เข้าสู่ระบบDunia baru Rama terasa begitu memabukkan, sementara di sudut lain, Tika justru merasa hidupnya semakin kosong dan hampa. Selama ini, Tika tak pernah menaruh curiga. Di matanya, Rama adalah sosok pria pekerja keras yang gigih mencari nafkah, sehingga ia selalu memaklumi kesibukan suaminya sebagai tuntutan profesi.
Namun, Rama sadar betul bahwa ia telah mengabaikan istrinya. Belenggu asmara Elma terlalu kuat untuk ia lepaskan, hingga perlahan-lahan rasa sayang yang dulu ada untuk Tika mulai memudar. Kini, tak ada lagi telinga yang bersedia mendengar keluh kesah Tika. Bagi Rama, setiap kata yang keluar dari mulut istrinya hanyalah pengulangan masalah yang membosankan. Karena merasa tidak lagi didengar, Tika mulai mencari pelarian di media sosial. Ia sering mengunggah kutipan-kutipan galau sebagai bentuk pembenaran atas perasaannya. Namun, bukannya simpati, hal itu justru memicu amarah Rama. Bagi sang suami, urusan rumah tangga bukanlah konsumsi publik. "Umbar saja terus. Seolah kamu yang paling benar dan orang yang tidak sejalan denganmu dianggap salah," tulis Rama membalas unggahan cerita istrinya dengan ketus. Tika tidak tinggal diam. "Kamu sendiri yang tidak ada waktu buat aku. Aku cuma perlu rasa lega karena sudah mengungkapkan unek-unekku." "Sekarang apa lagi yang kamu permasalahkan? Aku? Keluargaku? Sepertinya kami selalu kurang di matamu," balas Rama lagi, tak mau kalah. "Kamu tidak mengerti rasanya jadi aku!" Kalimat klasik itu membuat Rama mendengus. "Kenapa pula harus orang lain yang tahu rasanya jadi kamu? Apa kamu pernah merasakan bagaimana jadi orang yang harus berhadapan dengan kepribadianmu?" "Yaudah, kamu maunya bagaimana?" tantang Tika. Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan terbuka bagi Rama. Sebenarnya, sangat mudah bagi Rama untuk memutuskan berpisah saat itu juga. Namun, setiap kali emosinya memuncak, bayang-bayang buah hati mereka selalu muncul, menahan keinginannya untuk mengakhiri segalanya. Entah dari mana ide gila itu berasal, Rama akhirnya melontarkan tawaran yang tak masuk akal. Ia menantang Tika untuk menjalani konsep *open marriage*—sebuah pernikahan tanpa aturan baku, di mana masing-masing bebas memiliki pasangan lain. "Begini saja, cari sana laki-laki yang menurutmu bisa mengerti kamu, yang keluarganya bisa seperti apa yang kamu mau," ujar Rama dengan nada dingin. Tika terdiam sejenak sebelum menjawab dengan getir, "Oke, kalau itu mau kamu. Yang selama ini aku rasakan sebenarnya normal karena banyak perempuan yang merasakan hal yang sama." "Iya, kalian hanya bergerombol, menganggap persepsi kalian harus diterima hanya karena kalian tidak sendirian," tukas Rama menutup perdebatan. Setelah ponselnya diletakkan, Rama termenung. Ia menimbang konsekuensi jika Tika benar-benar melakukan ucapannya. Namun di sisi lain, ia merasa ini adalah jalan pintas agar hubungannya dengan Elma menjadi "legal" dalam kesepakatan mereka. Tika tidak habis pikir suaminya sanggup berkata demikian. Ia belum menyadari pengkhianatan yang terjadi di belakang punggungnya. Yang ia tahu hanyalah Rama bukan lagi tempatnya bersandar. Akhirnya, ia mencari kesibukan di luar rumah untuk mengobati rasa sepinya. Mulai dari sekadar duduk di kafe hingga mencoba aktivitas baru di pusat kebugaran. Kehadiran Tika di tempat *gym* sontak menjadi pusat perhatian. Berbeda dengan Elma yang cantik elegan dengan riasan, Tika memiliki kecantikan alami yang memancar meski tanpa polesan berlebih. Tatapan kagum dari para pria di sana membuatnya merasa terlahir kembali. Ia merasa diinginkan dan dipuji—sesuatu yang sudah lama