnya dengan malas. “Lagi-lagi ibu memasak ayam goreng.”

Naura melirik isi kotak makan Alya sebelum terkekeh pelan. “Memangnya kenapa? Terlihat enak.”

“Bosan.” Alya menyuap nasi ke mulutnya. “Aku ingin menu lain.”

Linda yang sejak tadi menikmati makan siangnya menggeleng pelan. “Bukannya minggu lalu kamu juga mengeluh karena bosan dengan sayur?”

Alya mengunyah cepat sebelum menjawab. “Iya. Karena itu, minggu ini menunya ganti.”

Naura terkekeh pelan. “Kalau begitu, besok masak sendiri saja.”

“Tidak!” Alya langsung menggeleng pelan. “Repot nanti.”

Di sisi lain, Aya hanya memperhatikan tingkah mereka sambil menikmati bekalnya. Entah sudah berapa kali Alya mengeluhkan menu makan siangnya, tetapi celetukan-celetukannya selalu berhasil membuat suasana makan siang menjadi lebih hidup.

Setelah waktu istirahat berakhir, mereka kembali ke lantai bawah dan melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Linda yang sedang berjaga di meja kasir segera tersenyum begitu melihat Vindra memasuki laundry.

“Selamat siang, pak!” sapa wanita itu ramah.

“Siang.” Vindra mengangguk singkat sebelum menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.

Mendengar sapaan itu, Aya, Naura, dan Alya ikut mengangkat kepala. Ketiganya menghentikan pekerjaan masing-masing sejenak sebelum membalas sapaan Vindra.

“Selamat siang, pak!” sapa mereka bersamaan.

“Siang. Lanjutkan saja pekerjaannya, anggap saya tidak di sini,” balas Vindra.

Ketiganya kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Vindra berjalan perlahan menyusuri area laundry. Linda sibuk melayani pelanggan, Alya mengangkat keranjang berisi pakaian yang belum dicuci menuju area mesin, sementara Naura memeriksa kembali pakaian yang telah selesai dikemas sebelum disusun di rak pengambilan.

Pandangannya kemudian berhenti pada Aya. Wanita itu mengangkat keranjang berisi pakaian yang telah selesai disetrika, lalu meletakkannya di atas meja. Beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya jatuh menutupi pipi.

***

Menjelang jam operasional berakhir, suasana laundry perlahan mulai lengang. Setelah menerima pesan dari Linda bahwa Vindra ingin menemuinya di lantai dua, Aya segera menyelesaikan pekerjaannya.

Ia berjalan menaiki tangga menuju ruang kerja Vindra. Kemudian, mengetuk pintu dengan pelan.

Tok ... Tok ...

Dari dalam ruangan terdengar suara Vindra. “Masuk saja!”

Aya membuka pintu perlahan. “Permisi, pak.”

Vindra mengangkat pandangannya dari tablet yang sedang dilihatnya. “Silakan duduk!”

“Terima kasih.” Aya menarik kursi, lalu duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuannya.

Vindra mematikan tablet sebelum menyandarkan tubuh ke kursi. “Waktu pertama kali kamu mulai bekerja, saya pernah bilang kalau saya ingin mempercayakan operasional laundry ini kepadamu saat saya sedang tidak ada.”

Aya mengangguk pelan. Perkataan itu masih ia ingat dengan jelas. “Iya, Pak.”

“Sejauh ini, hasil kerjamu sesuai dengan yang kuharapkan.” Sudut bibir Vindra terangkat tipis. “Saya puas.”

Ucapan itu membuat sudut bibir Aya terangkat. Ia tak menyangka Vindra akan mengatakannya. “Terima kasih, Pak. Saya akan belajar lebih baik lagi.”

Vindra hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Mengira pembicaraan mereka telah usai, Aya perlahan bangkit dari kursinya.

“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya permisi,” pamit Aya dengan sopan.

Belum sempat Aya melangkah lebih jauh, Vindra kembali memanggilnya. “Aya!”

Aya menoleh kembali ke arah Vindra. “Iya, pak.”

Vindra tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. “Apa kamu ada rencana setelah pulang kerja?”

“Tidak ada, pak,” balas Aya singkat.

