LOGINHari-hari berlalu lebih cepat dari yang Nayla kira.
Bukan karena waktu bergerak lebih cepat, tapi karena segala sesuatu terasa seperti perlombaan—berlari dari pagi ke malam, dari harapan ke kecewa, dari tawa ke diam. Dan di tengah perlombaan itu, Nayla dan Galan bertahan sebisa mungkin.
Setelah pertemuan pertama dengan calon investor yang memberi secercah harapan, Galan mulai tenggelam dalam ritme baru. Ia sibuk menyesuaikan proposal, mengatur jadwal meeting, menghadiri presentasi, bahkan belajar dari nol bagaimana membuat business plan yang sesuai standar pasar.
“Nay, aku pulang duluan ya,” ujar Galan pada suatu pagi sambil meneguk kopi instan. “Ada meeting dadakan jam sepuluh.”
“Kamu belum makan apa-apa.”
“Nggak apa-apa. Nanti beli gorengan di jalan,” jawab Galan cepat sambil menyambar tas kerja lusuhnya.
Nayla hanya bisa menghela napas. Ia tahu ini bagian dari perjuangan. Tapi sejak kapan perjuangan membuat seseorang terlihat begitu jauh?
**
Siang itu, Nayla berdiri di balik meja kasir sebuah kedai kopi kecil. Ia mengenakan seragam hitam dengan celemek abu-abu, rambut diikat rapi, dan tangan kiri dibalut perban tipis. Hari sebelumnya, ia terkena cipratan minyak panas saat membuat pesanan pelanggan.
“Pesanan untuk Denny—Americano panas dan croissant,” seru Nayla, berusaha tersenyum meski tubuhnya lelah.
Jam kerja paruh waktu sebagai barista bukan pekerjaan impiannya, tapi Nayla menerima tawaran itu tanpa pikir panjang. Mereka butuh tambahan penghasilan. Uang dari Galan tak menentu, dan kos serta makan tetap harus dibayar.
Ia bekerja enam hari dalam seminggu. Gaji yang didapat hanya cukup untuk menambal kebutuhan pokok. Tapi ia tak pernah mengeluh, setidaknya tidak di depan Galan.
**
Malam itu, hujan turun deras. Nayla pulang dengan jaket tipis dan sepatu yang sudah basah kuyup. Di dalam kamar kos, lampu temaram menyambutnya. Galan duduk di depan laptop, wajahnya tegang.
“Maaf, aku pulang telat,” kata Nayla sambil mengganti baju basahnya.
Galan menoleh sebentar. “Nggak apa-apa. Aku juga baru sampai.”
Nayla memperhatikan meja penuh kertas dan buku catatan. Di antara semua itu, ada dua bungkus mie instan dan telur.
“Kamu masak?”
“Iya. Aku tahu kamu pasti capek,” jawab Galan sambil tersenyum.
Mereka makan dalam diam, hanya diiringi suara hujan yang menari di atap seng. Setelah selesai, Nayla mencuci piring, lalu duduk di samping Galan.
“Gimana hasil meeting hari ini?” tanyanya pelan.
Galan menghela napas panjang. “Ditolak lagi.”
“Oh…”
“Mereka bilang idenya bagus, tapi aku terlalu muda dan belum punya pengalaman. Mereka ragu.”
Nayla meraih tangan Galan dan menggenggamnya erat. “Itu bukan akhir. Besok, kamu coba lagi.”
Galan menatap tangan Nayla. Ada lecet di sana. Beberapa kulit terkelupas. “Tanganmu kenapa?”
“Ah, ini… kena minyak panas tadi. Nggak parah.”
“Kamu harus hati-hati,” bisik Galan. Lalu ia menghela napas. “Apa kamu lelah?”
Nayla menoleh, menatap matanya. “Capek, iya. Tapi menyerah? Tidak.”
Galan diam. Lalu ia menarik Nayla ke pelukannya. “Kamu tahu... kamu satu-satunya alasan aku belum menyerah.”
Pelukan itu hangat, tapi juga terasa rapuh.
**
Beberapa minggu berlalu. Jadwal Galan semakin tak teratur. Kadang ia pulang menjelang tengah malam. Kadang bahkan tak sempat memberi kabar. Ia bilang sedang mengejar investor baru, mencari mitra, memperluas jaringan. Nayla mendengarkan semua itu, mencoba mengerti, mencoba tetap menjadi tiang penyangga yang tidak retak.
Tapi perlahan-lahan, rasa lelah mulai menyusup di antara ruang-ruang hatinya.
Bukan karena pekerjaan. Bukan karena tubuh yang lelah berdiri delapan jam sehari. Tapi karena satu hal yang tak lagi ia rasakan: kebersamaan.
