Partager

Rumah kenangan

Auteur: Blade Armore
last update Date de publication: 2026-10-06 22:03:25

Rumah itu sudah tidak berdebu lagi. Catnya baru, putih gading. Foto keluarga yang dulu bolong terkena peluru Paman Darto kini sudah diganti bingkai baru, tapi lubang peluru di dinding sengaja tidak ditambal. Amber membiarkannya. Sebagai pengingat.

Sore itu, Amber sedang menyapu teras dengan daster, rambut diikat berantakan. Tidak ada pistol di pinggang. Hanya gelang karet.

Dafa datang dengan dua kantong belanjaan, napasnya terdengar ngos-ngosan.

"Amber! Kulkas kosong lagi! Kau makan apa selama
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Rumah kenangan

    Rumah itu sudah tidak berdebu lagi. Catnya baru, putih gading. Foto keluarga yang dulu bolong terkena peluru Paman Darto kini sudah diganti bingkai baru, tapi lubang peluru di dinding sengaja tidak ditambal. Amber membiarkannya. Sebagai pengingat.Sore itu, Amber sedang menyapu teras dengan daster, rambut diikat berantakan. Tidak ada pistol di pinggang. Hanya gelang karet.Dafa datang dengan dua kantong belanjaan, napasnya terdengar ngos-ngosan."Amber! Kulkas kosong lagi! Kau makan apa selama aku di kampus?! Angin?!""Aku diet," jawab Amber enteng."Diet apaan, kemarin malam kau menghabiskan ayam goreng Hulton dua porsi!" Dafa menaruh belanjaan dengan berisik.Hulton keluar dari dalam rumah, membawa laptop dan kemeja yang belum dikancing sempurna. Wajahnya sudah tidak setegang dulu."Jangan berantem di teras orang tua," katanya, lalu menatap Amber. "Amber, sidang vonis Paman Darto dimajukan jadi minggu depan. Jaksa minta kau hadir."Amber berhenti menyapu."Aku tidak mau datang, Hult

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Perlawanan terakhir

    Oke, Paman Darto melawan.Saat Hulton memberi isyarat ke tim di luar untuk masuk, tangan Paman Darto yang gemetar tadi tiba-tiba berhenti.Matanya kembali dingin."Kau pikir aku akan membusuk di penjara?" desisnya.Dalam sepersekian detik, ia membalik meja kayu di depannya. Teko teh panas menyiram ke arah wajah Hulton."HULTON AWAS!" teriak Amber.Hulton menghindar, tapi air panas itu mengenai lengannya. Pistolnya terlepas, jatuh ke lantai.Paman Darto tidak lari ke pintu. Ia meraih tongkat eboninya. Ternyata bukan tongkat biasa._KLIK._Ujung tongkat itu terbuka. Bukan pisau. Sebuah pistol kecil satu peluru, sudah terpasang.Ia tidak mengarahkannya ke Hulton. Ia mengarahkannya ke Dafa. Ke Pangeran Kecil-nya."Kalau nama Wijaya tidak bisa jadi milikku," katanya, napasnya memburu, "maka tidak akan ada Wijaya lagi!"Dafa membeku. Jaraknya hanya dua meter.Amber tidak berpikir. Ia tidak mengambil pistolnya yang di lantai.Ia melompat.Ia menabrak tubuh Dafa hingga keduanya terjatuh ke be

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Darto

    Hujan makin deras ketika limusin hitam itu hilang di tikungan parkiran VIP. Isyarat diam dari Paman Darto itu masih terbayang di kepala Amber. "Dia memancing kita," kata Hulton, menarik Amber menjauh dari pilar. "Jebakan. Dia sengaja mendarat di bandara ini padahal dia bisa lewat perjalanan darat. Dia mau kita langsung melihat dia." Tablet di tangan Dafa bergetar keras. Titik merah yang menandakan mobil Paman Darto tiba-tiba berhenti, lalu berbelok arah. Tidak menuju jalan tol. "Amber... dia tidak ke hotel," ujar Dafa lirih. "Rutenya... ini rute ke rumah lama. Rumah kakek." Rumah Wijaya. Tempat Amber dan Dafa menghabiskan masa kecil. Tempat foto-foto keluarga mereka masih tergantung di dinding. Tempat orang tua mereka terakhir kali tertawa. Amber membeku. Napasnya yang tadi memburu kini berhenti total. "Dia gila," desisnya. "Dia mau kita selesaikan di sana." Hulton langsung paham. "Tempat yang penuh kenangan. Dia mau kau ragu. Kalau kau menembak di sana, kau menodai ruma

