共有

Bab 7

作者: Imgnmln
last update 公開日: 2026-05-15 17:17:36

Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.

Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.

Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemancar itu menjauh.

BRAK!

Lampu merahnya akhirnya mati. Namun raut wajah pria tua itu justru semakin dingin. “Itu bukan alat komunikasi biasa,” ucapnya rendah.

Raka mengangkat pandangan. “Lalu?”

“Sinyal pelacak resonansi darah,” Darmawan menoleh ke arah lorong yang gelap di luar sana. Sorot matanya tajam seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. “Begitu alat itu aktif, semua pihak yang memburu garis darah Mahendra akan tahu lokasimu.”

Hening.

Raka menatap tubuh assassin yang terkapar beberapa detik, lalu kembali melihat tangannya sendiri yang sedikit gemetar. Barusan ia hampir mati, dan sekarang ada lebih banyak orang yang akan datang memburunya.

Panas di dadanya kembali berdenyut pelan. Raka langsung menegang, perlahan sensasi itu muncul lagi. Seperti sesuatu yang hidup di dalam tubuhnya perlahan membuka mata.

[RESPON ANCAMAN MENINGKAT]

Tulisan merah samar muncul sepersekian detik di sudut penglihatannya.

Raka membeku. “Apa lagi sekarang?”

Ia menoleh cepat ke kiri dan kanan, namun tidak ada siapa-siapa. Tulisan itu menghilang lagi sebelum sempat ia pahami.

Darmawan memperhatikan perubahan ekspresi pemuda itu tanpa berkata apa pun. “Kau melihat sesuatu?” tanyanya tiba-tiba.

Raka langsung mengangkat kepala, beberapa detik ia diam sebelum akhirnya berkata singkat. “Tidak.”

Darmawan menyipitkan mata tipis, seolah tahu itu bohong, tetapi tidak memaksa.

WIUUU~ WIUUU~

Alarm kembali meraung lebih keras.

BEEP! BEEP!

Tiba-tiba panel hologram di sisi ruangan menyala otomatis. Titik-titik merah bermunculan di peta akademi.

Raka mengernyit. “Apa itu?”

“Penyusup,” nada suara Darmawan tetap tenang, tetapi tekanan di udara berubah lebih berat. “Mereka masuk lebih cepat dari perkiraanku.”

Tatapan Raka tertuju pada titik-titik merah yang bergerak menuju gedung utama dari berbagai arah. Dadanya terasa makin sesak. “Mereka mencariku?”

“Ya, seharusnya begitu,” Darmawan menatap lurus ke layar.

Kalimat itu membuat lorong terasa lebih dingin.

Raka perlahan mengepalkan tangan. Sampai sekarang ia masih belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Bloodline Signature yang dimaksud Darmawan, warisan, sistem aneh yang muncul di hadapannya, lalu… para assassin.

Semuanya datang terlalu cepat. Ia bahkan belum sempat memahami tubuhnya sendiri.

DEG!

Tiba-tiba panas di dadanya kembali berdetak.

Raka refleks mundur setengah langkah. “Apa yang terjadi padaku?”

Merasakan keanehan pada Raka, Darmawan akhirnya berjalan mendekat. “Biasakan dirimu, karena mulai saat ini hidupmu sudah berubah.”

Tatapan pria tua itu menusuk lurus ke mata Raka. “Sejak bloodline itu bangkit, kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi orang biasa.”

Hening kembali menyelimuti suasana.

Raka tidak langsung membalas, dirinya sadar bahwa Pria tua itu benar. Ia teringat kembali saat tubuhnya bergerak sendiri, saat dunia melambat di matanya. Saat serangan assassin terlihat jelas di matanya.

Darmawan kembali menatap layar hologram. “Kapten Vargos.”

Pintu koridor terbuka otomatis.

Vargos masuk cepat dengan beberapa anggota Pasukan Disiplin di belakangnya. “Seluruh lantai sudah diamankan, Direktur.”

“Korban?”

“Empat petugas luka ringan, dua penyusup berhasil kabur.”

