Compartilhar

15. Ratusan Mata Merah

Autor: Ardianda K
last update Data de publicação: 2026-05-19 20:44:44

Fajar muncul terlambat pagi itu. Langit di atas sungai Brantas masih dipenuhi awan hitam yang menggantung rendah seperti kain duka. Kabut tipis bergerak pelan di antara pepohonan bambu sepanjang tepian sungai, membuat jalanan tanah yang dilalui para pengungsi tampak samar dan muram.

Setho Gentala berjalan di sisi jembatan sambil memperhatikan arus air yang membawa potongan kayu terbakar dan sesekali mayat manusia tanpa nama.

Di belakangnya, Senopati Daksa sedang berbicara dengan beberapa prajur
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   34. Segel yang Harus Selesai

    Tiga tiang batu istana runtuh bersamaan dihantam tangan Rakryan Kala Bregma. Bongkahan-bongkahan besar melayang ke udara sebelum jatuh menghancurkan halaman yang sudah penuh retakan. Jeritan prajurit bercampur dengan lolongan Gandarwa Kubur menciptakan suara kacau yang menggema di seluruh lereng Gunung Pawitra.Kabut hitam kini menutupi hampir seluruh halaman.Api-api obor mati satu demi satu.Dan hawa dingin dari retakan besar di tengah istana terasa seperti napas kematian yang terus merayap ke kulit.Daksa melompat mundur setelah menebas dua Gandarwa sekaligus. Napasnya mulai berat, bajunya dipenuhi bercak darah hitam makhluk dunia bawah.“Kalau perang begini terus,” gerutunya kasar, “aku bisa mati sebelum sempat jadi tua.”Jayengrestu masih berdiri tegak dengan tombak merah di tangannya, namun wajahnya mulai pucat akibat terus-menerus mengeluarkan tenaga dalam.“Kita tidak bisa menahan mereka lebih lama.”Mahesa memandang retakan besar dengan mata gemetar.Rakryan Kala Bregma kini

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   33. Ketakutan yang Benar-Benar Nyata

    Seluruh Gunung Pawitra berguncang semakin keras.Batu-batu besar runtuh dari dinding istana malam, menghantam halaman yang sudah retak seperti kulit bumi yang pecah. Pohon-pohon pinus di lereng gunung bergoyang liar diterpa hawa dingin dari bawah tanah, sementara kabut hitam terus menyembur keluar dari celah besar di tengah halaman.Tangan raksasa itu kini mencengkeram tepian retakan sepenuhnya.Kukunya yang panjang menembus batu hitam seperti tanah lumpur.Dan perlahan, sosok di bawah sana mulai menarik tubuhnya naik.Mahesa mundur setengah langkah dengan wajah pucat.“Dia bangun terlalu cepat...”Daksa memutar pedangnya dengan napas kasar.“Kalau semua orang di tempat ini berhenti bicara teka-teki, mungkin keadaan tidak akan sesial ini.”Namun tak seorang pun memedulikan keluhannya.Karena mata mereka semua tertuju pada Setho.Tubuh lelaki itu mulai diselimuti kabut hitam tipis yang bergerak pelan di sekitar kaki dan lengannya. Matanya yang biasanya tajam kini memerah samar seperti

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   32. Mata Kemerahan dan Kabut yang Turun

    Ledakan besar dari benturan tiga tenaga tadi membuat seluruh halaman istana Gunung Pawitra terguncang seperti dihantam gempa. Batu-batu hitam beterbangan ke udara, sementara retakan besar di tengah halaman semakin melebar hingga menyerupai jurang menganga.Kabut busuk menyembur semakin deras dari bawah tanah.Dan sesuatu di dalam sana terus bergerak. Pelan. Berat.Seperti makhluk raksasa yang baru bangun setelah tidur sangat lama.Bhuta Karang mundur beberapa langkah akibat serangan Daksa, Jayengrestu, dan Kalacitra. Dada makhluk itu robek lebar hingga tulang hitamnya terlihat jelas. Namun luka tersebut justru bergerak menutup perlahan, diselimuti cairan hitam pekat yang menggeliat seperti makhluk hidup.Daksa memaki kasar sambil meludah ke tanah.“Kalau begini caranya, sampai besok pagi juga benda busuk itu tidak mati.”Jayengrestu memutar tombaknya sekali sebelum kembali memasang kuda-kuda.“Makhluk dunia bawah tidak mengenal tubuh seperti manusia.”“Ucapanmu sama tidak menyenangkan

