เข้าสู่ระบบJaya menahan napas. "Kamu orang yang selalu berdiri di sampingku ketika seluruh dunia meninggalkanku,”Akhirnya mata Ratri kembali jernih. "Jaya…?"Jaya langsung memeluk Ratri dengan erat. "Ya,”"Aku ingat,” jawab Ratri. Jaya memejamkan matanya dan untuk sesaat, suara peperangan terasa jauh.Namun suara Surya Raksa kembali memecahkan keheningan. "Jaya!"Jaya langsunh menoleh.Surya menunjuk ke arah Mahesa Kala. "Dia bukan pusatnya!"Mahesa Kala mendadak menyerang Surya.CLANG!Pedang bertemu dan membuat Surya terdorong, Mahesa Kala menyerang lagi. Keduanya bertarung dengan cepat.Jaya menatap mereka.Ki Jagat tiba-tiba berkata. "Lihat!"Di tanah, cahaya merah mulai membentuk pola baru. Bukan lagi tiga cakar, melainkan sebuah lingkaran dan di tengahnya muncul satu nama.ARDHAN WULUNG.Jaya langsung membeku, nama ayahnya. ‘Kenapa nama itu muncul sekarang?’Ki Jagat berjongkok. "Ini bukan segel untuk Ratri!”Jaya menatapnya. "Lalu untuk siapa?"Ki Jagat mengangkat wajahnya. "Ini sebuah
Namun sebelum keduanya sempat berkata lebih banyak lagi, tiba-tiba saja. WUSSS!Puluhan anak panah melesat dari arah hutan."Berlindungg!" Bima mengangkat perisai.TANG! TANG! TANG!Anak panah berjatuhan.Raka menebas beberapa yang mengarah kepada Laras dan Ratna.Arya melompat ke depan. "Jaya! Mereka datang!"Dari balik pepohonan mulai muncul puluhan pendekar, dengan berpakaian seragam Persekutuan Persilatan.Di barisan paling depan berdiri seorang lelaki berjubah hitam, Jaya langsung mengenalinya yaitu Surya Raksa.Adipati Agung Persekutuan Persilatan berjalan perlahan, ia tidak tampak terburu-buru. Tidak pula membawa banyak pengawal di sisinya.Namun setiap langkahnya membuat para anggota Gagak Hitam menyingkir, matanya langsung tertuju kepada Jaya kemudian Ratri."Sudah kuduga!” suara Surya Raksa terdengar tenang. "Kalian akan berakhir di sini!”Jaya mengangkat kedua pedangnya. "Jadi kamu sudah datang?”Surya tersenyum tipis. "Aku memang harus datang,”"Untuk mengambil Ratri?" ta
Mahesa Kala mengamati mereka dengan wajah semakin muram. "Jangan biarkan dia membawa pedang itu!”Beberapa anggota Gagak Hitam langsung bergerak.Bima menghalangi."Kalau mau mengambilnya…,” Bima memutar pedangnya. "...lewati aku dulu!”Raka berdiri di sampingnya. "Aku juga!”Laras menyusul. "Dan aku!”Arya mengangkat pedang. "Jangan lupakan aku!”Jaya menatap mereka dan untuk sesaat, hatinya terasa hangat. Karena di tengah pengkhianatan dan rahasia yang tidak berkesudahan, masih ada orang-orang yang memilih untuk berdiri bersamanya.Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.DUARRR!Tanah kembali berguncang.Ratri jatuh berlutut. "Ah!"Jaya segera menghampirinya, cahaya merah dari pola tiga cakar kini telah mencapai pinggang Ratri."Ki Jagat!" panggil Jaya. Ki Jagat memandang pola itu dengan wajah pucat. "S– ssegelnya mulai aktif sepenuhnya!”"Bagaimana caramenghentikannya?" tanya Jaya. Ki Jagat terdiam sesaat. "Jaya…,""Apa?" jawab Jaya. "Ada satu cara,” ucap Ki Jagat. Jaya m