Galan mulai seperti bayangan. Ia hadir, tapi tak sepenuhnya. Ia bicara, tapi selalu tentang pekerjaan. Ia mencium kening Nayla setiap pagi, tapi matanya sudah sibuk memikirkan hal lain.
Suatu malam, Nayla terbangun karena mendengar suara ketikan keyboard. Galan masih bekerja, matanya sayu, rambut acak-acakan.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
“Belum. Deadline pitch deck besok pagi.”
Nayla berjalan ke arahnya, membawa segelas air hangat. Ia meletakkannya di meja, lalu berdiri di samping Galan.
“Kapan terakhir kali kita bicara tanpa menyebut kata ‘proposal’ atau ‘investor’?” tanyanya pelan.
Galan berhenti mengetik, lalu menatapnya. “Nay… Aku tahu kamu lelah. Aku juga. Tapi ini semua demi kita.”
“Aku tahu.” Nayla tersenyum kecil. “Tapi kadang aku cuma ingin dengar kamu bilang, ‘aku rindu kamu’, tanpa embel-embel kerja.”
Galan terdiam. Lama.
Akhirnya ia berdiri, memeluk Nayla dari belakang. “Aku rindu kamu. Dan aku minta maaf… Aku terlalu tenggelam dalam ambisi.”
“Aku bangga kamu punya ambisi,” bisik Nayla. “Tapi jangan biarkan ambisi itu membuatku merasa sendirian.”
**
Esoknya, Galan menulis pesan di kertas kecil dan menyelipkannya di dompet Nayla:
"Hari ini, aku ingin kamu tahu: kamu lebih penting dari semua mimpi yang sedang kuperjuangkan. Maaf jika aku lupa mengatakan itu."
Nayla menemukannya saat istirahat makan siang. Matanya basah seketika, tapi senyumnya merekah.
Itu bukan akhir dari kelelahan. Tapi setidaknya, mereka kembali berjalan berdampingan.
Dan Nayla tahu, cinta yang bertahan bukan karena segalanya mudah, tapi karena mereka memilih untuk tetap saling menggenggam, bahkan saat dunia mencoba menarik mereka ke arah yang berbeda.
Surat itu datang di pagi yang cerah, dibawa oleh kurir bersetelan rapi. Nayla baru saja selesai menyiram tanaman ketika amplop putih bersegel kementerian itu disodorkan padanya.“Untuk Ibu Nayla Pradipta,” ujar kurir itu sopan.Nayla menerimanya dengan kening sedikit mengernyit. Jarang sekali ia mendapat surat fisik. Hampir semuanya kini digital. Tapi amplop ini—bersegel emas, dengan logo kementerian yang tidak asing—jelas berbeda.Ia membuka perlahan. Harra yang sedang makan roti di meja ruang makan memperhatikan dengan rasa ingin tahu.“Apa itu, Ma?”Nayla tidak langsung menjawab. Matanya membaca isi surat dengan hati yang tiba-tiba terasa berat.Program Nasional Pemberdayaan Perempuan Muda.Mentor utama.Kisah inspiratif.Percontohan ketahanan perempuan di sektor bisnis dan sosial.Kalimat-kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada tampak di kertas.Harra bangkit, berjalan menghampiri, lalu membaca dari samping. Bibirnya terangkat membentuk senyum yang ia coba tahan—tapi gagal.“
Hujan semalam telah berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan udara yang tenang. Kota masih dalam fase bangun—lampu jalan mulai padam satu per satu, dan suara kendaraan mulai terdengar perlahan di kejauhan. Di ruang kerjanya yang masih setengah gelap, Nayla duduk dengan secangkir kopi yang belum tersentuh.Ponselnya bergetar.Satu pesan masuk. Dari Alya.“Kamu akan melihat… dunia tidak selalu adil.”Tidak adaemoji, tidak ada tanda tanya, tidak ada jeda. Hanya kalimat dingin yang terasa seperti ujung dari sesuatu yang panjang.Nayla menatap layar itu lama. Dulu, pesan seperti ini bisa membuat hatinya bergetar—antara amarah, rasa bersalah, dan luka lama yang belum sembuh. Tapi kali ini, ia hanya membaca. Tanpa reaksi.Tangannya bergerak tenang, menekan tombol hapus pesan.Tidak dengan dendam. Tidak dengan kepuasan. Hanya… selesai.Ia menghela napas, menatap jendela besar yang memperlihatkan matahari pelan-pelan naik di balik gedung-gedung tinggi.“Dunia memang nggak selalu adil,” gumam
