Home / Romansa / Balada Cinta Sang Mandor / Bab 5 : benih ambisi Elma

Share

Bab 5 : benih ambisi Elma

Author: Improve. Ent
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-24 16:03:06

Tika telah sepenuhnya bertransformasi. Berminggu-minggu menghabiskan waktu di pusat kebugaran di bawah bimbingan Bimo, tubuhnya kini menjelma menjadi magnet bagi setiap pasang mata lelaki. Ia bukan lagi wanita yang bersembunyi di balik daster kusam; kini, Tika dengan penuh percaya diri mengekspos lekuk tubuhnya, baik melalui lensa kamera maupun saat melangkah keluar dengan pakaian yang membalut ketat fisiknya. Semua itu berkat Bimo, pria yang tidak hanya melatih fisiknya, tapi juga menanamkan benih keberanian di jiwanya.

Di kejauhan, Rama mulai mengendus perubahan drastis sang istri. Kabar burung tentang kedekatan Tika dengan seorang pria asing pun sampai ke telinganya. Namun, kesombongan masih bertahta di hati Rama.

"Ah, aku yakin pria itu tidak akan bertahan lama. Keluhan-keluhannya yang membosankan pasti akan membuat pria mana pun muak," batin Rama, mencoba menenangkan egonya yang mulai terusik.

Fokus Rama kini beralih sepenuhnya kepada Elma. Ia memutuskan untuk membawa hubungan mereka ke tingkat yang lebih serius: tinggal bersama. Tentu saja, rencana itu tidak mudah karena Elma masih tinggal bersama orang tuanya. Namun, Rama adalah pria yang tahu cara memanfaatkan keadaan. Ia tahu latar belakang keluarga Elma sedang terjepit kesulitan ekonomi, ditambah lagi ayah Elma yang sedang sakit parah dan membutuhkan biaya besar untuk berobat. Uang bagi Rama adalah kunci untuk membungkam segala keraguan.

Suatu sore, Rama memberanikan diri mendatangi rumah sederhana itu. Di teras, ia mendapati seorang pria paruh baya yang tampak ringkih sedang terduduk lesu.

"Pak, perkenalkan saya Rama. Saya teman dekat Elma," sapa Rama dengan nada yang sangat sopan.

"Oh, iya Nak Rama. Saya ayahnya Elma. Kebetulan Elma ada di dalam," sahut pria itu sembari mempersilakan Rama duduk.

Tak lama setelah Rama mengirim pesan singkat, Elma pun keluar dengan wajah berseri. Perbincangan hangat segera mengalir, hingga akhirnya Rama menggiring percakapan menuju rencana intinya.

"Jadi begini, Pak. Saya dan Elma sudah cukup dekat. Daripada Elma harus terus pulang-pergi jauh ke tempat kerja, saya rasa lebih baik jika Elma mencari tempat tinggal atau mes yang lebih dekat di kota," tutur Rama dengan gaya meyakinkan.

Awalnya, ayah Elma menunjukkan penolakan halus. Namun, Elma segera menimpali, menjelaskan bahwa semua akan baik-baik saja. Ia bahkan menunjukkan mobil yang terparkir di depan sebagai bukti "kebaikan" Rama.

"Pokoknya Bapak tenang saja, saya yang akan menjaga Elma di sana. Dan lagi, saya tahu Bapak sedang sakit. Biar nanti segala kebutuhan pengobatan Bapak, saya yang tanggung sepenuhnya," tegas Rama.

Mendengar janji manis dan melihat tanggung jawab yang ditunjukkan Rama, prinsip sang ayah akhirnya melunak. Ia merasa telah menitipkan putrinya pada pria yang tepat. "Baiklah Nak, kalau itu mau kalian. Asal kamu benar-benar menjaga Elma ya, Nak Rama."

Seminggu kemudian, sebuah apartemen mewah sudah siap dihuni. Rama menjemput Elma, namun sebelum menuju kediaman baru mereka, ia membelokkan mobil ke sebuah praktik bidan.

"Sayang, sepertinya kamu perlu KB dulu deh," ujar Rama dengan nada santai namun mengandung perintah.

Elma tersenyum manja, ia tahu persis apa yang ada di balik permintaan itu. Sambil menunggu di mobil, Rama membiarkan Elma masuk untuk menyelesaikan urusannya. Lima belas menit kemudian, perjalanan berlanjut menuju apartemen.

Begitu pintu apartemen terbuka, Elma terpaku. Kemewahan di depannya terasa seperti mimpi. Meski ia sering tampil elegan sebagai tuntutan pekerjaan, latar belakang keluarganya yang sederhana membuatnya tak pernah membayangkan bisa tinggal di tempat semegah ini.

"Terima kasih ya, Mas, buat apartemennya. Ini pasti mahal sekali..." gumam Elma terharu.

