Home / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 163. Rahasia Makam

Share

Bab 163. Rahasia Makam

Author: RKamila
last update publish date: 2026-10-30 06:21:23

Nama itu membuat suasana berubah.

Jaya menahan napas. “Prabu masih hidup?”

Mahesa Kala menggeleng. “Tidak!” ia menunjuk kain tersebut. “Tapi sebelum mati, dia meninggalkan pesan.”

“Apa pesannya?” tanya Jaya.

Mahesa Kala menatap gerbang yang telah tertutup. “Jika suatu hari nanti Jaya Wiratama berhasil menutup gerbang, jangan biarkan dia pulang ke padepokan.”

Ratri mengerutkan keningnya. “Kenapa?”

Mahesa Kala menatap Jaya dengan serius.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 166. Darah Pewaris

    Jaya menatap anak kecil di dalam kepompong. “Kalau mereka menginginkanmu…” ia mengangkat Pedang Hening. “...mereka harus melewatiku lebih dulu.” Anak itu menatap Jaya dengan mata berkaca-kaca, lalu untuk pertama kalinya, ia tersenyum seperti seorang anak yang akhirnya menemukan keluarganya. “Kalau begitu…” suara anak itu berubah lebih dalam, lebih tua dan seluruh ruangan mendadak bergetar. “…mari kita lihat apakah kamu benar-benar pantas menjadi pewaris terakhir.” Dari dasar kolam hitam, sesuatu mulai bangkit. Bukan monster, bukan manusia. Melainkan sosok berjubah merah dengan wajah yang sama persis seperti Jaya. Namun matanya berwarna hitam seluruhnya, ia menatap Jaya. Lalu tersenyum. “Sudah lama aku menunggumu, anakku.” Jaya menggenggam pedangnya semakin erat, karena pada saat itu ia akhirnya mengerti. Bahwa rahasia terbesar keluarga Wiratama bukanlah siapa yang menjaga Pedang Hening, bukan pula siapa yang

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 165. Anak Kecil.

    Hening kembali menyelimuti mereka.“Tempat ini harus diingat.” lanjut Wiraga. Mereka melanjutkan langkah dengan lebih perlahan, dinding di sepanjang lorong mulai berubah. Ukiran nama leluhur tidak lagi terlihat seperti tulisan penghormatan, melainkan catatan dosa yang sengaja disembunyikan dari generasi berikutnya.Ada nama-nama yang dicoret, ada nama yang dibakar dan ada beberapa nama yang justru ditulis dengan darah.Jaya berhenti ketika melihat satu nama yang sangat dikenalnya. ‘Ardhan Wulung.’Di bawah nama itu terdapat tulisan pendek. ‘Pewaris yang menolak menjadi wadah.’Jaya menoleh kepada ayahnya.Ardhan tidak menghindari tatapannya. “Dulu aku pernah sampai di sini.”Kirana langsung memandangnya. “Kamu tidak pernah menceritakannya?”“Aku ingin melupakan tempat ini.” Ardhan menyentuh tulisan namanya sendiri pada dinding, jarinya bergetar halus. “Ketika aku masih muda, aku diperintahkan

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 164. Pewaris Terakhir

    Jaya menahan pedang pertama, sementara Ratri menghadapi bayangan kedua. Arya dan Wira bergerak bersamaan, memutus jalur serangan dari belakang.Benturan senjata mengguncang hutan, bayangan-bayangan itu tidak memiliki wajah, tetapi setiap gerakannya seperti seorang pendekar yang telah berlatih selama puluhan tahun.Jaya menyadari sesuatu, bahwa mereka bukan monster. Mereka adalah kenangan, kenangan para penjaga yang pernah mati di tempat itu.Pedang Hening kembali bergetar, Jaya memejamkan mata sesaat. Lalu ia menebas bukan tubuh bayangan itu, melainkan ikatan merah yang menghubungkannya dengan tanah.Seketika kedua bayangan berhenti dan mereka menundukkan kepala, kemudian tubuh mereka berubah menjadi serpihan cahaya dan lenyap tertiup angin.Ratri menatap Jaya. “Kamu tidak membunuh mereka?”Jaya menurunkan pedangnya. “Mereka tidak datang untuk membunuh kita.”Mahesa menatapnya dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan.