Hujan turun tanpa jeda sore itu. Langit Jakarta gelap, seperti menyesuaikan diri dengan kabar yang memenuhi headline: “Alya Wijaya Diduga Menyebar Fitnah terhadap Tokoh Bisnis Muda, Nayla Rachman.”Di layar-layar televisi kafe, di portal berita, bahkan di grup-grup bisnis, nama Alya kembali menjadi bahan pembicaraan—bukan karena prestasi, melainkan karena kebohongan.Ia pikir, satu rumor kecil bisa mengguncang reputasi Nayla. Ia pikir dunia masih sama seperti dulu, ketika satu bisikan saja bisa mengubah arah opini publik. Tapi dunia telah berubah. Dan Nayla bukan lagi perempuan yang bisa dijatuhkan dengan gosip murahan.Alya duduk di halte kosong di pinggir jalan, menatap langit yang meneteskan air seperti mengolok-oloknya. Mantelnya sudah basah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan ponselnya berkali-kali bergetar—bukan panggilan bantuan, tapi notifikasi berita baru yang menulis ulang kebohongannya.Ia membuka satu per satu.“Alya Wijaya kembali gagal membersihkan nama.”“Nayla Rachm
Angin sore membawa aroma tanah basah dari halaman rumah sakit. Langit baru saja berhenti menangis, tapi tanah masih menyimpan jejak hujan yang deras. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil rumah sakit itu, Nayla duduk dengan jaket abu-abu, menatap ke arah danau buatan yang permukaannya bergetar lembut diterpa angin.Langkah cepat terdengar dari arah belakang. Alya datang, mantel lusuhnya kini tampak lebih kusam karena air hujan, rambutnya berantakan, wajahnya letih. Tapi yang paling mencolok bukan penampilannya — melainkan matanya. Ada sesuatu yang baru di sana: bukan lagi amarah, melainkan kepanikan.“Aku butuh bantuanmu, Nayla,” katanya terburu-buru, tanpa basa-basi.Nayla menoleh pelan. “Bantuan apa?”Alya menelan ludah. “Perusahaanku… sudah di ujung. Investor mundur semua. Rekening dibekukan. Aku… aku nggak punya siapa-siapa lagi.”Suara itu nyaris pecah. “Kau tahu rasanya, kan? Ketika semua orang menjauh begitu saja.”Nayla menatap lurus, ekspresinya sulit ditebak. “Aku t
Hujan turun pelan malam itu, membasahi halaman depan gedung rumah sakit. Lampu-lampu parkir memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal basah. Di bawah atap kecil dekat lobi, dua perempuan berdiri berhadapan—bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.Alya masih mengenakan mantel lusuhnya. Rambutnya basah, bibirnya pucat, tapi matanya menyala—bukan oleh kehidupan, melainkan oleh amarah yang terlalu lama dipendam.Nayla berdiri tegak di depannya, tenang, dengan payung kecil di tangan kanan dan tatapan lembut yang tidak menghindar.Beberapa jam sebelumnya, keduanya sama-sama menerima kabar: Galan Prasetya, lelaki yang pernah mengikat dan menghancurkan keduanya, dirawat dalam keadaan kritis setelah kecelakaan di jalan tol. Dunia yang dulu mengikat mereka dalam lingkaran ambisi dan luka kini menarik keduanya kembali ke tempat yang sama.Dan di situlah, di depan pintu rumah sakit, semua yang tak pernah diucapkan akhirnya meledak.“Kenapa kamu datang?” suara Alya pecah di antara
Langit sore itu memantulkan warna oranye lembut ketika acara kewirausahaan tahunan diadakan di aula besar Hotel Arya. Spanduk besar bertuliskan “Empowering Women in Business” terpasang di depan panggung. Musik lembut mengalun dari pengeras suara, sementara para tamu—pebisnis muda, investor, dan mahasiswa—berkumpul, menunggu pembicara terakhir naik ke panggung: Nayla Arindya, CEO perempuan yang belakangan ini menjadi simbol kebangkitan bisnis etis dan kepemimpinan empatik di tengah dunia korporat yang keras.Namun di luar gedung yang megah itu, di parkiran yang sudah mulai gelap, seorang perempuan berdiri terpaku di balik tiang beton. Mantelnya lusuh, rambutnya acak-acakan, dan kacamata hitam menutupi mata yang sembab. Di genggamannya, sebuah ponsel dengan layar penuh notifikasi—semuanya tentang dirinya.ALYA PRAMESWARI: BISNISNYA RESMI BANGKRUT, TERLIBAT SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN.INVESTOR MENARIK DANA, PROYEK BESAR GAGAL.Ia membaca judul-judul itu berulang kali, seperti in