Rama merangkul pundak Elma dari belakang. "Tidak ada yang mahal untuk wanita sepertimu, Sayang." Ia kemudian berbisik, "Tapi aku juga akan tinggal di sini. Di mes terlalu banyak orang, aku tidak bebas."

Elma membalikkan badannya, mencubit hidung Rama dengan centil. "Mas menyuruhku KB, lalu Mas mau tinggal di sini juga... aku tahu kok apa yang ada di otakmu, Mas."

Tanpa banyak bicara, Rama mendorong tubuh Elma ke atas kasur empuk. Gairahnya memuncak, bak macan yang baru saja menemukan mangsa setelah sekian lama lapar. Elma menyambut serangan itu dengan tangan terbuka, membiarkan setiap helai pakaiannya dilucuti.

"Tubuhmu milikku seutuhnya, Sayang," bisik Rama dengan napas yang memburu di ceruk leher Elma.

Di tengah pergumulan yang panas, saat keringat mulai membasahi kulit keduanya, Rama membisikkan sesuatu yang membuat Elma tertegun. "Kamu tahu, Sayang? Semua fasilitas yang kuberikan ini tidak ada yang gratis."

"Aku tahu kok, Mas. Makanya aku rela kamu apakan saja," sahut Elma pasrah dalam kenikmatan.

"Bukan itu. Kali ini aku ingin sesuatu yang berbeda," ujar Rama dengan tatapan yang mendadak terasa dingin dan mengerikan.

Ia membalikkan tubuh Elma, mengarahkan niatnya pada sisi lain yang selama ini tabu. Elma gemetar, mencoba menolak. "Mas, jangan di situ... aku belum pernah."

"Justru karena kamu belum pernah, aku ingin menjadi orang pertama yang melakukannya," balas Rama tanpa kompromi.

Elma ketakutan, namun ia tak berdaya untuk melawan pria yang telah membeli kehidupannya. Rasa sakit yang tajam menyerang saat Rama memaksakan kehendaknya di tempat yang tidak semestinya. Elma hanya bisa meringis, mencengkeram sprei sekuat tenaga hingga akhirnya rasa sakit itu berubah menjadi kebas yang aneh.

Setelah segalanya usai, mereka terbaring dengan napas yang masih tersengal. "Sakit sekali, Mas... aku benar-benar belum pernah melakukannya," keluh Elma lirih.

"Tidak apa-apa, yang penting aku sudah tahu rasanya," jawab Rama dengan nada puas, seolah baru saja memenangkan sebuah trofi.

"Memangnya Mas belum pernah mencoba itu sebelumnya?" tanya Elma penasaran.

Rama menggeleng kecil sembari mengecup bibir Elma. "Belum. Istriku tidak mau. Dan bukankah kamu bilang ingin menang dalam segala hal atas istriku? Terima kasih ya, Sayang."

Malam-malam berikutnya di apartemen itu menjadi rutinitas penuh berahi. Elma mulai merasa bahwa dirinya tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang Rama. Pria itu telah menjadi candu sekaligus kebutuhan baginya. Di satu sisi, ia memiliki harta; di sisi lain, kebutuhan biologisnya terpenuhi oleh Rama yang sanggup menaklukkan sisi liarnya.

Namun, di tengah kemewahan itu, sebuah ambisi baru mulai muncul di hati Elma. Ia tidak lagi puas hanya menjadi wanita simpanan. Ia ingin memiliki Rama seutuhnya—menjadi satu-satunya wanita yang sah, meski ia harus perlahan-lahan menggeser posisi Tika selamanya.

***Bersambung...***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 5 : benih ambisi Elma

    Tika telah sepenuhnya bertransformasi. Berminggu-minggu menghabiskan waktu di pusat kebugaran di bawah bimbingan Bimo, tubuhnya kini menjelma menjadi magnet bagi setiap pasang mata lelaki. Ia bukan lagi wanita yang bersembunyi di balik daster kusam; kini, Tika dengan penuh percaya diri mengekspos lekuk tubuhnya, baik melalui lensa kamera maupun saat melangkah keluar dengan pakaian yang membalut ketat fisiknya. Semua itu berkat Bimo, pria yang tidak hanya melatih fisiknya, tapi juga menanamkan benih keberanian di jiwanya.Di kejauhan, Rama mulai mengendus perubahan drastis sang istri. Kabar burung tentang kedekatan Tika dengan seorang pria asing pun sampai ke telinganya. Namun, kesombongan masih bertahta di hati Rama."Ah, aku yakin pria itu tidak akan bertahan lama. Keluhan-keluhannya yang membosankan pasti akan membuat pria mana pun muak," batin Rama, mencoba menenangkan egonya yang mulai terusik.Fokus Rama kini beralih sepenuhnya kepada Elma. Ia memutuskan untuk membawa hubungan me

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 4 : Romansa yang mulai retak