Mendengar jawaban itu, Vindra menghela napas sebelum kembali bersuara. “Kalau tidak keberatan, mau makan malam dengan saya?”

Aya tampak sedikit tertegun. “Makan malam?”

“Hanya makan malam biasa.” Vindra tersenyum tipis. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Melihat Aya terdiam cukup lama, Vindra kembali menambahkan. “Tidak masalah kalau kamu menolak.”

Aya segera menggeleng. “Tidak. Bukan begitu.”

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Tatapan Aya tanpa sadar bertemu dengan tatapan Vindra. Pria itu tidak terlihat sedang memaksanya, hanya menunggu jawaban dengan tenang.

Setelah mengembuskan napas panjang, Aya mengangguk. “Baiklah.”

***

Aya memandang sekeliling restoran yang tidak terlalu ramai. Cahaya lampu berwarna kuning hangat membuat suasana terasa nyaman. Di hadapannya, Vindra tengah menuangkan segelas air putih ke gelasnya sendiri sebelum melakukan hal yang sama untuk Aya.

“Terima kasih,” ucap Aya pelan.

Vindra mengangguk singkat. “Silakan dimakan sebelum dingin.”

Aya menatap nasi goreng seafood yang tersaji di hadapannya sesaat sebelum mulai menyuapkannya perlahan. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya suara denting sendok dan garpu yang sesekali memecah keheningan.

Vindra memecah keheningan lebih dulu. “Bagaimana? Sudah mulai terbiasa bekerja di laundry?”

Aya menghentikan gerakannya sejenak, lalu mengangguk. “Sudah.”

“Tidak ada kesulitan dengan pekerjaannya?” tanya Vindra memastikan.

“Awalnya sedikit. Tapi yang lain sangat membantu.”

Vindra tersenyum tipis. “Kelihatannya kalian cepat akrab.”

Aya ikut tersenyum kecil mengingat tingkah Alya. “Alya yang paling sering mengajak bicara.”

“Sepertinya memang begitu sifatnya.” Vindra mengambil gelas air putihnya. “Setidaknya dia selalu berhasil mencairkan suasana.”

Aya terkekeh pelan. “Benar.”

Vindra memperhatikan wanita di hadapannya beberapa saat. Dibandingkan saat pertama kali bertemu, Aya kini tidak lagi terlihat sekaku dulu.

Tatapannya kemudian beralih pada pakaian yang dikenakan Aya. Masih sama seperti biasanya, sederhana dan rapi, tanpa aksesori atau barang bermerek yang mencolok.

Vindra kembali mengangkat pandangannya. “Kalau boleh tahu, sudah lama tinggal di rumah susun itu?”

Aya menyendok sedikit nasi, tetapi urung menyuapkannya. Setelah jeda singkat, ia menjawab pelan. “Belum terlalu lama.”

Mendengar jawabannya, alis Vindra terangkat. “Lalu sebelumnya tinggal di mana?”

Aya menarik napas pelan. Satu tangannya yang berada di bawah meja tanpa sadar meremas ujung kausnya. “Di rumah Ibu. Di luar kota.”

“Kalau sekarang kamu tinggal di sini, bagaimana dengan Ibumu?” tanya Vindra hati-hati.

Aya terdiam. Ia meraih gelas di samping piringnya, lalu meneguk sedikit air putih sebelum meletakkannya kembali di atas meja.

Beberapa detik berlalu sebelum ia membuka suara. “Ibuku sudah meninggal.”

Vindra terdiam. Tatapannya seketika melunak. “Maaf. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada hal yang menyakitkan.”

Aya menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, meski tak benar-benar sampai ke matanya. “Tidak apa-apa.”

Vindra terdiam sejenak. Tatapannya turun ke meja makan. Ia menyesali pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. “Meskipun terlambat, aku turut berduka cita.”

Aya mengangkat pandangannya. “Terima kasih.”

Keheningan kembali menyelimuti meja mereka. Tak ada satu pun dari mereka yang segera membuka percakapan. Hanya suara lirih pengunjung lain dan denting peralatan makan yang sesekali terdengar.

