Masuk'Gila, wangi mi rebus pakai rawit begini emang paling juara! Perutku udah demo minta jatah karbohidrat dari sore tadi gara-gara ngeluarin banyak tenaga,' batin Arga tersenyum puas menatap air rebusannya.
Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, pria paruh baya itu memasukkan sebutir telur ayam segar. Tepat saat wangi bumbu makin pekat, terdengar decitan halus dari arah pintu masuk dapur. Sosok Nadine mendadak muncul menyelinap melewati celah pintu kayu. Baju tidur sutra tipis yang melekat di tubuh mahasiswi kebidanan itu benar-benar mengekspos bentuk bahu dan paha mulusnya. Menelan ludah susah payah, sang penjaga kos buru-buru memalingkan wajah ke arah panci. "Ngapain keluyuran ke dapur pakai baju kurang bahan begitu, Din? Udara malam lumayan dingin, mending kamu ambil jaket dulu sana," tegur Arga berusaha menjaga kewarasannya. Sambil memegangi perut, gadis manja itu malah merapat duduk ke kursi kayu di sebelah meja makan. "Perutku keroncongan parah, Om Arga! Dari sore aku belum makan nasi gara-gara mual efek racun kemarin," rengek Nadine dengan wajah sengaja dibuat memelas. Gara-gara tidak tega melihat wajah pucat mahasiswinya, Arga langsung mematikan kompor gas. Dituangnya mi beserta kuah panas tersebut ke dalam mangkuk kaca, lalu digesernya pelan ke hadapan gadis itu. "Ya udah, mi rebus ini buat kamu aja. Biar lambungmu tenang dan nggak masuk angin." Bukannya berterima kasih mengambil garpu, Nadine malah menggelengkan kepalanya pelan menolak tawaran makan mandiri itu. "Syaratnya Om Arga harus nyuapin langsung ke mulutku! Tanganku masih lemas banget buat sekadar pegang gagang garpu sendiri." Menghela napas panjang, pria berusia tiga puluh sembilan tahun tersebut akhirnya pasrah menarik kursi plastik untuk duduk berhadapan. Digulungnya helaian mi kuning bercampur cabai rawit itu secara telaten. Arga lalu meniup pelan kepulan asap panas dari atas garpu supaya lidah sang duta kampus tidak melepuh. "Buka mulutmu agak lebar, Din. Ini kuahnya masih lumayan panas baru diangkat dari kompor," ucap Arga menyodorkan garpu tersebut tepat ke depan bibir Nadine. Menyambut suapan hangat itu, mata cantik Nadine langsung berbinar-binar kegirangan. "Wah, gila! Mi rebus buatan Om Arga rasanya juara banget! Padahal bumbunya cuma telur sama rawit potong, rasanya ngalahin menu restoran mahal di mall!" "Ah, kamu bisa aja mujinya. Itu murni karena perutmu lagi kelaparan tingkat dewa, makanya batu direbus aja pasti kerasa enak di lidahmu sekarang." Lanjut mengunyah cepat, gadis berparas ayu itu sengaja mencondongkan dadanya ke depan meja demi merapatkan jarak pandang. "Beneran enak kok, Om! Besok-besok aku mau langganan makan malam disuapin langsung sama Om Arga terus," rayu Nadine mengerlipkan sebelah matanya nakal. Keduanya malah asyik suap-suapan sambil melempar candaan ringan. Tanpa mereka sadari, sepasang mata tajam sedang menatap beringas dari arah lorong luar. Berniat mengambil stok air dingin dari kulkas, Siska Wijaya justru mematung kaku di ambang pintu dapur. Karyawan bank itu menatap nyalang adegan kelewat mesra antara bapak kos dan mahasiswi kebidanan tersebut. Brakkk! Sengaja dibantingnya gelas kaca kosong itu ke atas meja cuci piring aluminium. Suara benturan keras tersebut sukses membuat Arga dan Nadine tersentak kaget membalikkan badan. "Bagus ya! Jam sebelas malam bukannya tidur di kamar, eh malah asyik buka warung remang-remang sambil suap-suapan di fasilitas umum!" sembur Siska memancarkan aura cemburu yang sangat kental. Kaget setengah mati, Arga refleks menaruh garpunya ke dalam mangkuk sampai kuahnya sedikit muncrat. "Ini cuma kebetulan Nadine