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   31. Lubang Hitam yang Kosong

    Retakan besar di halaman istana Gunung Pawitra terus melebar seperti mulut raksasa yang sedang membuka rahangnya perlahan dari bawah tanah. Batu-batu hitam pecah satu demi satu, jatuh ke dalam celah gelap yang tidak memperlihatkan dasar.Kabut busuk membumbung naik bersama suara tangisan perempuan yang semakin jelas terdengar.Beberapa prajurit Majapahit mulai mundur dengan wajah pucat.“Apa itu...?” gumam salah seorang di antara mereka.Belum ada yang sempat menjawab.Craakk!Tangan hitam kurus yang tadi merayap dari celah tanah kini mencengkeram tepian retakan lebih kuat. Kukunya panjang seperti pecahan tulang, sementara kulitnya tampak basah dan membusuk.Lalu satu sosok perlahan naik keluar.Makhluk itu menyerupai manusia, namun tubuhnya terlalu panjang dan kurus. Rambutnya putih kusut menutupi separuh wajah, sementara mulutnya robek hingga ke pipi.Mata kosongnya langsung tertuju pada Setho.Dan makhluk itu berbisik lirih.“Anak... darah...”Daksa langsung mengangkat pedangnya.“

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   30. Bukan Manusia

    Kabut pekat turun semakin rendah di halaman istana malam Gunung Pawitra. Bara api dari gerbang barat yang runtuh masih menyala merah di sela puing batu, memantulkan cahaya bergelombang pada wajah-wajah tegang yang saling berhadapan.Tak ada seorang pun yang benar-benar tenang.Ucapan Ardikara tentang makam Ratih Amretasari terasa seperti tangan tak terlihat yang baru saja membuka luka lama seluruh penghuni gunung.Kalacitra berdiri diam dengan mata merah menyala samar di tengah kabut hitam yang mulai bergerak mengelilingi tubuhnya. Wajahnya tetap tenang, namun Setho bisa merasakan kemarahan dan ketakutan bercampur di balik tatapan itu.“Apa yang tersegel bersama ibuku?” tanya Setho pelan.Suara itu tidak keras.Justru terlalu tenang.Dan itu membuat Daksa perlahan memandang sahabatnya dengan khawatir.Ardikara tersenyum kecil.“Nah. Pertanyaan yang benar akhirnya keluar.”“Jawab.”Namun Ardikara tidak segera bicara. Ia justru melirik Kalacitra seolah sengaja menikmati perubahan wajah

  • Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1   29. Apa Itu Gerbang Arcapada?

    Kabut malam semakin tebal menyelimuti halaman istana Gunung Pawitra. Bara api dari gerbang barat yang runtuh beterbangan dibawa angin, melintas di antara pasukan Lingkar Ular, prajurit Majapahit, dan para pengawal kaum malam yang kini saling menahan diri dengan tangan tetap menggenggam senjata.Tak seorang pun bergerak gegabah.Kemunculan Pangeran Ardikara membuat suasana berubah aneh.Seolah semua orang sadar bahwa pertumpahan darah berikutnya akan jauh lebih besar daripada sekadar perebutan lereng gunung.Ardikara melangkah perlahan di atas tanah yang dipenuhi abu dan darah. Jubah hitam panjangnya bergerak ringan diterpa angin malam, sementara mata kuning keemasannya terus tertuju pada Setho Gentala.Tatapan itu membuat Setho merasa seperti sedang diperiksa sampai ke dalam tulang.“Kau tumbuh jauh berbeda dari dugaan kami,” ujar Ardikara lirih.Daksa langsung mendecak.“Aku mulai muak dengan orang-orang yang bicara seperti kenal lama.”Ardikara tersenyum samar.“Karena kalian manusi

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status