Setelah beberapa saat, Vindra memberanikan diri kembali bertanya. “Apa ... itu yang membuat kamu memutuskan pindah ke kota ini?”

Aya menghentikan gerakan sendoknya. Jemarinya mengerat pada gagangnya, sementara pikirannya dipenuhi keraguan. Bukan. Alasan terbesar ia meninggalkan kota itu bukanlah karena kepergian sang ibu. Namun, Aya tak ingin mengatakannya.

Setelah berpikir sesaat, Aya mengangguk kecil. “Iya. Ada terlalu banyak kenangan di sana.”

Vindra mengangguk pelan. Dalam benaknya, kehilangan seorang ibu sudah lebih dari cukup menjadi alasan seseorang meninggalkan kota yang penuh kenangan.

Vindra kembali meraih sendok makannya. “Semoga sekarang hidupmu jauh lebih baik.”

Aya tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada makanan di depannya. Meninggalkan kota itu ternyata jauh lebih mudah daripada meninggalkan masa lalunya.

“Aya!” Vindra meletakkan sendoknya. “Boleh aku menanyakan satu hal lagi?”

Aya mengernyit. “Apa itu?”

Tatapan Vindra bertahan beberapa saat pada Aya. Ada sedikit keraguan pada sorot matanya. “Aku ingin tahu ....”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bahagia Yang Kupilih    11. Kafe

    Aya sontak membeku. Ia mengenali suara itu sebelum akhirnya berbalik, dan benar saja, Vindra berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan senyum tipis. Pria itu baru saja keluar dari salah satu toko ketika tanpa sengaja melihat Aya berjalan sendirian menuju pintu keluar.“Pak Vindra? Bapak juga ada di sini?” tanya Aya, masih sedikit terkejut.“Iya. Aku sedang ada urusan di sekitar sini,” jawab Vindra sambil melirik paper bag di tangan Aya. “Kamu sendiri sedang apa?”“Karena sedang libur, aku membeli beberapa barang yang diperlukan,” jelas Aya. “Sekarang aku mau pulang.”Vindra memandang jam tangan hitam di pergelangan tangannya. “Apa kamu sudah makan siang?”Genggaman tangannya pada paper bag mengeratm. “Belum. Aku berniat untuk makan siang di rumah.” “Apa tidak keberatan kalau aku mengajakmu mengunjungi kafe di sekitar sini?” tawar Vindra. “Kafe?” Aya mengulang dengan sedikit ragu. “Iya. Kebetulan aku akan pergi ke sana, menu di sana sangat enak.”Aya berpikir cukup lama sebelum

  • Bahagia Yang Kupilih    10. Hari Libur

    Aya berkali-kali mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju pintu masuk utama pusat perbelanjaan. Matanya memperhatikan orang-orang yang datang bersama keluarga atau teman, sementara ia berdiri sendirian dengan jemari yang sesekali mengerat pada tali tasnya. Setelah memikirkannya semalaman, ia memutuskan untuk pergi ke luar rumah dan menghabiskan waktu liburnya untuk bersenang-senang. “Jangan takut. Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini,” ucap Aya kepada dirinya sendiri sebelum melangkah masuk. Begitu berada di dalam, Aya berjalan perlahan sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak memiliki tujuan khusus, tetapi semakin lama berada di sana, langkahnya justru semakin ringan dan senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Aku mau lihat-lihat saja. Tidak harus membeli apa pun,” gumam Aya. Entah ke mana langkah kakinya membawanya, Aya akhirnya berhenti di sebuah toko pakaian. Beberapa produk yang dipajang terlihat menarik perhatiannya karena sebagian besar modelnya

