แชร์

Bab 103. Pertarungan Sengit.

ผู้เขียน: RKamila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-26 14:20:58

Jaya menatapnya. “Lalu untuk apa?”

Wira memandang pasukan yang ada di depannya. “Mereka datang untuk membunuh!”

Seolah menjawab perkataannya.

TANG!

Sebuah anak panah menghantam batu tepat di samping kaki Jaya.

Kemudian ratusan anak panah melesat.

“Berlindunggg!” Jaya menarik Ratri.

Arya melindungi Ratna, Bima dan Raka mengangkat pedang. Ki Jagat menghantam tanah dengan tongkatnya.

DUARR!

Gelombang tenaga menghancurkan beberapa anak panah di udara.

Namun jumlahnya terlalu banyak, bahkan bebera
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 107. Orang yang Membawa Kitab

    Pada sampulnya terukir lambang tiga cakar, yaitu kitab pusaka. Jaya menatap kitab itu, lalu menatap lelaki yang membawanya.Wajah Jaya langsung pucat, bukan karena ia mengenali lelaki itu sebagai musuh. Melainkan karena lelaki tersebut adalah orang yang selama ini berdiri di sisi mereka, membantu mereka untuk mencari kebenaran.Orang yang mengetahui hampir semua rahasia keluarga Wulung, orang yang bahkan telah mereka lindungi ketika Persekutuan memburu mereka.Lelaki itu berhenti beberapa langkah dari Jaya, kemudian tersenyum. “Maaf, Jaya!” Ia membuka kitab tersebut. “Seharusnya kamu tidak pernah sampai sejauh ini!”Malam seolah kehilangan suaranya dan Jaya masih berlutut, menopang tubuh Surya Adinata yang terluka parah. Darah lelaki tua itu merembes melalui pakaian, jatuh perlahan ke tanah yang sejak tadi sudah dipenuhi retakan.Di hadapan mereka, seorang lelaki berdiri sambil memegang kitab hitam. Yaitu kitab pusaka, lambang tiga cakar terukir jelas pada sampulnya.Jaya menatap waj

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 106. Siapa yang Membangkitkan Segel Lagi?

    Arya ikut bergerak, tapi rantai itu terlalu cepat.Salah satunya melilit pinggang Ratri.Ratri terlempar ke arah pilar batu. “Jaya!”Jaya berhasil menangkap tangannya dan untuk sesaat, jemari mereka saling bertaut.Jaya mencengkeramnya sekuat tenaga. “Pegang aku!”Ratri berusaha menarik tubuhnya kembali.“Aku tidak akan melepaskanmu!”Namun rantai hitam itu terus menarik, hingga membuat batu yang ada di bawah kaki Jaya retak. Ia merasakan tubuhnya terseret beberapa jengkal.Ratri menatapnya dengan air mata yang mulai menggenang. “Jaya, lepaskan aku!”“Tidak!” teriak Jaya. “Kalau kamu ikut tertarik, kita berdua akan jatuh!” ucap Ratri. “Kalau begitu kita jatuh bersama!” Jaya menggeram, menahan seluruh tenaga yang tersisa.Ratri menangis. “Jangan bodoh! Aku tidak ingin kamu mati!”“Dan aku tidak ingin hidup di dunia yang tidak memiliki dirimu!” jelas Jaya. Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat Ratri terdiam. Di antara rasa takut dan sakit yang menyiksa, ia melihat sesuatu dalam m

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 105. Kebangkitan yang Meminta Darah

    Surya Raksa mendekatkan wajahnya.“Orang yang memegang kitab…,” napasnya semakin berat. “…bukan orang yang menulis isinya,”Jaya menatapnya. “Apa maksudmu?”Surya Raksa memejamkan matanya dan mulai berbicara. “Kitab itu…,” Ia berhenti. “…dibuat untuk satu orang!”Mata Jaya melebar. “Siapa?”Surya Raksa tidak menjawab dan tubuhnya melemas.“Surya!” panggil Jaya. Ratri segera datang.Jaya menyerahkan tubuh Surya kepada Ratri.“Jaga dia!”“Jaya, kamu mau ke mana?” tanya Ratri. Jaya berdiri dan tatapannya berubah, tidak lagi penuh dengan kebingungan. Kini ada keteguhan di sana dan ia menatap Prabu Wiratama.“Kalau kamu bukan dalang terakhir…? pedang Jaya terangkat. “…aku akan mencari orang yang berada di atasmu!”Prabu tersenyum. “Cobalah!”Jaya melesat tapi sebelum kedua pedang bertemu.sosok dari peti tiba-tiba berteriak. “Jayaa!”Jaya langsung terhenti.Sosok itu menatap Ratri dan wajahnya pucat.“Jangan biarkan darahnya jatuh ke tanah!”Semua orang langsung terdiam dan Ratri meliha

