Se connecterPertempuran di Gerbang Klan Lin baru saja berakhir.
Darah masih mengalir dan mayat para Murid Klan Bai berserakan di mana-mana. Angin siang bertiup pelan dan membawa bau darah yang menusuk hidung. Setelah pertempuran, para Murid Klan Lin beristirahat dan menatap mayat yang berserakan. Sebagian dari mereka masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Beberapa jam yang lalu, mereka hanya berniat mempertahankan Klan. Tapi semua berubah setelah Mei Lan turun tangan. Wanita paruh baya yang selama ini dikenal pendiam dan tidak bisa berkultivasi, ternyata memiliki kekuatan yang mengerikan. Dia bahkan membunuh Ketua Bai dan para Tetua Klan Bai dengan mudah. "Ikut aku! Kita hancurkan Klan Bai. Biarkan mereka tahu kalau Klan Lin tidak mudah diusir." Perintah Ketua Lin menatap para Tetua dan Murid Klan. "Baik Ketua!" Jawab Tetua dan Murid Klan serempak. "Bunuh mereka semua!" "Hancurkan Klan Bai!" Lalu para Murid meraung penuh semangat. Ketua Lin pun memimpin mereka dan bergerak ke Klan Bai. Sementara itu di Halaman itu, Lin Chen menatap kedua oran tuanya. "Ternyata ayah dan ibu sekuat ini." Ucapnya pelan. Lin Han tertawa kecil. "Hahaha! Ayah hanya ingin melihat sejauh mana orang-orang memandang ayah tanpa kekuatan." "Dan hasilnya seperti yang kamu lihat selama ini." "Selain Klan Qing yang memutuskan hubungan, Semua orang masih memperlakukan ayah dengan hormat." Lin Han tertawa pelan dan menjelaskan alasannya. Lin Chen mengangguk mengerti dan menoleh pada ibunya. "Kamu juga ingin tahu kekuatan ibu?" Wanita itu menatapnya lembut. "Ibu akan menjelaskannya padamu di dalam. Ayo kembali ke rumah." Mei Lan tersenyum dan putranya kembali ke rumah. ******* Sementara itu di Klan Bai. Dhuaar! Ledakan menggema dan mengguncang Klan Bai. Jeritan kesakitan dan memohon pengampunan pun menggema di mana mana. "Pertahankan Klan! Bunuh mereka semua!" Para Tetua tingkat rendah dan Murid Klan Bai yang tersisa itu mencoba melawan. Tapi perlawanan mereka terlalu lemah. Para Ahli terkuat mereka sudah mati di Klan Lin. dan yang tersisa hanyalah Tetua dan Murid biasa. Slash! Pedang Tetua Klan Lin menebas satu Murid dan membelahnya. Darah menyembur keluar san jeritan memenuhi Klan Bai. "Tidak! Jangan bunuh aku!" Salah satu Murid berlutut memohon. Tapi pedang Murid Klan Lin langsung menembus dadanya. Pfftt.. Darah menyembur dan dia tumbang bersimbah darah. Sementara itu, Ketua Lin menatap pertempuran itu dengan dingin. "Tidak ada yang boleh hidup." Perintahnya sekali lagi. "Baik Ketua!" Para Tetua dan Murid Klan Lin semakin ganas membantai. Selain itu, bangunan-bangunan di sana juga dibakar satu-persatu. Bai Yun juga dihabisi tanpa belas kasihan. Saat akan dipenggal, dia bersujud memohon ampun pada Ketua Lin. Tapi dengan satu ayunan pedang, Ketua Lin mengakhiri hidupnya. Beberapa saat kemudian, Klan Bai berubah menjadi lautan darah. Tidak ada satu pun yang tersisa di Klan Bai. Api juga menjalar dan membakar bangunan-bangunan di sana. Dan asap hitam membumbung tinggi ke langit dan dilihat semua orang. Klan Bai telah musnah dari Kota Perak. Setelah memusnahkan Klan Lin, Ketua Lin memimpin mereka dan pulang ke Klan Lin. Walaupun ada yang terluka, tapi mereka gembira karena memenangkan pertempuran. Hari ini mereka telah menghancurkan salah satu Kekuatan di Kota Perak. Bisa jadi Klan Lin akan menjadi kekuatan yang ditakuti di sana. ******* Sementara itu di Klan Lin. Saat ini Lin Chen kembali duduk dengan orang tuanya di ruang tamu. Pemuda berjiwa tua ini menunggu cerita dari ibunya. "Sebenarnya Ibu berasal dari Jantung Benua." Setelah menarik nafas dalam-dalam, Mei Lan akhirnya memberitahu identitasnya. Yaitu dari Klan Luo. Salah satu Klan Kuno yang berada di Jantung Benua. Dan namanya yang sebenarnya adalah Luo Jingyi. Sang Nona Muda Klan Kuno Luo. Mengetahui dirinya dijodohkan dengan Tuan Muda Klan Kuno Xu, Luo Jingyi melarikan diri dan mengubah namanya menjadi Mei Lan. