Share

Bab 3

Penulis: Startrek007
last update Tanggal publikasi: 2026-05-26 14:06:01

Amara tersenyum sangat manis, membiarkan raut wajah Nadine mendadak berubah masam melihat kedatangannya di tengah halaman.

Sebenarnya, Amara bukan tandingan Nadine yang masih gadis dan sangat cantik.

Meski begitu, pesona Amara sebagai janda cantik berusia tiga puluh dua tahun itu, tetap menggoda.

Dia lantas melangkah, mendekati Arga dan Nadine dengan langkah anggun. Dia langsung menyodorkan dua kresek belanjaan besarnya ke arah Arga tanpa memedulikan tatapan permusuhan dari sang mahasiswi.

"Kebetulan banget kita ketemu di depan, Om. Boleh minta tolong bawain kresek belanjaan ini ke kamarku nggak? Lenganku udah pegal banget nenteng dari depan gang tadi."

Arga langsung mengambil alih dua kantong plastik tebal tersebut, lalu menatap janda pemilik butik itu sambil tersenyum ramah.

"Sini Om bawain sampai ke dalam kamar, Amara. Belanjaanmu lumayan banyak hari ini, borong baju seisi mall atau gimana nih?" canda Arga memecah kecanggungan.

Mendengar interaksi santai tersebut, Nadine refleks mendecak kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Mahasiswi kebidanan itu menghentakkan kakinya ke rumput basah, merasa posisinya sebagai wanita yang baru diselamatkan semalam mulai terancam.

"Ih, Mbak Amara manja banget deh pagi-pagi! Om Arga kan lagi sibuk nyiram tanaman, lagian dia juga masih harus nemenin aku ngobrol di sini."

Amara hanya terkekeh pelan mendengar omelan bernada cemburu dari gadis yang usianya beda sebelas tahun di bawahnya itu.

"Cuma minta tolong sebentar kok, Din. Masa bapak kos andalan kita keberatan ngebantuin janda lemah bawa belanjaan ke kamar?" balas Amara telak menggunakan nada elegan yang sulit dibantah.

Gara-gara terjebak di tengah situasi panas itu, Arga buru-buru melepaskan pelukan tangan Nadine dari pinggangnya secara halus.

"Om bantuin Amara sebentar ya, Din. Kamu masuk aja duluan ke kamarmu, awas nanti masuk angin lho berdiri terus di luar," bujuk pria paruh baya itu menengahi.

Nadine akhirnya melengos pergi menahan gondok yang luar biasa. Gadis bermanja itu berjalan cepat menuju lorong, sengaja membanting pintu kamarnya sendiri lumayan keras sebagai bentuk protes terang-terangan.

Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, lalu mengekor langkah anggun Amara menyusuri koridor menuju kamar nomor lima.

Kamar milik sang janda itu selalu terasa paling rapi dan wangi di antara semua penghuni Kos Melati. Aroma lavendel yang menenangkan langsung menyambut indra penciuman Arga saat dia meletakkan kantong kresek tersebut ke atas karpet bulu.

"Makasih banyak ya, Om Arga. Om duduk aja dulu di kursi itu, aku mau rapiin isi kreseknya sebentar," titah Amara seraya berjongkok membongkar barang bawaannya.

Sambil bersandar di bingkai pintu, Arga memperhatikan wanita dewasa itu menyusun beberapa potong pakaian baru. Amara memang terkenal sangat mandiri, tenang, dan tidak pernah menggoda menggunakan cara agresif seperti anak-anak kos lainnya.

Namun, janda cantik itu tiba-tiba berdiri memutar tubuhnya. Dia melangkah perlahan mendekati Arga, lalu menyodorkan selembar kaus oblong hitam yang masih tersegel plastik rapi.

"Ini khusus buat Om Arga. Kausnya tadi lagi ada diskon besar di mall, jadi aku iseng beli sekalian buat hadiah."

Arga menerima bungkus plastik itu dengan raut wajah kebingungan, menatap bergantian antara kaus baru tersebut dan senyum tulus Amara.

"Wah, repot-repot banget kamu beliin Om baju baru, Amara. Padahal kaus di lemariku masih banyak yang layak pakai kok."

Wanita dewasa itu menggeleng pelan, lantas memandangi bahu Arga dari atas sampai bawah menggunakan tatapan lekat yang mendebarkan.