kelaparan parah, Sis. Om cuma nawarin sisa mi rebus biar perutnya nggak kena asam lambung dadakan," jelas Arga berdiri canggung menatap wajah Siska yang siap meledak. Enggan menatap senyum kemenangan dari wajah Nadine, wanita tsundere itu membuang muka judes ke arah deretan piring kotor. "Alasan aja terus! Om kira aku anak TK yang gampang dikibulin pakai trik receh begitu? Lanjutin aja acara pacarannya, dasar bapak kos genit!" Menghentakkan hak sandalnya keras-keras, Siska langsung berbalik badan menaiki tangga. Gema bantingan pintu kamar terdengar sangat nyaring memecah kesunyian beberapa detik kemudian. Mengusap wajahnya lelah, Arga menyerahkan sisa mangkuk mi itu langsung ke tangan Nadine. "Habisin sendiri sisa kuahnya ya, Din. Om gerah banget habis beres-beres dari sore tadi, mau langsung mandi keramas sekarang." Meninggalkan area dapur, pria paruh baya itu bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi belakang. Belasan menit kemudian, Arga berjalan santai menyusuri lorong kamarnya. Tubuh kekarnya yang masih basah hanya ditutupi sehelai handuk putih yang dililitkan secara asal-asalan ke area pinggang. Langkah tegap sang penjaga kos mendadak kaku membeku. Matanya menangkap sosok Nadine dan Vania yang rupanya sudah berdiri mematung menunggunya tepat di depan pintu kamar. Tepat sewaktu Arga membuka mulut untuk bertanya, ikatan kain tebal di pinggangnya mendadak mengendur drastis. Handuk putih itu merosot lepas dari jepitannya.Menyambar celana pendek dari balik pintu kamar, Arga terpaksa melepaskan himpitan dua gadis yang sedang dikuasai oleh gairah akibat efek magis tersebut.Pria paruh baya itu bergerak sangat cepat demi mengendalikan situasi darurat yang sedang mengancam ketenangan Kos Melati malam ini."Om keluar dulu untuk memeriksa situasi di depan, ya. Kalian berdua diam di sini dan jangan ada yang berani membuka pintu sampai situasi benar-benar aman," seru Arga sambil mengancingkan celana pendeknya dengan gerakan terburu-buru."Ih, Om Arga! Jangan pergi dulu, urusan kita kan belum selesai dibahas!" gerutu Siska sambil memukul bantal kasurnya untuk meluapkan rasa frustrasi yang mendalam.Vania juga hanya bisa mendengus kesal di atas ranjang empuk itu, merasa momen kebersamaan mereka terganggu oleh kedatangan orang-orang dari masa lalunya."Sialan... kenapa mereka harus datang merusak suasana tenang di kosan ini sekarang, sih?!" umpat Vania seraya meremas seprai kasur dengan gema
Masuk tanpa permisi sama sekali, Vania langsung memutar kunci kamar Siska dari dalam sampai berbunyi klik.Cklek!Mahasiswi kebidanan itu melempar ponselnya ke keranjang sampah di pojok ruangan, lalu meloloskan kausnya melewati kepala dengan gerakan cepat.Vania kini cuma menyisakan pakaian dalam merah yang menopang bagian dadanya secara ketat, mengekspos bentuk tubuhnya yang anggun dan terawat.Terkejut melihat aksi buka baju temannya yang kelewat nekat, Siska refleks melotot lebar dan melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Arga."Lah, Vania?! Kamu sudah gila ya tiba-tiba lepas baju di kamarku?!" seru Siska dengan suara melengking menahan syok."Aku nggak peduli, Sis! Aku juga mau merasakan apa yang Nadine rasakan waktu ditolong Om Arga!" balas Vania dengan napas memburu.Mengabaikan keberadaan penghuni lain di atas kasur, Vania melangkah berani mendekati punggung lebar Arga yang terbalut kaus hitam.Gadis perfeksionis itu langsung menempelkan tub