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Lin Han di Ibukota Kerajaan Yan. Saat itu Lin Han berkompetisi di Ibukota dan lolos hingga babak Semifinal. Dari situlah mereka jatuh cinta dan menikah. Sejak saat itu, Jingyi menggunakan identitas Mei Lan dan berpura-pura tidak bisa berkultivasi. Tapi sebenarnya dia adalah Jenius Klan yang sudah mencapai Ahli Raja bintang 5. Bahkan Ahli Raja bintang 5 tahap puncak. Dan setelah 20 tahun menikah dengan Lin Han, dan berkultivasi diam-diam selama ini, dia akhirnya menerobos ke bintang 6 tahap puncak. "Ibu sebenarnya adalah Ahli Raja?" Lin Chen terdiam mendengar tingkat kultivasi Ibunya. Ternyata ibunya sekuat itu. "Sekarang ibu sudah mengeluarkan aura. Tidak lama lagi Klan Luo akan tiba di sini." Desahnya dengan senyuman kecut. "Aku tidak akan membiarkan mereka membawa Ibu." Lin Chen tahu arah pembicaraan itu. Jika Klan Luo datang, maka dia akan berpisah dengan ibunya. "Tidak semudah itu, Chen'er. Klan Luo adalah Klan Kuno yang sangat kuat." Mei Lan tersenyum dan mengelus wajah putranya. Traakk Traakk! Bomm! Dan benar saja. Tiba-tiba Petir menggelegar di atas Klan. Whush... Aura luar biasa juga meledak dari atas Klan dan mengejutkan semua orang. "Mereka sudah datang." Ucap Mei Lan mendesah. Ternyata Klan Luo datang lebih cepat dari yang dia harapkan. Sementara itu di atas Klan, Petir terus bergemuruh tanpa henti. Langit yang tadinya cerah itu telah tertutup awan hitam pekat. Awan berputar-putar dan membentuk putaran raksasa. Hal itu membuat para Tetua dan Murid Klan Lin kesulitan bernapas. Whush... 21 sosok muncul dari pusaran awan dan melayang di udara. Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang Petir Biru di dada. "Apa itu?" "Para Ahli!" "Aura mereka menakutkan sekali!" Semua orang di Kota Perak menatap ke atas dengan wajah pucat pasi. Bahkan Tuan Kota juga tidak berani bergerak. Sementara itu di halaman rumah Lin Chen, Lin Chen kedua orang tuanya baru keluar rumah. Mereka mendongak ke langit dengan ekspresi serius. Di depan 20 Pengawal yang melayang di udara, seorang pria berusia sekitar 30 tahun sedang menatap mereka juga. Tapi sebenarnya dia sudah berusia lebih dari 100 tahun. Aura yang terpancar darinya itu jauh lebih kuat dari semua orang yang melayang. Dia adalah Luo Feng. Komandan Pengawal Regu 3 Klan Luo. "Ternyata 20 tahun ini Nona Muda bersembunyi di sini." Ucap Luo Feng menatap Mei Lan. Nona Muda? Siapa yang dia maksud? Semua orang di Klan Lin menahan nafas. Mereka tidak tahu siapa yang dimaksud pria itu. "Jaga bicaramu, Luo Feng!" Jawab Mei Lan menatap dingin. Luo Feng menyilangkan tangan di dada dan mengabaikan tatapan datar itu. "Ketua Klan memerintahkan kami untuk membawa Nona Muda kembali." Ucapnya tersenyum. Lalu tatapannya beralih pada Lin Chen dan Lin Han dengan jijik. "Ternyata rumor itu benar." "Nona Muda Klan Luo menikah dengan manusia rendahan di sini." Lanjutnya tersenyum jijik. Dan ucapannya itu membuat wajah Lin Han mengeras. Tapi dia sadar kalau dia hanya semut di mata Luo Feng. "Ahli Nadi Bumi bintang 10 tahap puncak?" "Kamu bahkan tidak layak menjadi pelayan di Klan Luo. Tapi berani sekali menikahi Nona Muda kami." Whush! Aura Luo Feng meledak dan menekan semua orang. Ketua Lin, para Tetua dan Murid Klan pun jatuh berlutut. Bahkan ada yang muntah darah dan tidak sadarkan diri. "Hentikan, Luo Feng!" Teriak Mei Lan dengan amarah. Walaupun dia adalah Nona Muda, tapi dia sudah melakukan kesalahan besar. Terlebih lagi, Luo Feng datang atas perintah