Share

Bab 57

last update publish date: 2026-07-27 15:59:36

Semua orang menatap saat Abanda melancarkan serangannya yang sangat ganas, dan mematikan, yang menurut pandangan orang, Panji sudah tak dapat bergerak lagi.

Saat kepalan tangan Abanda sudah ada di hadapan Panji, dan hanya berjarak beberapa centi saja, Abanda menghentikan serangan dengan tiba-tiba.

"Kau kalah!" ucap Panji.

Ki Askana yang melihat itu berteriak keras.

"Abanda, apa yang kau lakukan, kalahkan dia?" teriak Ki Askana.

Tapi Abanda sungguh inginkan menang, tapi dia tak dapat lagi gerakk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 183

    Bammmmmmm!!Raja naga Surak menusuk ujung tombak mata tiga miliknya ke tanah, dan tanah terbelah dua, dan itu mengarah pada Panji Sanjaya."Guru, menjauh!" teriak Panji.Huppppp!!Panji berteriak keras sekalian melompat dengan sangat tinggi, melompat menjauh dari retakan tanah itu.Blarrrr!!Cahaya merah meledak tepat di pijakan kaki Panji, dan jika Panji tidak menjauh dari sana, bukan tak mungkin ledakan itu akan melukai Panji Sanjaya."Pukulan petir biru!"Haaaaaaaaaaa!!Dari telapak tangan Panji, melesat satu cahaya, dan itu menyerang ke arah raja naga Surak.Raja naga Surak memegang tombaknya, dan memutari tombaknya, untuk hindari serangan Panji Sanjaya.Trakkkkkk!!Dan setelah itu, Raja naga Surak mencabut tombak mata tiga miliknya, dan melesat menusuk tubuh Panji Sanjaya.Tusukan Raja naga Surak sangat kuat dan penuh dengan aura yang kuat, namun sedikitpun itu tak mengganggu pergerakan Panji Sanjaya.Tukkkkkk!!Panji mentotol jari telunjuk ke ujung salah satu mata tajam rombak

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 182

    Sesuai dengan semua petunjuk dari naga Surika, Panji melesat menuju ke selatan, dan setelah itu, lanjut Panji melompat dan kini sudah ada di belakang istana kerajaan siluman naga hitam."Ini dia!" kata Panji.Huppppp!!!Dengan satu kali lompatan saja, Panji sudah berhasil melewati pagar tinggi yang menutupi bagian belakang istana kerajaan naga hitam.Selanjutnya, sesuai dengan petunjuk dari naga Surika, Panji melesat ke arah barat, dan empat kamar dari kamar pertama, disanalah keberadaan ruangan Ki Ageng dengan putri Andini."Tidak!" kata Panji karena melihat ada belasan penjaga di depan pintu ruangan itu. Jelas itu sesuatu yang harus Panji hindari."Untuk saat ini tidak mungkin! Memang hanya pertarungan yang bisa aku lakukan!" kata Panji Sanjaya.Yang Panji lihat itu tak lain adalah, panglima naga Garpa bersama prajurit naga. Jumlah mereka tak terlalu banyak, namun Panji merasakan kalau panglima Garpa akan menyulitkan dirinya."Langkah petir!"Whusssssssss!!Panji melesat layaknya pe

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 181

    Panji Sanjaya dan naga Surika yang baru sebentar berada di dalam ruangan, harus berdiri saat raja naga Rakha, dan naga Paruka datang ke kamar itu."Panji, kau mengatakan bahwa kalau kau memiliki kemampuan memanipulasi kemampuan hingga ke titik nol, coba tunjukkan padaku!" pinta naga Paruka.Panji tahu kalau naga Paruka ingin meyakinkan raja naga Rakha, jadi Panji angguk kepala dan tak ragu untuk tunjukkan kemampuan yang ia miliki.Haaaaaaaaaaa!!Panji lakukan apa yang diminta oleh naga Paruka, dan aura kehidupan di tubuh Panji langsung hilang, dan itu membuat mata raja naga Rakha melotot tak percaya."Bagaimana bisa ada kemampuan seperti itu?" kata raja naga Rakha."Bukankah sudah aku katakan, kalau Panji memiliki kemampuan yang istimewa!" kata naga Paruka."Jika seperti ini kita mungkin akan bisa bebaskan putri Andini!" kata raja naga Rakha."Iya!""Tapi aku juga memiliki satu permintaan!" kata Panji."Apa itu?" tanya raja naga Rakha."Baik, tanpa kalian katakan, aku sudah mampu mene