Sengaja memblokir jalan sempit itu, Amara memajukan tubuh semampainya menantang Arga. Tatapan intimidasi yang sangat tajam dari sang janda membuat Siska buru-buru menyembunyikan wajah memerahnya ke dada bapak kos karena menahan gengsi. "Om Arga, mau lewat atau mau terus berdiri di lorong memandangi aku seperti ini?" tanya Amara tenang dengan senyuman penuh misteri. Bukannya berhenti atau mundur, Arga justru terus melangkah tegap menyenggol bahu Amara menggunakan lengan kirinya secara sengaja. Efek energi Cincin Naga Tidur yang baru bangkit membuat tubuh bapak kos itu menjadi sangat kokoh bak dinding baja. Terkena dorongan fisik yang lumayan keras dari kekuatan tersembunyi itu, tubuh Amara tergeser paksa membukakan jalan menuju koridor kamar. Menghirup wangi keringat maskulin Arga dari jarak dekat, celana dalam janda berusia tiga puluh dua tahun itu mendadak basah menahan gairah yang bergejolak. 'Aduh, ada apa deng
Arga menahan napas saat punggungnya menghantam lantai dapur yang agak basah. Di atas dekapan dadanya, Siska terengah-engah dengan wajah yang memerah sempurna karena syok. "S-Siska, kamu nggak apa-apa?" tanya Arga meringis pelan, merasakah sisa denyutan hangat dari Cincin Naga Tidur di jarinya yang perlahan mereda setelah bahaya serangga tadi hilang. "Aduuuh! Sakit, Om!" jerit Siska sambil memegangi pergelangan kaki kirinya. Gadis bank itu buru-buru bangkit dengan sisa tenaga, lalu duduk menjauh di atas lantai basah sambil memeluk lututnya sendiri. Di sekitar kaki mulus karyawan bank tersebut, pecahan gelas kaca berserakan bercampur genangan air keran yang meluber. "Aduh, perih banget... Sialan," desis Siska menahan rasa sakit yang luar biasa. Ujung daster tidurnya agak tersingkap sampai ke atas lutut, mengekspos kulit putihnya secara terbuka di bawah terangnya lampu neon dapur. Arga yang melihat kaki Sis
Jatuhnya handuk putih itu menimbulkan suara tepakan basah yang menggema di lorong. Tepat di hadapan Nadine dan Vania, postur tubuh Arga yang tegap tanpa sengaja terekspos jelas.'Aduh, gawat! Kenapa karet handuk ini bisa longgar di waktu yang sama sekali tidak tepat?!' batin Arga menjerit panik. 'Mau ditaruh di mana muka saya sebagai bapak kos jika begini?'Vania yang terkejut langsung refleks menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Namun, di balik rasa gugupnya, celah jari-jari sang duta kampus agak terbuka karena rasa penasaran melihat bentuk perut Arga yang atletis.Berbeda dengan temannya, Nadine justru terpaku di tempat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan pandangan yang tampak sedikit linglung akibat terkejut.Aroma sabun yang segar berpadu dengan kehangatan udara lorong seolah menyergap indra kedua mahasiswi kebidanan tersebut. Suasana di antara mereka mendadak terasa begitu canggung dan menegangkan.Sadar akan kekeliruannya, Arga bergegas menundu
'Gila, wangi mi rebus pakai rawit begini emang paling juara! Perutku udah demo minta jatah karbohidrat dari sore tadi gara-gara ngeluarin banyak tenaga,' batin Arga tersenyum puas menatap air rebusannya.Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, pria paruh baya itu memasukkan sebutir telur ayam segar. Tepat saat wangi bumbu makin pekat, terdengar decitan halus dari arah pintu masuk dapur.Sosok Nadine mendadak muncul menyelinap melewati celah pintu kayu. Baju tidur sutra tipis yang melekat di tubuh mahasiswi kebidanan itu benar-benar mengekspos bentuk bahu dan paha mulusnya.Menelan ludah susah payah, sang penjaga kos buru-buru memalingkan wajah ke arah panci."Ngapain keluyuran ke dapur pakai baju kurang bahan begitu, Din? Udara malam lumayan dingin, mending kamu ambil jaket dulu sana," tegur Arga berusaha menjaga kewarasannya.Sambil memegangi perut, gadis manja itu malah merapat duduk ke kursi kayu di sebelah meja makan."Perutku keroncongan parah, Om Arga! Dari sore aku belum makan