Home / Romansa / Balada Cinta Sang Mandor / Bab 2 : Bermain api

Share

Bab 2 : Bermain api

Author: Improve. Ent
last update publish date: 2026-04-24 14:31:00

Berhari-hari Elma menghilang. Pesan Rama hanya berakhir pada tanda dibaca, dan panggilannya selalu berakhir dengan nada sibuk yang dingin. Rasa sesak di dada membuat Rama tidak bisa lagi berdiam diri. Ia akhirnya memutuskan untuk mendatangi langsung tempat kerja wanita itu. Sebuah *showroom* mobil ternama yang selalu terbuka untuk umum, tempat di mana Elma biasanya menghabiskan waktu sebagai garda terdepan penjualan.

Kedatangan Rama disambut oleh seorang pria berseragam rapi, sang manajer *showroom*.

"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sang manajer dengan ramah.

"Saya ingin bertemu Elma. Elmanya ada?" tanya Rama langsung tanpa basa-basi.

Manajer itu tersenyum simpul, menyimpulkan bahwa pria di depannya adalah calon pembeli potensial. "Oh, pelanggan Elma ya? Kebetulan Elma sedang tidak masuk hari ini, Pak. Biar saya bantu telepon ya?"

Rama mengangguk singkat. Di depannya, sang manajer segera menghubungi Elma. Tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat.

"Elma, kamu bagaimana, sih? Ada janji temu dengan pelanggan tapi malah tidak masuk," tegur sang manajer dengan nada sedikit menekan.

Terdengar suara Elma dari seberang telepon yang terdengar bingung. *"Hah? Pelanggan? Saya tidak ada janji temu hari ini, Pak."*

"Tapi ini ada yang mencari kamu sampai ke *showroom*," balas manajer itu lagi.

*"Coba tanya Pak, atas nama siapa?"*

Manajer itu menurunkan ponselnya sejenak dan beralih pada Rama. "Maaf Pak, atas nama siapa?"

Rama menatap manajer itu dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. "Suruh Elma ke sini saja sekarang. Kalau dia tidak datang, saya beli mobil di tempat lain."

Kalimat itu terdengar seperti ancaman yang efektif. Sang manajer segera kembali pada ponselnya. "Sudah, kamu ke sini sekarang. Pelanggannya bilang kalau kamu tidak datang, dia mau beli di tempat lain!"

Beberapa waktu kemudian, Elma tiba dengan napas yang sedikit terengah. Langkah kakinya membawanya menuju ruang tunggu pelanggan. Di sana, ia tertegun melihat Rama sedang berbincang ringan dengan atasannya.

"Loh... Mas Rama?" gumam Elma tak percaya.

Sang manajer berdiri sambil menepuk pundak Rama. "Baik Pak, berhubung Elmanya sudah datang, saya tinggal dulu ya. El, *closing* ya!" pesannya sebelum berlalu.

Kini hanya tersisa mereka berdua. Elma duduk di hadapan Rama dengan wajah gelisah. "Mas ngapain, sih, ke sini? Kan disangkanya Mas itu pelanggan aku."

"Ya, aku memang pelangganmu," sahut Rama tenang. "Kamu tidak ingat pernah menawariku ganti mobil?"

Elma tertunduk, meremas jemarinya sendiri. "Iya, aku ingat..."

"Di samping itu, ada yang ingin aku bicarakan. Tapi tidak di sini," lanjut Rama dengan nada yang lebih dalam.

"Tapi Mas, manajerku tahunya aku mau *closing* hari ini. Mas sih, pakai segala menyusul ke sini," keluh Elma pelan.

Rama tersenyum tipis, seolah sudah menyiapkan jawaban. "Yaudah, mana mobil yang tiga baris? Aku beli tunai sekarang."

Mata Elma membelalak. Bukannya senang, wajahnya justru mendung. "Yah... kok beli tunai? Aku tidak dapat insentif dong!"

Rama tidak peduli. Ia tetap memproses pembelian itu secara *cash*. Elma hanya bisa mengurus dokumen dengan wajah yang masygul.

"Mobilnya diantar lusa ya, Mas. Terima kasih," ujar Elma ketus.

