Share

Bab 148

last update Tanggal publikasi: 2026-09-11 17:52:04

Wakil Sabak menatap Panji saat masuk ke dalam rumah panggung, dan tatapannya menyiratkan kalau ia sangat inginkan Panji Sanjaya jadi muridnya.

"Masalah dengan guru Japra akan aku urus nanti, mendapatkan bocah itu yang paling utama!" kata wakil Sabak.

"Apa lagi yang kalian tunggu, permainan sudah selesai, bubar!" teriak wakil Sabak pada semua orang.

"Baik, wakil ketua!"

"Teruskan latihan kalian!" teriak wakil Sabak lagi.

Meskipun ingin tahu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya, pada akhirnya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 148

    Wakil Sabak menatap Panji saat masuk ke dalam rumah panggung, dan tatapannya menyiratkan kalau ia sangat inginkan Panji Sanjaya jadi muridnya."Masalah dengan guru Japra akan aku urus nanti, mendapatkan bocah itu yang paling utama!" kata wakil Sabak."Apa lagi yang kalian tunggu, permainan sudah selesai, bubar!" teriak wakil Sabak pada semua orang. "Baik, wakil ketua!""Teruskan latihan kalian!" teriak wakil Sabak lagi. Meskipun ingin tahu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya, pada akhirnya orang-orang memilih untuk pergi dan tinggalkan halaman rumah panggung guru Saha."Aku akan dapatkan bocah itu!" kata wakil Sabak.Setelah itu ia berjalan ke arah rumah panggung yang ditinggali oleh guru Saha dan tiga muridnya.Wakil Sabak berjalan ke rumah panggung guru Saha, dan masuk tanpa permisi."Wakil Sabak," kata guru Saha dan berikan hormat. Namun perhatian wakil Sabak tertuju pada Panji, yang mana tangannya saat ini sedang di perban oleh guru Saha. "Bagaimana keadaan tulangnya?" tany

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 147

    Satu hari di perguruan Kalajengking hitam, Panji masih berusaha untuk melihat keadaan, tanpa mencoba untuk langsung bergerak. "Aku harus tenang, jika tidak masalah akan datang padaku!" ucap Panji.Panji pun sadari akan hal itu. Jadi ia harus bergerak pelan-pelan, dan tak mau terburu-buru. "Selama aku tahu nenek masih hidup, maka aku akan bawa nenek keluar dari perguruan ini!" ucap Panji.Hingga, hari kedua."Sanjaya, aku bawa pakaian perguruan untukmu, kau harus kenakan ini!" kata guru Saha, dan berikan pakaian berwarna hitam itu pada Panji.Dengan berat hati, Panji menerima pakaian kebesaran perguruan kalajengking hitam itu. "Maafkan aku guru!" gumam Panji dalam hatinya. Meskipun merasa berat hati, tapi Panji tetap gunakan pakaian itu. Dan kini Panji sudah jadi murid perguruan kalajengking hitam."Kita mulai latihan dasar!" kata guru Saha. "Baik!" kata Panji dan dua murid perguruan itu. Haaa!!Mereka berteriak bersama, dan mulai latihan dasar dari perguruan kalajengking hitam.

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 146

    Tuan Barkah dan Panji Sanjaya diterima oleh salah satu wakil ketua di perguruan kalajengking hitam, wakil Sadak, namanya. "Maksudnya, putramu akan belajar ilmu kanuragan disini, tuan Barkah?" tanya wakil Sadak."Iya, tuan Sadak. Aku yakin putraku akan baik-baik saja jika berada di perguruan ini!" kata tuan Barkah."Sudah jelas di akan baik-baik saja. Tapi tuan Barkah tahu bukan kalau semua ini tak gratis?" "Jelas aku tahu tuan Sadak!" kata tuan Barkah dan letakkan dua kantong koin emas di atas meja.Mata tuan Sadak terbuka lebar, dan ia menerima dua kantong koin emas itu, yang mana dia simpan di dalam lacinya."Dengan ini, putra tuan Barkah sudah kami terima di perguruan ini!" kata wakil Sadak. "Benarkah itu?" "Iya, tuan Barkah!""Kau lihat Sanjaya, kau diterima di perguruan ini!" kata tuan Barkah. "Iya, ayah! Aku senang sekali!" kata Panji Sanjaya."Kalau begitu, aku akan pergi, aku percayakan putraku pada perguruan ini!" kata tuan Barkah. "Iya, tuan Barkah!" kata wakil Sadak.

