تسجيل الدخولFajar menyingsing di ufuk ketika di gerbang utama Kota Tianyu, seratus ribu pasukan berbaris rapi dalam formasi yang membentang sejauh mata memandang. Bendera-bendera naga kekaisaran berkibar di atas mereka, dan genderang perang ditabuh dengan irama yang menggetarkan dada. Suaranya bergema ke seluruh penjuru kota dan menjadi panggilan pada setiap warga untuk bangkit dan menyaksikan sejarah yang sedang ditulis.Penduduk Kota Tianyu memadati pinggir jalan. Mereka berdiri berdesakan, beberapa di antaranya naik ke atap-atap rumah untuk mendapatkan pemandangan yang lebih baik. Anak-anak melambai-lambaikan tangan mereka. Para ibu menangis, ia tahu bahwa di antara prajurit yang berbaris itu ada putra-putra mereka yang mungkin tidak akan pernah kembali lagi."LIHAT! ITU JENDERAL MUDA XIAO FAN!""Dia yang memimpin divisi depan!""Katakan pada suamiku di medan perang nanti! Katakan aku mencintainya!""Kembalilah dengan selamat! KALIAN SEMUA HARUS KEMBALI DENGAN SELAMAT!"Xiao
Malam harinya, perkemahan militer di pinggiran Kota Tianyu dipenuhi oleh api unggun yang menyala redup. Para prajurit tidur dengan gelisah di tenda-tenda mereka, tapi ada juga beberapa yang tidak bisa tidur sama sekali karena tahu bahwa besok mungkin adalah hari terakhir mereka di dunia ini.Lao Chen baru saja menyelesaikan tugasnya. Sebagai kepala juru masak, ia bertanggung jawab untuk memasak seratus ribu porsi makanan untuk para prajurit. Dan dengan bantuan puluhan asisten yang ia latih sendiri, ia berhasil melakukannya. Keringat masih membasahi dahinya ketika ia berjalan melewati tenda-tenda menuju sebuah batu besar di tepi perkemahan.Xiao Fan duduk di sana sendirian. Ia menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit malam. Tangannya terlipat di atas lututnya, dan Pedang Bintang Jatuh tersandar di sampingnya.Lao Chen mendekat dengan langkah pelan sembari membawa dua cangkir teh hangat di tangannya. "Tuan Muda. Udara malam ini lumayan dingin. Hamba bawakan teh un
Dengan deklarasi perang yang sudah diumumkan secara resmi dan mobilisasi pasukan yang dimulai di seluruh kekaisaran, Xiao Fan mulai mengumpulkan orang-orang yang akan bertarung di sisinya. Ia berdiri di sebuah halaman luas di kompleks yang menjadi markas besar militer yang terletak di pinggiran Kota Tianyu. Di sinilah ia akan membentuk divisinya.Wei Lian adalah yang pertama tiba. Gadis berambut perak itu berjalan melewati gerbang dengan pedang tipisnya tersarung di pinggang. Posturnya tegak, matanya menatap sedingin es. Tapi ada tatapannya sudah tak sedingin dulu."Aku akan bergabung sebagai komandan kavaleri," katanya singkat ketika berdiri di hadapan Xiao Fan. "Pasukan berkuda Klan Wei sudah siap. Kami akan memimpin serangan-serangan cepat ke jantung pertahanan musuh."Xiao Fan mengangguk. "Bagus. Gunakan keunggulan mu untuk melemahkan musuh-musuh kita."Wei Lian membalas dengan anggukan singkat. Lalu ia berjalan ke sudut halaman di tempat para prajurit kavaleri Klan W