    Dunia baru Rama terasa begitu memabukkan, sementara di sudut lain, Tika justru merasa hidupnya semakin kosong dan hampa. Selama ini, Tika tak pernah menaruh curiga. Di matanya, Rama adalah sosok pria pekerja keras yang gigih mencari nafkah, sehingga ia selalu memaklumi kesibukan suaminya sebagai tuntutan profesi. Namun, Rama sadar betul bahwa ia telah mengabaikan istrinya. Belenggu asmara Elma terlalu kuat untuk ia lepaskan, hingga perlahan-lahan rasa sayang yang dulu ada untuk Tika mulai memudar. Kini, tak ada lagi telinga yang bersedia mendengar keluh kesah Tika. Bagi Rama, setiap kata yang keluar dari mulut istrinya hanyalah pengulangan masalah yang membosankan. Karena merasa tidak lagi didengar, Tika mulai mencari pelarian di media sosial. Ia sering mengunggah kutipan-kutipan galau sebagai bentuk pembenaran atas perasaannya. Namun, bukannya simpati, hal itu justru memicu amarah Rama. Bagi sang suami, urusan rumah tangga bukanlah konsumsi publik. "Umbar saja terus. Seolah kamu y

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 3 : Hasrat tak terbendung

    Rama telah tiba kembali di kota tempatnya bekerja. Langkahnya terasa lebih ringan, didorong oleh rasa tak sabar untuk segera menemui dambaan hatinya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Elma, mengabarkan bahwa kerinduan yang ia pendam selama di rumah sudah mencapai puncaknya. Malam itu, Elma datang ke mes tempat Rama tinggal. Suasana mes masih cukup ramai oleh para pekerja, termasuk Pak Ranto yang langsung mengenali wajah cantik sales mobil yang pernah ia temui di restoran itu. Elma sempat mencoba menghubungi ponsel Rama, namun tak ada jawaban. Dengan sedikit keraguan, ia memberanikan diri masuk ke area utama di mana Pak Ranto dan pekerja lainnya tengah asyik bermain kartu. "Permisi, Pak..." sapa Elma sopan. Pak Ranto mendongak, matanya memicing sejenak sebelum tersenyum lebar. "Eh, ini Mbak yang waktu itu di restoran ya? Ada perlu apa ya, Mbak?" "Mas Ramanya ada, Pak?" tanya Elma, mencoba menutupi kegugupannya di tengah tatapan para pekerja laki-laki di sana. "Kebetulan

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 2 : Bermain api

    Berhari-hari Elma menghilang. Pesan Rama hanya berakhir pada tanda dibaca, dan panggilannya selalu berakhir dengan nada sibuk yang dingin. Rasa sesak di dada membuat Rama tidak bisa lagi berdiam diri. Ia akhirnya memutuskan untuk mendatangi langsung tempat kerja wanita itu. Sebuah *showroom* mobil ternama yang selalu terbuka untuk umum, tempat di mana Elma biasanya menghabiskan waktu sebagai garda terdepan penjualan. Kedatangan Rama disambut oleh seorang pria berseragam rapi, sang manajer *showroom*. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sang manajer dengan ramah. "Saya ingin bertemu Elma. Elmanya ada?" tanya Rama langsung tanpa basa-basi. Manajer itu tersenyum simpul, menyimpulkan bahwa pria di depannya adalah calon pembeli potensial. "Oh, pelanggan Elma ya? Kebetulan Elma sedang tidak masuk hari ini, Pak. Biar saya bantu telepon ya?" Rama mengangguk singkat. Di depannya, sang manajer segera menghubungi Elma. Tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat. "Elma, ka

  • Balada Cinta Sang Mandor   Bab 1 : Latar belakang

    Rama menjadi seorang mandor di usia yang tergolong muda, baru tiga puluh dua tahun. Di rumahnya, ada Tika, istri berusia dua puluh delapan tahun yang telah menemaninya selama empat tahun terakhir. Mereka pun telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Sekilas, hidup Rama tampak sempurna; pekerjaan mapan, istri cantik, dan kehadiran buah hati yang tak perlu menunggu lama. Namun, kebahagiaan itu hanya nampak di permukaan. Di baliknya, riak-riak polemik rumah tangga terus menghantam. Konflik kecil antara Tika dan orang tua Rama sering kali membuat pria itu terjepit di tengah-tengah. Ia terus dipaksa berbagi peran: menjadi anak yang berbakti sekaligus suami yang melindungi. Lama-kelamaan, Rama berubah menjadi pribadi yang tertutup. Setelah seharian lelah memimpin proyek, ia masih harus memutar otak untuk mencairkan suasana yang membeku di rumah. Pekerjaannya sebagai mandor juga menuntutnya untuk sering berada di luar kota. Meski begitu, sebulan sekali ia selalu menyempatkan pulang. Bukan h

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status