Beranda / Pendekar / Murid 3 Dewa / Bab 03. Pulang Ke Klan

Share

Bab 03. Pulang Ke Klan

Penulis: Klan Qing
last update Tanggal publikasi: 2026-03-13 10:17:42

Bai Yun terkejut melihat anak buahnya terlempar ke belakang.

"Bajingan! Ternyata kamu sudah memiliki kekuatan!"

Teriak Bai Yun kaget.

Orang-orang yang memberikan jalan juga berkumpul dan menonton.

Semua orang di Kota Perak mengenal Lin Chen.

Dia hanya sampah Klan Lin yang tidak bisa berkultivasi.

Tapi sekarang dia memukul mundur seorang kultivator.

"Kalian bertiga, Buat dia merangkak di bawah kakiku!"

Meski begitu, Bai Yun yakin Lin Chen hanya beruntung.

Dia menoleh ke belakang dan memberi perintah pada ketiga Pengawalnya.

"Baik, Tuan Muda."

Jawab ketiganya melompat turun dari kuda.

"Matilah, Bocah!"

Whush!

Salah satu melesat dengan tangan mengepal.

Tinjunya juga langsung mengarah ke wajah Lin Chen.

Angin dari pukulan itu bahkan membuat debu beterbangan.

"Tidak tahu diri,

Lin Chen mendengus dingin dan bergerak juga.

Bomm Bomm!

Terdengar ledakan beruntun dan ketiga anak buah terlempar ke berbagai arah.

Pffttt..

Ketiganya juga menyemburkan darah dan tidak sadarkan diri.

"Hah?"

 Semua orang yang melihatnya pun terbelalak tidak percaya.

Ketiganya adalah Pengawal Elite Klan Bai.

Dan ketiganya adalah Ahli Bumi bintang 3 tahap sempurna.

Tapi mereka dikalahkan hanya dalam beberapa nafas.

"Itu benar-benar Lin Chen?"

"Bukankah dia hanya sampah?"

"Apa dia diam-diam berkultivasi?"

"Tidak mungkin!"

Orang-orang disekitar tidak tahu harus menilai bagaimana.

Tidak ada yang percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Sekarang giliranmu, Tuan Muda Bai."

Lin Chen mengabaikan semua orang.

Dia menatap Bai Yun dan tersenyum penuh arti.

"Kamu... Apa yang mau kamu lakukan pada ku?"

"Aku adalah Tuan Muda Klan Bai."

Bai Yun sangat ketakutan saat ditatap seperti itu.

Dia hanya Ahli Bumi bintang 1 tahap akhir.

Bahkan Pengawalan yang bintang 3 saja kalah.

Bagaimana mungkin dia memiliki keberanian untuk menyerang?

Yang bisa dia lakukan adalah menyelamatkan diri dengan menggunakan latar belakangnya.

"Tuan Muda Klan Bai?"

Lin Chen mengangguk dan semakin mendekat.

Whush!

Bomm!

Tapi di detik berikutnya, terlihat cahaya melintas dan ledakan menggema.

Dan di saat yang bersamaan, Bai Yun terlempar dari kuda dan jatuh dengan keras.

"Lin Chen!"

"Kalau kamu berani menyentuhku lagi..."

Bomm!

Bai Yun ingin mengancam Lin Chen.

Tapi kalimatnya terhenti karena tendangan di wajahnya.

Pffttt..

Darah segar pun menyembur keluar dari hidung dan mulut Bai Yun.

"Dulu kamu memukulku setiap kali bertemu."

"Hari ini aku hanya membalasnya padamu."

Ucap Lin Chen dingin dan kembali mendekat.

"Klan Bai tidak akan membiarkanmu hidup, Lin Chen!"

Bai Yun gemetar ketakutan.

Dia hanya bisa mengandalkan statusnya sebagai Tuan Muda.

"Benarkah? Hehehehe!"

Lin Chen tertawa kecil dan menendang perutnya.

Bomm...

Sang Tuan Muda pun terlempar dan terseret di tengah jalan.

Kemudian terguling-guling dan wajahnya dipenuhi darah dan debu.

Tuan muda yang biasanya angkuh pun terlihat sangat menyedihkan.

"Pergilah. Kamu tidak layak mati di tanganku."