Raut wajah Darmawan langsung mengeras. “Sekarang kau mengerti situasimu, anak muda?”

Raka hanya bisa terdiam.

“Bloodline milik keluargamu sudah aktif,” tatapan Darmawan menajam.

Kapten Vargos menyilangkan tangan di dada. “Kalau kau kembali ke Kelas Nol sekarang, kemungkinan hidupmu sampai besok pagi sangat kecil.”

Nada suaranya tetap datar, namun justru karena itu terdengar lebih serius.

Darmawan melangkahkan kakinya perlahan, ia berhenti tepat di depan Raka. “Tawaranku sebelumnya masih berlaku.”

Sorot mata Raka terangkat.

“Kau berada di bawah pengawasanku.” Darmawan melanjutkan dengan tenang. “Selama berada di Akademi Tempur Garuda, aku akan memastikan tak ada yang menyentuhmu sembarangan.”

“Sebagai gantinya?” tanya Raka pelan.

“Kau mengikuti aturan yang kubuat.”

Raka terdiam beberapa saat, ia memang ingin tahu tentang keluarganya. Namun, menerima tawaran itu berarti memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Tatapannya perlahan jatuh pada tubuh assassin yang terkapar di lantai. Kalau ia tetap sendirian, mungkin benar kata Darmawan, ia akan mati sebelum menemukan jawaban apa pun.

Raka menarik napas pelan. “Kalau aku ikut denganmu…” sorot matanya kembali naik. “Apa aku akan mendapatkan jawaban?”

Darmawan terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Tidak semuanya, tapi lebih banyak daripada jika kau mati malam ini.”

Raka menutup mata sesaat, lalu perlahan membukanya kembali. “Aku ikut.”

Kapten Vargos sedikit mengangkat alis.

Sementara Darmawan hanya mengangguk pelan, seolah memang sudah menduga keputusan itu sejak awal. “Bagus.”

***

Keesokan paginya.

Raka berjalan melewati lorong bawah tanah Gedung Pusat Akademi bersama Vargos. Tubuhnya sudah cukup pulih, meski rasa nyeri masih terasa jelas setiap kali bergerak terlalu cepat. Namun dibanding rasa sakit, kepalanya jauh lebih kacau. Dan sekarang dirinya berada di bawah pengawasan langsung Direktur Akademi.

Tok. Tok. Tok.

Langkah sepatu Vargos menggema di lorong logam panjang. Tak banyak percakapan terjadi sejak mereka keluar dari Ruang Garuda.

Raka sempat beberapa kali mencoba memunculkan tulisan merah yang tadi muncul di depan matanya. Namun tak ada reaksi, seolah semua itu tak pernah terjadi.

Apa semalam cuma halusinasi, atau mimpi? Tidak.

Raka langsung membantah pikirannya sendiri. Ia masih bisa merasakan panas itu. Masih ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhnya.

Mereka berhenti di depan gerbang baja raksasa.

Di atasnya terdapat lambang Garuda hitam dengan beberapa simbol Etherion yang samar menyala merah.

Vargos menempelkan kartu akses ke panel.

TING.

Gerbang perlahan terbuka.

KRRRRK—

Udara panas langsung menerpa dari dalam.

Raka sedikit menyipitkan mata.

Di balik gerbang itu terbentang area luas menyerupai fasilitas pelatihan tempur. Dinding baja hitam menjulang tinggi, sementara jalur-jalur energi merah mengalir di lantai seperti pembuluh darah raksasa. Beberapa arena latihan berdiri di berbagai sisi ruangan. Aura Etherion di tempat itu jauh lebih padat dibanding area lain akademi.

Dan tepat saat Raka melangkah masuk—

DEG!

Panas di dadanya kembali meledak, tubuhnya langsung menegang. “Apa—?!”

Suara dingin dan asing tiba-tiba bergema di benaknya.

[Lingkungan Etherion tingkat tinggi terdeteksi]

Raka membeku. Di depan matanya, garis-garis cahaya merah mulai muncul perlahan.

