Home / Romansa / Bahagia Yang Kupilih / 4. Hari Pertama

Share

4. Hari Pertama

Author: Al
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-15 22:33:18

Tiga hari berlalu sejak pertemuannya dengan Vindra. Sore itu, setelah pekerjaannya selesai, Aya kembali ke rumah susun. Begitu memasuki kamar, pandangannya langsung tertuju pada sebuah kartu nama yang tergeletak di atas meja di samping kasur.

Kavindra Jevera.

Entah mengapa, nama itu terasa sedikit lebih akrab dibanding dua hari yang lalu. Ingatannya perlahan kembali. Tahun pertama SMA, ia dan Vindra memang pernah sekelas. Setelah pembagian jurusan, keduanya tak pernah berada di kelas yang sama lagi.

“Pantas saja aku tak begitu ingat,” gumam Aya pelan.

Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengambil ponsel dari dalam tas dan mengetik nomor yang tertera pada kartu nama Vindra.

Tak butuh waktu lama hingga panggilannya terhubung. “Halo?”

Aya menelan ludah sebelum berbicara. “Aku Aya.”

“Aya?” Vindra terdengar sedikit terkejut. “Aku tak menyangka kamu menghubungiku.”

“Aku sudah memikirkan tawaranmu.” Aya menarik napas pelan sebelum melanjutkan, “Aku ingin mencobanya.”

“Oh, kebetulan sekali. Aku sedang berada di tempat laundry.” Nada bicara Vindra terdengar senang.

“Kalau kamu tidak sibuk, bisakah datang sebentar? Sekalian aku ingin menunjukkan tempatnya,” sambung Vindra.

Aya melirik jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya. “Eh, sekarang?”

Vindra terkekeh pelan. “Iya. Datang saja dulu. Sekalian lihat tempatnya.”

Aya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “Baik. Aku akan segera ke sana.”

***

Sekitar empat puluh menit kemudian, Aya tiba di depan sebuah ruko dua lantai yang berdiri di tepi jalan utama. Sebuah papan nama bertuliskan Fresh Wash Laundry telah terpasang tepat di atas pintu masuk.

Dari balik dinding kaca, Aya melihat Vindra sedang menunduk di balik meja kasir sambil memeriksa beberapa berkas. Sesekali ia mencoret sesuatu menggunakan pulpen.

Tak lama kemudian, Vindra menyadari kehadiran Aya. Ia segera berdiri dan menghampiri. “Kamu sudah datang.”

Aya membetulkan posisi tas yang disampirkannya di bahu. “Iya.”

Vindra membuka pintu kaca lebih lebar, lalu mempersilakan Aya masuk. “Ayo masuk.”

Aya melangkah ke dalam sambil memperhatikan ruangan di sekelilingnya. Aroma cat baru samar tercium, sementara beberapa mesin cuci dan pengering telah berjajar rapi di sisi ruangan.

“Cukup luas ya, “ gumam Aya kagum.

Vindra menoleh ke belakang. “Iya. Kalau tempatnya nyaman, pelanggan biasanya lebih percaya untuk menitipkan pakaian mereka.”

Aya kembali mengamati ruangan. “Lalu, bagaimana pekerjaannya?”

Vindra menghentikan langkahnya di dekat meja kasir. “Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pekerjaanmu sekarang. Bedanya, di sini kamu tidak bekerja sendiri.”

Pria itu menunjuk deretan mesin cuci. ”Setelah pakaian diterima dan dicatat, semuanya akan dicuci, dikeringkan, disetrika, lalu dikemas sebelum diserahkan kepada pelanggan.”

Aya mengangguk singkat. “Jadi setiap karyawan melakukan itu?”

Vindra menyandarkan lengannya di atas meja kasir. “Benar. Aku tidak membagi tugas secara tetap. Semua orang akan bergantian.”

Aya tersenyum tipis. “Baiklah. Aku paham.”

Vindra mengangguk pelan sebelum kembali menatap Aya. “Tapi, ada sedikit perbedaan untukmu.”

Alis Aya berkerut. “Perbedaan?”

Vindra mengembuskan napas pelan. “Aku masih harus mengurus beberapa usaha lain. Jadi, aku tidak bisa berada di sini setiap hari.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Karena itu, aku ingin mempercayakan operasional laundry ini kepadamu saat aku sedang tidak ada.”

