Home / Romansa / Balas Dendam Sang Pendamping Setia / Bab 5 – Janji yang Jadi Tumpuan

Share

Bab 5 – Janji yang Jadi Tumpuan

Author: perdy
last update Last Updated: 2025-04-08 08:29:32

Ruangan itu tak besar, bahkan lebih mirip aula sewaan untuk seminar kecil daripada acara formal. Tapi malam itu, lampu-lampu gantung berjajar rapi di langit-langit, tirai hitam dipasang untuk menutupi tembok usang, dan di sudut ruangan, sebuah layar proyektor menampilkan logo startup dengan huruf kapital berwarna biru muda: VIVARA.

“Visi Baru untuk Era Baru.” Begitu tagline yang tertulis di bawahnya.

Galan berdiri di atas panggung kecil berkarpet tipis. Ia mengenakan kemeja putih yang baru saja disetrika Nayla tadi siang, dipadukan dengan jas hitam bekas pinjaman temannya. Tangannya sedikit bergetar saat memegang mikrofon, tapi wajahnya memancarkan semangat dan keberanian.

“Selamat malam, semuanya,” ucapnya membuka pidato. “Saya Galan Mahesa, founder dari Vivara Tech. Startup ini belum punya kantor, belum punya tim besar, dan modal kami pun masih terbatas. Tapi kami punya satu hal: keyakinan.”

Beberapa kepala di antara audiens mulai menoleh. Di deretan kursi baris ketiga dari depan, seorang wanita muda duduk anggun meski kursinya berderit setiap kali ia sedikit bergerak. Gaun sederhana berwarna biru tua yang ia kenakan sudah mulai pudar warnanya, hasil diskon toko daring dua bulan lalu. Tapi ia duduk dengan kepala tegak, senyum merekah, dan mata yang berbinar penuh kebanggaan.

Itulah Nayla.

Sejak Galan mengajaknya pindah ke kosan sempit itu, sejak pagi-pagi mereka makan mie instan dan sore bekerja di bawah terik matahari, malam ini adalah titik terang yang sangat ditunggu. Momen ketika semua perjuangan terasa punya tujuan.

“Vivara bukan hanya tentang teknologi,” lanjut Galan, suaranya mantap. “Ini tentang membantu UMKM naik kelas. Tentang memberi ruang bagi bisnis kecil yang selama ini tertinggal oleh era digital. Kami ingin membangun sistem distribusi yang efisien, transparan, dan mudah diakses. Dan semua ini… semua ini tidak akan pernah ada kalau bukan karena satu wanita di hidup saya.”

Galan berhenti sejenak. Matanya menyapu penonton, lalu tertuju pada Nayla.

“Dialah Nayla. Wanita yang percaya pada saya saat dunia belum melihat apa-apa dari saya. Yang rela meninggalkan segala kenyamanannya demi satu hal: keyakinan bahwa saya bisa jadi seseorang. Tanpa dia, saya bukan siapa-siapa.”

Tepuk tangan menggema di ruangan. Beberapa peserta yang sebelumnya terlihat acuh kini ikut bertepuk tangan, beberapa bahkan menoleh untuk melihat Nayla, yang kini tertunduk malu, matanya berkaca-kaca.

Di saat itulah, untuk pertama kalinya sejak mereka memulai segalanya dari nol, Nayla merasa dihargai. Bukan karena kekayaan, bukan karena status sosialnya sebagai putri keluarga Hartono, tapi sebagai dirinya sendiri. Sebagai wanita yang memilih bertahan, bahkan ketika logika berkata sebaliknya.

**

Setelah acara usai, beberapa orang menghampiri Galan untuk berbincang dan bertukar kartu nama. Nayla berdiri di belakang, memberi ruang. Ia tahu ini malam penting bagi Galan. Ia ingin Galan bersinar.

