Share

Bab 53

Author: Imgnmln
last update publish date: 2026-05-25 22:53:11

“Raka Mahendra, kalau tidak berani, katakan saja tidak berani. Tidak perlu mencari alasan.”

Kerumunan kembali riuh.

Bahkan beberapa instruktur di anjungan pengamatan ikut menggeleng pelan. Mereka mengira Raka akhirnya memilih mundur. Bagaimanapun, jalur Lintasan Batu Neraka memang terlalu ekstrem untuk mahasiswa baru.

Namun di tengah suara ejekan yang semakin keras, Raka justru menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. “Bukan karena aku takut.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi entah kenapa mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 150

    Urat-urat di lehernya tampak menegang. "Kalau bukan karena penyergapan sialan itu, seratus orang seperti kalian sekalipun tetap tidak akan mampu menghentikan aku dan Raka!"Kalimat tersebut langsung membuat seluruh tenda terdiam.Penembak jitu?Kata itu seolah menghantam semua orang secara bersamaan."Apa maksudmu penembak jitu?" tanya salah seorang peserta dengan wajah bingung. "Bukankah latihan ini tidak menggunakan senjata seperti itu?""Aku bahkan belum pernah melihat senapan jitu selama latihan berlangsung.""Benar, dari mana datangnya penembak jitu?"Suasana yang semula ramai berubah menjadi penuh tanda tanya.Bara menarik napas panjang untuk menenangkan emosinya, tetapi kemarahan masih terlihat jelas di wajahnya."Aku tidak sedang bercanda." Suaranya terdengar jauh lebih serius dibanding sebelumnya. "Orang itu jelas bukan peserta biasa."Semua orang langsung memasang ekspresi tegang."Dia menembakku dari jarak sangat jauh," lanjut Bara sambil mengepalkan tangan. "Kemampuan mene

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 149

    Damar langsung mengangguk penuh emosi. "Benar! Semua berantakan karena orang itu terlalu licik. Dia bahkan sempat menyiapkan jebakan seperti itu. Kalau bukan karena trik kotor tersebut, kita tidak mungkin kalah!""Lebih dari seratus orang dibuat kacau hanya oleh tiga peserta," sambung Reyhan dengan wajah semakin gelap. "Kalau cerita ini sampai menyebar keluar, kita bakal jadi bahan tertawaan seluruh Akademi Tempur Garuda."Di sudut tenda, Rio yang sedang mengoleskan obat pada pergelangan kakinya langsung mendecak pelan. Ia menoleh ke arah keduanya lalu menyeringai tipis. "Kalian lucu juga," ujarnya santai sambil melanjutkan pengobatan. "Lebih dari seratus orang gagal menangkap tiga orang, lalu masih sibuk mencari alasan setelah kalah. Kalau sudah kalah, ya akui saja kalah."Wajah Reyhan langsung berubah merah padam. "Kau..."Ia baru saja hendak melangkah maju ketika keributan tiba-tiba muncul dari pintu masuk tenda."Minggir! Beri jalan!""Ada korban cedera!"Beberapa petugas medis be

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 148

    Sorot mata Raka berubah semakin fokus. Raka segera mengikat seragam kamuflase yang basah kuyup itu pada ujung ranting panjang yang telah ia siapkan. Setelah semuanya selesai, paru-parunya mulai terbakar akibat kekurangan oksigen, sementara tekanan di dadanya semakin menyakitkan seolah akan meledak kapan saja.Meski kondisinya sudah mencapai batas, ia tetap memaksa dirinya bertahan di bawah permukaan air. Tubuhnya terus bergerak mengikuti arus sambil mendekati dinding batu di dekat tikungan sungai. Ia sedang mempertaruhkan segalanya pada satu kemungkinan kecil, yakni bahwa lawannya akan mempercayai ilusi yang baru saja ia siapkan.Ketika akhirnya mencapai posisi yang diinginkan, mata Raka langsung memancarkan ketegasan. Tanpa ragu, ia mengayunkan lengannya dan melempar ranting yang terikat seragam kamuflase itu ke tengah arus sungai.Ranting tersebut segera terseret arus deras, sementara seragam yang mengembang di permukaan tampak seperti seseorang yang sedang berjuang mati-matian agar