"Kaus oblong yang Om pakai sekarang kelihatan makin sempit di dada, Om. Aku perhatikan fisik Om hari ini makin tegap dan berotot, jadi pasti butuh baju ukuran lebih besar biar nyaman bergeraknya."

'Buset, insting janda satu ini tajam banget kayak silet! Dia bisa langsung nyadar ada yang berubah dari badanku cuma lewat sekali lirik doang,' batin Arga kaget luar biasa menyadari betapa telitinya pengamatan wanita tersebut.

Belum sempat Arga mengucapkan terima kasih dengan layak, kenop pintu kamar Amara mendadak terbuka tanpa ketukan sama sekali.

Nadine nekat menerobos masuk memakai alasan yang terlihat sangat dibuat-buat. Mahasiswi itu memegang sebuah alat pemotong kuku kecil di tangan kanannya, sementara wajahnya dipasang dengan ekspresi sepolos mungkin.

"Mbak Amara, aku boleh pinjam gunting kuku punyamu nggak? Kuku kakiku mendadak panjang nih, takut nyakar kasur pas tidur nanti," ucap Nadine tanpa dosa.

Alih-alih menunggu jawaban sang pemilik kamar, mahasiswi itu malah sengaja berjalan lurus melewati Amara. Nadine langsung menempelkan tubuhnya sangat rapat ke lengan kiri Arga, seolah ingin memamerkan kedekatan mereka berdua.

"Eh, Om Arga belum selesai bantuinnya? Nanti habis ini temenin aku makan bubur ayam di depan gang ya, Om. Perutku masih lemes banget efek sakit semalam, butuh disuapin langsung sama Om."

Nadine sengaja mengeraskan volume suaranya saat mengucapkan kata 'sakit semalam'. Dia bahkan menekan dadanya ke lengan kokoh Arga secara berani demi meruntuhkan pertahanan moral bapak kosnya itu.

Melihat tingkah laku yang kelewat agresif tersebut, Amara menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wanita dewasa itu tersenyum elegan, namun matanya memancarkan aura intimidasi yang sangat tajam.

"Wah, Nadine ini beneran lagi sakit atau cuma cari-cari alasan biar bisa nempel terus sama penjaga kos kita ya? Kalau masih lemes, mending kamu tiduran aja di kasur biar nggak pingsan di jalan."

Sindiran berkelas dari Amara sukses membuat telinga Nadine memerah padam menahan kesal.

"Aku beneran masih sakit kok, Mbak! Makanya aku butuh perhatian ekstra dari Om Arga hari ini!" bantah Nadine keras kepala, makin mengeratkan pelukannya di lengan pria paruh baya itu.

Arga menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin kembali membasahi tengkuknya melihat persaingan sengit antara dua wanita berbeda generasi di depan matanya.

'Gila, hawa di ruangan ini mendadak lebih panas dari gurun pasir! Kalau aku salah ngomong sedikit aja, perang dunia ketiga bisa pecah di Kos Melati hari ini!' batin sang penjaga kos dipenuhi rasa panik.

Berusaha menetralisir keadaan, Arga hanya bisa tersenyum tipis menghadapi tingkah lucu kedua penghuni kosnya itu. Dia lantas melangkah mundur secara perlahan demi menjaga jarak sopan dari dekapan erat Nadine.

"Makasih banyak hadiah kaus barunya ya, Amara. Om bakalan pakai kaus ini besok pagi," ucap Arga berusaha terdengar senatural mungkin.

Pria itu kemudian menoleh ke arah Nadine, lalu mengusap bahu mahasiswi tersebut sekilas.

"Kamu tunggu aja di kamarmu, Din. Nanti Om beliin bubur ayamnya ke depan. Sekarang Om harus pamit ngecek jemuran di belakang dulu, takut pakaian anak-anak kos kehujanan kalau mendadak mendung."

Beralasan mengurus pekerjaan kos, Arga berjalan sangat cepat keluar meninggalkan kamar nomor lima tersebut. Dia setengah berlari menyusuri koridor sempit, mengembuskan napas lega karena berhasil lolos dari medan pertempuran batin para wanita itu.