[Persyaratan sinkronisasi terpenuhi]

[Warisan Mahendra Tahap Awal—Aktivasi Dimulai]

Mata Raka melebar tipis. Tulisan itu terus bergerak, lebih jelas dibanding sebelumnya.

[Memindai kondisi tubuh pewaris…]

[Jalur nadi rusak ditemukan]

[Resonansi darah aktif]

[Memulai rekonstruksi dasar]

DEG! DEG! DEG!

Jantung Raka berdetak semakin keras. Rasa panas menyebar cepat ke seluruh tubuhnya. Ia refleks mundur setengah langkah sambil memegang dada.

Vargos langsung menoleh. “Ada apa?”

Namun Raka tak menjawab, tatapannya terpaku pada tulisan merah yang terus memenuhi penglihatannya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Bangkitnya Sampah Grade E   BAB 9

    “Semua bersiap!”Suara berat itu kembali menggema melalui pengeras suara, menghantam seluruh area hingga telinga para siswa berdengung.“Lari lintas medan bersenjata sejauh lima kilometer… Mulai sekarang!”Begitu perintah dijatuhkan, para instruktur di barisan depan langsung bergerak tanpa memberi waktu sedikit pun untuk bersiap. Langkah mereka cepat dan stabil, memimpin jalur lari seperti kawanan predator.Para siswa sempat terpaku sepersekian detik sebelum akhirnya ikut berlari dalam kekacauan.“Cepat bergerak! Kalian belum makan, hah?!”“Sepuluh persen terakhir langsung tereliminasi! Tidak ada makan malam untuk sampah yang tertinggal!”Teriakan para instruktur terus mengguncang lapangan, membuat para siswa yang baru memasuki Akademi Tempur Garuda itu akhirnya memahami seperti apa kerasnya kehidupan militer di Republik Nusantara Raya. Lari baru dimulai beberapa menit, tetapi penderitaan sudah terasa jelas.Ransel berat di punggung mereka terus menghantam tubuh setiap kali langkah di

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 8

    “SEMUA DIAM!”Tiba-tiba, suara menggelegar meledak di tengah arena, langsung menarik perhatian seluruh siswa baru.Seorang pria bertubuh tegap berdiri di depan barisan. Kulitnya gelap, rahangnya keras, dan sorot matanya tajam seperti bilah pisau yang menyapu kerumunan tanpa jeda. Namanya Arman Halim, instruktur kepala kamp pelatihan siswa baru Akademi Tempur Garuda.Refleks Raka memalingkan wajahnya ke arah suara itu. Kapten Vargos yang berdiri di sampingnya hanya menatap dengan datar. Seolah suara teriakan itu sudah biasa ia dengar setiap saat.“Aku tahu banyak dari kalian tidak puas,” suaranya berat dan dingin, menekan suasana dalam sekejap. “Kalian merasa diperlakukan tidak adil. Merasa aturan akademi terlalu berlebihan. Bahkan ada yang ingin mengumpat sejak tadi.”Tatapannya bergerak perlahan menelusuri wajah-wajah muda di hadapannya. “Tapi buang semua emosi tidak berguna itu!”Ia melangkah maju satu langkah, lalu menghentakkan sepatu botnya ke lantai logam. “Sejak kalian masuk ke

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 7

    Di depan pintu Ruang Garuda, tubuh assassin terakhir tergeletak tak bergerak. Tapi pemancar merah di tangannya masih berkedip.Raka menatap benda itu dengan napas berat. Panas asing di dalam tubuhnya belum benar-benar mereda sejak pertarungan tadi.Darmawan berjalan mendekat, lalu menendang pemancar itu menjauh.BRAK!Lampu merahnya akhirnya mati. Namun raut wajah pria tua itu justru semakin dingin. “Itu bukan alat komunikasi biasa,” ucapnya rendah.Raka mengangkat pandangan. “Lalu?”“Sinyal pelacak resonansi darah,” Darmawan menoleh ke arah lorong yang gelap di luar sana. Sorot matanya tajam seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. “Begitu alat itu aktif, semua pihak yang memburu garis darah Mahendra akan tahu lokasimu.”Hening.Raka menatap tubuh assassin yang terkapar beberapa detik, lalu kembali melihat tangannya sendiri yang sedikit gemetar. Barusan ia hampir mati, dan sekarang ada lebih banyak orang yang akan datang memburunya.Panas di dadanya kembali berdenyut pelan. Ra

