首頁 / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 51. Segel Sembilan Langit

分享

Bab 51. Segel Sembilan Langit

作者: RKamila
last update publish date: 2026-09-05 14:52:10

Dua orang jatuh lima orang yang menggantikannya, hingga Jaya akhirnya mulai memahami sesuatu. Bahwa perang tidak lah seperti duel, karena dalam duel, seseorang hanya perlu mengalahkan satu lawan.

Dalam perang, seseorang harus terus dipaksa untuk berdiri bahkan ketika tubuhnya telah memohon untuk berhenti.

“Jayaaa!” Ratri berteriak.

Jaya langsung menoleh, rupanya seorang pendekar hendak menyerangnya dari arah belakang.

Ratri segera melemparkan pedangnya.

Srakk!

Pedang itu berhasil menghantam se
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 160. Setelah Pedang Beradu

    Sekar berdiri di sampingnya dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ibu dan anak itu bertarung bersama.“Jatmika!” Sekar berteriak.Naga Langit menoleh. “Sekarang!”Ia mengaum dan api biru menyembur dari mulutnya, sang Asal menahan serangan tersebut. Namun di belakangnya, Jaya sudah berdiri dan pedang Hening berada di tangannya.Ratri berdiri di sampingnya. “Kamu siap?”Jaya mengangguk. “Tidak.”Ratri tersenyum. “Bagus.”“Kenapa?” tanya Jaya. “Karena aku juga tidak.” jawab Ratri. Mereka tertawa kecil, kemudian maju bersama. Jaya mengangkat Pedang Hening, ia tidak menyerang tubuh Sang Asal.Ia menebas sesuatu yang jauh lebih dalam yaitu ikatan, tebasan pertama memutus hubungan Sang Asal dengan gerbang.Tebasan kedua memutus hubungan Sang Asal dengan bayangan-bayangan, tebasan ketiga… membuat seluruh ruang bergetar.Sang Asal menjerit. “Berhenti!”Jaya terus

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 158. Jaya Kecil

    Ia hanya seorang lelaki yang memilih jalan hidupnya sendiri, lalu pedang Hening bersinar.Sang Asal mundur satu langkah.Lalu dari kegelapan terdengar suara lain, lebih dalam, lebih tua dan jauh lebih menakutkan. “Kalau begitu...” gerbang mulai runtuh. “Bawa seluruh kehendak kalian.”Dua mata raksasa terbuka di balik kehancuran. “Karena aku akan menghancurkannya satu per satu.”Jaya menggenggam tangan Ratri dan mereka melangkah bersama, bahkan untuk pertama kalinya. Mereka tidak memasuki gerbang untuk mencari jawaban.Mereka masuk untuk menghancurkan sesuatu yang telah mengendalikan takdir manusia selama ribuan tahun.Mereka melangkah bersama menuju pusat kehancuran. Setiap pijakan membuat ruang di bawah kaki bergetar, sementara pecahan batu dan cahaya putih beterbangan seperti serpihan dunia yang sedang mati. Jaya menggenggam tangan Ratri, bukan karena takut kehilangan arah, tetapi karena kali ini ia ingin memastikan m

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 159. Gerbang yang Mendadak berlutut

    Anak itu menggeleng. “Bukan salahmu.” ia menunjuk ke belakang, di sana berdiri Sang Asal. “Dia yang membuatku percaya bahwa kamu melupakanku.” Jaya menatap kegelapan. Sang Asal tersenyum. “Karena itu mudah.” Jaya mengangkat pedangnya. “Lepaskan dia.” “Dia adalah bagianmu.” kata sang Asal. “Kalau begitu aku akan mengambilnya.” gertak Jaya. “Dan jika kamu mengambilnya, maka seluruh gerbang akan runtuh.” cetus sang Asal. Jaya menatap anak kecil itu. Anak tersebut menangis. “Aku hanya ingin pulang.” Jaya perlahan menurunkan pedangnya. “Kalau begitu pulanglah.” Anak itu menatapnya. “Kamu tidak takut aku akan mengambil tempatmu?” Jaya tersenyum. “Tidak.” “Kenapa?” tanya anak itu. “Karena kamu bukan aku yang lain.” Jaya membuka kedua tangannya. “Kamu adalah bagian diriku yang selama ini kesepian