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 147

    Tatapan Raka langsung berubah, ia memahami maksud lawan. Orang itu tidak sedang berusaha membunuhnya sekarang. Ia kembali menggiringnya.Setiap peluru ditembakkan seperti tongkat pengarah yang memaksa Raka bergerak ke jalur tertentu. Jika ia mencoba keluar dari jalur tersebut, peluru berikutnya akan langsung memaksanya kembali. Situasinya benar-benar menyerupai seekor anjing gembala yang sedang mengarahkan domba menuju kandang yang sudah ditentukan.Raka bahkan bisa membayangkan sosok itu berdiri di atas tebing sambil mengamati seluruh permainan melalui teropong berkekuatan tinggi. Mungkin saat ini pria tersebut sedang menikmati semua ini dengan senyum tipis yang penuh rasa percaya diri.Pemikiran itu membuat dada Raka semakin berat. Situasi seperti ini tidak boleh dibiarkan berlangsung terlalu lama. Selama hujan masih turun, ia masih memiliki sedikit perlindungan. Namun begitu cuaca membaik dan debit air mulai menurun, dirinya akan kehilangan satu-satunya keuntungan yang tersisa.Saa

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 146

    Hujan deras terus mengguyur tanpa henti, sementara air dingin mengalir di wajahnya hingga bercampur dengan lumpur. Meski tubuhnya nyaris membeku, otaknya justru bekerja pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Melarikan diri bukan pilihan yang mudah. Area terbuka di sekelilingnya hampir tidak menyediakan perlindungan yang layak. Jika ia bangkit dan berlari, dirinya hanya akan berubah menjadi sasaran bergerak bagi penembak jitu yang bersembunyi di kejauhan. Menunggu juga bukan solusi, karena lawan tampak memiliki kesabaran luar biasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan terburu-buru menyerang.Situasi itu menyerupai permainan berburu yang kejam. Sang pemburu telah menemukan mangsanya dan kini hanya menunggu kesalahan pertama terjadi.Raka menarik napas perlahan sambil memaksa Kemampuan Deteksi Ancaman dari Bloodline Evolution bekerja hingga batas maksimal. Seluruh fokusnya diarahkan untuk melacak sumber ancaman yang terus menguncinya dari kejauhan.Beberapa detik kemudian

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 145

    Perasaan tersebut membuat Raka teringat pada mangsa yang sedang diawasi predator puncak. Meskipun belum diserang, ancaman kematian sudah terasa begitu dekat hingga setiap saraf tubuh menegang tanpa sadar.Ia tidak boleh terus berada di sini. Semakin lama bertahan, semakin besar peluang lawan menguasai situasi.Karena itulah Raka segera mengambil keputusan. "Kita pergi sekarang!"Tatapannya tetap menyapu hutan yang tertutup tirai hujan, sementara seluruh otot tubuhnya bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa muncul kapan saja.Tetap bertahan di tempat berarti menyerahkan nyawa begitu saja.Raka langsung mengambil keputusan. Satu-satunya peluang untuk keluar dari situasi ini adalah terus bergerak dan melepaskan diri dari area yang sudah berada dalam jangkauan lawan."Ikuti aku! Jangan bergerak lurus!" lirihnya sambil menarik Bara dan berlari ke arah berlawanan dari lokasi sosok misterius itu menghilang.Keduanya segera menerobos hutan yang diguyur hujan deras. Lumpur licin memb

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 66

    Reyhan dan Damar berdiri pucat dengan ekspresi seperti baru melihat sesuatu yang tidak masuk akal. Tatapan mereka pada Raka perlahan berubah dibayangi rasa ketakutan samar yang sulit dijelaskan. Karena di mata mereka saat ini, Raka bukan hanya kuat. Mentalnya juga berbeda dari manusia biasa.Di sis

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 62

    Kalau Raka benar-benar mati atau gagal total, dia tidak perlu menghadapi taruhan memalukan itu lagi.Di pusat komando, Arman akhirnya tidak bisa diam lagi. Pria itu langsung meraih mikrofon komunikasi.“Raka Mahendra!” Suaranya mengguncang seluruh lapangan latihan. “Aku perintahkan kau segera kemba

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 61

    Tepat pada saat itu, suara mekanis dingin kembali menggema di dalam benaknya.[Ding!][Pengguna berhasil menunjukkan prinsip: “Tidak meninggalkan rekan di medan berbahaya.”][Evaluasi keberanian dan tanggung jawab meningkat drastis.][Hadiah spesial diberikan: Military Climbing Mastery][Proses sin

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 58

    Di layar drone pusat komando, dua titik penanda terlihat sangat jelas. Titik merah milik Surya melesat jauh di depan. Sedangkan titik biru milik Raka tertinggal cukup jauh di belakang. Jarak mereka terus melebar.Kerumunan langsung pecah oleh tawa dan ejekan.“Hahaha! Raka langsung ketahuan level a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status