LOGIN“SEMUA DIAM!”
Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.
Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Halim, instruktur kepala kamp pelatihan siswa baru Akademi Tempur Garuda.
Refleks Raka memalingkan wajahnya ke arah suara itu. Kapten Vargos yang berdiri di sampingnya hanya menatap dengan datar. Seolah suara teriakan itu sudah biasa ia dengar setiap saat.
“Aku tahu banyak dari kalian tidak puas,” suaranya berat dan dingin, menekan suasana dalam sekejap. “Kalian merasa diperlakukan tidak adil. Merasa aturan akademi terlalu berlebihan. Bahkan ada yang ingin mengumpat sejak tadi.”
Tatapannya bergerak perlahan menelusuri wajah-wajah muda di hadapannya. “Tapi buang semua emosi tidak berguna itu!”
Ia melangkah maju satu langkah, lalu menghentakkan sepatu botnya ke lantai logam. “Sejak kalian masuk ke tempat ini, kalian bukan lagi siswa manja yang hidup nyaman di luar sana, kalian adalah prajurit!”
Suasana langsung berubah sunyi.
“Di akademi ini, tidak ada keadilan. Hanya ada yang kuat dan yang tersingkir. Tidak ada alasan, hanya perintah!”
Nada suaranya tetap datar, tetapi justru karena itu tekanan yang muncul terasa semakin berat.
Raka memperhatikan pria itu tanpa berkedip. Aura yang dimiliki instruktur tersebut berbeda dari yang lain. Sorot mata yang tajam, posturnya stabil, dan setiap gerakannya terasa penuh tekanan seperti seseorang yang benar-benar pernah berada di medan tempur.
“Sekarang, penilaian pertama akan dimulai.” Arman berhenti sejenak, membiarkan suasana menegang sebelum kembali membuka mulut. “Lari lima kilometer!”
Beberapa mahasiswa langsung mengangkat kepala.
“Setiap orang wajib membawa ransel seberat tiga puluh kilogram dan menyelesaikan lintasan dalam waktu tiga puluh menit.”
Tatapannya menyipit tipis. “Mereka yang gagal, atau berada di seratus peringkat terbawah, akan langsung dieliminasi!”
Keributan langsung pecah di tengah kerumunan.
“Apa-apaan itu?!”
“Tiga puluh kilo sambil lari lima kilometer?!”
“Ini mau latihan atau bunuh orang?!”
Wajah banyak siswa langsung berubah pucat. Sebagian mulai mengeluh, sementara yang lain terlihat panik menghitung kemampuan fisik mereka sendiri.
Namun Arman hanya mencibir dingin, sama sekali tidak peduli dengan protes yang muncul. “Kalian pikir musuh akan peduli apakah kalian siap atau tidak?”
Tak ada yang berani menjawab.
BRUK! BRUK!
Puluhan ransel militer dilempar ke depan barisan.
Pandangan Arman menyapu para siswa. “Angkat ransel itu di punggung kalian.”
Banyak siswa langsung oleng begitu mencoba mengangkatnya. Ada yang hampir jatuh, ada juga yang mengumpat pelan sambil memegangi pundak mereka yang terasa tertarik oleh beban berat tersebut.
Kapten Vargos tersenyum melihat kerumunan siswa yang mulai berlatih, lalu ia berkata dengan suara datar dan tenang. “Majulah, pewaris Mahendra.”
Raka berjalan maju tanpa bicara. Tangannya meraih satu ransel hitam di depannya, lalu langsung mengangkatnya ke bahu dalam satu gerakan tenang. Beban berat itu langsung terasa menekan otot tubuhnya. Tiga puluh kilogram jelas bukan angka ringan. Apalagi untuk tubuhnya yang sebelumnya bahkan nyaris hancur setelah insiden tadi malam.
Namun—
DEG!
Panas asing di dadanya kembali berdenyut.
Mata Raka sedikit menyipit. Tulisan merah transparan tiba-tiba muncul di sudut penglihatannya.
[Sinkronisasi tubuh aktif]
[Program optimalisasi fisik dasar dijalankan]
[Memulai penyesuaian otot dan kepadatan tulang…]
Raka langsung menahan napas.
Hangat asing mengalir dari dadanya, lalu menyebar cepat ke seluruh tubuh seperti arus panas yang bergerak di bawah kulitnya.