“Buka…,” Jaya memejamkan mata. “Buka…,”Suara itu semakin jelas.Ratri mengguncang tangannya. "Jaya!"Jaya membuka mata.Ratri menatapnya ketakutan. "K– kkamu mendengarnya?"Jaya mengangguk. "Ada suara,”Ki Jagat mendengar percakapan itu dan seketika wajahnya langsung berubah. "Jangan dengarkan!""A– aaku tidak bisa!" jawab Jaya gemetar. "Jaya, itu bukan suara manusia!" teriak Ki Jagat. Mahesa Kala tertawa. "Biarkan dia mendengarnya,”Jaya menatapnya. "A– aapa yang kamu lakukan?""Aku tidak melakukan apa-apa,” Mahesa Kala tersenyum. "Yang berbicara kepadamu adalah sesuatu yang sudah menunggumu jauh sebelum kamu lahir,”Jaya terdiam dan pedangnya bergetar di tangannya.Ratri menggenggam wajahnya. "Jayaa!”Tatapan mereka bertemu. "Jangan dengarkan suara itu,”"Tapi bagaimana kalau…?" tanya Jaya. "Percayalah kepadaku,” ucap Ratri meyakinkan. Jaya menarik napas.Ratri mendekat. "Aku tidak tahu apa yang ada di dalam dirimu,”ucap Ratri dan air mata mengalir di pipinya. "Tapi aku tahu
Arya, Bima, Raka, Laras, dan yang lainnya segera merapat. Bahkan Mahesa Kala juga tidak bergerak, seolah-olah semua orang sedang menunggu seseorang keluar dari kegelapan.Kemudian sepasang kaki muncul dari balik pepohonan, langkahnya pelan dengan jubahnya yang sederhana.Tidak ada lambang Gagak Hitam dan tidak ada lambang dari Persekutuan Persilatan.Jaya menatap sosok itu dan dadanya seakan berhenti berdetak. "Raka…?"Raka yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. "Apa?"Jaya menggeleng. "Bukan!”Sosok itu semakin dekat.Ki Jagat tiba-tiba menggenggam tongkatnya lebih erat. "Jangan-jangan…?"Lelaki itu akhirnya keluar dari bayangan dan wajahnya terlihat jelas, membuat semua orang terdiam.Arya, tapi bukan Arya yang sedang berdiri di samping Jaya.Arya sendiri menatap sosok tersebut dengan wajah pucat. "I– iituuu…,"Jaya mengangkat pedangnya. "Siapa kamu?"Sosok itu tersenyum. "Aku kira kamu akan lebih cepat mengenalinya,”Arya maju satu langkah. "Jangan gunakan wajah itu!”Lelaki
Wira tersenyum pahit. "Kalau aku benar-benar pengkhianat, seharusnya Jaya sudah mati sejak dulu!”Jaya hanya terdiam.Mahesa Kala tiba-tiba bergerak. "Sudah cukup!”Tangan Mahesa Kala terangkat dan para Gagak Hitam langsung menyerang.WUSSS!Puluhan pedang melesat dengan cepat. "Jaga Ratri!" teriak Arya.Pertarungan kembali pecah dan Bima menahan tiga pendekar sekaligus. Raka melompat ke atas batu, lalu berputar sambil menebaskan pedangnya.Laras yang menjaga Ratna, kemudian Ki Jagat membuat gerakan melingkar dengan tongkatnya, ia menjatuhkan dua orang dalam sekali hantaman.Jaya sendiri langsung menghadapi Mahesa Kala.CLANG!Pedang bertemu senjata dan percikan api beterbangan.Mahesa Kala tersenyum. "Kamu masih belum cukup kuat!”Jaya menekan pedangnya. "Kalau begitu, jangan berhenti menyerang!”Mahesa Kala menendang perut Jaya.Hingga Jaya mundur beberapa langkah dan belum sempat ia berdiri tegak, Mahesa Kala sudah berada di depannya.DUAGH!Pukulan menghantam dadanya.Jaya terlem