hilang dari suaminya. Daya tarik Tika juga memikat sang instruktur, Bimo. Pria itu dengan sigap menawarkan bantuan hingga mereka akhirnya bertukar kontak. Namun, hiruk-pikuk *gym* hanyalah sementara. Saat kembali ke rumah yang sunyi, kesepian itu kembali menyerang. Anak mereka yang lebih sering dititipkan pada orang tua Tika membuat suasana rumah terasa semakin mati. Suatu malam, saat pertahanannya runtuh, Tika mengunggah video dirinya yang sedang menangis. Ia hanya ingin Rama melihat dan sadar bahwa ia merindukan sosok suaminya yang dulu. Tak lama, sebuah notifikasi masuk. Tika berharap itu dari Rama, namun ternyata itu dari Bimo. "Mbak Tika kenapa? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Bimo di kolom pesan. "Tidak apa-apa Mas Bim, lagi *bad feeling* saja," jawab Tika singkat. "Ah, aku tahu. Ayo kita keluar, daripada Mbak di rumah sedih terus." Tika sempat ragu. "Jangan Mas Bim, aku malu mataku sembab." "Kenapa harus malu? Aku bawa mobil, kok. Kita cari es krim saja bagaimana? Biasanya ampuh untuk menaikkan suasana hati perempuan, hehe," goda Bimo. Akhirnya, Tika setuju. Setengah jam kemudian, Bimo menjemputnya. Sepanjang perjalanan, Tika mulai membuka diri dan bercerita tentang hidupnya. Pelan tapi pasti, ia merasa menemukan sandaran baru. Bimo yang berpengalaman tampak tahu benar cara menaklukkan hati wanita seperti Tika dengan terus memanjakan egonya. Di tempat lain, Rama dan Elma sudah mulai terang-terangan. Rama bahkan berani mengunggah foto berdua, meski wajah Elma masih ditutupi stiker. Saat Tika melihat unggahan itu, reaksi yang muncul bukan lagi amarah, melainkan sebuah tekad dingin. "Oh, oke. Aku juga bisa," gumam Tika dalam hati. Perasaan itu semakin kuat seiring kedekatannya dengan Bimo. Meski belum ada pernyataan cinta secara lisan, bahasa tubuh mereka tak bisa berbohong. Bimo sering kali mencari kesempatan untuk merangkul atau menyentuh Tika saat sesi latihan, dan Tika pun tidak menolak. Fokus Tika kini telah bergeser. Ia mulai percaya pada pesona dirinya yang selama ini diabaikan oleh suaminya. Kini, ia siap melakukan hal yang sama dengan apa yang Rama lakukan di luar sana. ***Bersambung...***Tika telah sepenuhnya bertransformasi. Berminggu-minggu menghabiskan waktu di pusat kebugaran di bawah bimbingan Bimo, tubuhnya kini menjelma menjadi magnet bagi setiap pasang mata lelaki. Ia bukan lagi wanita yang bersembunyi di balik daster kusam; kini, Tika dengan penuh percaya diri mengekspos lekuk tubuhnya, baik melalui lensa kamera maupun saat melangkah keluar dengan pakaian yang membalut ketat fisiknya. Semua itu berkat Bimo, pria yang tidak hanya melatih fisiknya, tapi juga menanamkan benih keberanian di jiwanya.Di kejauhan, Rama mulai mengendus perubahan drastis sang istri. Kabar burung tentang kedekatan Tika dengan seorang pria asing pun sampai ke telinganya. Namun, kesombongan masih bertahta di hati Rama."Ah, aku yakin pria itu tidak akan bertahan lama. Keluhan-keluhannya yang membosankan pasti akan membuat pria mana pun muak," batin Rama, mencoba menenangkan egonya yang mulai terusik.Fokus Rama kini beralih sepenuhnya kepada Elma. Ia memutuskan untuk membawa hubungan me
