MasukTerima kasih sudah membaca. Tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. Nasa
Pagi pertama Milea di Rio De janeiro. Ya, akhirnya mereka berdua berbulan madu di Brazil. Bukan tanpa alasan. Karena kepergian itu terlalu mendadak untuk mengurus visa. Maka salah satu negara yang bisa mereka tuju tanpa harus memiliki visa adalah Brazil. Ada beberapa negara lain yang bisa mereka pilih, yang tidak memerlukan visa untuk berkunjung. Seperti Jepang, Malaysia, Turki dan masih banyak lagi, namun Melia dengan asal menyebut nama Brazil yang berjarak belasan ribu km dari Singapura. Melia tidak memiliki tujuan selain hanya untuk melarikan diri dari Aurora.Setelah melakukan penerbangan puluhan jam, akhirnya mereka tiba di Rio De Janeiro, kota terbesar kedua di Brazil setelah Sao Paulo. Meskipun begitu, Rio De Janeiro lebih populer sebagai destinasi tempat wisatanya.Bentang alam Rio De Janeiro yang menjadi tempat pertemuan antara pegunungan, kota dan lautan–dimana alam dan kehidupan perkotaan berpadu secara harmonis menjadikan tempat ini salah satu yang terindah di Brasil.Den
Kai menghentak keras napasnya. Pria itu memutar kepala, memperhatikan perempuan yang kini masuk ke dalam mobil sedan merah. Hampir saja ia menghantam perempuan itu.'Brengsek!" umpat Kai marah.Masih sambil memperhatikan mobil merah, Kai mengambil ponsel. Pria itu kemudian mengalihkan perhatian pada benda di tangannya. Setelah itu, Kak memutar tubuh. Melangkah, satu tangan yang bebas menarik gagang pintu mobil.“Halo, mulai sekarang mobil yang baru saja keluar itu tidak boleh masuk ke rumah ini. Aku akan mengirim foto pemilik mobil itu. Pastikan dia tidak pernah mendekati rumah pak Ardito.” Setelah memberikan perintahnya, pria yang sudah duduk di dalam mobil itu menurunkan ponsel.Dadanya bergerak kentara ke atas, lalu kembali bergerak ke bawah setelah beberapa detik terlewat. Kai berusaha untuk mengembalikan ketenangannya.“Kita ke kantor.” K
Milea menoleh ke belakang. Tarikan napas panjang wanita itu lakukan. Sepasang matanya menatap ke jalanan yang tertinggal di belakang sana.“Ada apa?” tanya Ardito seraya ikut menoleh ke belakang. Pria itu melirik sang istri. Sepasang rahang yang terkatup kini mulai saling menekan. Pikiran buruk kembali muncul. “Kamu mencari Kai?”“Hah? Kai?” Milea mengerjap. Wanita itu segera meluruskan kembali kepalanya ke depan. Milea menarik napas pelan. “Kenapa bawa-bawa Kai?” Milea berbicara dengan nada rendah, dan pelan. Ia menoleh menatap sang suami.Sepasang bibir merah itu berkerut sebelum kembali terbelah. “Apa bisa kusimpulkan seberapa besar perasaanmu padaku dengan kecemburuanmu itu?”Ardito mengernyit. Pria itu membalas tatapan mata sang istri.Milea tersenyum. “Jika benar kamu menyukaiku sebesar itu&ndash
Aurora menekan pedal gas lebih dalam, ketika tempat tujuannya sudah tak jauh lagi. Wanita itu refleks menoleh–memperhatikan sepintas mobil yang berpapasan dengannya. Setelah itu ia kembali fokus ke depan. Sesekali bola matanya bergerak memperhatikan sekelilingnya. Sudah jelas area yang ia masuki adalah arena perumahan elit.Aurora memicing. Wanita itu segera memutar kemudi lalu melajukan kendaraan roda empatnya lebih cepat, sebelum kemudian menghentikan dengan cepat juga di depan sebuah mobil yang hampir bergerak meninggalkan halaman rumah mewah dua lantai.“Mau pergi?” gumam Aurora sebelum mendengkus. Tangannya bergerak cepat memutar kunci mobil hingga suara mesin mobil berhenti. Wanita itu kemudian menarik ujung sabuk pengaman dari pengaitnya. Tak lupa wanita itu mengambil tas yang ia letakkan di kursi samping, sebelum mendorong daun pintu kemudian keluar dari dalam mobil.Sambil menutup kembali pintu mobil, Aurora menatap sebuah mobil mewah yang masih memperdengarkan suara halus mes
Aurora menatap penampilannya dari kaca besar di depannya. Wanita itu memutar tubuh ke kanan dan kiri. Memastikan semuanya sempurna. Dia ingin membuat seseorang terpesona padanya pada pertemuan pertama mereka. Tak lama lagi.Kembali menghadap ke kaca, Aurora tersenyum. Merapikan helai rambut ke belakang telinga, sebelum kemudian mengambil tas dengan huruf H besar di bagian penutup. Ia menyampirkan tali tas yang tidak seberapa besar namun memiliki harga selangit itu ke bahu kiri. Aurora memutar tubuh kemudian mengayun kedua kaki yang berbalut heels merah yang harganya pun bisa membuat orang miskin menjerit.Dengan memakai dres span sepanjang di atas lutut berwarna merah, kulit putih mulus wanita itu tampak bersinar. Ditambah makeup dan juga semua benda mewah yang melekat di tubuhnya–semua orang yang melihat akan paham kelas sosial wanita tersebut.Keluar dari kamar hotel, langkah kaki berbalut heels itu tertuju ke arah lift. Dia sudah siap untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi mili
Pagi itu Ardito bangun dan tidak menemukan istrinya di atas ranjang bersamanya. Pria itu segerak menyibak selimut, lalu mengangkat tubuhnya. Ardito mengedarkan pandangan mata. Sang istri tidak terlihat. Meskipun semalam istrinya sudah meyakinkan dirinya jika tidak ada hubungan terlarang antara istrinya dan asisten pribadinya, namun ketika tidak mendapati sang istri saat pertama membuka mata, prasangka itu muncul kembali.Ia adalah pria pencemburu. Apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan ia biarkan disentuh oleh orang lain. Apalagi ini perempuan yang sudah sah menjadi istrinya.Ardito bergegas turun dari ranjang lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi. Berharap sang istri ada di sana. Dia tidak akan bisa mengontrol diri jika melihat istrinya bersama dengan Kai satu kali lagi. Ardito mulai mereka-reka apa yang akan ia lakukan jika sang istri mengecewakannya lagi.Pria itu menekan-nekan katupan rahangnya. Begitu tiba di depan pintu kamar mandi, tanpa menunggu detik terlewat, Ardito la