"Jika kamu menggangguku lagi, Kamu akan mati tanpa kuburan."

Setelah puas menghajar Bai Yun, Lin Chen menatapnya dan memperingatkan dengan dingin.

"Kamu akan membayarnya dengan nyawamu, Bajingan!"

Bai Yun meraung dan meninggalkan tempat itu dengan amarah yang meluap-luap.

Dia tidak akan membiarkan masalah ini berakhir begitu saja.

Tidak membuang waktu lagi, Lin Chen kembali melanjutkan perjalanannya ke Klan Lin.

Menjelang siang, akhirnya Lin Chen tiba di depan Klan Lin.

"Lin Chen?"

Para penjaga Gerbang terkejut melihatnya.

Bukankah dia sudah mati 3 bulan yang lalu?

Pertanyaan itu muncul di benak kedua penjaga Gerbang.

Lin Chen mengabaikan mereka dan masuk kedalam.

Yang ada di pikirannya adalah bertemu dengan orang tua pemilik tubuh.

"Lin Chen?"

Setelah masuk kedalam, lagi-lagi ada yang terkejut melihatnya.

Dan kali ini adalah Tuan Muda Klan dan kedua anak buahnya.

Yang tidak lain adalah Lin Wang.

Orang yang memberi perintah untuk membunuh Lin Chen.

"Apa kamu terkejut, Tuan Muda?"

Lin Chen tersenyum dingin dan melewati mereka begitu saja.

"Sampah! Berani sekali bersikap seperti itu pada Tuan Muda!"

Salah satu anak buah Lin Wang meraung marah.

Dan dia adalah salah satu pelaku yang membunuh Lin Chen.

"Belum saatnya."

Lin Chen mengabaikan teriakan itu dan meninggalkan mereka.

"Bajingan."

Lin Wang mengepalkan tangan dan menatap punggung Lin Chen dengan amarah.

Sampah itu tidak menghormatinya sama sekali.

Sementara itu di depan sana, Lin Chen terus berjalan hingga tiba di depan sebuah rumah.

Rumah itulah yang ditempati orang tua Lin Chen yang dulu.

Tok tok tok..

"Aku pulang, Bu!"

Teriak Lin Chen mengetuk pintu.

Dia bersikap seperti cara Lin Chen yang dulu.

Beberapa saat kemudian...

Kreekk...

Pintu kayu terbuka dan sesosok wanita paruh baya keluar dari dalam.

"Chen'er?"

Wanita paruh baya itu terbelalak melihat Lin Chen.

Ternyata Putranya masih hidup.

Dia gemetar saat menatap wajah putranya.

Matanya langsung memerah dan air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

"Ini benar-benar kamu, Chen'er?"

Tanyanya dengan suara bergetar.

Lin Chen tidak langsung menjawab dan menatap wanita paruh baya itu dengan hangat.

Dari ingatan pemilik tubuh, wanita ini adalah ibunya.

Yang tidak lain adalah Mei Lan.

Seorang Ibu yang selalu melindunginya di saat semua orang merendahkannya.

"Ibu."

Akhirnya Lin Chen membuka mulut dan memeluk Mei Lan.

"Putra Ibu."

Mei Lan juga tidak menahan diri dan memeluk Lin Chen dengan erat.

"Ibu pikir Ibu sudah kehilanganmu!"

Tangisnya pecah.

Dia memeluk bahu Lin Chen dengan erat.

Seolah takut putranya akan menghilang lagi.

Lin Chen tidak mengatakan apa-apa.

Dia membiarkan wanita itu menangis di pelukannya.

Walaupun dia bukan Lin Chen yang asli, tapi tubuh ini adalah putra wanita itu.

Dan kasih sayang seorang ibu tidak bisa dipalsukan.

Terlebih lagi, di kehidupan sebelumnya juga dia tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu.

Hingga beberapa saat kemudian, Mei Lan sedikit tenang dan melepas pelukannya.

Lalu mengelus wajah Lin Chen dan memeriksanya dengan penuh kasih sayang.

"Kamu tidak terluka kan? Tidak ada yang menyakitimu kan?"

"Kamu ke mana saja selama ini? Ibu dan ayah sangat mencemaskan mu."

Pertanyaan bertubi-tubi pun keluar dari mulut tua itu.

