Share

Rasa curiga

Penulis: Blade Armore
last update Tanggal publikasi: 2023-09-11 15:01:07
"Maaf, Tuan. Bukannya tadi kita dari sana, dan kemungkinan bertemu dengan Nona Amber sangat tipis!" ujar Adrian mengingatkan.

Charles kembali mengumpat dan sekarang meminta asistennya mengantarkan dia ke rumah sakit, sebelumnya dia mendapat kabar jika Citra sudah diijinkan pulang. Charles yakin, Citra tahu sedikit tentang Amber yang tidak dia ketahui. Lelaki itu juga meminta Adrian mencari tahu ulang tentang istri dan keluarganya.

"Cari tahu yang benar dan teliti, jangan sampai terlewat!" pinta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Rumah kenangan

    Rumah itu sudah tidak berdebu lagi. Catnya baru, putih gading. Foto keluarga yang dulu bolong terkena peluru Paman Darto kini sudah diganti bingkai baru, tapi lubang peluru di dinding sengaja tidak ditambal. Amber membiarkannya. Sebagai pengingat.Sore itu, Amber sedang menyapu teras dengan daster, rambut diikat berantakan. Tidak ada pistol di pinggang. Hanya gelang karet.Dafa datang dengan dua kantong belanjaan, napasnya terdengar ngos-ngosan."Amber! Kulkas kosong lagi! Kau makan apa selama aku di kampus?! Angin?!""Aku diet," jawab Amber enteng."Diet apaan, kemarin malam kau menghabiskan ayam goreng Hulton dua porsi!" Dafa menaruh belanjaan dengan berisik.Hulton keluar dari dalam rumah, membawa laptop dan kemeja yang belum dikancing sempurna. Wajahnya sudah tidak setegang dulu."Jangan berantem di teras orang tua," katanya, lalu menatap Amber. "Amber, sidang vonis Paman Darto dimajukan jadi minggu depan. Jaksa minta kau hadir."Amber berhenti menyapu."Aku tidak mau datang, Hult

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Perlawanan terakhir

    Oke, Paman Darto melawan.Saat Hulton memberi isyarat ke tim di luar untuk masuk, tangan Paman Darto yang gemetar tadi tiba-tiba berhenti.Matanya kembali dingin."Kau pikir aku akan membusuk di penjara?" desisnya.Dalam sepersekian detik, ia membalik meja kayu di depannya. Teko teh panas menyiram ke arah wajah Hulton."HULTON AWAS!" teriak Amber.Hulton menghindar, tapi air panas itu mengenai lengannya. Pistolnya terlepas, jatuh ke lantai.Paman Darto tidak lari ke pintu. Ia meraih tongkat eboninya. Ternyata bukan tongkat biasa._KLIK._Ujung tongkat itu terbuka. Bukan pisau. Sebuah pistol kecil satu peluru, sudah terpasang.Ia tidak mengarahkannya ke Hulton. Ia mengarahkannya ke Dafa. Ke Pangeran Kecil-nya."Kalau nama Wijaya tidak bisa jadi milikku," katanya, napasnya memburu, "maka tidak akan ada Wijaya lagi!"Dafa membeku. Jaraknya hanya dua meter.Amber tidak berpikir. Ia tidak mengambil pistolnya yang di lantai.Ia melompat.Ia menabrak tubuh Dafa hingga keduanya terjatuh ke be

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Darto

    Hujan makin deras ketika limusin hitam itu hilang di tikungan parkiran VIP. Isyarat diam dari Paman Darto itu masih terbayang di kepala Amber. "Dia memancing kita," kata Hulton, menarik Amber menjauh dari pilar. "Jebakan. Dia sengaja mendarat di bandara ini padahal dia bisa lewat perjalanan darat. Dia mau kita langsung melihat dia." Tablet di tangan Dafa bergetar keras. Titik merah yang menandakan mobil Paman Darto tiba-tiba berhenti, lalu berbelok arah. Tidak menuju jalan tol. "Amber... dia tidak ke hotel," ujar Dafa lirih. "Rutenya... ini rute ke rumah lama. Rumah kakek." Rumah Wijaya. Tempat Amber dan Dafa menghabiskan masa kecil. Tempat foto-foto keluarga mereka masih tergantung di dinding. Tempat orang tua mereka terakhir kali tertawa. Amber membeku. Napasnya yang tadi memburu kini berhenti total. "Dia gila," desisnya. "Dia mau kita selesaikan di sana." Hulton langsung paham. "Tempat yang penuh kenangan. Dia mau kau ragu. Kalau kau menembak di sana, kau menodai ruma

