LOGINWira menatapnya. “Untuk apa?”“Untuk mencari siapa yang berada di balik semua ini!” ucap Jaya. Arya tersenyum tipis. “Dan kalau di ibu kota sudah dikuasai oleh Gagak Hitam bagaimana?”Jaya langsung menghunus pedangnya. “Kalau begitu…,” lalu Jaya menatap jalan yang terbentang menuju kejauhan. “…kita akan rebut kembali!”Ratri langsung berdiri di sampingnya.Matahari perlahan muncul di balik pegunungan, cahayanya jatuh di atas pedang Jaya.Di balik cahaya itu, perjalanan baru sudah menunggu. Yaitu perjalanan menuju ke ibu kota, menuju pusat kekuasaan, menuju rahasia terakhir tentang Ardhan.Bahkan tanpa mereka sadari, di sana ada seseorang yang telah menunggu mereka selama dua puluh tujuh tahun lamanya. Seseorang yang mengetahui seluruh kisah kelahiran Jaya, seseorang yang bahkan Mahesa takut untuk menyebut namanya.Ketika rombongan itu mulai berjalan, dari sebuah menara yang jauh berada di ibu kota terdengar bisikan pelan. “Akhirnya kamu pulang juga, Jaya Wulung!” ucap seseorang it
Setelah bertahun-tahun hidup dalam sebuah bayang-bayang, dua saudara yang sudah terpisah oleh rahasia akhirnya berdiri bersama kembali. Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama, karena Bima terlihat tengah erlari dari arah lembah.“Jaya!” teriak Bima. Jaya segera menoleh. “Ada apa?”“Ki– kkitaa punya masalah,” ucap Bima. “Masalah apa?” tanya Jaya. Bima langsung menunjuk ke arah pasukan Aliansi. “Mereka pergi!”Jaya mengerutkan kening. “Pergi?”“Sebagian besar,” kata Bima. “Kenapa?” tanya Jaya. “Karena pemimpin mereka telah mati,” ucap Bima. Jaya terdiam sesaat. “Siapa?”Bima pun menjawab. “Ketua Aliansi,”Ratri pun langsung terkejut. “Bukankah tadi dia masih memimpin pasukan?”“Benar!” ucap Bima. “Lalu bagaimana dia bisa mati?” tanya Ratri. Bima langsung menelan ludah. “Tubuhnya ditemukan di dekat gerbang lembah,”Jaya menatap Wira. “Siapa yang membunuhnya?”Wira pun menggeleng. Bima juga menggeleng. “Itulah masalahnya,”Kemudian Bima mengeluarkan sebuah benda, sebuah anak
Mahesa terdiam dan untuk pertama kalinya, lelaki tua itu tidak memiliki sebuah jawaban.Ratri menggenggam tangan Jaya dengan erat. “Jangan biarkan dia melakukannya,”Jaya menatap Mahesa tapi Mahesa justru tersenyum, senyum yang begitu tenang dan begitu sangat pasrah.Seolah-olah sejak awal ia telah mengetahui bahwa suatu hari takdir akan menagih hutang yang lama.“Jayaa,” panggil Mahesa. “Jangan!” teriak Ratri. “Kamu harus mendengarkannya,” kata Mahesa. “Aku tidak mau!” pekik Jaya. Kemudian Mahesa berjalan mendekat.“Selama bertahun-tahun aku sudah bersembunyi dari masa lalu,” ucap Mahesa lalu ia menatap langit. “Ternyata seseorang tidak bisa selamanya melarikan diri dari dosa yang pernah dibuatnya,”Jaya menggeleng. “Kita bisa mencari cara yang lain,”Mahesa tersenyum. “Mungkin!”Lalu Mahesa mengusap kepala Jaya seperti seorang kakek kepada cucunya.“Tapi kalau aku tidak kembali…,” imbuh Mahesa. Jaya menggenggam tangannya. “Jangan bicara begitu,”Mahesa menatapnya dengan penuh k
