LOGIN"Om Arga! Matanya ditaruh di mana sih waktu beres-beres tadi pagi? Lihat itu genangan air sabun dibiarkan menggenang sembarangan di jalanan!" omel Siska dengan nada tinggi melengking.
Arga refleks membalikkan badannya sambil memegang erat gagang sapu lidi. Bapak kos itu menghela napas sangat panjang menghadapi wajah cantik yang selalu memancarkan aura permusuhan tersebut. 'Gusti nu agung, baru juga kelar urusan tarik-tarikan sama Amara dan Nadine di depan. Sekarang udah muncul lagi singa betina tukang kredit ini,' batin Arga meratapi nasib paginya yang penuh dengan ujian kesabaran mental. "Maaf, Siska. Om tadi buru-buru ke depan bantuin Amara bawa belanjaan, jadi belum sempat ngepel sisa buangan air cuciannya. Nanti Om pel sampai kering mengkilap deh," jelas Arga mencoba membela diri secara halus. Mendengar nama Amara disebut, alis Siska makin menukik tajam menyiratkan rasa cemburu buta. Gadis itu sengaja menghentakkan hak sepatu tingginya ke lantai keramik berulang kali. "Alasan aja terus! Om ini digaji buat jaga kebersihan fasilitas kos, makanya jangan malah asyik modusin janda tajir terus di depan! Nanti kalau ada anak kos yang kepeleset jatuh gimana? Om emangnya mau bayarin biaya patah tulang di rumah sakit?" sungut sang bankir tsundere itu tanpa filter pelindung mulut. "Loh, Om kan cuma bantuin bawain kresek doang, Sis. Sama sekali nggak ada niatan modusin siapa-siapa di kosan ini. Lagian kamu kok tumben jam segini baru berangkat kerja? Biasanya jam tujuh pagi udah rapi jali manasin motor matikmu," bantah Arga sambil menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. "Nggak usah ngalihin pembicaraan deh! Aku telat karena sibuk ngurusin tumpukan laporan bulanan nasabah semalaman suntuk! Sekarang Om buruan beresin air busuk itu sebelum sepatu mahalku kotor kena cipratan!" "Iya, iya, ini Om pel sekarang juga. Kamu jalan pelan-pelan aja lewat pinggir situ biar sepatumu aman sentosa, Siska bawel," goda Arga santai menanggapi kemarahan meledak-ledak gadis tersebut. Siska sama sekali tidak mau menerima pembelaan maupun godaan jenaka tersebut. Karyawan bank itu melangkah terburu-buru menghampiri Arga berniat mendaratkan cubitan maut di lengan sang penjaga kos. Gara-gara terlalu fokus menatap tajam mata Arga, Siska sepenuhnya mengabaikan pijakan kakinya sendiri. Hak sepatu tingginya mendadak masuk menjebol lubang saringan pembuangan air yang penutup plastiknya sudah agak melengkung. "Kyaaa!" Tubuh ramping berbalut kemeja kerja rapi itu langsung oleng ke depan kehilangan keseimbangan. Siska menutup rapat kedua matanya, bersiap merelakan hidung mancungnya hancur mencium lantai keramik basah yang sangat licin. Arga melebarkan matanya kaget melihat insiden kecelakaan super cepat tersebut. Insting perlindungan dan kelincahan barunya otomatis mengambil alih kendali penuh atas otot-otot kakinya. Pria paruh baya itu melesat maju menyapu jarak dua meter hanya dalam sekali kedipan mata. Arga berhasil merengkuh pinggang lentur Siska menggunakan lengan kanannya tepat sebelum wajah wanita itu menghantam ubin kasar. Keduanya mendadak mematung kaku dalam posisi berpelukan yang luar biasa intim. Tangan kiri Siska refleks mencengkeram erat kerah kaus oblong Arga, sementara napasnya memburu kencang berusaha menahan syok. Mereka saling bertatapan mengunci pandangan dalam jarak yang sangat dekat selama beberapa detik. Arga bisa menghirup aroma parfum sitrus segar bercampur wangi sampo dari rambut hitam Siska yang tergerai indah. 'Buset, pinggang anak ini kecil banget kayak gitar spanyol. Kulit wajahnya juga mulus bersih banget dari jarak sedekat ini,' batin Arga menelan ludah merasakan sensasi kelembutan tubuh wanita di dekapannya. Di sisi lain, Siska justru merasakan hal yang jauh lebih mengejutkan kewarasannya. Telapak tangannya yang menempel di dada Arga bisa merasakan dengan jelas tekstur otot yang luar biasa keras dan bidang layaknya tameng baja. Wajah Siska langsung memerah padam layaknya kepiting rebus menyadari betapa posesifnya pelukan pria yang usianya jauh lebih tua itu. Jantung sang bankir berdegup sangat kencang menabrak tulang rusuknya sendiri, seakan mau melompat keluar dari tenggorokan. "O-Om Arga... lepasin pelukannya sekarang! