Se connecterRama telah tiba kembali di kota tempatnya bekerja. Langkahnya terasa lebih ringan, didorong oleh rasa tak sabar untuk segera menemui dambaan hatinya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Elma, mengabarkan bahwa kerinduan yang ia pendam selama di rumah sudah mencapai puncaknya.
Malam itu, Elma datang ke mes tempat Rama tinggal. Suasana mes masih cukup ramai oleh para pekerja, termasuk Pak Ranto yang langsung mengenali wajah cantik sales mobil yang pernah ia temui di restoran itu. Elma sempat mencoba menghubungi ponsel Rama, namun tak ada jawaban. Dengan sedikit keraguan, ia memberanikan diri masuk ke area utama di mana Pak Ranto dan pekerja lainnya tengah asyik bermain kartu. "Permisi, Pak..." sapa Elma sopan. Pak Ranto mendongak, matanya memicing sejenak sebelum tersenyum lebar. "Eh, ini Mbak yang waktu itu di restoran ya? Ada perlu apa ya, Mbak?" "Mas Ramanya ada, Pak?" tanya Elma, mencoba menutupi kegugupannya di tengah tatapan para pekerja laki-laki di sana. "Kebetulan Bos Rama ada di kamar, Mbak. Baru sampai tadi siang. Mau saya panggilkan?" tawar Pak Ranto ramah. Elma mengangguk kecil. Pak Ranto pun bangkit dan mengetuk pintu kamar sang mandor. "Bos, ada yang mencari." "Siapa?" suara Rama terdengar berat dari dalam. "Itu loh Bos, sales mobil yang waktu di restoran." Hening sejenak, lalu terdengar jawaban mantap, "Oh iya, suruh masuk saja ke sini, Pak." Pak Ranto kembali menghampiri Elma. "Suruh masuk saja katanya, Mbak." Elma melirik ke kanan dan kiri, merasa kurang nyaman harus masuk ke kamar pribadi di hadapan anak buah Rama. Namun, karena itu adalah perintah sang kekasih, ia yakin para pekerja tidak akan berani berprasangka buruk. "Oh, iya deh Pak. Terima kasih ya." Elma mengetuk pintu kayu itu dengan perlahan. "Mas, boleh aku masuk?" "Masuk Sayang, tidak dikunci," sahut Rama dari dalam. Begitu Elma melangkah masuk, Rama dengan sigap menutup kembali pintu kamarnya. Tanpa banyak kata, ia langsung merengkuh tubuh Elma dalam pelukan hangat. "Aku kangen sekali sama kamu," bisik Rama di telinga Elma. "Sama, aku juga kangen sama kamu, Mas," balas Elma sambil membalas dekapan erat itu. Rama melepaskan pelukannya sejenak, memandangi wajah Elma dengan penuh damba. "Kamu cantik sekali malam ini, Sayang." "Aku cantik juga untuk kamu," jawab Elma dengan senyum manis. Rama menyudutkan tubuh Elma ke tembok, menahan kedua tangan wanita itu ke atas dengan lembut namun dominan. Tatapannya menjadi lebih intens. "Boleh tidak kita mengungkapkan rasa kangen ini dengan cara lain?" Elma bukan wanita lugu; ia tahu persis ke mana arah pembicaraan itu. "Jangan di sini ya, Mas. Banyak anak buahmu di luar. Aku malu." Rama mengangguk paham, menghargai keberatan Elma. "Oke, aku mengerti. Ayo kita keluar." Sambil berjalan menuju parkiran, Elma bertanya, "Mau pakai mobilku atau mobilmu, Mas?" "Mobilku semua sih sebenarnya, hehehe," canda Rama sambil tertawa kecil, menggoda Elma tentang status kepemilikan mobil lama yang ia janjikan. Elma cemberut manja. "Ih, Mas... katanya buat aku yang bekas Mas Rama itu." "Bercanda, Sayang. Memang buat kamu kok. Pakai mobilmu saja ya, tanggung sudah di luar kan mobilnya." Mereka membelah jalanan kota malam itu, berkeliling tanpa tujuan pasti hingga Rama menepikan kendaraan di pinggir jalan yang agak sunyi. "Jadi habis ini kita mau ke mana?" tanya Rama. "Katanya mau kangen-kangenan," sahut Elma dengan nada menggoda sambil menggigit bibir bawahnya. Tanpa banyak bicara lagi, Rama langsung memacu mobil menuju sebuah hotel. Transaksi di lobi berjalan cepat, dan tak lama kemudian, kunci kamar sudah berada di tangan. Rama menggandeng tangan Elma dengan posesif menuju kamar. Begitu pintu tertutup, Rama langsung menggendong Elma dan merebahkannya di atas kasur empuk. "Sudah siap kangen-kangenan, Sayang?" "Menurut kamu?" tantang Elma dengan tatapan nakal. Rama langsung menindih tubuh Elma, melahap bibirnya dengan ciuman yang panas dan penuh