Ultimatum dari Kaisar Xiyuan tiba di Kota Tianyu tiga hari kemudian. Ketika seorang utusan pria tinggi berjubah merah dengan wajah arogan dan langkah yang dibuat-buat angkuh memasuki ruang singgasana dengan iringan dua belas pengawal pribadi. Ia berjalan melewati para pejabat yang berdiri di kedua sisi, dagunya terangkat tinggi seolah-olah ia bukan sedang berada di istana kekaisaran lain, melainkan di rumahnya sendiri."Yang Mulia Kaisar Tianyu," Pria itu memulai dengan suara lantang tanpa sedikit pun kerendahan hati. "Aku datang membawa pesan dari Kaisar Xiyuan, Penguasa Agung Kekaisaran Xiyuan yang Jaya."Kaisar Tianyu duduk di singgasananya ketika ekspresinya tenang dan sulit dibaca. "Bacakan." Katanya dengan dingin dan juga penuh tekanan.Utusan itu membuka gulungan merah di tangannya dan mulai membaca."Atas nama Kaisar Xiyuan, Penguasa Agung Kekaisaran Xiyuan, kepada Kaisar Tianyu." Suaranya menggema di seluruh ruang singgasana, didengar oleh puluhan pejabat, jender
Berita tentang Mo Qian dan penangkapan Menteri Han menyebar keseluruh penjuru negri. Dan dalam waktu tiga hari saja, berita itu telah menyeberangi perbatasan barat dan sampai ke telinga Kaisar Xiyuan.Di sebuah aula raksasa dengan pilar-pilar emas dan dinding-dinding yang dihiasi ukiran naga, Kaisar Xiyuan duduk di singgasananya. Ia mengenakan Jubah merah tua ga g berkibar-kibar meskipun tidak ada angin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah laporan dari mata-mata mereka yang masih tersisa di Kota Tianyu. Dan semakin lama ia membaca laporan otu, semakin merah pula wajahnya."Mo Qian dieksekusi di depan umum.""Menteri Han ditangkap dan dieksekusi.""Semua bukti pengkhianatan termasuk surat-surat dari Kaisar Xiyuan sendiri telah diserahkan kepada Kaisar Tianyu.""Rencana untuk melemahkan Tianyu dari dalam telah gagal total."Kaisar Xiyuan meremas laporan itu dengan tangannya. Wajahnya merah padam. "Mo Qian... Dasar ular tua bodoh! Aku sudah memberinya semua yang ia butu
Keesokan paginya, Xiao Fan dibangunkan oleh suara ketukan keras di pintu kamarnya. Begitu ia membuka pintu, terlihatlah seorang pengawal istana yang berdiri dengan napas tersengal-sengal."Jenderal Muda Xiao Fan! Perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar! Anda diminta hadir di istana segera!"Xiao Fan tidak perlu bertanya untuk apa ia dipanggil , karena ia sudah tahu bahwa hari ini adalah giliran Menteri Han.---Ketika Xiao Fan tiba di kediaman Menteri Han yang merupakan rumah mewah dengan taman luas dan pagar batu berukir dengan puluhan pengawal istana yang sudah mengepung seluruh area. Mereka bergerak cepat dan senyap ketika memblokir semua pintu keluar dan memastikan tidak ada yang bisa melarikan diri.Di dalam, Menteri Han sedang sarapan. Pria berusia lima puluhan dengan janggut tipis dan mata yang selalu tampak licik itu duduk di meja makannya yang panjang, ia mengarahkan sendok sup ke mulutnya ketika pintu depan rumahnya didobrak. Pengawal istana menerobos masuk d
"Xiao Ba, turun ke arena sekarang."Suara Kaisar Tianyu menggema ke seluruh tribun ketika perintah itu ia katakan.Xiao Ba berdiri di tribun Klan Xiao. Wajahnya semakin memerah karena menahan luapan emosi. Dan saat ia melangkah turun dari tribun, gerakannya semakin cepat.Langkah kakinya
(Note: pada bab ini, author memutuskan untuk mengubah sedikit jurus naga Yin-Yang Xiao Fan yang ia ciptakan pada bab 59)Xiao Fan melesat ke depan dengan kecepatan yang meningkat drastis setelah terobosan keduanya. Pedangnya mengayun ke arah bahu Xiao Ren, tapi Xiao Ren menangkisnya. Namun kali in
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