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan ya! Sengaja kan Om biarin lantainya licin begini biar bisa bebas meluk-meluk anak kos?" bentak Siska terbata-bata berusaha mati-matian menutupi kegugupan hatinya. "Om kan cuma refleks heroik nolongin kamu biar nggak jatuh tengkurap, Sis. Harusnya kamu bilang makasih dong ke bapak kos penyelamat nyawa ini. Kalau wajah cantikmu itu nyium lantai keramik, bisa-bisa nasabah bank pada kabur semua nanti pas ngantre." "Siapa juga yang minta ditolongin! Aku bisa jaga keseimbangan badanku sendiri kok tadi! Om Arga nyebelin banget sih, awas aja besok uang sewa kosnya aku potong setengah buat bayar denda pelecehan!" rutuk Siska dengan nada manja yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan raut wajah galaknya. "Wah, denda apaan tuh? Om kan murni bertindak sebagai pahlawan tanpa tanda jasa pagi ini. Mau dipeluk sepuluh detik lagi biar keseimbangan kakimu balik normal seratus persen?" canda Arga sengaja memancing emosi gadis tsundere itu sampai ke batas maksimal. Siska buru-buru mendorong dada bidang Arga menggunakan kedua tangannya secara kasar. Gadis itu mundur dua langkah menjauh sambil merapikan letak rok pensil dan kemejanya dengan gerakan yang sangat salah tingkah. "Bodo amat! Aku mau berangkat kerja aja, capek ngomong sama aki-aki ganjen tukang modus!" Siska berbalik badan secara kaku tanpa berani menatap langsung bola mata Arga lagi. Dia melangkah cepat setengah berlari menuju kamarnya, lalu membanting pintu kayu jati itu sampai tertutup rapat berdebum. Arga hanya bisa tertawa tertahan seraya mengangkat kedua bahunya pelan merespons kelakuan tsundere penghuni kosnya tersebut. Dia memungut kembali sapu lidinya dari tanah, lalu menyelesaikan sisa pekerjaannya menyingkirkan genangan air sabun di pojok dinding. Menjelang malam hari, suasana Kos Melati terasa jauh lebih sepi merayap dari biasanya. Sebagian besar penghuni rupanya belum pulang dari aktivitas luar rumah, menyisakan keheningan yang cukup menenangkan pikiran. Arga berjalan santai menuju area dapur umum yang terletak bersebelahan dengan ruang menonton televisi. Perut buncitnya yang kini sudah berubah rata menjadi cetakan six-pack itu berbunyi meronta minta segera diisi asupan karbohidrat. 'Jadi bapak kos itu emang harus siap fisik dan mental dua puluh empat jam. Pagi ngadepin mahasiswi manja, siang nahan omelan orang bank, malam giliran perut sendiri yang demo minta jatah makan,' batin Arga tersenyum masam meratapi nasib rutinitasnya. Arga menyalakan kompor gas kecil, lalu meletakkan panci alumunium berisi air matang ke atas tungku api biru. Malam ini dia berniat menyeduh dua bungkus mi instan rasa soto ayam sebagai menu makan malam darurat. Sambil menunggu air rebusannya mendidih, Arga membuka lebar pintu kulkas umum untuk mencari tambahan bahan pelengkap gizi. Dia tersenyum sumringah menemukan sebutir telur ayam dan beberapa buah cabai rawit sisa yang kelihatannya masih sangat segar. Tangan besarnya bergerak super cekatan memotong cabai rawit itu menjadi irisan kecil menggunakan pisau dapur. Aroma pedas menyengat perlahan menguar memenuhi sirkulasi udara dapur yang lumayan sempit tersebut. Bagi Arga, semangkuk mi rebus super pedas adalah bentuk kemewahan tersendiri di tengah kerasnya gaya hidup ibu kota. Arga mengambil mangkuk kaca besar dari rak piring, lalu menuangkan bubuk cabai dan minyak sayur ke dasar mangkuk. Wangi kaldu ayam yang sangat gurih langsung menyebar ke segala penjuru lorong belakang kos-kosan sewaktu bumbu itu tersiram kuah panas. Tepat sewaktu mi rebus andalannya itu matang sempurna, ujung telinga Arga menangkap suara decitan langkah kaki dari arah pintu masuk dapur. Seseorang rupanya sedang diam-diam menyelinap masuk menembus kegelapan malam lorong. Arga menoleh cepat ke belakang bahunya, mendapati sosok Nadine sudah berdiri menyender di ambang pintu