gairah. Pergulatan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Rama menjauhkan wajahnya sejenak. "Sayang, aku mau tanya dulu boleh?" "Mau tanya apa?" "Kamu... sudah pernah, kan?" Elma menatap Rama dengan tenang. "Pernah, Mas. Kenapa? Mas tidak mau ya kalau aku sudah pernah?" "Justru kebalikannya, Sayang. Aku tidak mau kalau kamu masih perawan. Aku tidak mau merusakmu. Tapi kalau kamu sudah pernah..." Kalimat itu dibiarkan menggantung. Rama mulai melucuti pakaian Elma dengan terburu-buru namun penuh pemujaan, menciumi setiap jengkal kulitnya. "Sshhh... aaahhh Mas, aku sudah lama tidak merasakan ini lagi," rintih Elma pelan. Dunia seolah milik mereka berdua malam itu. Di bawah temaram lampu kamar, pengalaman dan gairah berbicara. Elma membuktikan bahwa kemampuannya jauh di atas Tika. Di bawah kendali Elma yang bergerak liar di atas tubuhnya, Rama akhirnya mencapai batas pertahanannya. "Sshhh... aahh Sayang, aku mau keluar!" Elma tidak mengendurkan tempo. Ia justru memacu tubuhnya lebih cepat hingga Rama mencapai klimaks di dalam dirinya. Mereka terkulai lemas dalam napas yang memburu, dan Elma tertidur di atas dada Rama dalam kelelahan yang nikmat. Menjelang subuh, Elma terbangun lebih awal. Setelah mandi, ia keluar mencari sarapan untuk Rama. Saat kembali, ia mendapati Rama masih terlelap. Mengingat Rama harus bekerja pagi ini, Elma mencari cara unik untuk membangunkan kekasihnya itu. Ia tahu benar titik lemah laki-laki di pagi hari. Tanpa ragu, Elma memberikan pelayanan kejutan yang membuat Rama spontan terjaga. Rama terkejut mendapati Elma tengah memanjakannya dengan permainan mulut yang sangat antusias. Ketika Rama mencapai puncaknya kembali, ia terperangah melihat Elma tidak membuang cairan kenikmatannya, melainkan menelannya sambil tersenyum bangga. "Kamu telan, Sayang? Tidak jijik?" tanya Rama terheran-heran. "Kenapa mesti jijik? Toh ini darimu," sahut Elma enteng. "Baru pertama kali aku bertemu wanita seperti kamu." "Loh, bukannya setiap wanita pasti begitu ya ke pasangannya?" tanya Elma heran. Rama menghela napas panjang, teringat akan kehidupan di rumahnya yang dingin. "Istriku tidak. Jangankan untuk telan, sekadar menyentuhnya saja dia enggan." "Berarti aku menang dong dibandingkan istrimu," Elma tertawa puas. Sambil menyiapkan sarapan setelah Rama selesai mandi, Elma menatap Rama dengan lembut. "Terima kasih ya Sayang, harusnya kamu tidak usah repot-repot," ujar Rama sambil menghampirinya. Elma memegang tangan Rama dengan tulus. "Sayang, dengar ya... gimanapun juga kamu pasanganku, pacarku. Aku tidak peduli kamu di rumah diperlakukan seperti apa oleh istrimu. Yang jelas, inilah bakti aku ke pasanganku." Rama terdiam, hatinya tersentuh luar biasa. Di balik sisi liar Elma yang menggoda, ia menemukan kelembutan hati yang selama ini ia rindukan—sesuatu yang membuatnya merasa benar-benar dihargai sebagai seorang lelaki. ***Bersambung...***Tika telah sepenuhnya bertransformasi. Berminggu-minggu menghabiskan waktu di pusat kebugaran di bawah bimbingan Bimo, tubuhnya kini menjelma menjadi magnet bagi setiap pasang mata lelaki. Ia bukan lagi wanita yang bersembunyi di balik daster kusam; kini, Tika dengan penuh percaya diri mengekspos lekuk tubuhnya, baik melalui lensa kamera maupun saat melangkah keluar dengan pakaian yang membalut ketat fisiknya. Semua itu berkat Bimo, pria yang tidak hanya melatih fisiknya, tapi juga menanamkan benih keberanian di jiwanya.Di kejauhan, Rama mulai mengendus perubahan drastis sang istri. Kabar burung tentang kedekatan Tika dengan seorang pria asing pun sampai ke telinganya. Namun, kesombongan masih bertahta di hati Rama."Ah, aku yakin pria itu tidak akan bertahan lama. Keluhan-keluhannya yang membosankan pasti akan membuat pria mana pun muak," batin Rama, mencoba menenangkan egonya yang mulai terusik.Fokus Rama kini beralih sepenuhnya kepada Elma. Ia memutuskan untuk membawa hubungan me