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 180

    "Jadi jika kau jauh lebih sehat dari yang sekarang, maka kau akan membunuhku?" tanya Panji dan sudah mulai alirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya."Surika, kenapa kau menakuti anak manusia itu?" ucap satu suara.Suara itu dari rekannya, yang juga sudah sadarkan diri. Dan ia tersenyum pada Panji Sanjaya."Anak muda, jangan hiraukan ucapan si bodoh itu, terima kasih sudah menyelamatkan kami, aku naga Paruka!" kata sosok yang baru bangun itu."Alah kakak, aku baru saja ingin mengerjai manusia!" kata Surika yang merupakan juga bangsa siluman naga, dia adalah naga Surika.Panji merasa lega, itu jika ucapan dari naga Paruka benar, maka naga Surika sungguh-sungguh mengerjai dirinya.Naga Paruka segera melipat kedua kakinya, dan bersemadi untuk memulihkan kondisi tubuhnya, dan melihat itu, naga Surika juga lakukan hal yang sama. Dia juga memulihkan kondisinya dengan bersemadi.Tak berapa lama, aura naga dari tubuh mereka keluar, dan memancar di dalam gua itu, sesuatu yang hangatkan tubuh Pa

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 179

    "Cih, sejak kapan siluman harimau memiliki sahabat bangsa manusia?" kata raja siluman beruang sinis."Apa kalian tidak melihat cincin di tangan anak muda itu? Dia tunangan putri Anita, putri raja di raja bangsa siluman harimau!" ucap raja siluman harimau pulau buangan itu."Aku tak perduli, yang jelas ia akan jadi budak siluman beruang!""Benarkah?" kata Panji.Jledaar!!Di langit terdengar suara ledakan, dan suara itu ledakan dari keluarnya pedang urat petir dari cincin surga, yang mana pedang itu sudah ada di genggaman tangan Panji Sanjaya."Kau ingin jadikan aku budak, majulah!" tantang Panji Sanjaya."Sungguh berani!"Haaaaaaaaaaa!!Raja siluman beruang itu maju dengan gerakan yang cepat, dan ayunkan satu cakaran ke wajah Panji Sanjaya.Tranggggg!!Panji ayunkan pedang urat petir dan beradu kuat dengan cakar tajam raja siluman beruang itu.Haaaaaaaaaaa!!Dan setelah itu, Panji melepaskan tenaga dalamnya, hal itu kagetkan raja siluman beruang itu.Huppppp!!Raja siluman itu mundur

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 178

    Panji menatap ke arah orang yang sebutkan nama dan julukan Ki Gura, padanya. "Apa kau tahu sesuatu tentang pulau buangan itu?" tanya Panji. "Tidak," jawab orang itu. "Kalau begitu diam saja, jika tak tahu apa-apa, aku akan percaya padanya!" kata Panji Sanjaya. Setelah itu Panji memasuki kedai kemana Ki Gura masuk, dan melihat orang tua itu minum dengan tenang. "Kau datang juga anak muda!" kata Ki Gura. "Aku tak memiliki pilihan lain, aku harus bicara denganmu tentang pulau buangan itu!" kata Panji Sanjaya. "Bagus jika kau percaya padaku, minumlah! Baru kita bicara!" kata Ki Gura dan meminta minum untuk Panji Sanjaya. "Baik!" Tak berapa lama, teh untuk Panji datang, dan keduanya minum dengan tenang. Tidak ada yang penting mereka bicarakan. "Kau sudah selesai?" tanya Ki Gura. "Iya." "Ikuti aku!" kata Ki Gura dan membayar sendiri minuman yang mereka pesan. "Dia tak terlihat seperti yang mereka katakan!" gumam Panji dan ikuti langkah Ki Gura. "Masuk!" kata Ki Gu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status