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 163. Rahasia Makam

    Nama itu membuat suasana berubah.Jaya menahan napas. “Prabu masih hidup?”Mahesa Kala menggeleng. “Tidak!” ia menunjuk kain tersebut. “Tapi sebelum mati, dia meninggalkan pesan.”“Apa pesannya?” tanya Jaya. Mahesa Kala menatap gerbang yang telah tertutup. “Jika suatu hari nanti Jaya Wiratama berhasil menutup gerbang, jangan biarkan dia pulang ke padepokan.”Ratri mengerutkan keningnya. “Kenapa?”Mahesa Kala menatap Jaya dengan serius.“Karena gerbang bukan satu-satunya tempat yang menyimpan rahasia.”Jaya terdiam. “Lalu di mana?”Mahesa Kala menunjuk ke arah utara. “Di Keraton Wiratama.”Angin langsung bertiup kencang dan bendera hitam di bukit berkibar liar. Jaya menatap jauh ke arah utara, selama ini ia mengira semua rahasia berawal dari gerbang.Ternyata gerbang hanya menyimpan sebagian kebenaran, bahkan jika Prabu Wiratama sendiri telah meninggalkan pesan agar Jaya tidak kembali.

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 162. Orang yang Sudah Mati

    Rambutnya diterpa angin, sementara wajahnya terlihat tenang seolah tidak sedang berdiri di tengah medan yang sebentar lagi akan menjadi perang.Yaitu Mahesa Kala, tapi ada sesuatu yang berbeda. Jaya tidak melihat kesombongan di wajah lelaki itu, ia justru melihat kelelahan.“Kenapa dia membawa pasukan sebanyak itu?” Ratri berdiri di samping Jaya.“Mungkin karena dia tahu sesuatu yang kita tidak tahu,” Jaya menatapnya.“Seperti apa?” tanya Ratri “Aku tidak tahu,” jawab Jaya. Dari atas kereta, Mahesa Kala mengangkat tangannya. Seluruh pasukan berhenti dan suasana pun mendadak sunyi.Kemudian suaranya terdengar. “Jaya Wiratama!”Jaya langsung melangkah maju. “Aku di sini!”Mahesa Kala menatap gerbang yang telah tertutup. “Jadi kamu sudah berhasil?”Jaya mengerutkan keningnya. “Berhasil melakukan apa?”“Menutup sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibuka.” kata Mahesa Kala. Ary

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 161. Bendera Hitam

    Jatmika berubah kembali menjadi manusia. “Berarti… semuanya akan keluar? Jika gerbang pecah?”Jaya memandang sekeliling. “Lalu bagaimana cara menutupnya?”Tidak ada yang menjawab.Ardhan menatapnya.Jaya langsung menggeleng. “Jangan.”“Aku belum mengatakan apa-apa.” kata Ardhan “Aku tahu wajah Ayah.” kata Jaya. Ardhan tersenyum sedih. “Anakku...”“Tidak!” Jaya melangkah mendekat. “Jangan lagi ada yang meminta seseorang untuk mengorbankan dirinya.”Lalu Kirana menundukkan kepala dan Sekar menggenggam tangannya.Aruna memandang Jaya cukup lama. “Tidak ada pengorbanan.”Jaya terdiam.“Gerbang tidak membutuhkan korban lagi.” kata Aruna. “Lalu apa?” tanya Jaya. “Penjaga,” jawab Aruna. Jaya mengerutkan kening. “Penjaga?”Aruna mengangguk. “Seseorang harus tetap berada di sini untuk mengatur arus kehendak yang keluar.”Jaya langsung m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status