LOGINXiao Fan duduk bersila di depan Roh Pohon Kuno yang semakin transparan. Botol kristal berisi Getah Kehidupan terakhir ada di tangannya. Getah itu berdenyut pelan. Getah itu hangat. Getah itu hidup.Ia menyalakan getah itu dengan Api Suci Nirwana sebagai katalisnya. Api putih keemasan menyala di telapak tangannya. Api itu menyentuh getah di dalam botol. Getah itu bereaksi. Cahaya hijau menyala dari dalam botol. Cahaya itu tidak membakar. Cahaya itu menumbuhkan. Cahaya itu tidak melahap. Cahaya itu menghidupkan.Api hijau lahir dari getah itu. Api itu melayang ke udara. Api itu berputar pelan di atas telapak tangan Xiao Fan. Api itu berdenyut seperti jantung yang baru lahir."Api Kehidupan Hijau," bisik Xiao Fan.Untuk pertama kalinya dalam sejarah yang tercatat, seorang manusia memiliki tiga api primordial dalam satu tubuh. Emas untuk memurnikan. Ungu untuk melahap. Hijau untuk menyembuhkan.Api Kehidupan Hijau masuk ke dalam tubuh Xiao Fan. Api itu bergabung dengan dua
Roh Pohon Kuno menjerit. Suaranya memecah keheningan hutan. Tiga segel gelap yang tertanam di akar-akarnya menyala dengan cahaya merah kehitaman. Segel itu berdenyut cepat. Segel itu panas. Segel itu akan meledak.Ledakan pertama menghantam akar-akar pohon. Seluruh hutan bergetar hebat. Tanah berguncang. Pohon-pohon raksasa bergoyang. Daun-daun berjatuhan seperti hujan. Xiao Fan yang masih terikat oleh sisa-sisa akar pelindung dari ujian sebelumnya merasakan panas yang membakar tubuhnya. Kulitnya melepuh. Darahnya mendidih. Namun ia tidak melarikan diri."Tuan!" Lei berteriak dari kejauhan. Tubuhnya menegang. Ia melompat ke arah kolam. "Tuan, keluar dari sana!"Xiao Fan tidak mendengar. Ia mengerahkan seluruh kekuatan ketiga apinya. Api Suci Nirwana menyala di tangan kanannya. Api itu memurnikan energi gelap yang menyebar di udara. Api Kegelapan Nether berkobar di tangan kirinya. Api itu melahap kutukan yang merembes ke dalam tanah. Api Kehidupan Hijau berdenyut di dalam dad
Roh Pohon Kuno melangkah mundur. Kedua tangannya terangkat. Tanah di bawah kaki Xiao Fan bergetar hebat. Dari dalam tanah, akar-akar raksasa mulai menjulang. Daun-daun berputar di udara. Akar dan daun itu saling melilit, membentuk sesosok makhluk yang menjulang tinggi. Lima meter. Tubuhnya terbuat dari akar yang saling terkait. Matanya menyala hijau. Aura yang memancar darinya begitu kuat hingga Xiao Fan merasakan lututnya hampir menyerah."Ujian ketiga adalah ujian kekuatan," kata Roh itu. Suaranya menggema. "Kau harus bertarung melawanku. Bukan melawan ilusi. Bukan melawan bayangan. Melawan aku, dengan seluruh kekuatan yang kau miliki. Jika kau menang, Api Kehidupan Hijau akan menjadi milikmu. Jika kau kalah, kau akan mati di sini."Xiao Fan menatap manifestasi Roh itu. Tubuhnya masih lemah. Sepuluh tahun umurnya baru saja hilang. Kakinya gemetar. Namun ia tidak mundur. Ia menegakkan punggungnya. Ia menyalakan ketiga apinya secara bersamaan. Api Suci Nirwana menyala di tangan
Xiao Fan berdiri kaku di antara Xuan'er dan ayahnya. Tangannya gemetar. Napasnya memburu. Untuk beberapa saat yang terasa seperti selamanya, ia hanya bisa menatap kedua orang yang paling ia cintai di dunia ini. Xuan'er dengan senyumnya yang lembut. Ayahnya dengan mata yang penuh kasih sayang. Dan suara Roh Pohon Kuno terus menggema dari langit putih tanpa bentuk, menuntut agar ia membuat pilihan. Xuan'er melangkah maju. Gaun putihnya berkibar pelan meski tidak ada angin di tempat itu. Ia menatap Xiao Fan dengan suara yang tenang. "Kak Fan, kau harus memilih Ayah." Xiao Fan menoleh. Matanya terbelalak. "Xuan'er—" "Dengarkan aku." Xuan'er mengangkat tangannya. "Paman Xiao telah menemanimu sejak awal. Dia akan terus melindungimu. Dia adalah ayahmu. Dia adalah keluargamu." "Xuan'er, jangan—" "Itu tidak masuk akal!" Xiao Tianhe memotong. Suaranya keras. Ia melangkah maju dengan jubah birunya yang berkibar. "Kau adalah alasan Fan'er bertarung! Kau adalah alasan dia b
Roh Pohon Kuno mengangguk pelan. Ia mengangkat tangannya sekali lagi. Dan kali ini, tanah di bawah kaki Xiao Fan mulai bergetar. Dari dalam tanah, muncul sebuah kolam kecil berisi air yang sangat jernih. Begitu jernih hingga bisa memantulkan langit dan bintang-bintang."Ujian kedua adalah ujian pengorbanan," kata Roh itu. "Kau harus masuk ke dalam kolam itu dan menghadapi kenyataan yang paling kau takuti. Untuk lulus, kau harus rela mengorbankan sesuatu yang sangat berharga. Dan pengorbanan itu harus dilakukan dengan kesadaran penuh tanpa paksaan."Xiao Fan menatap kolam itu. Ekspresinya serius. Lalu ia menoleh pada Lei. "Apa pun yang terjadi di dalam kolam itu, kau tidak boleh ikut campur. Ini adalah ujian yang harus kuhadapi sendiri."Lei mengangguk dengan berat. Jelas ia tidak suka membiarkan tuannya menghadapi bahaya sendirian. Tapi ia tahu ini bukan waktunya untuk berdebat. "Aku mengerti, Tuan. Tapi kalau Tuan tidak kembali sebelum matahari terbit...""Aku akan kemba
Xiao Fan melangkah masuk ke Hutan Cermin. Dan dunianya langsung berubah total.Hutan yang tadinya penuh dengan pohon-pohon hijau dan cahaya matahari kini berubah menjadi labirin tak berujung. Cermin-cermin raksasa menggantung di udara seperti bulan-bulan kecil. Masing-masing memantulkan sesuatu yang berbeda. Dan masing-masing bergerak seperti makhluk hidup.Cermin pertama menunjukkan dirinya saat masih menjadi pelayan dapur yang diinjak-injak. Ia melihat versi mudanya sendiri, yang kurus dan pucat, sedang membersihkan lantai sementara Chen dan pelayan lainnya menertawakannya. Cermin kedua menunjukkan Xiao Ren yang tertawa sambil menginjak-injaknya di alun-alun. Cermin ketiga menunjukkan Xuan'er yang terkapar dengan racun hitam menyebar di tubuhnya.Xiao Fan hampir kehilangan fokus. Kemarahan dan rasa sakit tiba-tiba membanjiri hatinya. Tangannya mengepal. Api Suci Nirwana dan Api Kegelapan Nether menyala dengan sendirinya.Tapi ia mengingat kata-kata Roh Pohon Kuno. "Semu
Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







