Share

Bab 89

Author: Kata Semesta
last update Huling Na-update: 2026-01-05 22:31:38

Skala berbaring di sisi Luina yang sudah tertidur lelap. Ia merapikan selimut yang sedikit tersingkap, memastikan menutupi tubuh Luina dengan sempurna.

Ia meraih tubuh Luina ke dalam pelukannya, satu tangan melingkar protektif di punggung, satu lagi bertumpu ringan di perutnya. Skala menghembuskan napas pelan, menempelkan dagunya di puncak kepala Luina.

Beberapa jam berlalu.

Hampir tengah malam, Skala terbangun oleh gerakan kecil di sisinya. Awalnya ia mengira hanya refleks biasa. Namun gerakan itu datang lagi—pelan, berulang, seolah seseorang gelisah mencari posisi nyaman.

Skala membuka mata.

Luina meringkuk, alisnya berkerut. Bibirnya bergerak pelan, mengeluarkan rintihan kecil yang tertahan.

“Hm… Mas…” rengeknya lirih, nyaris tak terdengar.

Matanya tetap terpejam.

Skala langsung siaga. Ia sedikit menegakkan tubuh, tangan kanannya mengusap lengan Luina dengan lembut.

“Sayang?” bisiknya. “Kenapa?”

Luina bergeser lagi, wajahnya sedikit meringis. Tangannya tanpa sadar meremas
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bangun, Suamiku! Mari Bercinta   Bab 93

    Skala berdiri di sisi ranjang periksa, posisinya sedikit condong ke depan. Kedua tangannya masuk ke saku celana, jelas menahan kecemasan. Pandangannya tak lepas dari setiap gerak dokter yang sedang memeriksa Luina. Luina berbaring setengah duduk, bantal menopang punggungnya. Meski berusaha terlihat tenang, jemarinya sesekali meremas ujung seprai. Dokter memasang alat pemeriksaan dengan teliti, matanya fokus pada monitor. Skala otomatis ikut menatap layar itu, alisnya sedikit berkerut. “Mas,” bisik Luina pelan, mencoba menenangkan. “Napas dulu…” Skala mengangguk tipis, lalu menghembuskan napas pelan. Namun matanya tetap waspada, mengikuti gerakan tangan dokter—dari pengaturan alat, ekspresi wajah, sampai jeda-jeda kecil yang membuat dadanya ikut menegang. Dokter sesekali mengetik, lalu kembali menatap layar. Skala menelan ludah. Tangannya keluar dari saku, refleks menggenggam sisi ranjang. “Pertama, saya ingin menenangkan dulu,” ucap dokter dengan nada tenang. “Detak jant

  • Bangun, Suamiku! Mari Bercinta   Bab 92

    Skala duduk di tepi tempat tidur, satu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya condong sedikit ke arah Luina. Tangannya mengelus rambut istrinya. Luina sudah tampak lebih segar, wajahnya tidak sepucat tadi, bahkan matanya berbinar kecil. “Mas,” ucap Luina ceria, menyandarkan punggungnya ke bantal. “Kalau nanti aku udah enakan… aku pengin ke mall.” Skala tersenyum. “Ke mall ngapain?” “Nggak ngapa-ngapain juga nggak apa-apa,” jawab Luina cepat. “Jalan aja. Lihat-lihat. Terus nonton bioskop.” Skala terkekeh kecil. “Bioskop? Duduk lama nanti capek.” “Kan bisa pilih kursi yang enak,” sahut Luina ngotot tapi manja. “Atau film yang santai.” Skala mengangguk, matanya hangat. “Yaudah. Kita atur. Pelan-pelan, nggak lama, dan Mas temenin terus.” Luina tersenyum lebar. “Janji?” “Janji,” jawab Skala tanpa ragu. Ponsel Skala yang tergeletak di nakas bergetar pelan. Sebuah notifikasi masuk. Skala melirik sekilas. Nama Pak Darwin muncul di layar, disertai pesan singkat. Pak Darwin: Pak Skala, s