Beberapa wanita muda dengan penampilan profesional dan dandanan rapi ikut mendekat. Mereka tertawa pada lelucon Galan, mengangguk setiap kali ia menjelaskan konsep Vivara, dan bahkan menawarkan kolaborasi. Nayla memperhatikan dari kejauhan, menatap Galan yang kini mulai tampak berbeda—lebih percaya diri, lebih luwes, dan lebih... berjarak.

“Galan, pitch kamu tadi keren banget,” ujar seorang wanita yang mengenalkan diri sebagai Clara, manager pemasaran dari perusahaan venture capital.

“Terima kasih. Saya hanya mencoba jujur,” jawab Galan, tersenyum.

“Kamu punya potensi besar. Dan jujur aja, karismamu itu... bikin orang mudah percaya.”

Galan tertawa. “Semoga itu cukup untuk dapat pendanaan.”

Clara menoleh ke arah Nayla. “Itu pasanganmu?”

Galan menoleh sekilas. “Iya. Nayla, tunangan saya.”

Clara mengangguk sopan, lalu melanjutkan obrolannya dengan Galan.

Nayla mencoba tak terlalu memikirkan nada suara Galan yang terasa... datar. Tapi hatinya mulai digelitik perasaan tak nyaman yang tak bisa ia jelaskan.

**

Dalam perjalanan pulang, mereka naik ojek online berboncengan. Hujan rintik-rintik turun, mengaburkan kaca helm yang dipakai Nayla. Galan duduk di depan, diam sepanjang jalan. Saat sampai di kos, mereka langsung masuk ke kamar.

Galan melepas jasnya, menaruhnya di gantungan paku tembok. Nayla menggantung gaunnya di sisi ranjang, lalu duduk sambil membuka sepatunya.

“Kamu hebat tadi malam,” kata Nayla akhirnya.

Galan mengangguk. “Thanks.”

“Banyak yang tertarik, ya?”

“Lumayan. Clara bilang dia mau bahas kemungkinan pitching formal minggu depan.”

“Clara yang rambut pendek itu?”

“Iya. Dia kerja di perusahaan VC gede.”

Nayla diam sejenak. Ia menunduk, lalu bertanya dengan suara pelan. “Kamu bangga padaku?”

Galan menoleh, bingung. “Maksud kamu?”

“Tadi waktu kamu nyebut nama aku di depan semua orang... itu bikin aku bahagia banget. Tapi waktu kamu kenalin aku ke Clara, nadanya beda. Kayak... aku cuma tambahan. Bukan bagian dari kamu.”

Galan mengerutkan kening. “Nay, kamu terlalu sensitif. Aku cuma jaga kesan profesional. Kamu tahu, dunia bisnis itu tricky. Kalau aku kelihatan terlalu personal, bisa-bisa mereka pikir aku nggak fokus.”

Nayla mengangguk pelan. “Maaf kalau aku terlalu perasa.”

Galan mendekat, lalu duduk di sebelah Nayla. Ia memegang tangannya. “Kamu tahu aku sayang kamu, kan?”

Nayla mengangguk lagi. Tapi entah kenapa, malam itu, kalimat itu tak lagi terdengar sekuat dulu.

**

Hari-hari selanjutnya, Galan semakin sibuk. Pitching demi pitching, pertemuan dengan calon mitra, hingga makan malam bisnis yang seringkali Nayla tak diundang. Ia bilang, “Nay, kamu kan nggak nyaman di situ. Biar aku aja.”

Tapi Nayla tahu, itu bukan soal kenyamanan. Itu tentang image.

Namun meski hatinya mulai diselimuti kabut kekhawatiran, ia tetap berdiri. Tetap menyetrika baju Galan, tetap membuatkan sarapan seadanya, tetap memeluknya setiap malam. Karena ada satu hal yang terus jadi tumpuan hidup Nayla: janji Galan.

Janji bahwa mereka akan sukses bersama. Janji bahwa kalau usaha ini berhasil, mereka akan menikah, punya rumah sendiri, dan membalas semua yang dulu dilepas demi cinta.