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 6

    Pilihan Ketiga.TING!Jam digital di dinding tiba-tiba berubah angka.00:59Ruangan Garuda tenggelam dalam cahaya redup. Pintu baja utama tetap terkunci rapat, sementara monitor di dinding menampilkan tiga sosok bertopeng yang bergerak cepat di koridor luar.Langkah mereka tenang, bahkan terlalu tenang untuk orang yang datang membunuh.Raka berdiri beberapa meter dari meja Darmawan. Bahunya rileks, lutut sedikit menekuk, napasnya teratur. Namun sorot matanya tak lepas dari layar. “Siapa mereka?” tanyanya singkat.Darmawan menyandarkan punggung ke kursi. “Orang-orang yang lebih cepat mencium darah daripada anjing perang.”Tatapan Raka tak berubah. “Aku menanyakan nama.”“Kalau mereka berhasil membunuhmu, nama tak penting.”TING!00:42Suara logam bergesek terdengar dari luar.KRRRK~Salah satu assassin sedang memotong panel kunci pintu dengan pisau Ether. Percikan biru memancar di layar monitor.Raka melirik Darmawan. “Anda bisa menghentikan ini.”“Aku juga bisa memberimu kursi dan teh

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 5

    Ruangan itu tenggelam dalam sunyi.Hanya dengung halus proyektor hologram yang masih terdengar, memantulkan cahaya kebiruan ke seluruh ruang.Di udara, satu nama tetap menyala.Tatapan Raka terpaku pada tulisan itu. Dadanya naik turun perlahan, namun matanya tak berkedip sedikit pun.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun ia hidup dengan satu keyakinan mutlak—kedua orang tuanya telah mati… atau dibungkam untuk selamanya.Kini, satu kata sederhana meruntuhkan seluruh keyakinan yang ia pegang selama ini.Hilang.“Duduk.”Suara Darmawan kembali terdengar rendah dan penuh tekanan. Membawa tekanan alami dari seseorang yang terlalu lama terbiasa memerintah.Raka mengalihkan pandangan dari layar, lalu menatap pria tua itu tanpa banyak ekspresi. “Aku lebih suka berdiri.”Sudut bibir Darmawan bergerak tipis. “Keras kepala, sama seperti ayahmu.”Raka tetap tak bergeming. Ia kemudian berkata dengan tenang, tetapi tajam. “Aku tidak datang ke sini untuk mendengar cerita lama. Aku ingin jawaban.”Beberapa de

  • Bangkitnya Sampah Grade E   Bab 4

    WIUUU~ WIUUU~Sirene darurat meraung panjang, menggema ke seluruh area belakang Akademi Tempur Garuda. Lampu merah berkedip cepat di sepanjang lorong, mewarnai dinding kusam Asrama Kelas Nol dengan nuansa bahaya yang mencekam.Koridor itu hancur berantakan.Retakan menjalar di tembok, beberapa pintu kamar copot dari engsel dan tergeletak miring. Darah tercecer di lantai, sementara debu tipis masih melayang di udara.Brama, senior plontos yang tadi paling garang, kini tertanam setengah badan di dinding. Wajahnya remuk, mulutnya penuh darah, tubuhnya tak bergerak sedikit pun.Dua senior lain bernasib tak jauh berbeda. Satu orang memegangi lengan yang patah sambil merintih pelan, sedangkan yang lain merangkak mundur dengan tatapan penuh teror, napasnya kacau.Pintu-pintu kamar terbuka satu per satu.Para penghuni Kelas Nol keluar dengan wajah tegang. Ada yang tak percaya, ada yang ketakutan, ada pula yang hanya membisu.Di tengah lorong berdiri seorang pemuda dengan napas tenang.Raka Ma

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status