Aya menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

Vindra menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Iya. Tentu saja kalau kamu bersedia.”

Aya menundukkan pandangannya sesaat. “Kenapa harus aku?”

Vindra tersenyum tipis. “Karena aku butuh seseorang yang bisa kupercaya.”

Aya menatap mata Vindra. “Padahal kita baru bertemu lagi.”

Vindra tersenyum tipis. “Benar. Tapi aku masih ingat waktu kita pernah satu kelompok. Kamu selalu memastikan semuanya selesai tepat waktu.”

Aya tersenyum canggung. “Ah, begitu ya.”

Ia menarik napas pelan sebelum kembali menatap Vindra. “Baiklah. Saya akan berusaha.”

***

Hari itu menjadi hari pertama Aya bekerja di Fresh Wash Laundry. Usai saling memperkenalkan diri secara singkat, Vindra langsung membagi tugas dan mengarahkan mereka menyiapkan seluruh perlengkapan sebelum pelanggan datang.

Aya tengah mengelap bagian atas salah satu mesin cuci ketika suara seseorang memanggilnya. “Kak Aya!”

Aya menoleh. Alya, gadis termuda di antara mereka itu sedang berjinjit di depan rak penyimpanan. Tangannya beberapa kali mencoba meraih sebotol pewangi pakaian di rak paling atas, tetapi tetap tidak sampai.

Wanita itu tersenyum malu. “Boleh minta tolong?”

Aya meletakkan kain lap di atas mesin cuci, lalu berjalan menghampiri Alya. Tanpa kesulitan, ia mengambil botol tersebut dan menyerahkannya. “Nah, ini.”

“Makasih, Kak.” Alya menerima botol itu dengan senyum lebar. “Ternyata Kak Aya baik, ya. Daritadi kelihatannya pendiam banget.”

Aya tersenyum kecil. “Aku Cuma belum terbiasa.”

“Kalau begitu cocok.” Naura yang sedang membawa setumpuk plastik kemasan ikut menyahut. “Di sini ada Alya yang cerewet. Biar nanti dia yang ngajak Aya ngobrol terus.”

“Kenapa aku?” protes Alya dengan wajah cemberut.

Linda yang sedang merapikan meja kasir melirik ke arah mereka. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum. “Alya ini, badannya paling kecil, tapi suaranya paling berisik.”

“Biar kalian kerjanya semangat juga kak,” balas Alya.

Vindra yang sejak tadi memperhatikan mereka tersenyum tipis. “Syukurlah. Sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir meninggalkan laundry ini.”

Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan laundry. Seorang wanita paruh baya keluar sambil membawa kantong plastik besar ditangannya.

Vindra melirik ke arah pelanggan itu, lalu kembali menatap keempat karyawannya. “Sepertinya pelanggan pertama kita sudah datang.”

“Saya ada sedikit urusan di lantai atas,” ujar Vindra sambil melirik jam tangannya. “Kalian layani dengan baik, ya! Kalau tidak mengerti, panggil saya.”

“Baik, pak,” jawab mereka hampir bersamaan.

Setelah Vindra menaiki tangga, wanita itu masuk ke dalam dan meletakkan kantong plastiknya di atas meja kasir. Linda segera menyapanya dengan ramah. “Selamat pagi, bu. Ada yang bisa dibantu?”

Wanita itu memperhatikan ruangan sesaat. “Saya mau cuci pakaian.”

Linda membuka buku nota di atas meja kasir. “Baik, Bu. Cucian ini ingin diambil hari apa? Kami juga menyediakan layanan express kalau Ibu membutuhkannya.”

Wanita itu menggeleng. “Besok sore saja, tidak perlu express.”

Sementara Linda mencatat data pelanggan, Aya membuka kantong plastik tersebut untuk memeriksa jumlah dan kondisi pakaian. Di sisi lain, Naura dan Alya ikut mendekat tanpa diminta. Tak satu pun dari mereka bersuara. Keempatnya sama-sama menyadari bahwa inilah pelanggan pertama yang mereka layani sejak laundry itu dibuka.

***

Matahari mulai condong ke barat. Setelah memastikan seluruh pekerjaan hari itu selesai, satu-persatu karyawan mulai bersiap untuk pulang.