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Bayangan dari masa lalu

    Hujan kembali turun di kota, seolah langit setuju bahwa darah harus dibasuh sebelum tumpah. Amber berdiri di depan jendela kaca besar ruang tamu rumahnya, menatap butiran air yang membasahi kaca. Di belakangnya, Hulton sedang memeriksa ulang peralatan tempur mereka: dua pistol berperedam suara, beberapa magazin cadangan, dan pisau komando. Dafa baru saja tiba, wajahnya tegang, membawa tablet yang menampilkan rute pergerakan target. "Paman Darto," gumam Dafa, suaranya penuh dengan jijik yang tertahan. "Aku masih ingat wajah pria itu. Dia selalu tersenyum manis padaku saat kecil. Memberiku permen. Memanggilku 'Pangeran Kecil'. Dan ternyata, di balik senyum itu, tersimpan racun yang membunuh orang tuaku." Amber tidak menoleh. Punggungnya kaku. "Dia bukan sekadar pembunuh, Dafa. Dia adalah arsitek kehancuran kita. Jika dia yang memberi perintah pada Volkov, jika dia yang memanipulasi Charles, jika dia yang menciptakan The Syndicate... maka dialah akar dari semua penyakit ini." Hulton m

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Abu yang belum padam

    Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar tidur utama, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Amber membuka matanya perlahan. Rasa sakit di kepalanya masih ada, berdenyut ritmis seperti jam dinding yang tak pernah berhenti, tapi itu bukan lagi rasa sakit yang asing. Itu adalah pengingat. Pengingat bahwa ia selamat. Pengingat bahwa ingatan itu kembali.Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan potongan-potongan memori menyusun diri kembali menjadi mosaik utuh. Wajah Hulton yang hancur saat ditolak. Tatapan dingin Charles sebelum memukulnya. Ledakan di vila Puncak. Dan yang paling penting... janji Hulton di gazebo, di bawah hujan deras, tentang cinta yang tidak menuntut.Amber menghela napas panjang, napas yang terasa berat di dada. Tubuhnya terasa seperti timah. Setiap otot, setiap serat saraf, seolah telah digunakan hingga batas maksimal selama tiga bulan terakhir—tiga bulan hidup dalam kabut amnesia, tiga bulan berjuang melawan bayangan tanpa tahu siapa musuhnya.

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Gema di balik jeruji dan luka yang tersembunyi

    Rasa sakit itu bukan lagi sekadar sensasi fisik. Itu adalah identitas barunya. Lutut kiri hancur. Tulang patela remuk menjadi serpihan kecil oleh peluru berkaliber tinggi milik Hulton Wijaya. Dokter di rumah sakit penjara bilang dia mungkin tidak akan pernah bisa berjalan normal lagi. Mereka memberinya tongkat, obat pereda nyeri, dan pandangan merendahkan. Tapi mereka tidak tahu. Rasa sakit di kakinya ini adalah pengingat harian bahwa dia masih hidup. Bahwa ia masih ada. Bahwa Amber adalah wanita yang dulu menatapnya dengan cinta buta—kini yang ada hanya tatapan seorang eksekutor yang dingin. Sel tahanan ini sempit. Dindingnya berwarna abu-abu kusam, lembap, dan berbau kotoran manusia yang telah menyerah pada nasib. Di sini, tidak ada AC. Tidak ada jendela besar dengan pemandangan kota. Hanya ventilasi kecil di atas sana yang membiarkan sedikit cahaya matahari masuk, cukup untuk melihat debu-debu yang menari dalam keputusasaan. Dia --Charles, duduk di tepi kasur tipis, memegang

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Citra sadar dari koma

    Charles terpaksa pulang dengan tangan kosong lagi, geram dengan kelakuan istrinya yang terlalu mengedepankan egonya. Charles hanya merasa dirinya tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini, karena Amber terlalu sibuk menurutnya. Lelaki itu tidak tau, jika hati wanita sudah tersakiti, maka tidak akan ad

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Belum butuh bantuan

    Sudah lebih dari sebulan, Amber berada di balik jeruji dan hampir setiap harinya Charles selalu datang berkunjung. Bukan hanya Amber saja yang jengah, tapi para sipir penjara pun bosan melihat wajah memelas Charles. Ya, dikarenakan Amber selalu menolak untuk menemui suaminya itu, dan Charles sangat

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Tameng untuk Amber

    Sudah beberapa hari Amber berada di dalam sel bersama dengan tiga wanita yang tangguh menurutnya. Mereka berbagi kisah pada Amber, agar tidak ada jarak antara mereka, hanya saja Amber masih menutupi apa yang sedang menimpanya. Amber lebih suka menjadi pendengar yang baik untuk saat ini, dan menyiapk

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Nyaman

    "Kenapa kamu bisa bertindak bodoh seperti ini!" tegur lelaki gemulai itu dengan suara yang nge-bass.Amber yang tadinya ingin memejamkan mata, langsung menegakkan tubuhnya. Menatap tajam lelaki yang sudah membersamainya selama dia menjadi model, bahkan sebelum Amber menjadi terkenal seperti saat ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status