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Bayangan dari masa lalu

    Hujan kembali turun di kota, seolah langit setuju bahwa darah harus dibasuh sebelum tumpah. Amber berdiri di depan jendela kaca besar ruang tamu rumahnya, menatap butiran air yang membasahi kaca. Di belakangnya, Hulton sedang memeriksa ulang peralatan tempur mereka: dua pistol berperedam suara, beberapa magazin cadangan, dan pisau komando. Dafa baru saja tiba, wajahnya tegang, membawa tablet yang menampilkan rute pergerakan target. "Paman Darto," gumam Dafa, suaranya penuh dengan jijik yang tertahan. "Aku masih ingat wajah pria itu. Dia selalu tersenyum manis padaku saat kecil. Memberiku permen. Memanggilku 'Pangeran Kecil'. Dan ternyata, di balik senyum itu, tersimpan racun yang membunuh orang tuaku." Amber tidak menoleh. Punggungnya kaku. "Dia bukan sekadar pembunuh, Dafa. Dia adalah arsitek kehancuran kita. Jika dia yang memberi perintah pada Volkov, jika dia yang memanipulasi Charles, jika dia yang menciptakan The Syndicate... maka dialah akar dari semua penyakit ini." Hulton m

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Abu yang belum padam

    Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai kamar tidur utama, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Amber membuka matanya perlahan. Rasa sakit di kepalanya masih ada, berdenyut ritmis seperti jam dinding yang tak pernah berhenti, tapi itu bukan lagi rasa sakit yang asing. Itu adalah pengingat. Pengingat bahwa ia selamat. Pengingat bahwa ingatan itu kembali.Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan potongan-potongan memori menyusun diri kembali menjadi mosaik utuh. Wajah Hulton yang hancur saat ditolak. Tatapan dingin Charles sebelum memukulnya. Ledakan di vila Puncak. Dan yang paling penting... janji Hulton di gazebo, di bawah hujan deras, tentang cinta yang tidak menuntut.Amber menghela napas panjang, napas yang terasa berat di dada. Tubuhnya terasa seperti timah. Setiap otot, setiap serat saraf, seolah telah digunakan hingga batas maksimal selama tiga bulan terakhir—tiga bulan hidup dalam kabut amnesia, tiga bulan berjuang melawan bayangan tanpa tahu siapa musuhnya.

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Gema di balik jeruji dan luka yang tersembunyi

    Rasa sakit itu bukan lagi sekadar sensasi fisik. Itu adalah identitas barunya. Lutut kiri hancur. Tulang patela remuk menjadi serpihan kecil oleh peluru berkaliber tinggi milik Hulton Wijaya. Dokter di rumah sakit penjara bilang dia mungkin tidak akan pernah bisa berjalan normal lagi. Mereka memberinya tongkat, obat pereda nyeri, dan pandangan merendahkan. Tapi mereka tidak tahu. Rasa sakit di kakinya ini adalah pengingat harian bahwa dia masih hidup. Bahwa ia masih ada. Bahwa Amber adalah wanita yang dulu menatapnya dengan cinta buta—kini yang ada hanya tatapan seorang eksekutor yang dingin. Sel tahanan ini sempit. Dindingnya berwarna abu-abu kusam, lembap, dan berbau kotoran manusia yang telah menyerah pada nasib. Di sini, tidak ada AC. Tidak ada jendela besar dengan pemandangan kota. Hanya ventilasi kecil di atas sana yang membiarkan sedikit cahaya matahari masuk, cukup untuk melihat debu-debu yang menari dalam keputusasaan. Dia --Charles, duduk di tepi kasur tipis, memegang

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Bawa mereka ke sini!

    Olive memandangi wajah Amber yang masih terlelap akibat bius, wanita itu tersenyum, lalu mengusap wajah ayu atasannya. Setitik air mata jatuh, tidak menyangka, jika wanita yang dia dampingi sejak bertahun-tahun lalu, bisa kalah hanya karena persoalan lelaki, maka pemikirannya untuk tidak meikah sud

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Inikah yang dirasakan Amber2

    Beberapa wanita berseragam, dengan wajah tegas dan sorot mata tajam, menatap ke sekitar. Mimik wajah mereka sangat kentara menyimpan kekesalan. Namun, karena tugas, mereka harus bisa mengendalikan perasaan. Baru saja, salah satu wanita berseragam itu hendak berbicara, beberapa napi sudah mendahului

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Dijebak

    "Lepaskan!" Citra kembali memberontak."Diamlah!" bentak salah satu bodyguard.Dengan santai, dua orang itu melepaskan tangan Citra dan duduk di sisi ranjang. Mereka belum beranjak dari kamar Citra, menunggu instruksi selanjutnya.Amber menuju ke kamar rawat di mana Charles sedang terbaring lemas, O

  • Balas Dendam Mafia Cantik   Hutang budi

    "Tidak, anakku tidak akan mati hanya karena hal seperti ini!" pekik Citra.Amber yang tadinya mau mencari dokumen miliknya, malah mendapati pemandangan yang di luar perkiraannya. Citra sedang terduduk menahan kesakitan dan ada darah segar di lantai. Amber sungguh tidak peduli, dia masuk dan mengabai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status