Dunia baru Rama terasa begitu memabukkan, sementara di sudut lain, Tika justru merasa hidupnya semakin kosong dan hampa. Selama ini, Tika tak pernah menaruh curiga. Di matanya, Rama adalah sosok pria pekerja keras yang gigih mencari nafkah, sehingga ia selalu memaklumi kesibukan suaminya sebagai tuntutan profesi. Namun, Rama sadar betul bahwa ia telah mengabaikan istrinya. Belenggu asmara Elma terlalu kuat untuk ia lepaskan, hingga perlahan-lahan rasa sayang yang dulu ada untuk Tika mulai memudar. Kini, tak ada lagi telinga yang bersedia mendengar keluh kesah Tika. Bagi Rama, setiap kata yang keluar dari mulut istrinya hanyalah pengulangan masalah yang membosankan. Karena merasa tidak lagi didengar, Tika mulai mencari pelarian di media sosial. Ia sering mengunggah kutipan-kutipan galau sebagai bentuk pembenaran atas perasaannya. Namun, bukannya simpati, hal itu justru memicu amarah Rama. Bagi sang suami, urusan rumah tangga bukanlah konsumsi publik. "Umbar saja terus. Seolah kamu y
Rama telah tiba kembali di kota tempatnya bekerja. Langkahnya terasa lebih ringan, didorong oleh rasa tak sabar untuk segera menemui dambaan hatinya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Elma, mengabarkan bahwa kerinduan yang ia pendam selama di rumah sudah mencapai puncaknya. Malam itu, Elma datang ke mes tempat Rama tinggal. Suasana mes masih cukup ramai oleh para pekerja, termasuk Pak Ranto yang langsung mengenali wajah cantik sales mobil yang pernah ia temui di restoran itu. Elma sempat mencoba menghubungi ponsel Rama, namun tak ada jawaban. Dengan sedikit keraguan, ia memberanikan diri masuk ke area utama di mana Pak Ranto dan pekerja lainnya tengah asyik bermain kartu. "Permisi, Pak..." sapa Elma sopan. Pak Ranto mendongak, matanya memicing sejenak sebelum tersenyum lebar. "Eh, ini Mbak yang waktu itu di restoran ya? Ada perlu apa ya, Mbak?" "Mas Ramanya ada, Pak?" tanya Elma, mencoba menutupi kegugupannya di tengah tatapan para pekerja laki-laki di sana. "Kebetulan
Berhari-hari Elma menghilang. Pesan Rama hanya berakhir pada tanda dibaca, dan panggilannya selalu berakhir dengan nada sibuk yang dingin. Rasa sesak di dada membuat Rama tidak bisa lagi berdiam diri. Ia akhirnya memutuskan untuk mendatangi langsung tempat kerja wanita itu. Sebuah *showroom* mobil ternama yang selalu terbuka untuk umum, tempat di mana Elma biasanya menghabiskan waktu sebagai garda terdepan penjualan. Kedatangan Rama disambut oleh seorang pria berseragam rapi, sang manajer *showroom*. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sang manajer dengan ramah. "Saya ingin bertemu Elma. Elmanya ada?" tanya Rama langsung tanpa basa-basi. Manajer itu tersenyum simpul, menyimpulkan bahwa pria di depannya adalah calon pembeli potensial. "Oh, pelanggan Elma ya? Kebetulan Elma sedang tidak masuk hari ini, Pak. Biar saya bantu telepon ya?" Rama mengangguk singkat. Di depannya, sang manajer segera menghubungi Elma. Tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat. "Elma, ka
Rama menjadi seorang mandor di usia yang tergolong muda, baru tiga puluh dua tahun. Di rumahnya, ada Tika, istri berusia dua puluh delapan tahun yang telah menemaninya selama empat tahun terakhir. Mereka pun telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Sekilas, hidup Rama tampak sempurna; pekerjaan mapan, istri cantik, dan kehadiran buah hati yang tak perlu menunggu lama. Namun, kebahagiaan itu hanya nampak di permukaan. Di baliknya, riak-riak polemik rumah tangga terus menghantam. Konflik kecil antara Tika dan orang tua Rama sering kali membuat pria itu terjepit di tengah-tengah. Ia terus dipaksa berbagi peran: menjadi anak yang berbakti sekaligus suami yang melindungi. Lama-kelamaan, Rama berubah menjadi pribadi yang tertutup. Setelah seharian lelah memimpin proyek, ia masih harus memutar otak untuk mencairkan suasana yang membeku di rumah. Pekerjaannya sebagai mandor juga menuntutnya untuk sering berada di luar kota. Meski begitu, sebulan sekali ia selalu menyempatkan pulang. Bukan h