Dua orang jatuh lima orang yang menggantikannya, hingga Jaya akhirnya mulai memahami sesuatu. Bahwa perang tidak lah seperti duel, karena dalam duel, seseorang hanya perlu mengalahkan satu lawan.Dalam perang, seseorang harus terus dipaksa untuk berdiri bahkan ketika tubuhnya telah memohon untuk berhenti.“Jayaaa!” Ratri berteriak.Jaya langsung menoleh, rupanya seorang pendekar hendak menyerangnya dari arah belakang.Ratri segera melemparkan pedangnya.Srakk! Pedang itu berhasil menghantam senjata lawan.Jaya berhasil berbalik dan menjatuhkannya.“Terima kasih Ratri,”Ratri pun menarik pedangnya kembali.“Jangan sampai lengah!”“Aku tidak lengah!” ucap Jaya. “Kamu tadi hampir saja mati!” kata Ratri dengan kesal. “I– iitu bukan mati!” kata Jaya. Ratri menatapnya tajam. “Bagi orang yang hampir mati, kamu terlalu banyak bicara!”Jaya tersenyum. “Berarti aku masih hidup,”Tidak jauh dari mereka, Arya sedang menghadapi tiga pendekar sekaligus. Gerakannya jauh lebih tenang, tidak bany
Mahesa tersenyum. “Karena mereka tidak datang untuk berdamai,”Seorang penunggang kuda maju.“Dengan perintah Aliansi Persilatan!” suaranya langsung menggema. “Jaya Wulung dinyatakan sebagai pengkhianat dunia persilatan!”Ratri mengepalkan tangannya. “Lagi-lagi fitnah!”Penunggang itu melanjutkan. “Siapa pun yang melindunginya akan dianggap sebagai musuh Aliansi!”Ribuan pendekar mengangkat senjatanya, Jaya menatap Wira, kemudian Arya, kemudian Ratri.Lalu Jaya menghela napas panjang. “Akhirnya…,”“Apa?” tanya Ratri.Jaya mengangkat pedangnya. “Perang yang sebenarnya dimulai!”Mahesa berjalan ke sampingnya. “Tidak!”Jaya langsung menoleh.Mahesa menatap ribuan pasukan. “Perang itu sudah dimulai sejak kalian lahir!”Lalu Mahesa mengangkat pedangnya ke arah langit. “Hari ini kita hanya berhenti untuk melarikan diri!”Angin bertiup dan Jubah mereka berkibar, Ratri berdiri di sisi Jaya, Arya berdiri di sisi lainnya, Wira dan para pendekar lainnya juga bersiap.Di hadapan mereka, ribuan mu
Mahesa beralih menatap pedang itu.“Bagus!” ucap Mahesa lalu ia tersenyum.“Setidaknya darah Wulung masih mengalir dengan benar di tubuhmu!”Kini Wira yang maju. “Mahesaaa!” suara Wira terdengar berat. “Sudah cukup!”Mahesa pun menoleh. “Kamu masih hidup juga Wira?”“Aku berjanji kepada Ratna untuk melindungi mereka!” kata Wira. “Dan kamu sudah melakukannya dengan sangat baik,” lalu Mahesa memandang Jaya dan juga Arya. “Tapi sekarang tugasmu sudah selesai!”Wira menggeleng. “Belum!”Mahesa pun tersenyum. “Kalau begitu mari kita lihat apakah pedangmu masih setajam yang dulu?”Wira langsung menghunuskan pedangnya dan bersiap untuk menyerang. Namun Jaya menahan lengannya. “Jangan Ayah!”Wira menoleh. “Jayaa?”“Ini urusan keluargaku!” sentak Jaya. Mahesa tertawa pelan. “Bijaksana sekali,”Jaya menatapnya. “Aku tidak datang untuk bertarung dengan keluargaku!”“Lalu kenapa kamu datang?” tanya Mahesa. “Untuk mengetahui sebuah kebenaran!” pekik Jaya. Mahesa langsung terdiam.Jaya pun me