  • Bangun, Suamiku! Mari Bercinta   Bab 91

    Axel menggebrak meja kerjanya keras. Berkas-berkas di atasnya bergetar, pulpen sampai terguling ke lantai. “Kurang ajar!” bentaknya penuh emosi. Tangannya mengepal kuat. “Tadi Pak Darwin jelas-jelas bilang proyek besar di tangan Skala itu mau dia batalin. Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?! Bahkan balik minta lanjutin kerja sama lagi!” Axel mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan amarah. “Harusnya gue yang bisa handle itu sendiri,” gumamnya kesal. “Kenapa Skala harus unggul dari gue terus sih?!” Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. Axel menoleh dengan wajah masih merah oleh emosi. Sarah melangkah masuk dengan senyum manis yang kontras dengan suasana ruangan. Dress di atas lututnya rapi, rambutnya tergerai sempurna. Di tangannya, sebuah tablet ia dekap santai. “Hai, calon suami,” godanya. Tatapan Axel langsung berubah dingin. Rahangnya mengeras. “Kamu ngapain ke sini?” ucapnya ketus. “Aku lagi nggak mau diganggu.” Sarah terkekeh kecil, sama sekali tidak tersingg

  • Bangun, Suamiku! Mari Bercinta   Bab 90

    Skala duduk di ruang kerja kecil apartemen, laptop terbuka di hadapannya. Layar menampilkan beberapa kotak wajah—para klien dari luar kota, grafik presentasi, dan satu wajah yang paling ia kenal, yaitu Axel. Suasana rapat berlangsung serius, pembahasan kontrak dan tenggat waktu mengalir rapi dari satu poin ke poin lain.“Untuk revisi terakhir, kita targetkan akhir minggu,” ucap Skala tenang, matanya fokus ke layar, tangannya sesekali menggeser touchpad.Tak jauh darinya, di sofa, Luina duduk bersandar, kaki dilipat. Ia bermain ponsel, sesekali tersenyum kecil membaca sesuatu. Awalnya semua terlihat biasa.Lalu wajah Luina berubah.Keningnya berkerut, tangannya berhenti bergerak. Ia menelan ludah berulang kali, dadanya terasa sesak. Bau kopi dari meja kerja Skala tiba-tiba menusuk hidungnya dengan tajam.Luina menutup mulutnya cepat.Skala menangkap gerakan itu dari sudut matanya. Alisnya mengerut, namun rapat masih berjalan.Luina berdiri tergesa. Satu tangan menutup mulut, tangan lai

  • Bangun, Suamiku! Mari Bercinta   Bab 89

    Skala berbaring di sisi Luina yang sudah tertidur lelap. Ia merapikan selimut yang sedikit tersingkap, memastikan menutupi tubuh Luina dengan sempurna. Ia meraih tubuh Luina ke dalam pelukannya, satu tangan melingkar protektif di punggung, satu lagi bertumpu ringan di perutnya. Skala menghembuskan napas pelan, menempelkan dagunya di puncak kepala Luina. Beberapa jam berlalu. Hampir tengah malam, Skala terbangun oleh gerakan kecil di sisinya. Awalnya ia mengira hanya refleks biasa. Namun gerakan itu datang lagi—pelan, berulang, seolah seseorang gelisah mencari posisi nyaman. Skala membuka mata. Luina meringkuk, alisnya berkerut. Bibirnya bergerak pelan, mengeluarkan rintihan kecil yang tertahan. “Hm… Mas…” rengeknya lirih, nyaris tak terdengar. Matanya tetap terpejam. Skala langsung siaga. Ia sedikit menegakkan tubuh, tangan kanannya mengusap lengan Luina dengan lembut. “Sayang?” bisiknya. “Kenapa?” Luina bergeser lagi, wajahnya sedikit meringis. Tangannya tanpa sadar meremas

  • Bangun, Suamiku! Mari Bercinta   Bab 88

    Skala melepas kancing jasnya dengan satu tangan seraya melangkah masuk ke unit apartemen. Sepatunya ia lepaskan asal di dekat pintu—kebiasaan yang jarang ia lakukan. Langkahnya terhenti. Di ruang tengah, Luina tertidur meringkuk di sofa. Selimut tipis menutupi setengah tubuhnya, sementara televisi masih menyala menampilkan acara yang entah sejak kapan tidak lagi ia tonton. Skala langsung melangkah mendekat. Ia berjongkok di samping sofa, menatap wajah istrinya lekat-lekat. Wajah Luina terlihat lebih pucat dari biasanya, alisnya sedikit berkerut bahkan saat tidur. Satu tangannya melingkar di perutnya, refleks protektif yang membuat dada Skala terasa ditarik pelan. “Kenapa tidur di sini, sih…” gumamnya lirih. Tangannya terangkat, menyibakkan anak rambut yang jatuh ke dahi Luina. Ia meraih remote, mematikan televisi. Pelan-pelan, Skala menyelipkan satu lengannya ke bawah bahu Luina, satu lagi menyangga kakinya. Saat tubuh Luina sedikit terangkat, ia bergumam kecil, kelo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status