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 104. Dalang Di Tengah Barisan

    Lelaki berjubah itu masih berdiri di tengah pasukan, ia tdak bergerak dan tidak menghunuskan pedangnya. Namun anehnya, ratusan pendekar di sekelilingnya justru seperti menunggu satu gerakan darinya.Jaya menatap lambang yang ada di dadanya, yaitu lambang Persekutuan dan di bawahnya tiga cakar hitam.Jantung Jaya berdetak semakin keras. “S– ssiapa kamu?”Lelaki itu tersenyum. “Bukankah ku seharusnya sudah mengenalku?”Suaranya tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berdiri di tengah peperangan.Surya Raksa maju satu langkah. “Prabu…,”Jaya langsung menoleh..“Prabu Wiratama?”Lelaki itu tertawa pelan. “Ya!”Nama itu membuat suasana semakin berat, Prabu Wiratama nama yang selama ini terukir di berbagai dokumen Persekutuan.Nama yang muncul dalam gulungan milik Ardhan, nama yang selama ini mereka kira hanya seorang pemimpin yang menjadi wajah Persekutuan.Namun sekarang, ia berdiri di tengah pasukan dengan simbol tiga cakar di dadanya. Mahesa Kala bahkan menundukkan ke

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 103. Pertarungan Sengit.

    Jaya menatapnya. “Lalu untuk apa?”Wira memandang pasukan yang ada di depannya. “Mereka datang untuk membunuh!”Seolah menjawab perkataannya. TANG!Sebuah anak panah menghantam batu tepat di samping kaki Jaya.Kemudian ratusan anak panah melesat.“Berlindunggg!” Jaya menarik Ratri.Arya melindungi Ratna, Bima dan Raka mengangkat pedang. Ki Jagat menghantam tanah dengan tongkatnya.DUARR!Gelombang tenaga menghancurkan beberapa anak panah di udara.Namun jumlahnya terlalu banyak, bahkan beberapa tetap menembus pertahanan.Sret!Satu anak panah menancap di bahu Wira dan ia terhuyung.“Wira!” Jaya hendak mendekat.“Jangan!” Wira mencabut anak panah itu sendiri, darah mengalir dari lukanya. “Aku belum mati!”Ia tersenyum pahit. “Belum sekarang!”Jaya menatap luka itu. “Bertahan lah,”Wira mengangguk. “Kalau kamu ingin tahu siapa pengkhianat sebenarnya, jangan mati malam ini!”Jaya terdiam karena kalimat itu terasa seperti pesan terakhir, tapi perang bahkan belum dimulai.“Majuu!” teriak

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 102. Kepungan Di Tanah Kematian

    Orang tua itu menghela napas. “Ardhan pernah datang kepadaku sebelum kematiannya!”Jaya menatapnya seakan tak percaya. “K– kkenapa baru sekarang?”“Karena ia memintaku untuk menyimpan rahasia itu sampai kamu cukup kuat untuk memilih sendiri,” kata Ki Jagat. Jaya tertawa getir. “Semua orang selalu mengatakan hal yang sama!” suara Jaya bergetar. “Menunggu aku cukup kuat? Menunggu aku cukup dewasa? Dan menunggu waktunya tepat?”Jaya menatap seluruh orang di hadapannya.“Tapi siapa yang bertanya apakah aku sanggup untuk kehilangan mereka semua?”Ratri mendekat dan Jaya tidak menolaknya.Ratri menggenggam tangannya. “Kalau kamu lelah, bersandarlah,”Jaya menunduk sesaat, semua amarah dalam dirinya runtuh. Ia menggenggam tangan Ratri erat-erat. “Jangan tinggalkan aku!”“Aku tidak akan pergi,” kata Ratri. “Sekalipun semua orang berbalik?” tanya Jaya. “Sekalipun seluruh dunia mengejarmu,” kata Ratri. Mata Jaya memerah. “Ratri…?”Ratri tersenyum tipis. “Bukankah kamu pernah berkata bahwa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status