Ia bisa merasakan perubahan itu dengan jelas. Ototnya yang tadi tegang perlahan mengendur. Rasa pegal mulai memudar, sementara tenaga baru perlahan muncul dari dalam tubuhnya. Bahkan napasnya terasa jauh lebih stabil dibanding beberapa detik sebelumnya. Ransel yang awalnya terasa sangat berat kini seperti kehilangan sebagian tekanannya.
Krek~
Raka memutar lehernya pelan hingga suara retakan tulang terdengar samar. Tatapannya perlahan berubah lebih tajam. “Bagus…”
Kalau sistem ini benar-benar mampu memperkuat tubuhnya, berarti dirinya akhirnya memiliki sesuatu untuk bertahan hidup di akademi gila ini. Ia mengangkat kepala perlahan. Sorot matanya mengeras, sementara secercah cahaya samar mulai muncul jauh di kedalaman pupilnya.
Raka segera menoleh dan mendapati Arman telah berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Wajah komandan unit itu tampak jauh lebih serius daripada biasanya."Rio, Bara. Kembali ke barisan.""Siap!"Keduanya spontan memberi hormat sebelum berlari meninggalkan lokasi tanpa berani bertanya lebih jauh.Kini hanya Raka dan Arman yang masih berdiri di depan gerbang kamp."Komandan Unit." Raka merapatkan tubuh lalu memberi hormat dengan sikap sempurna.Arman tidak langsung berbicara. Tatapannya menyapu Raka dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang memastikan sesuatu. Di balik sorot matanya tersimpan rasa bangga, harapan, dan sedikit kepuasan yang nyaris tak terlihat.Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas dokumennya lalu menyerahkannya kepada Raka.Pada bagian depan map itu tercetak huruf merah menyala—RAHASIA.Tatapan Raka langsung berubah serius. Ia membuka map tersebut dan menemukan sebuah dokumen dengan judul besar yang membuat detak jantungnya melonjak
Hari perpisahan tiba jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan semua orang.Tiga hari setelah pengumuman mobilisasi nasional, gelombang pertama daftar mutasi personel resmi diumumkan.Di dalam daftar itu, nama Tiara Adinata tercantum dengan jelas. Mahasiswi tahun kedua Universitas Garuda Nusantara.[Lokasi penugasan : Komando Garuda Selatan, Grup Angkatan Darat Pertama, Kamp Pelatihan Militer Mahasiswa.]Di depan gerbang kamp, sebuah kendaraan off-road militer dengan pelat Komando Garuda Selatan telah menunggu dalam keadaan mesin mati.Tiara sudah mengenakan seragam latihan baru. Rambut panjang yang dahulu menjuntai hingga pinggang kini dipangkas menjadi model pendek yang rapi. Kesan lembut yang biasanya melekat padanya memang berkurang, tetapi sebagai gantinya muncul aura tegas yang membuatnya terlihat semakin gagah dan percaya diri.Barang bawaannya pun sangat sederhana. Ia hanya memanggul sebuah ransel sebelum berdiri tenang di samping kendaraan.Raka, Bara, dan Rio datang untuk m
Universitas tak lagi menjadi tempat mengejar gelar atau membangun karier biasa. Mulai hari ini, kampus akan menjadi tempat mencetak calon-calon perwira dan personel tempur masa depan."Aku tidak bisa menerima ini!" Seorang mahasiswa baru kehilangan kendali hingga berteriak lantang. "Aku mati-matian belajar supaya bisa masuk universitas, bukan untuk dijadikan tentara!"Suara itu menjadi pemicu.Emosi yang sejak tadi dipendam langsung meledak dari berbagai penjuru lapangan."Benar! Kami adalah generasi penerus bangsa! Kenapa justru kami yang didorong ke garis depan?""Aku mau pulang! Aku tidak mau mati!""Ini tidak masuk akal!"Gelombang protes terus membesar.Para instruktur berusaha menenangkan keadaan sambil mengatur kembali barisan, tetapi kepanikan sudah terlanjur menyebar dan sulit dikendalikan.Saat suasana hampir berubah menjadi kacau, sorot mata Jenderal Guntur di layar mendadak mengeras. "Saya memahami bahwa sebagian dari kalian akan merasa takut. Sebagian lagi mungkin tidak s