"Yaudah, jangan cemberut begitu. Senyum lah sedikit," goda Rama.

"Ya lagian Mas belinya tunai. Aku menjual juga tidak dapat apa-apa," sahut Elma lagi.

Rama mencondongkan tubuhnya, menatap Elma lekat-lekat. "Kata siapa tidak dapat apa-apa? Nanti kalau aku pakai mobil baru, mobil lamaku buat kamu saja."

Elma terdiam sejenak, lalu mendengus. "Jangan bercanda deh, Mas."

Rama tidak menjawab. Ia hanya melemparkan senyum kemenangan yang membuat Elma mulai ragu. "Mas... serius?" tanya Elma dengan binar mata yang mulai muncul.

"Ya serius, lah."

Namun, binar itu meredup sejenak. Elma kembali tertunduk. "Tapi kan Mas... ada yang lebih berhak. Kenapa mobilnya tidak Mas kasih ke istri Mas Rama saja?"

"Anggap saja ini hadiah dariku karena kamu sudah peduli padaku. Lagipula, dia sudah punya mobil sendiri," jawab Rama tanpa keraguan sedikit pun.

Mendengar itu, perasaan haru menyergap Elma. Tanpa sadar, ia berdiri dan langsung memeluk Rama dengan erat. "Terima kasih banyak ya, Mas."

Sesaat kemudian ia tersadar dan melepaskan pelukannya dengan wajah merona. "Eh, maaf Mas. Oh iya, terus Mas mau bicara apa lagi?"

"Tidak di sini, El."

Rama menuntun Elma masuk ke dalam mobil. Mereka berkendara menuju pantai yang sepi. Di bawah terpaan angin laut yang sejuk, mereka berjalan beriringan menuju bibir pantai. Rama menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Elma.

"El..."

"Iya, Mas?"

"Kenapa kamu menghindar dariku kemarin-kemarin?" tanya Rama, menuntut jawaban yang selama ini ia cari.

Elma menatap deburan ombak di kejauhan. "Aku rasa ucapan Mas Rama kemarin sudah cukup jelas. Semakin lama kita bersama, hanya akan memunculkan perasaan yang salah."

"Tidak ada yang salah dengan perasaan, El. Hanya saja, kamu tahu statusku, kan?"

"Iya Mas, aku tahu. Makanya aku tidak mau merusak itu," bisik Elma lirih.

Rama memegang kedua pundak Elma, memaksanya untuk menatap matanya. "Tidak ada yang kamu rusak, El. Antara kita, cuma ada kamu dan aku. Paham?"

Elma mengangguk pelan. "Iya Mas, aku paham."

"Sekarang aku ingin dengar apa yang kamu rasakan, tanpa melihat statusku."

Elma menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. "Mas, jujur... aku nyaman sama kamu. Aku suka sama kamu. Banyak laki-laki yang pernah aku temui, semuanya cuma sebatas penasaran denganku. Tapi kamu—"

Rama menempelkan telunjuknya di bibir Elma, menghentikan kalimat itu. "El, kamu tahu? Orang lain memandangku sebagai laki-laki yang tegas, laki-laki yang kuat. Tapi bersamamu, aku bisa berkeluh kesah. Kamu sudah jadi rumah buatku, terima kasih ya," ucap Rama seraya mengecup lembut punggung tangan Elma.

Mata Elma berkaca-kaca. "Mas, aku tahu ini salah, tapi aku ingin bersamamu..."

"Aku juga ingin bersamamu, El."

Tanpa pikir panjang, Elma menyambut dekapan Rama. Mereka berpelukan erat di tengah suara ombak, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

"Berarti sekarang, kita...?" tanya Elma dalam pelukan.

Rama hanya mengangguk mantap sambil tersenyum. Sejak saat itu, dunia Rama kembali berwarna. Kehadiran Elma yang sering membawakan makan siang ke tempat kerja seolah menutupi kehampaan yang ia rasakan selama ini.

Tiba saatnya Rama harus pulang ke rumah. Ia berpesan pada Elma untuk membatasi komunikasi sementara waktu, dan Elma setuju. Namun, sesampainya di rumah, kehangatan itu seketika menguap. Sambutan Tika terasa hambar.