sambil memegangi perut. Mahasiswi manja yang biasanya cerewet itu kini tampil sangat menggoda iman mengenakan baju tidur berbahan sutra tipis selutut. Wajahnya sengaja dipasang sememelas mungkin, memancing naluri alami sang bapak kos untuk segera bertindak melayani kemauannya. "Om Arga... aku laper banget, perutku keroncongan parah dari sore tadi belum keisi nasi," rengek Nadine dengan suara serak yang memecah keheningan."Brakkkk!" Cermin gaib di tengah kamar mendadak meledak menjadi debu hitam begitu Arga mengepalkan tangannya ke udara. "Sialan! Gak usah sok nakut-nakutin pakai cermin buram, Tua Bangkai!" gertak Arga dingin. "Om Arga! Itu tadi suara apaan sih?! Seram banget!" pekik Nadine panik sambil makin kencang memeluk lengan Arga. "Biasa, cacing tanah purba kurang perhatian," cetus Arga santai. Arga berbalik, merangkul Alya, Vania, Nadine, Siska, dan Amara sekaligus di sekeliling ranjang. "Kalian tenang aja. Cincin Naga Tidur ini udah terikat abadi sama jiwa kalian," tutur Arga lembut. Cincin kuno warisan orang tuanya itu bergetar halus, memancarkan gelombang hangat keemasan yang menyelimuti tubuh kelima wanita tersebut. Mekanisme pusaka itu memang bekerja secara logis dan unik. Melalui keintiman fisik, sentuhan tulus, dan ikatan batin yang rutin Arga
"Gue nggak bakal kasih celah sedikit pun buat mereka!" gertak Arga sambil meremas ponsel di tangannya sampai hancur berkeping-keping."Mas Arga, kamu beneran mau menutup total akses ke Kos Melati?" tanya Alya cemas sambil mengelus perutnya yang semakin membesar."Iya, Alya. Ini satu-satunya cara supaya kalian semua tetap aman," jawab Arga tegas.Arga merangkul pinggang Alya dan memegang tangan Amara lembut.Dia mulai mengaktifkan energi Cincin Naga Tidur yang melingkar di jarinya.Pusaka warisan orang tua Arga itu memancarkan cahaya merah keemasan yang sangat hangat.Mekanisme cincin kuno tersebut selalu bereaksi dahsyat terhadap ikatan batin dan sentuhan fisik dengan para wanita yang mencintainya.Semakin intim dan tulus perasaan cinta di antara mereka, semakin kokoh benteng perlindungan yang bisa diciptakan Arga."Nadine, Siska, Vania... pegang pundak gue sekarang!" perintah Arga."Siap, Om Arga tercinta!" seru Nadine bersemangat sambil langsun
"Brakkkk!" Dentuman dahsyat mengguncang angkasa Jakarta saat tombak petir merah bertabrakan langsung dengan perisai emas Arga. Gelombang kejutnya menjalar hebat ke bawah, meruntuhkan kaca-kaca gedung pencakar langit di kawasan bisnis hingga hancur berhamburan. 'Sialan, orang tua ini benar-benar mau meratakan seluruh kota!' batin Arga meringis menahan hantaman energi yang kelewat gila. Tangan Arga terasa kebas, gelombang petir hitam menyengat hingga ke dalam pembuluh darahnya. "Hahaha! Rasakan itu, Bocah Mentah!" gelak Dewa Langit tertawa puas di balik kepulan asap. "Kau tak akan sanggup menahan kekuatanku lebih lama lagi!" seru Dewa Langit bertambah jemawa. "Deggg...!" Di saat kritis itu, Cincin Naga Tidur di jari Arga kembali membara panas. Sentuhan fisik, kepasrahan, dan rasa cinta mendalam dari Alya, Vania, Nadine, Siska, dan Amara yang tersimpan dalam cincin kuno itu mendadak terserap sepen
"Deggg...!" Jantung Arga berdegup kencang saat melesat menembus ketebalan awan hitam yang pekat. Aura membunuh dari Dewa Langit mengejar tepat di belakang punggungnya, terasa menusuk kulit seperti ribuan jarum es. 'Sialan, orang tua ini kecepatannya gak ngotot banget!' batin Arga panik sambil melirik ke bawah. Dari ketinggian ribuan kaki, terlihat gedung-gedung pencakar langit Jakarta bergetar akibat guncangan energi yang terpancar dari pesawat jet mewah musuh. "Brakkkk!" Kilatan petir hitam raksasa menyambar tepat di samping Arga, membelah awan pekat menjadi dua bagian. "Mau lari sampai mana kau, Bocah Mentah?!" teriak Dewa Langit menggema di antara gemuruh badai. Dewa Langit terbang melayang tanpa alat bantu, memegang sebilah pedang bermata dua yang diselimuti kobaran api kehitaman. Di belakangnya, belasan pengawal berseragam tempur serba hitam ikut melayang dengan papan energi canggih.