Lapangan utama telah dipenuhi lautan manusia.Seluruh mahasiswa baru, para instruktur, hingga personel pendukung berdiri rapi di posisi masing-masing. Tidak ada satu pun yang berani berbicara karena suasana terasa begitu menyesakkan, hanya deru napas berat dan suara sirene darurat yang masih menggema dari kejauhan. Semua orang merasakan firasat yang sama, sesuatu yang besar akan segera terjadi.Di bagian depan lapangan, layar elektronik raksasa yang biasanya digunakan untuk menayangkan video motivasi tiba-tiba menyala.Lambang komando militer tertinggi Republik Nusantara Raya muncul memenuhi layar dengan kesan megah sekaligus penuh wibawa.Raka berdiri tegak di dalam barisan sambil mengernyitkan dahi.Di sampingnya, Bara dan Rio sama-sama terlihat tegang."Raka..." Rio merendahkan suaranya hingga nyaris tak terdengar. "Jangan-jangan... benar-benar mau pecah perang?""Diam." Instruktur yang berjaga di sisi barisan langsung menegurnya dengan suara dingin.Rio spontan menutup mulut dan k
Sejak kejadian di depan gerbang itu, Celine dan Kevin benar-benar menghilang tanpa jejak. Keduanya tak pernah lagi muncul di sekitar perkemahan, membuat kehidupan Raka kembali berjalan tenang. Meski begitu, ketenangan tersebut menghadirkan kebiasaan baru yang perlahan menjadi rutinitas.Karena adanya perubahan jadwal pelatihan militer, Tiara tidak lagi ditempatkan di kamp mahasiswa baru. Akademi menugaskannya ke pusat riset medis yang berada di belakang Komando Garuda Selatan untuk membantu sebuah proyek penelitian yang harus segera diselesaikan.Walau kesibukan mereka berbeda, tanpa pernah membuat janji secara langsung, keduanya seolah memiliki kesepahaman yang sulit dijelaskan.Setiap siang, Tiara selalu datang ke kantin mahasiswa baru pada waktu yang hampir sama. Ia akan mengambil dua porsi makanan, lalu duduk di dekat jendela sambil membuka buku dan menunggu seseorang datang.Begitu latihan selesai, Raka hampir selalu langsung menuju kantin. Tanpa perlu saling menyapa lebih dulu,
Begitu Raka melangkah masuk ke area perkemahan, Bara dan Rio langsung menyambarnya dari dua sisi."Raka! Mulai hari ini, Bang benar-benar saudara kandungku!" Rio nyaris melompat kegirangan. Wajahnya memerah karena terlalu bersemangat saat mengingat kejadian di depan gerbang."Acungan jari tengah tadi benar-benar karya seni! Puas banget lihat ekspresi dua bajingan itu! Mukanya sampai seperti habis menelan lumpur!" Bara ikut tertawa terbahak-bahak. Telapak tangannya yang besar terus menepuk bahu Raka hingga tubuh pemuda itu bergoyang."Kerja bagus! Perempuan seperti itu memang pantas ditinggalkan sejak lama. Sama sekali tidak layak dipertahankan."Raka hanya bisa tersenyum masam sambil berusaha melepaskan diri dari kepungan mereka. "Sudah, sudah... turunkan dulu. Kalian bereaksi berlebihan. Bukankah ini cuma urusan kecil?""Mana mungkin kecil?" Rio langsung memasang wajah serius. "Ini soal harga diri! Tapi satu hal yang paling penting, jangan lupa tagih kembali uangmu sampai lunas!"Rak
Celine terdiam sesaat. Semakin ia memikirkan perkataan Kevin, semakin masuk akal pula rasanya.Bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun Raka selalu berada di sekelilingnya. Ia selalu datang ketika dibutuhkan, selalu membantu tanpa banyak bicara, dan hampir tidak pernah benar-benar menolak apa pun y
Tubuhnya sedikit condong ke depan, lalu memanfaatkan berat badannya sendiri untuk menekan mata sekop ke dalam tanah. Setelah itu, ia menggunakan prinsip tuas untuk mengangkat gumpalan tanah dengan usaha seminimal mungkin.Sekilas terlihat lambat, namun energi yang dikeluarkan jauh lebih kecil diban
Jenderal tua itu mengetuk-ngetuk lembar laporan di depannya dengan ujung jari. "Profil psikologis anak ini bersih total tanpa noda. Tidak ada rekam jejak trauma, tidak ada anomali temperamen.""Bukankah itu indikator yang bagus, Jenderal?""Justru itulah letak masalah terbesarnya," tatapan mata san
Surya kemudian memiringkan kepala sedikit sambil tetap menatap Raka. “Aku berbeda dengan mereka, lintasan rintangan adalah duniaku.”Senyumnya perlahan melebar. “Dan kau… tidak akan mampu mengejarku bahkan kalau diberi kesempatan lari lebih dulu.”Surya menyeringai tipis sambil menatap Raka penuh p