Dunia baru Rama terasa begitu memabukkan, sementara di sudut lain, Tika justru merasa hidupnya semakin kosong dan hampa. Selama ini, Tika tak pernah menaruh curiga. Di matanya, Rama adalah sosok pria pekerja keras yang gigih mencari nafkah, sehingga ia selalu memaklumi kesibukan suaminya sebagai tuntutan profesi. Namun, Rama sadar betul bahwa ia telah mengabaikan istrinya. Belenggu asmara Elma terlalu kuat untuk ia lepaskan, hingga perlahan-lahan rasa sayang yang dulu ada untuk Tika mulai memudar. Kini, tak ada lagi telinga yang bersedia mendengar keluh kesah Tika. Bagi Rama, setiap kata yang keluar dari mulut istrinya hanyalah pengulangan masalah yang membosankan. Karena merasa tidak lagi didengar, Tika mulai mencari pelarian di media sosial. Ia sering mengunggah kutipan-kutipan galau sebagai bentuk pembenaran atas perasaannya. Namun, bukannya simpati, hal itu justru memicu amarah Rama. Bagi sang suami, urusan rumah tangga bukanlah konsumsi publik. "Umbar saja terus. Seolah kamu y
Rama telah tiba kembali di kota tempatnya bekerja. Langkahnya terasa lebih ringan, didorong oleh rasa tak sabar untuk segera menemui dambaan hatinya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Elma, mengabarkan bahwa kerinduan yang ia pendam selama di rumah sudah mencapai puncaknya. Malam itu, Elma datang ke mes tempat Rama tinggal. Suasana mes masih cukup ramai oleh para pekerja, termasuk Pak Ranto yang langsung mengenali wajah cantik sales mobil yang pernah ia temui di restoran itu. Elma sempat mencoba menghubungi ponsel Rama, namun tak ada jawaban. Dengan sedikit keraguan, ia memberanikan diri masuk ke area utama di mana Pak Ranto dan pekerja lainnya tengah asyik bermain kartu. "Permisi, Pak..." sapa Elma sopan. Pak Ranto mendongak, matanya memicing sejenak sebelum tersenyum lebar. "Eh, ini Mbak yang waktu itu di restoran ya? Ada perlu apa ya, Mbak?" "Mas Ramanya ada, Pak?" tanya Elma, mencoba menutupi kegugupannya di tengah tatapan para pekerja laki-laki di sana. "Kebetulan
Berhari-hari Elma menghilang. Pesan Rama hanya berakhir pada tanda dibaca, dan panggilannya selalu berakhir dengan nada sibuk yang dingin. Rasa sesak di dada membuat Rama tidak bisa lagi berdiam diri. Ia akhirnya memutuskan untuk mendatangi langsung tempat kerja wanita itu. Sebuah *showroom* mobil ternama yang selalu terbuka untuk umum, tempat di mana Elma biasanya menghabiskan waktu sebagai garda terdepan penjualan. Kedatangan Rama disambut oleh seorang pria berseragam rapi, sang manajer *showroom*. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sang manajer dengan ramah. "Saya ingin bertemu Elma. Elmanya ada?" tanya Rama langsung tanpa basa-basi. Manajer itu tersenyum simpul, menyimpulkan bahwa pria di depannya adalah calon pembeli potensial. "Oh, pelanggan Elma ya? Kebetulan Elma sedang tidak masuk hari ini, Pak. Biar saya bantu telepon ya?" Rama mengangguk singkat. Di depannya, sang manajer segera menghubungi Elma. Tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat. "Elma, ka
Rama menjadi seorang mandor di usia yang tergolong muda, baru tiga puluh dua tahun. Di rumahnya, ada Tika, istri berusia dua puluh delapan tahun yang telah menemaninya selama empat tahun terakhir. Mereka pun telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Sekilas, hidup Rama tampak sempurna; pekerjaan mapan, istri cantik, dan kehadiran buah hati yang tak perlu menunggu lama. Namun, kebahagiaan itu hanya nampak di permukaan. Di baliknya, riak-riak polemik rumah tangga terus menghantam. Konflik kecil antara Tika dan orang tua Rama sering kali membuat pria itu terjepit di tengah-tengah. Ia terus dipaksa berbagi peran: menjadi anak yang berbakti sekaligus suami yang melindungi. Lama-kelamaan, Rama berubah menjadi pribadi yang tertutup. Setelah seharian lelah memimpin proyek, ia masih harus memutar otak untuk mencairkan suasana yang membeku di rumah. Pekerjaannya sebagai mandor juga menuntutnya untuk sering berada di luar kota. Meski begitu, sebulan sekali ia selalu menyempatkan pulang. Bukan h