Udara segar di halaman belakang langsung menyambut wajahnya. Area servis Kos Melati ini cukup luas, memuat jejeran tali jemuran, dua mesin cuci besar, serta rak tempat menyimpan alat-alat kebersihan.

Arga melangkah santai menuju pojok ruangan, lalu mulai merapikan deretan sapu lidi dan ember plastik yang posisinya berantakan tersenggol kucing liar.

Suasana tenang itu rupanya hanya bertahan sementara.

Telinga Arga yang kini sangat peka menangkap ketukan hak sepatu tinggi yang beradu nyaring dengan lantai keramik dari arah ujung lorong.

Sejurus kemudian, sosok Siska Wijaya muncul menenteng setumpuk dokumen tebal di pelukannya. Karyawan bank berusia dua puluh enam tahun itu tampil sangat rapi mengenakan kemeja sutra dan rok pensil ketat yang membalut kaki jenjangnya.

Wajah cantik Siska langsung tertekuk galak saat matanya menangkap keberadaan Arga di dekat rak ember. Gadis itu memicingkan matanya, bersiap meluncurkan rentetan omelan pedas yang sudah menjadi rutinitas wajibnya setiap pagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bapak Kos Kesayangan    Bab 16: Misi Darurat Karyawan Bank

    Selesai membersihkan selokan gang pada pukul setengah sepuluh pagi, Arga memilih tidak langsung pulang ke rumah kosnya.Dia duduk santai di pos ronda kompleks, menikmati segelas kopi hitam hangat bersama beberapa bapak-bapak warga sekitar yang ikut kerja bakti."Mantap bener kopi hitamnya ini, Pak RT. Bikin badan segar lagi setelah capek angkat beton," ujar Arga menyeruput kopinya pelan."Halah, tenaga sampeyan itu yang mantap, Pak Arga. Bahas masalah selokan sampai masalah desa tadi, sampeyan tetap kelihatan bugar," sahut salah seorang warga sambil menyulut rokoknya."Iya nih, Pak Arga. Rahasianya apa sih kok badan bisa mendadak jadi tegap kekar begini?" tanya warga lainnya penasaran."Waduh, nggak ada rahasia apa-apa, Mas. Cuma karena belakangan ini saya rajin olahraga angkat galon saja di kosan," jawab Arga berbohong demi menutupi rahasia Cincin Naga Tidur.Setelah puas mengobrol ngalor-ngidul membahas kondisi kebersihan lingkungan perumahan, Arga akhirnya

  • Bapak Kos Kesayangan   Bab 15: Pesona di Lokasi Kerja Bakti

    Mendengar gertakan Pak RT yang terdengar sangat serius dari balik pagar, wajah Arga langsung mendadak pucat.Siska dan Vania yang menyadari situasi kurang menguntungkan itu segera memundurkan langkah mereka dari posisi Arga."Waduh, Pak RT. Tolong jangan bicara soal izin kos dulu, Pak, kita bisa bicarakan di dalam rumah," sahut Arga mencoba bernegosiasi dengan nada khawatir.Melihat ekspresi tegang sang bapak kos, Pak RT justru malah terkekeh geli sambil melambaikan selembar kertas hvs di tangannya."Lah, siapa yang mau mencabut izin kos sampeyan, Pak Arga? Ini loh, saya ke sini mau mengantarkan surat undangan kerja bakti kompleks," ujar Pak RT tertawa renyah.Mendengar penjelasan tersebut, Arga langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang sampai bahunya merosot ke bawah.'Hadeuhhh... bikin jantungan saja ini Pak RT pagi-pagi, gue kira beneran mau ada sidik kasus keributan semalam,' batin Arga mengeluh saking leganya."Oalah, undangan kerja bakti

  • Bapak Kos Kesayangan    Bab 14: Rebutan Hak Milik

    Menghardik kasar dengan wajah memerah, salah satu penagih utang yang berbadan gemuk mendorong dada bidang Arga menggunakan telunjuk kanannya berkali-kali."Nggak usah sok hebat jadi pahlawan di sini, Pak! Minggir kamu, jangan menghalangi kerjaan kami!" bentak si penagih gemuk itu dengan nada kasar.Kesal karena badannya disentuh secara sembarangan oleh orang asing, pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu langsung bertindak cepat.Arga menangkap jari telunjuk si preman gemuk, lalu mematahkannya ke arah belakang menggunakan sedikit sentakan energi Cincin Naga Tidur.Kreeek!Suara tulang yang retak terdengar begitu nyaring di area garasi motor, seketika memecah ketegangan pagi yang cerah itu."Aduuuh! Jariku! Sialan, lepasin!" jerit penagih gemuk tersebut histeris sambil langsung berlutut mencium lantai semen halaman demi mengurangi rasa nyeri.Melihat bos mereka tumbang meringis kesakitan hanya dalam satu gerakan telak dari sang bapak kos, dua preman lai