"Maafkan aku, Bu."

Lin Chen minta maaf pada Ibunya.

Lalu mengarang cerita agar Ibunya percaya.

Lin Chen beralasan kalau dia bertemu dengan seorang ahli tua di luar Kota.

Ahli tua itu mengatakan Lin Chen memiliki bakat yang terpendam.

Akhirnya dia mengangkat Lin Chen sebagai Muridnya.

Lalu dibawa ke suatu tempat dan berlatih di sana.

Hingga akhirnya dia bisa berkultivasi dan menjadi kultivator.

Dan bahkan dia sudah menerobos hingga Ahli Bumi bintang 4 tahap sempurna.

"Kamu... Kamu bisa berkultivasi?"

Mei Lan menatap putranya dengan keterkejutan.

"Iya Bu. Aku sudah bisa berkultivasi."

Lin Chen tersenyum mengangguk.

Mendengar jawaban putranya, Mei Lan memeluknya sekali lagi.

Akhirnya penderitaan putranya telah berakhir.

"Bagus Chen'er. Mereka tidak akan meremehkan mu lagi."

Mei Lan menatap putranya dengan perasaan senang.

"Iya Bu. Mulai sekarang, Aku bukan lagi Lin Chen yang dulu."

Lin Chen tersenyum mengangguk.

"Di mana ayah?"

Tiba-tiba dia teringat kalau pemilik tubuh juga memiliki ayah.

Dan di dalam ingatannya, ayah Lin Chen adalah Lin Han.

Seorang pria yang dulunya sangat kuat dan disegani semua orang.

Tapi sejak 5 tahun yang lalu, kekuatannya menurun dan tidak bertarung lagi.

"Ayahmu pergi ke Aula Utama."

"Ketua Qing dari Kota Giok datang bersama putrinya."

Jawab Mei Lan sambil menuangkan air untuk putranya.

"Klan Qing?"

Lin Chen mencoba melihat ingatan lagi.

Dan akhirnya ingatan pemilik tubuh muncul di pikirannya.

Klan Qing adalah Klan besar di Kota Giok.

Dan Qing Ling adalah wanita yang dijodohkan dengan Lin Chen sejak kecil.

Perjodohan itu dibuat karena ayah Lin Chen.

Dulu Lin Han adalah Ahli kuat yang sangat dihormati.

Banyak Klan yang ingin menjalin hubungan dengannya.

Dan salah satunya adalah Klan Qing.

Saat Lin Chen dan Qing Ling berusia 5 tahun, Ketua Qing datang dan menawarkan perjodohan.

Dan saat itu Lin Han masih sangat kuat.

Kedua keluarga pun menyetujui perjodohan itu.

Tapi seiring berlalunya waktu, Lin Chen tumbuh menjadi sampah yang tidak bisa berkultivasi.

Sedangkan Qing Ling menjadi Jenius dan direkrut Sekte Cahaya Bulan.

Perbedaan di antara mereka pun seperti langit dan bumi.

Lin Chen tentu tahu ini.

Tapi dia tidak terlalu memikirkannya.

"Apakah mereka mau membatalkan perjodohan, Bu?"

Tanya Lin Chen lagi.

"Hmm... Mereka baru saja tiba."

Mei Lan mengangguk.

Lin Chen hanya tersenyum mendengar jawaban itu.

Justru lebih baik perjodohan itu dibatalkan.

Orang yang hanya memandang kekuatan itu tidak layak menjadi Istrinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Didin Hasanudin
banyak cerita yg mirip mulai mc yg sebagai sampai dihianati,gagal dari perjodohan sampai akhir nya mc nya jd yg tak tetkalahkan. mudah mudahan epic dan enak so baca nya sukses buat author nya
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
goodnovel comment avatar
Xead Xunter
............🫥
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Murid 3 Dewa   Bab 262. Membantu Rakyat

    Setelah meninggalkan Aula Utama Kerajaan Lin, Lin Chen pergi di Provinsi Barat tanpa membawa pengawal. Dia mengenakan pakaian sederhana dan menyembunyikan auranya agar tidak menarik perhatian. Beberapa hari kemudian, Lin Chen tiba di wilayah Provinsi Barat. Pemandangan yang dia lihat membuat alisnya bergerak. Ladang gandum, Jagung, sawah dan perkebunan buah terlihat kering semua. Sungai kecil juga menyusut dan banyak lahan pertanian tidak bisa digunakan. Lin Chen berjalan melewati beberapa Desa kecil dan mendengar percakapan para penduduk. Di sebuah Desa pertanian, seorang pria tua duduk di depan rumah kayu sambil memegang beberapa batang gandum kering. "Sudah 6 bulan tidak ada hujan yang cukup. Tanaman kami gagal tumbuh dengan baik." ujar pria tua itu dengan suara lemah. Seorang wanita di sampingnya menghela napas dan menatap ladang di depan rumah.