Janji bahwa semua ini bukan pengorbanan sia-sia.

Ia menggantungkan hatinya pada janji itu. Sekuat dan setegar apa pun ia mencoba tak berharap terlalu tinggi, tetap saja, ia ingin percaya.

Bahwa lelaki itu tak akan berubah.

Bahwa dirinya tak akan dilupakan saat kesuksesan mulai mengetuk pintu.

Tapi ia belum tahu—bahwa kadang, cinta tak cukup untuk membuat seseorang tetap setia pada apa yang dulu ia perjuangkan.

Dan pujian manis di atas panggung malam itu, akan jadi satu-satunya penghargaan yang Nayla terima... sebelum semuanya berubah.

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 355

    Surat itu datang di pagi yang cerah, dibawa oleh kurir bersetelan rapi. Nayla baru saja selesai menyiram tanaman ketika amplop putih bersegel kementerian itu disodorkan padanya.“Untuk Ibu Nayla Pradipta,” ujar kurir itu sopan.Nayla menerimanya dengan kening sedikit mengernyit. Jarang sekali ia mendapat surat fisik. Hampir semuanya kini digital. Tapi amplop ini—bersegel emas, dengan logo kementerian yang tidak asing—jelas berbeda.Ia membuka perlahan. Harra yang sedang makan roti di meja ruang makan memperhatikan dengan rasa ingin tahu.“Apa itu, Ma?”Nayla tidak langsung menjawab. Matanya membaca isi surat dengan hati yang tiba-tiba terasa berat.Program Nasional Pemberdayaan Perempuan Muda.Mentor utama.Kisah inspiratif.Percontohan ketahanan perempuan di sektor bisnis dan sosial.Kalimat-kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada tampak di kertas.Harra bangkit, berjalan menghampiri, lalu membaca dari samping. Bibirnya terangkat membentuk senyum yang ia coba tahan—tapi gagal.“

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 354

    Hujan semalam telah berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan udara yang tenang. Kota masih dalam fase bangun—lampu jalan mulai padam satu per satu, dan suara kendaraan mulai terdengar perlahan di kejauhan. Di ruang kerjanya yang masih setengah gelap, Nayla duduk dengan secangkir kopi yang belum tersentuh.Ponselnya bergetar.Satu pesan masuk. Dari Alya.“Kamu akan melihat… dunia tidak selalu adil.”Tidak adaemoji, tidak ada tanda tanya, tidak ada jeda. Hanya kalimat dingin yang terasa seperti ujung dari sesuatu yang panjang.Nayla menatap layar itu lama. Dulu, pesan seperti ini bisa membuat hatinya bergetar—antara amarah, rasa bersalah, dan luka lama yang belum sembuh. Tapi kali ini, ia hanya membaca. Tanpa reaksi.Tangannya bergerak tenang, menekan tombol hapus pesan.Tidak dengan dendam. Tidak dengan kepuasan. Hanya… selesai.Ia menghela napas, menatap jendela besar yang memperlihatkan matahari pelan-pelan naik di balik gedung-gedung tinggi.“Dunia memang nggak selalu adil,” gumam

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 353

    Hujan turun tanpa jeda sore itu. Langit Jakarta gelap, seperti menyesuaikan diri dengan kabar yang memenuhi headline: “Alya Wijaya Diduga Menyebar Fitnah terhadap Tokoh Bisnis Muda, Nayla Rachman.”Di layar-layar televisi kafe, di portal berita, bahkan di grup-grup bisnis, nama Alya kembali menjadi bahan pembicaraan—bukan karena prestasi, melainkan karena kebohongan.Ia pikir, satu rumor kecil bisa mengguncang reputasi Nayla. Ia pikir dunia masih sama seperti dulu, ketika satu bisikan saja bisa mengubah arah opini publik. Tapi dunia telah berubah. Dan Nayla bukan lagi perempuan yang bisa dijatuhkan dengan gosip murahan.Alya duduk di halte kosong di pinggir jalan, menatap langit yang meneteskan air seperti mengolok-oloknya. Mantelnya sudah basah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan ponselnya berkali-kali bergetar—bukan panggilan bantuan, tapi notifikasi berita baru yang menulis ulang kebohongannya.Ia membuka satu per satu.“Alya Wijaya kembali gagal membersihkan nama.”“Nayla Rachm