Alya merentangkan kedua tangannya. “Akhirnya, hari pertama berhasil dilewati.”

Naura mengembuskan napas lega. “Syukurlah berjalan lancar.”

Aya menggeser rolling door perlahan hingga kedua sisinya bertemu. Setelah memastikan pintunya tertutup rapat, ia memasang gembok lalu memutar anak kunci yang sejak siang dititipkan Vindra kepadanya.

Linda mengenakan helmnya sebelum menoleh kepada mereka. “Terima kasih untuk hari ini.”

Aya tersenyum kecil. “Aku juga. Terima kasih sudah banyak membantu.”

“Sampai besok, Kak!” seru Alya sambil melambaikan tangan.

“Sampai besok,” sahut Naura.

“Hati-hati di jalan,” tambah Aya.

“Kalian juga.” Linda tersenyum sebelum menyalakan motor dan perlahan meninggalkan halaman laundry.

Aya memperhatikan ketiga rekan kerjanya hingga menghilang di ujung jalan. Jemarinya tanpa sadar menggenggam anak kunci yang masih berada di tangannya. Sudut bibir Aya terangkat perlahan.

Tak jauh dari sana, Vindra masih duduk di balik kemudi mobilnya. Tatapannya mengikuti Aya hingga wanita itu menghilang di ujung jalan.

“Aya,” gumamnya pelan. “Dia ....”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bahagia Yang Kupilih    10. Hari Libur

    Aya berkali-kali mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju pintu masuk utama pusat perbelanjaan. Matanya memperhatikan orang-orang yang datang bersama keluarga atau teman, sementara ia berdiri sendirian dengan jemari yang sesekali mengerat pada tali tasnya. Setelah memikirkannya semalaman, ia memutuskan untuk pergi ke luar rumah dan menghabiskan waktu liburnya untuk bersenang-senang. “Jangan takut. Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini,” ucap Aya kepada dirinya sendiri sebelum melangkah masuk. Begitu berada di dalam, Aya berjalan perlahan sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak memiliki tujuan khusus, tetapi semakin lama berada di sana, langkahnya justru semakin ringan dan senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Aku mau lihat-lihat saja. Tidak harus membeli apa pun,” gumam Aya. Entah ke mana langkah kakinya membawanya, Aya akhirnya berhenti di sebuah toko pakaian. Beberapa produk yang dipajang terlihat menarik perhatiannya karena sebagian besar modelnya

  • Bahagia Yang Kupilih    9. Masalah

    Wanita itu masih berdiri di depan meja kasir dengan wajah penuh amarah. Ia meletakkan kantong laundry di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah kemeja berwarna putih dengan noda di bagian kerah. “Ini kemeja suami saya. Sebelum dicuci kondisinya masih bagus, tapi sekarang malah seperti ini,” protesnya sambil menunjuk noda tersebut. Aya menerima kemeja itu dan memeriksanya sebentar. “Ibu menyerahkan pakaian ini ke sini untuk dicuci?” “Iya. Asisten saya yang mengurusnya. Dia bilang kemeja ini dicuci di sini,” jawab wanita itu dengan nada kesal. Aya berusaha tetap tenang meskipun wanita tersebut terus menatapnya dengan tajam. “Baik, Bu. Kalau begitu, boleh saya melihat nota pesanannya?” “Saya tidak membawanya,” jawab wanita itu. “Memangnya tidak bisa dicek dengan cara lain?” “Kami bisa mencoba mencarinya, Bu. Namun, kami tetap harus menjalankan sesuai prosedur,” jelas Aya. Linda yang sejak tadi memperhatikan dari belakang akhirnya menghampiri mereka. “Kalau Ibu tidak membawanya, mungk

  • Bahagia Yang Kupilih    8. Penasaran

    Malam itu, Vindra baru saja tiba di rumah sewanya setelah menutup laundry. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu merebahkan tubuh sejenak. Rasa lelah belum sepenuhnya hilang. Namun, pikirannya justru kembali pada percakapan saat ia mengajak Aya makan malam beberapa waktu lalu.Hari itu, sebenarnya Vindra sempat ingin menanyakan satu hal. Ia penasaran apakah Aya sudah memiliki seseorang di sisinya. Tetapi pertanyaan itu urung keluar karena terasa terlalu pribadi untuk diucapkan. “Kenapa aku jadi memikirkan hal seperti itu?” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit rumah. Vindra mengusap wajahnya perlahan. Selama ini ia tidak pernah mencampuri kehidupan pribadi siapa pun, tetapi entah mengapa ia justru ingin mengenal Aya lebih jauh. Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama asistennya muncul di layar sehingga Vindra segera mengangkat panggilan itu.“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu.” Suara asisten itu terdengar gugup. Vindra segera duduk tegak. “Tidak apa-apa. Ada masalah?”