ayahnya. Dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. "Kami hanya datang untuk membawa Nona Muda kembali." "Siapapun yang menghalangi akan dibunuh." Jawab Luo Feng tenang. Bomm! 20 Pengawal yang berada di belakang pun turun perlahan ke tanah. Aura mereka itu menekan para Tetua Klan dan membuat mereka gemetar. "Aku tidak akan membiarkan kalian membawa pergi ibuku!" Tiba-tiba Lin Chen melangkah maju dan menunjuk ke atas. Luo Feng tertawa kecil dengan nada ejekan. "Berani sekali manusia rendahan sepertimu menunjuk ku?" Luo Feng menatap dingin dan melambaikan tangan. Whush... Tapak Petir Biru terbentuk dari ruang hampa dan menampar Lin Chen. Bomm! Ledakan dahsyat menggema dan melempar Lin Chen. Bomm! Pemuda itu menabrak rumah mereka dan tembus ke belakang. Pffttt... Darah segar juga menyembur keluar dari mulutnya. ***** Baca juga Buku baru Author ya, Bre. Judulnya: Legenda Kaisar ApiSetelah meninggalkan Aula Utama Kerajaan Lin, Lin Chen pergi di Provinsi Barat tanpa membawa pengawal. Dia mengenakan pakaian sederhana dan menyembunyikan auranya agar tidak menarik perhatian. Beberapa hari kemudian, Lin Chen tiba di wilayah Provinsi Barat. Pemandangan yang dia lihat membuat alisnya bergerak. Ladang gandum, Jagung, sawah dan perkebunan buah terlihat kering semua. Sungai kecil juga menyusut dan banyak lahan pertanian tidak bisa digunakan. Lin Chen berjalan melewati beberapa Desa kecil dan mendengar percakapan para penduduk. Di sebuah Desa pertanian, seorang pria tua duduk di depan rumah kayu sambil memegang beberapa batang gandum kering. "Sudah 6 bulan tidak ada hujan yang cukup. Tanaman kami gagal tumbuh dengan baik." ujar pria tua itu dengan suara lemah. Seorang wanita di sampingnya menghela napas dan menatap ladang di depan rumah.
Di sisi lain.Feng Rui memimpin 200 ribu pasukan menyerang Benteng Utara Kerajaan Zhang.Benteng itu dijaga oleh 70 ribu Prajurit dan 2 Jenderal Dewa Hitam.Seorang Jenderal Dewa Hitam bintang 2 tertawa dingin. "Pasukan Kerajaan Lin hanya pasukan baru.""Habisi mereka!"Puluhan ribu Prajurit Kerajaan Zhang menyerang.Feng Rui mengangkat pedangnya dan aura Dewa Hitam menyebar."Formasi Bilah Angin."Whush...500 Murid membentuk formasi dan ribuan bilah Angin berputar.Slash... Slash...Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu."Aaargh..."Jeritan menggema dan barisan depan Kerajaan Zhang roboh.Feng Rui melesat ke arah benteng dan pedangnya memancarkan cahaya hijau."Pedang Angin Langit."Slash...Bilah Energi menghantam pintu benteng.Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu.P
3 hari kemudian.Setelah 3 hari berlalu, Lin Chen dan para bawahannya berkumpul di Kerajaan Qiong.Dan saat ini, mereka semua berada di Aula Utama Istana."Tuan, Kekalahan yang dialami Kekaisaran She ini sudah menyebar luar.""Dan kekalahan itu memicu ketakutan bagi Kerajaan-kerajaan yang lain.""Selain itu, Lebih dari 200 ribu budak yang ingin bergabung dengan Aula Kematian kita." Yu Jing berlutut dan melapor satu demi satu pada Lin Chen.Adapun Lin Chen, pria ini mengelus dagu dan mengangguk pelan."Karena mereka ingin bergabung dengan kita, maka biarkan mereka bergabung." ucapnya pelan."Namun harus diperhatikan saat melakukan perekrutan. Jangan sampai ada pihak lain yang menyamar dan mengacau dari dalam." lanjutnya lagi."Kami mengerti, Tuan." jawab ke 10 Komandan serempak."Tuan, Semua budak memiliki tanda di punggung mereka. kami bisa mengenali mana budak dan mana yang bukan." ucap Han Wei menjelaskan."Bagus. Lakukan perekrutan sekarang juga. Setelah pasukan kita terbentuk, kit