  • Murid 3 Dewa   Bab 261. Laporan Para Menteri

    Di sisi lain.Feng Rui memimpin 200 ribu pasukan menyerang Benteng Utara Kerajaan Zhang.Benteng itu dijaga oleh 70 ribu Prajurit dan 2 Jenderal Dewa Hitam.Seorang Jenderal Dewa Hitam bintang 2 tertawa dingin. "Pasukan Kerajaan Lin hanya pasukan baru.""Habisi mereka!"Puluhan ribu Prajurit Kerajaan Zhang menyerang.Feng Rui mengangkat pedangnya dan aura Dewa Hitam menyebar."Formasi Bilah Angin."Whush...500 Murid membentuk formasi dan ribuan bilah Angin berputar.Slash... Slash...Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu."Aaargh..."Jeritan menggema dan barisan depan Kerajaan Zhang roboh.Feng Rui melesat ke arah benteng dan pedangnya memancarkan cahaya hijau."Pedang Angin Langit."Slash...Bilah Energi menghantam pintu benteng.Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu.P

  • Murid 3 Dewa   Bab 260. Memulai Invasi

    3 hari kemudian.Setelah 3 hari berlalu, Lin Chen dan para bawahannya berkumpul di Kerajaan Qiong.Dan saat ini, mereka semua berada di Aula Utama Istana."Tuan, Kekalahan yang dialami Kekaisaran She ini sudah menyebar luar.""Dan kekalahan itu memicu ketakutan bagi Kerajaan-kerajaan yang lain.""Selain itu, Lebih dari 200 ribu budak yang ingin bergabung dengan Aula Kematian kita." Yu Jing berlutut dan melapor satu demi satu pada Lin Chen.Adapun Lin Chen, pria ini mengelus dagu dan mengangguk pelan."Karena mereka ingin bergabung dengan kita, maka biarkan mereka bergabung." ucapnya pelan."Namun harus diperhatikan saat melakukan perekrutan. Jangan sampai ada pihak lain yang menyamar dan mengacau dari dalam." lanjutnya lagi."Kami mengerti, Tuan." jawab ke 10 Komandan serempak."Tuan, Semua budak memiliki tanda di punggung mereka. kami bisa mengenali mana budak dan mana yang bukan." ucap Han Wei menjelaskan."Bagus. Lakukan perekrutan sekarang juga. Setelah pasukan kita terbentuk, kit

  • Murid 3 Dewa   Bab 259. Laporan Kemenangan

    "Aaargh..."Jeritan menggema dan barisan pasukan Kekaisaran kembali roboh.Lian Hua menyapu pandangannya ke arah para Perwira Kekaisaran yang masih tersisa."Masih ada yang ingin melawan?" ucapnya dengan senyum dingin.Seorang Jenderal Dewa Hitam bintang 5 menggertakkan gigi dan menggenggam tombaknya."Jangan takut. Mereka hanya 5 ribu Murid!" teriaknya memberi semangat."Bunuh mereka!""Bunuh!"Puluhan ribu Prajurit Kekaisaran kembali melesat.Aura Dewa Emas dan Dewa Hitam bergolak dan berbagai Teknik Energi Qi melesat dari berbagai arah.Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu medan perang.Han Wei tertawa dingin. "Pasukan seperti ini masih berharap menang?"Slash...Bilah Energi biru menyapu udara dan puluhan Prajurit terbelah."Aaargh..."Jeritan menggema dan darah menyembur ke berbagai arah.Di sisi lain.Gu Shan tertawa keras dan kapak besarnya memancarkan cahaya keemasan."Kapak Penghancur Gunung!"Bomm!Ledakan menggema dan gelombang kejut menyapu.Barisan depan pas