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 352

    Angin sore membawa aroma tanah basah dari halaman rumah sakit. Langit baru saja berhenti menangis, tapi tanah masih menyimpan jejak hujan yang deras. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil rumah sakit itu, Nayla duduk dengan jaket abu-abu, menatap ke arah danau buatan yang permukaannya bergetar lembut diterpa angin.Langkah cepat terdengar dari arah belakang. Alya datang, mantel lusuhnya kini tampak lebih kusam karena air hujan, rambutnya berantakan, wajahnya letih. Tapi yang paling mencolok bukan penampilannya — melainkan matanya. Ada sesuatu yang baru di sana: bukan lagi amarah, melainkan kepanikan.“Aku butuh bantuanmu, Nayla,” katanya terburu-buru, tanpa basa-basi.Nayla menoleh pelan. “Bantuan apa?”Alya menelan ludah. “Perusahaanku… sudah di ujung. Investor mundur semua. Rekening dibekukan. Aku… aku nggak punya siapa-siapa lagi.”Suara itu nyaris pecah. “Kau tahu rasanya, kan? Ketika semua orang menjauh begitu saja.”Nayla menatap lurus, ekspresinya sulit ditebak. “Aku t

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 351

    Hujan turun pelan malam itu, membasahi halaman depan gedung rumah sakit. Lampu-lampu parkir memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah. Di bawah atap kecil dekat lobi, dua perempuan berdiri berhadapan—bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.Alya masih mengenakan mantel lusuhnya. Rambutnya basah, bibirnya pucat, tapi matanya menyala—bukan oleh kehidupan, melainkan oleh amarah yang terlalu lama dipendam.Nayla berdiri tegak di depannya, tenang, dengan payung kecil di tangan kanan dan tatapan lembut yang tidak menghindar.Beberapa jam sebelumnya, keduanya sama-sama menerima kabar: Galan Prasetya, lelaki yang pernah mengikat dan menghancurkan keduanya, dirawat dalam keadaan kritis setelah kecelakaan di jalan tol. Dunia yang dulu mengikat mereka dalam lingkaran ambisi dan luka kini menarik keduanya kembali ke tempat yang sama.Dan di situlah, di depan pintu rumah sakit, semua yang tak pernah diucapkan akhirnya meledak.“Kenapa kamu datang?” suara Alya pecah di antara

  • Balas Dendam Sang Pendamping Setia   Bab 350

    Langit sore itu memantulkan warna oranye lembut ketika acara kewirausahaan tahunan diadakan di aula besar Hotel Arya. Spanduk besar bertuliskan “Empowering Women in Business” terpasang di depan panggung. Musik lembut mengalun dari pengeras suara, sementara para tamu—pebisnis muda, investor, dan mahasiswa—berkumpul, menunggu pembicara terakhir naik ke panggung: Nayla Arindya, CEO perempuan yang belakangan ini menjadi simbol kebangkitan bisnis etis dan kepemimpinan empatik di tengah dunia korporat yang keras.Namun di luar gedung yang megah itu, di parkiran yang sudah mulai gelap, seorang perempuan berdiri terpaku di balik tiang beton. Mantelnya lusuh, rambutnya acak-acakan, dan kacamata hitam menutupi mata yang sembab. Di genggamannya, sebuah ponsel dengan layar penuh notifikasi—semuanya tentang dirinya.ALYA PRAMESWARI: BISNISNYA RESMI BANGKRUT, TERLIBAT SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN.INVESTOR MENARIK DANA, PROYEK BESAR GAGAL.Ia membaca judul-judul itu berulang kali, seperti in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status