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 145

    Huppp!!Panji melesat dari rumah Ki Samara, dan langsung awasi perguruan kalajengking hitam dari jauh. "Perguruan ini sangat ketat, dan tak mungkin bagiku masuk dengan mudah ke dalam perguruan ini!" ucap Panji.Panji melihat dari segala arah, namun ia tak menemukan satu pun celah untuk masuk dengan mudah ke dalam perguruan itu. Apalagi Panji belum tahu seluk beluk dari perguruan itu. Itu jelas akan menyulitkan Panji. Salah sedikit, malah Panji akan ditangkap, dan itu akan membahayakan nyawa neneknya. Itu tak mungkin Panji inginkan. "Bagaimana cara masuk ke dalam perguruan itu?" gumam Panji bingung. Merasa tidak memiliki cara untuk masuk, Panji melesat tinggalkan area itu, dan menuju ke perguruan Teratai Salju. "Ketua Saban, aku ada diluar, apa kita bisa bicara?" ucap Panji lewat suara dan kekuatan bathin tepat pada Ki Saban. Setelah itu, Panji menunggu di belakang perguruan Teratai Salju, dan ia yakin kalau ketua perguruan itu akan datang. Tak berapa lama, satu tubuh melayang d

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 144

    Ki Samara kaget bukan main karena perkataan Panji Sanjaya, dan ia menambah cahaya obor di dalam rumah usang itu. Dia menatap wajah Panji, dan menatap dengan sangat lama, dan menemukan ada persamaan Panji dengan ayahnya, Harlah si pendekar mata iblis.Namun, Ki Samara tak serta merta percaya akan hal itu, dan dengan cepat ia kuasai dirinya. "Jangan asal bicara tuan Panji, mungkin kau memiliki wajah yang mirip dengan keponakanku, tapi aku tak percaya kalau kau adalah cucuku!" kata Ki Samara."Kakek yang menyuruhku kemari, Ki Sarman, kek!" kata Panji."Ki Sarman, dia sudah lama mati. Jangan asal bicara di hadapanku, tuan Panji!" kata Ki Samara masih tak mau akui tentang hubungan dengan Panji.Panji yang memang sudah mulai membuka jati dirinya, membuka dua liontin yang ada di lehernya, dan tunjukkan pada Ki Samara. "Apa ini belum membuktikan apa-apa, kakek? Aku sungguh cucumu!" kata Panji. Ki Samara menatap dua liontin itu, dan tangannya gemetaran saat melihat dua liontin itu. "Kau .

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 143

    Dua orang dari tiga jagoan pasar itu mundur karena melihat apa yang sudah terjadi pada rekan mereka. "Ada apa? Ambillah!" kata Panji.Prakkk!!Dan kaki Panji injak dada orang yang tangannya sudah buntung, hingga remuk dan bagian dalamnya pecah."Maafkan kami, maafkan kami anak muda!" ucap mereka dan berlutut pada Panji.Mereka mengira kalau Panji marah karena mereka mengambil tuak Panji, namun masalahnya tak sederhana itu. Mereka tak tahu, Panji dari awal sudah marah pada mereka. Dan tuak itu hanya alasan Panji untuk marah. "Tidak akan aku maafkan!" kata Panji."Kami akan bayar tuak yang kau minta, anak muda!' "Aku tak butuh!" kata Panji dan berjalan ke arah mereka berdua. Whusssssssss!!Crasssssss!!Dengan jurus jari pedang, Panji bergerak, dan tahu-tahu mereka merasakan ada rasa sakit di leher mereka. Brukkkkkk!!Bersamaan, kepala keduanya jatuh dan lepas dari tubuh mereka. Keduanya tewas dengan kepala yang berpisah dari tubuhnya. "Terima kasih untuk minumnya, paman! Aku tak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status