"Kamu ganti mobil, Sayang?" tanya Tika saat melihat kendaraan baru di halaman.

"Iya, aku tukar," jawab Rama singkat.

"Oh, ya sudah. Kamu mau makan apa malam ini?" tanya Tika lagi tanpa minat yang besar.

"Apa saja. Oh iya, Dede mana?"

Tika menghela napas. "Dede sedang aku titip di mamaku. Kalau tidak dititip di mamaku, diambil terus sama mama ka—"

"Kamu ini menganggap orang tuaku itu apa, sih? Musuh?!" potong Rama dengan nada meninggi. "Aku baru pulang, loh. Ada saja yang bikin aku emosi."

Tika tidak mau kalah. "Kamu tidak mengerti. Dede kalau di rumah mamamu itu tidurnya tidak teratur, makannya tidak teratur!"

"Terserah kamu lah, aku capek!" bentak Rama sambil melangkah ke kamar dan membanting pintu.

Malam harinya, rasa bersalah mulai merayapi hati Tika. Ia merasa tidak seharusnya bersikap keras pada Rama yang baru saja pulang. Ia pun memutuskan untuk mencoba memperbaiki suasana. Tika berganti pakaian dengan gaun tidur tipis, mencoba memancing gairah suaminya.

"Sayang... maafkan aku ya," bisik Tika sambil menyentuh dada Rama di atas tempat tidur. "Malam ini... mau?"

Rama menatap istrinya datar. "Yaudah, iya, aku maafkan. Oke, aku mau. Tapi aku ingin kamu yang di atas, pegang kendali ya? Aku di bawah saja, pakai penutup mata."

Tika menyanggupi tanpa rasa curiga. Keduanya pun tenggelam dalam pergumulan. Namun, di balik penutup mata yang gelap itu, pikiran Rama sedang terbang jauh. Ia tidak sedang bersama Tika. Di balik kegelapan itu, bayangan Elma-lah yang ia hadirkan, mengisi setiap sentuhan yang ia rasakan malam itu.

***Bersambung...***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 5 : benih ambisi Elma

    Tika telah sepenuhnya bertransformasi. Berminggu-minggu menghabiskan waktu di pusat kebugaran di bawah bimbingan Bimo, tubuhnya kini menjelma menjadi magnet bagi setiap pasang mata lelaki. Ia bukan lagi wanita yang bersembunyi di balik daster kusam; kini, Tika dengan penuh percaya diri mengekspos lekuk tubuhnya, baik melalui lensa kamera maupun saat melangkah keluar dengan pakaian yang membalut ketat fisiknya. Semua itu berkat Bimo, pria yang tidak hanya melatih fisiknya, tapi juga menanamkan benih keberanian di jiwanya.Di kejauhan, Rama mulai mengendus perubahan drastis sang istri. Kabar burung tentang kedekatan Tika dengan seorang pria asing pun sampai ke telinganya. Namun, kesombongan masih bertahta di hati Rama."Ah, aku yakin pria itu tidak akan bertahan lama. Keluhan-keluhannya yang membosankan pasti akan membuat pria mana pun muak," batin Rama, mencoba menenangkan egonya yang mulai terusik.Fokus Rama kini beralih sepenuhnya kepada Elma. Ia memutuskan untuk membawa hubungan me

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 4 : Romansa yang mulai retak

    Dunia baru Rama terasa begitu memabukkan, sementara di sudut lain, Tika justru merasa hidupnya semakin kosong dan hampa. Selama ini, Tika tak pernah menaruh curiga. Di matanya, Rama adalah sosok pria pekerja keras yang gigih mencari nafkah, sehingga ia selalu memaklumi kesibukan suaminya sebagai tuntutan profesi. Namun, Rama sadar betul bahwa ia telah mengabaikan istrinya. Belenggu asmara Elma terlalu kuat untuk ia lepaskan, hingga perlahan-lahan rasa sayang yang dulu ada untuk Tika mulai memudar. Kini, tak ada lagi telinga yang bersedia mendengar keluh kesah Tika. Bagi Rama, setiap kata yang keluar dari mulut istrinya hanyalah pengulangan masalah yang membosankan. Karena merasa tidak lagi didengar, Tika mulai mencari pelarian di media sosial. Ia sering mengunggah kutipan-kutipan galau sebagai bentuk pembenaran atas perasaannya. Namun, bukannya simpati, hal itu justru memicu amarah Rama. Bagi sang suami, urusan rumah tangga bukanlah konsumsi publik. "Umbar saja terus. Seolah kamu y