  • Bahagia Yang Kupilih    9. Masalah

    Wanita itu masih berdiri di depan meja kasir dengan wajah penuh amarah. Ia meletakkan kantong laundry di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah kemeja berwarna putih dengan noda di bagian kerah. “Ini kemeja suami saya. Sebelum dicuci kondisinya masih bagus, tapi sekarang malah seperti ini,” protesnya sambil menunjuk noda tersebut. Aya menerima kemeja itu dan memeriksanya sebentar. “Ibu menyerahkan pakaian ini ke sini untuk dicuci?” “Iya. Asisten saya yang mengurusnya. Dia bilang kemeja ini dicuci di sini,” jawab wanita itu dengan nada kesal. Aya berusaha tetap tenang meskipun wanita tersebut terus menatapnya dengan tajam. “Baik, Bu. Kalau begitu, boleh saya melihat nota pesanannya?” “Saya tidak membawanya,” jawab wanita itu. “Memangnya tidak bisa dicek dengan cara lain?” “Kami bisa mencoba mencarinya, Bu. Namun, kami tetap harus menjalankan sesuai prosedur,” jelas Aya. Linda yang sejak tadi memperhatikan dari belakang akhirnya menghampiri mereka. “Kalau Ibu tidak membawanya, mungk

  • Bahagia Yang Kupilih    8. Penasaran

    Malam itu, Vindra baru saja tiba di rumah sewanya setelah menutup laundry. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu merebahkan tubuh sejenak. Rasa lelah belum sepenuhnya hilang. Namun, pikirannya justru kembali pada percakapan saat ia mengajak Aya makan malam beberapa waktu lalu.Hari itu, sebenarnya Vindra sempat ingin menanyakan satu hal. Ia penasaran apakah Aya sudah memiliki seseorang di sisinya. Tetapi pertanyaan itu urung keluar karena terasa terlalu pribadi untuk diucapkan. “Kenapa aku jadi memikirkan hal seperti itu?” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit rumah. Vindra mengusap wajahnya perlahan. Selama ini ia tidak pernah mencampuri kehidupan pribadi siapa pun, tetapi entah mengapa ia justru ingin mengenal Aya lebih jauh. Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama asistennya muncul di layar sehingga Vindra segera mengangkat panggilan itu.“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu.” Suara asisten itu terdengar gugup. Vindra segera duduk tegak. “Tidak apa-apa. Ada masalah?”

  • Bahagia Yang Kupilih    7. Perhatian

    Begitu membukanya, seorang wanita berambut pendek dengan daster sederhana sudah berdiri di hadapannya. Aya mengenali wanita itu sebagai salah satu penghuni rumah susun yang tinggal di lantai bawah. "Ya, ada apa?" tanya Aya sambil menatap wanita itu dengan bingung. Wanita itu melongok ke dalam kamar Aya sejenak, seolah memastikan sesuatu. "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan." Aya mengernyitkan kening. "Memastikan apa, Bu?" "Tadi saya melihat ada seorang pria," ujar wanita itu sambil tersenyum kecil. "Sudah pulang, ya?" Aya memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan rasa pening di kepalanya. Pria yang dimaksud wanita itu pasti Vindra. Mungkin ia melihat Vindra keluar dari kamarnya atau melihat mobil pria itu yang terparkir di depan rumah susun. "Iya, dia datang untuk menjenguk saya," jawab Aya berusaha tetap tenang. "Apa dia saudaramu?" tanya wanita itu memastikan. Aya tersenyum tipis sebelum menjawab. "Bukan. Dia teman saya." Mendengar jawaban Aya, wanita itu

  • Bahagia Yang Kupilih    6. Kekhawatiran

    Tatapan Vindra bertahan beberapa saat pada Aya. Ada sedikit keraguan pada sorot matanya. “Aku ingin tahu ....” Kalimat itu terhenti ketika ponsel di atas meja berdering. Vindra mengalihkan pandangannya ke layar. Nama salah satu rekan bisnisnya terpampang di sana. “Maaf.” Ia meraih ponselnya. “Sebentar.” Vindra mengangkat panggilan itu dan berbicara singkat. Tak sampai dua menit, ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. “Maaf,” ucapnya sekali lagi. Vindra sempat membuka mulut, seolah hendak melanjutkan pertanyaannya. Namun, ia mengurungkannya. “Lain kali saja, mari lanjutkan makannya.” *** Aya membuka mata dengan susah payah. Tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya, sementara kepalanya masih berdenyut sejak semalam. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi rasa pusing yang datang membuatnya kembali terduduk di tepi ranjang. Mengembuskan napas pelan, Aya meraih ponselnya. Setelah berpikir sejenak, ia membuka ruang obrolan Vindra lalu mulai mengetik pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status