"Ingat, ini bukan sekadar urusan ranjang atau sentuhan fisik biasa," tegak Arga memecah keheningan di dalam basement sakral mansion."Kekuatan Cincin Naga Tidur cuma bisa kebuka sempurna kalau ada penyatuan energi batin dan rasa percaya penuh," lanjutnya lagi sambil menatap lima pasang mata di depannya.Cincin perak berukir naga di jari manis Arga mulai memancarkan pendar merah keemasan yang hangat.Benda pusaka peninggalan orang tuanya itu memang unik—kekuatan mistisnya cuma bakal meledak makin dahsyat tiap kali Arga menyerap intimasi dan kesetiaan mutlak dari para wanita yang terikat dengannya."Gue paham, Om. Mau badai atau Dewa Langit sekalipun yang datang, gue nggak akan lepasin Om Arga!" seru Nadine cepat, melangkah paling depan tanpa ragu.Gadis berumur dua puluh satu tahun itu menatap Arga dengan binar mata yang kelewat posesif."Hadeuhhh, bocah satu ini selalu aja mau jadi yang pertama," cibir Siska sambil melipat tangan di dada.Meski mulutnya k
Suasana di Kos Melati mendadak berubah tegang pasca kepergian Dokter ghaib langganan Amara yang meriksa janin Alya.Nadine, Vania, Siska, dan Amara masih ngerubungin Alya di ruang tengah, muka mereka tegang ngebahas anomali janin naga itu.Arga cuma bisa garuk-garuk kepala yang gak gatel, ngerasa pusing sama drama harem yang makin *njlimet*.'Hadeuhhh, servis keroyokan semalam belum lunas gempornya, udah dikasih cobaan ghaib janin naga lagi,' batin Arga meratapi nasib istirahatnya.Ancaman luar datang ketika 'Dewa Langit' mengirim utusan ke Jakarta, tepat di depan pagar Kos Melati saat ini.Utusan tersebut dalam wujud pria kaya raya yang ingin membeli Kos Melati dengan harga selangit, pamerin mobil Rolls-Royce Phantom terbaru.Pria muda klimis berjas Armani itu turun dari mobil dengan gaya sombong, nurunin kacamata hitamnya pelan."Waduh... Ini Kos Melati yang legendaris itu ya? Gembel amat kelihatannya," cibir pria muda itu ngenyek.Arga yang denger
'Gila, wangi mi rebus pakai rawit begini emang paling juara! Perutku udah demo minta jatah karbohidrat dari sore tadi gara-gara ngeluarin banyak tenaga,' batin Arga tersenyum puas menatap air rebusannya.Sambil menunggu kuah mendidih sempurna, pria paruh baya itu memasukkan sebutir telur ayam segar
Amara tersenyum sangat manis, membiarkan raut wajah Nadine mendadak berubah masam melihat kedatangannya di tengah halaman.Sebenarnya, Amara bukan tandingan Nadine yang masih gadis dan sangat cantik.Meski begitu, pesona Amara sebagai janda cantik berusia tiga puluh dua tahun itu, tetap menggoda.D
Nadine yang berbaring di bawah kungkungannya justru mulai menggeliat tidak karuan. Mahasiswi cantik itu membuka bibirnya perlahan, bersiap mengeluarkan desahan panjang akibat sisa-sisa efek racun yang masih mendidihkan aliran darahnya.Melihat gelagat super berbahaya itu, Arga buru-buru membekap mu
Arga Mahendra hanyalah pria paruh baya berusia tiga puluh sembilan tahun yang bekerja sebagai penjaga Kos Melati. Pekerjaannya sangat sederhana, gajinya pas-pasan, dan hidupnya berjalan lurus-lurus saja tanpa banyak drama. Bangunan dua lantai yang dia urus ini lumayan besar karena memiliki sepuluh