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 3 : Hasrat tak terbendung

    Rama telah tiba kembali di kota tempatnya bekerja. Langkahnya terasa lebih ringan, didorong oleh rasa tak sabar untuk segera menemui dambaan hatinya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Elma, mengabarkan bahwa kerinduan yang ia pendam selama di rumah sudah mencapai puncaknya. Malam itu, Elma datang ke mes tempat Rama tinggal. Suasana mes masih cukup ramai oleh para pekerja, termasuk Pak Ranto yang langsung mengenali wajah cantik sales mobil yang pernah ia temui di restoran itu. Elma sempat mencoba menghubungi ponsel Rama, namun tak ada jawaban. Dengan sedikit keraguan, ia memberanikan diri masuk ke area utama di mana Pak Ranto dan pekerja lainnya tengah asyik bermain kartu. "Permisi, Pak..." sapa Elma sopan. Pak Ranto mendongak, matanya memicing sejenak sebelum tersenyum lebar. "Eh, ini Mbak yang waktu itu di restoran ya? Ada perlu apa ya, Mbak?" "Mas Ramanya ada, Pak?" tanya Elma, mencoba menutupi kegugupannya di tengah tatapan para pekerja laki-laki di sana. "Kebetulan

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 2 : Bermain api

    Berhari-hari Elma menghilang. Pesan Rama hanya berakhir pada tanda dibaca, dan panggilannya selalu berakhir dengan nada sibuk yang dingin. Rasa sesak di dada membuat Rama tidak bisa lagi berdiam diri. Ia akhirnya memutuskan untuk mendatangi langsung tempat kerja wanita itu. Sebuah *showroom* mobil ternama yang selalu terbuka untuk umum, tempat di mana Elma biasanya menghabiskan waktu sebagai garda terdepan penjualan. Kedatangan Rama disambut oleh seorang pria berseragam rapi, sang manajer *showroom*. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sang manajer dengan ramah. "Saya ingin bertemu Elma. Elmanya ada?" tanya Rama langsung tanpa basa-basi. Manajer itu tersenyum simpul, menyimpulkan bahwa pria di depannya adalah calon pembeli potensial. "Oh, pelanggan Elma ya? Kebetulan Elma sedang tidak masuk hari ini, Pak. Biar saya bantu telepon ya?" Rama mengangguk singkat. Di depannya, sang manajer segera menghubungi Elma. Tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat. "Elma, ka

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 1 : Latar belakang

    Rama menjadi seorang mandor di usia yang tergolong muda, baru tiga puluh dua tahun. Di rumahnya, ada Tika, istri berusia dua puluh delapan tahun yang telah menemaninya selama empat tahun terakhir. Mereka pun telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Sekilas, hidup Rama tampak sempurna; pekerjaan mapan, istri cantik, dan kehadiran buah hati yang tak perlu menunggu lama. Namun, kebahagiaan itu hanya nampak di permukaan. Di baliknya, riak-riak polemik rumah tangga terus menghantam. Konflik kecil antara Tika dan orang tua Rama sering kali membuat pria itu terjepit di tengah-tengah. Ia terus dipaksa berbagi peran: menjadi anak yang berbakti sekaligus suami yang melindungi. Lama-kelamaan, Rama berubah menjadi pribadi yang tertutup. Setelah seharian lelah memimpin proyek, ia masih harus memutar otak untuk mencairkan suasana yang membeku di rumah. Pekerjaannya sebagai mandor juga menuntutnya untuk sering berada di luar kota. Meski begitu, sebulan sekali ia selalu menyempatkan pulang. Bukan h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status