"Aaargh..."Jeritan menggema dan barisan pasukan Kekaisaran kembali roboh.Lian Hua menyapu pandangannya ke arah para Perwira Kekaisaran yang masih tersisa."Masih ada yang ingin melawan?" ucapnya dengan senyum dingin.Seorang Jenderal Dewa Hitam bintang 5 menggertakkan gigi dan menggenggam tombaknya."Jangan takut. Mereka hanya 5 ribu Murid!" teriaknya memberi semangat."Bunuh mereka!""Bunuh!"Puluhan ribu Prajurit Kekaisaran kembali melesat.Aura Dewa Emas dan Dewa Hitam bergolak dan berbagai Teknik Energi Qi melesat dari berbagai arah.Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu medan perang.Han Wei tertawa dingin. "Pasukan seperti ini masih berharap menang?"Slash...Bilah Energi biru menyapu udara dan puluhan Prajurit terbelah."Aaargh..."Jeritan menggema dan darah menyembur ke berbagai arah.Di sisi lain.Gu Shan tertawa keras dan kapak besarnya memancarkan cahaya keemasan."Kapak Penghancur Gunung!"Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu.Barisan depan pas
Menjelang sore, 500 ribu pasukan Kekaisaran She terlihat menghitam dari arah timur. "Semuanya bersiap. Mangsa sudah mendekat!" teriak Yu Jing mengangkat tangan. Whush... Whush.. Ke 5 ribu Murid Aula Kematian pun terbang ke atas dan berbaris di udara. Seolah-olah mereka sedang berdiri di atas tanah. Tidak lama kemudian, ke 500 ribu pasukan Kekaisaran itu tiba dan berhenti 150 meter di depan. "Hahaha... Hanya 5 ribu pasukan dan berani menunggu kami?" Jenderal Mo tertawa keras saat melihat 5 ribu Murid Aula Kematian. "Apa kalian mendengarnya, Anak-anak Serigala ku? Kawanan Domba tidak sadar telah masuk ke sarang Kawasan Serigala." "Hahahaha..." Namun reaksi Yu Jing dan semua orang justru terlihat senang.
2 jam kemudian.Setelah 2 jam berlalu, semua Pejabat dan Bangsawan yang mendukung perbudakan pun dibantai tanpa sisa.Bahkan anak-anak dan perempuan juga tidak ada yang dilepaskan begitu saja.Kemudian harta mereka dikuras tanpa meninggalkan sedikit pun."Tuan, Istana Kerajaan sudah kami duduki." Yu Jing lalu mengirim laporan pada Lin Chen."Bagus." Lin Chen mengangguk puas."Setelah beristirahat satu hari, Bergerak lah ke perbatasan timur. Sambut pasukan Kekaisaran di Benteng pertahanan!" lanjutnya memberi perintah."Baik Tuan." jawab Yu Jing.Keesokan harinya.Cahaya mentari menyinari Ibukota Kerajaan Qiong yang sudah berada di bawah panji Aula Kematian.Di Aula Utama Istana.Yu Jing menatap 9 Komandan di hadapannya dan membuka gulungan peta."Perintah Tuan sudah jelas. Kita akan membentuk 5 kelompok dan bergerak ke arah Timur." ucapnya lalu jarinya menunjuk wilayah timur.Semua Komandan mengangguk.Han Wei menatap peta. "Kelompok akan dibagi bagaimana?""Aku memimpin Kelompok 1, H
"Duduklah. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu."Mei Lan lalu pergi ke dapur dan memasak untuk Lin Chen.Tidak lama kemudian, aroma makanan mulai tercium dari ruang tamu.Sedangkan Lin Chen duduk di ruang tamu dan mengamati rumah itu.Rumah kecil itu berdindingkan kayu dan sudah tua.Meski begitu,
Bai Yun terkejut melihat anak buahnya terlempar ke belakang."Bajingan! Ternyata kamu sudah memiliki kekuatan!"Teriak Bai Yun kaget.Orang-orang yang memberikan jalan juga berkumpul dan menonton.Semua orang di Kota Perak mengenal Lin Chen.Dia hanya sampah Klan Lin yang tidak bisa berkultivasi.T
"Namaku adalah Jian Lie." "Jika seseorang menemukan tempat ini, Berarti langit telah mempertemukan kita." Ketika membaca nama itu, Lin Chen seolah mengingat satu nama. "Jian Lie? Bagaimana mungkin?" Dia menatap kerangka itu dengan ekspresi tidak percaya. Nama itu tidak asing baginya. Di
"Bunuh mereka semua! Hancurkan mereka!" Teriak seorang Jenderal mengayunkan Tombaknya. Dhuaarrr Boommm! Pegunungan Surgawi di Alam 9 Surga dipenuhi ledakan Energi Qi yang menggelegar. Di mana saat ini dua pasukan saling bertempur sengit di medan perang. Di satu sisi, Pasukan Kekaisaran Yan