  • Bahagia Yang Kupilih    7. Perhatian

    Begitu membukanya, seorang wanita berambut pendek dengan daster sederhana sudah berdiri di hadapannya. Aya mengenali wanita itu sebagai salah satu penghuni rumah susun yang tinggal di lantai bawah. "Ya, ada apa?" tanya Aya sambil menatap wanita itu dengan bingung. Wanita itu melongok ke dalam kamar Aya sejenak, seolah memastikan sesuatu. "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan." Aya mengernyitkan kening. "Memastikan apa, Bu?" "Tadi saya melihat ada seorang pria," ujar wanita itu sambil tersenyum kecil. "Sudah pulang, ya?" Aya memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan rasa pening di kepalanya. Pria yang dimaksud wanita itu pasti Vindra. Mungkin ia melihat Vindra keluar dari kamarnya atau melihat mobil pria itu yang terparkir di depan rumah susun. "Iya, dia datang untuk menjenguk saya," jawab Aya berusaha tetap tenang. "Apa dia saudaramu?" tanya wanita itu memastikan. Aya tersenyum tipis sebelum menjawab. "Bukan. Dia teman saya." Mendengar jawaban Aya, wanita itu

  • Bahagia Yang Kupilih    6. Kekhawatiran

    Tatapan Vindra bertahan beberapa saat pada Aya. Ada sedikit keraguan pada sorot matanya. “Aku ingin tahu ....” Kalimat itu terhenti ketika ponsel di atas meja berdering. Vindra mengalihkan pandangannya ke layar. Nama salah satu rekan bisnisnya terpampang di sana. “Maaf.” Ia meraih ponselnya. “Sebentar.” Vindra mengangkat panggilan itu dan berbicara singkat. Tak sampai dua menit, ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. “Maaf,” ucapnya sekali lagi. Vindra sempat membuka mulut, seolah hendak melanjutkan pertanyaannya. Namun, ia mengurungkannya. “Lain kali saja, mari lanjutkan makannya.” *** Aya membuka mata dengan susah payah. Tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya, sementara kepalanya masih berdenyut sejak semalam. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi rasa pusing yang datang membuatnya kembali terduduk di tepi ranjang. Mengembuskan napas pelan, Aya meraih ponselnya. Setelah berpikir sejenak, ia membuka ruang obrolan Vindra lalu mulai mengetik pe

  • Bahagia Yang Kupilih    5. Makan Malam

    Tatapan Vindra masih tertuju pada jalan yang baru saja dilalui Aya. Untuk beberapa saat, pria itu tetap diam di balik kemudi mobilnya.“Kenapa aku malah memperhatikannya?” Vindra menggeleng pelan, seolah ingin membuang pertanyaan yang baru saja muncul.Baginya, Aya hanyalah salah satu karyawan yang baru mulai bekerja hari itu. Tak lebih dari seorang teman lama yang kembali ia temui secara kebetulan.***Sebulan berlalu sejak Aya mulai bekerja. Kesibukan yang dulu terasa asing kini perlahan berubah menjadi rutinitas. Tangannya semakin terbiasa memilah pakaian, mencatat pesanan, hingga melayani pelanggan yang silih berganti datang.Siang itu, mereka berempat berkumpul di ruang istirahat lantai dua untuk menikmati makan siang setelah sibuk melayani pelanggan sejak pagi.Alya membuka kotak bekalnya dengan malas. “Lagi-lagi ibu memasak ayam goreng.”Naura melirik isi kotak makan Alya sebelum terkekeh pelan. “Memangnya kenapa? Terlihat enak.”“Bosan.” Alya menyuap nasi ke mulutnya. “Aku ing

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status