  • Murid 3 Dewa   Bab 258. Berburu Mangsa

    Menjelang sore, 500 ribu pasukan Kekaisaran She terlihat menghitam dari arah timur. "Semuanya bersiap. Mangsa sudah mendekat!" teriak Yu Jing mengangkat tangan. Whush... Whush.. Ke 5 ribu Murid Aula Kematian pun terbang ke atas dan berbaris di udara. Seolah-olah mereka sedang berdiri di atas tanah. Tidak lama kemudian, ke 500 ribu pasukan Kekaisaran itu tiba dan berhenti 150 meter di depan. "Hahaha... Hanya 5 ribu pasukan dan berani menunggu kami?" Jenderal Mo tertawa keras saat melihat 5 ribu Murid Aula Kematian. "Apa kalian mendengarnya, Anak-anak Serigala ku? Kawanan Domba tidak sadar telah masuk ke sarang Kawasan Serigala." "Hahahaha..." Namun reaksi Yu Jing dan semua orang justru terlihat senang.

  • Murid 3 Dewa   Bab 257. Menunggu Musuh

    2 jam kemudian.Setelah 2 jam berlalu, semua Pejabat dan Bangsawan yang mendukung perbudakan pun dibantai tanpa sisa.Bahkan anak-anak dan perempuan juga tidak ada yang dilepaskan begitu saja.Kemudian harta mereka dikuras tanpa meninggalkan sedikit pun."Tuan, Istana Kerajaan sudah kami duduki." Yu Jing lalu mengirim laporan pada Lin Chen."Bagus." Lin Chen mengangguk puas."Setelah beristirahat satu hari, Bergerak lah ke perbatasan timur. Sambut pasukan Kekaisaran di Benteng pertahanan!" lanjutnya memberi perintah."Baik Tuan." jawab Yu Jing.Keesokan harinya.Cahaya mentari menyinari Ibukota Kerajaan Qiong yang sudah berada di bawah panji Aula Kematian.Di Aula Utama Istana.Yu Jing menatap 9 Komandan di hadapannya dan membuka gulungan peta."Perintah Tuan sudah jelas. Kita akan membentuk 5 kelompok dan bergerak ke arah Timur." ucapnya lalu jarinya menunjuk wilayah timur.Semua Komandan mengangguk.Han Wei menatap peta. "Kelompok akan dibagi bagaimana?""Aku memimpin Kelompok 1, H

  • Murid 3 Dewa   Bab 02. Setelah 3 Bulan

    "Namaku adalah Jian Lie." "Jika seseorang menemukan tempat ini, Berarti langit telah mempertemukan kita." Ketika membaca nama itu, Lin Chen seolah mengingat satu nama. "Jian Lie? Bagaimana mungkin?" Dia menatap kerangka itu dengan ekspresi tidak percaya. Nama itu tidak asing baginya. Di

  • Murid 3 Dewa   Bab 01. Tragedi Pengkhianatan

    "Bunuh mereka semua! Hancurkan mereka!" Teriak seorang Jenderal mengayunkan Tombaknya. Dhuaarrr Boommm! Pegunungan Surgawi di Alam 9 Surga dipenuhi ledakan Energi Qi yang menggelegar. Di mana saat ini dua pasukan saling bertempur sengit di medan perang. Di satu sisi, Pasukan Kekaisaran Yan

  • Murid 3 Dewa   Bab 05. Identitas Mei Lan

    Pertempuran di Gerbang Klan Lin baru saja berakhir. Darah masih mengalir dan mayat para Murid Klan Bai berserakan di mana-mana. Angin siang bertiup pelan dan membawa bau darah yang menusuk hidung. Setelah pertempuran, para Murid Klan Lin beristirahat dan menatap mayat yang berserakan. Sebagi

  • Murid 3 Dewa   Bab 04. Kekuatan Suami-istri

    "Duduklah. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu."Mei Lan lalu pergi ke dapur dan memasak untuk Lin Chen.Tidak lama kemudian, aroma makanan mulai tercium dari ruang tamu.Sedangkan Lin Chen duduk di ruang tamu dan mengamati rumah itu.Rumah kecil itu berdindingkan kayu dan sudah tua.Meski begitu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status