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 157. Pedang yang Menolak

    Jaya menunduk dan rantai hitam melilit kakinya, ua mencoba menariknya. Tidak bergerak, ia mengangkat Pedang Hening. Retakannya semakin lebar.“Jangan.” suara Ardhan terdengar dari belakang.Jaya menoleh.Ayahnya berdiri dengan tubuh penuh luka, tetapi kali ini tidak membawa senjata. “Pedang itu sedang menolakmu.”Jaya mengerutkan kening. “Pedang ini tidak pernah menolakku.”“Karena selama ini kamu tidak pernah memintanya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya.” Ardhan menatap bilah yang retak. “Pedang Hening diciptakan untuk memutus ikatan. Bukan untuk memaksa seseorang tetap bersamamu.”Jaya terdiam.Ratri menatapnya. “Jaya...”Sang Asal menarik tubuh Ratri lebih dekat ke kegelapan.“Pilih.” suara itu menjadi lebih jelas. “Gunakan pedangmu. Hancurkan gerbang. Selamatkan perempuan itu.”Bayangan di sekitar Ratri mulai membesar. “Atau turunkan pedangmu dan biarkan aku mengambil k

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 156. Pedang yang retak

    “Bagus.” suara itu menjadi suara anak kecil yang pernah ia dengar. “Kamu mulai belajar membedakan kenyataan!”Jaya mengangkat Pedang Hening. “Di mana Ratri?”“Di tempat yang sama denganmu.” kata sosok itu. “Bawa dia kepadaku.” gertak Jaya. “Tidak bisa.” jawab sosok itu. “Kenapa?” tanya Jaya. “Karena dia sedang melihat kebenaran.” jelas sosok itu. Bayangan itu menghilang, di hadapan Jaya muncul sebuah pemandangan. Seorang perempuan muda berdiri di depan bayi yang baru lahir.Yaitu Kirana, di sampingnya berdiri Ardhan dan di tangan Kirana terdapat sebuah pisau putih.Jaya membeku. “Tidak...”Pemandangan itu terus bergerak, bayi kecil itu menangis. Lalu Ardhan menggendongnya, Kirana menangis sambil memegang tanda putih yang perlahan muncul di dada bayi.Lalu cahaya keluar dari tubuh bayi tersebut, separuh cahaya masuk ke dalam gerbang. Separuh lainnya tetap berada di tubuh bayi.

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 155. Anak yang Terbelah

    Ia melangkah mendekati Ardhan. “Aku tidak akan membiarkan satu orang lagi terluka hanya karena kalian menganggap aku belum siap.”Ardhan menatap anaknya, ada kasih sayang yang begitu dalam di matanya hingga Jaya justru semakin terluka.“Dua puluh tujuh tahun lalu,” Ardhan berkata perlahan, “gerbang hampir terbuka.”Semua orang langsung diam.“Untuk menutupnya, seseorang harus memberikan bagian dari kehendaknya.” kata Ardhan. Jaya menelan ludah. “Siapa?”Ardhan menatap Kirana.Kirana menangis tanpa suara. “Aku,” katanya.Jaya membeku.“Kirana yang memberikan bagian kehendaknya,” lanjut Ardhan. “Tetapi gerbang tidak menerima satu kehendak manusia.”Ia menatap Jaya. “Gerbang membutuhkan kehendak yang belum dibentuk.”Jaya perlahan memahami. “Anak?”Ardhan mengangguk. “Seorang anak yang belum menentukan siapa dirinya.”Ratri menggenggam tangan Jaya semakin kuat. “Tidak...”

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status