  • Bapak Kos Kesayangan    Bab 13: Masalah Baru di Garasi Kos

    Kelelahan luar biasa setelah terkuras seluruh staminanya karena efek penyatuan energi Cincin Naga Tidur, Siska dan Vania akhirnya tertidur pulas.Kedua gadis muda itu tampak tidur saling melilitkan tungkai kaki di atas kasur busa kamar nomor empat yang kini sudah kembali terasa sejuk.Meninggalkan Siska dan Vania yang tertidur pulas kelelahan karena gempuran energi magis semalaman, Arga mulai beranjak turun dari atas ranjang.Dia melangkah gontai dengan perlahan menuju ke kamarnya sendiri yang berada di ujung bangunan Kos Melati agar tidak membangunkan mereka.Pinggang Arga rasanya sudah lumayan pegal setelah melayani gempuran dua wanita sekaligus semalaman suntuk tanpa jeda sedikit pun.'Hadeuhhh... kuat sih kuat karena bantuan energi cincin warisan ini, tapi kalau langsung dua begini, pinggang gue tetep berasa mau copot,' batin Arga mengeluh kocak sambil memegangi punggung bawahnya.Sebelum benar-benar menutup pintu kamar Siska, Arga sempat mengambil selimu

  • Bapak Kos Kesayangan   Bab 12: Gejolak Energi Kamar Nomor Empat

    Memilih bermain aman setelah nyaris kepergok oleh Pak RT dan warga yang meronda, Amara langsung berjalan cepat menuju kamarnya sendiri.Meninggalkan hawa panas yang sempat tercipta di halaman, sang janda anggun menepis kecemburuan Nadine dengan senyuman tenangnya yang penuh teka-teki."Nadine, Siska, masuklah ke dalam kamar kalian masing-masing. Urusan luar sudah diselesaikan dengan baik oleh bapak kos kalian," ucap Amara santai sebelum menutup pintu kamarnya.Nadine yang masih cemberut akhirnya memilih masuk ke kamarnya dengan menghentakkan kaki karena kesal.Ditinggal sendirian di pelataran halaman yang mulai sepi, ingatan Arga langsung tertuju pada dua gadis yang masih menunggunya di dalam kamar.Pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu melangkah lebar menyusuri lorong pelataran, bergegas kembali menuju ke kamar nomor empat milik Siska.Mendorong pintu kayu tersebut dengan perlahan, pandangan Arga langsung disambut tontonan yang luar biasa menggoda iman

  • Bapak Kos Kesayangan   Bab 11: Siasat Sang Janda Elegan

    Tanpa basa-basi lebih lama lagi, Arga kembali mencengkeram erat leher jaket si pembuat onar lalu mengangkat tubuh besarnya tinggi-tinggi dari atas tanah.Melihat temannya dicekik dengan sangat mudah menggunakan tangan kosong oleh sang bapak kos, preman satunya langsung panik dan mencabut pisau lipat dari saku celana jinsnya."Lepaskan teman saya, orang tua tidak tahu diri!" teriak preman berpisau itu dengan wajah murka dan napas memburu.Tepat saat mata pisau yang berkilau itu mau ditusukkan ke arah perut tegap Arga, segepok uang ratusan ribu melayang jatuh ke atas aspal jalanan.Plakkk!Sosok Amara mendadak muncul dari balik bayangan pohon besar di dekat pagar, menyodorkan uang tunai sebesar enam juta rupiah ke arah wajah si pemegang pisau."Ambil uang ini sekarang juga dan segera pergi dari area kos-kosan saya!" seru Amara dengan nada suara yang lantang namun tetap terdengar anggun.Melihat tumpukan uang kertas berwarna merah berserakan di atas aspal, m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status