Home / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 263: Pilihan Sang Putra Mahkota

Share

Bab 263: Pilihan Sang Putra Mahkota

Author: Alexa Ayang
last update Last Updated: 2026-02-10 08:00:24

Keheningan yang mencekam meliputi seisi ruangan, tebalnya terasa seperti jubah duka yang dikenakan oleh setiap insan. Lampu-lampu minyak kelapa yang memancarkan pendar kuning keemasan berusaha menepis kegelapan malam, namun gagal menghalau bayang-bayang kegelisahan yang menyelimuti Pangeran Nalaraja. Ia berdiri mematung di hadapan ibundanya, Dyah Manohara, tatapannya sarat akan beban dan pertentangan batin yang mendalam.

Benak Sang Putra Mahkota diombang-ambing antara loyalitas kepada

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 270: Gema Sangkakala di Bukit Walaing

    Pudar sudah kemilau bintang timur, menandai berakhirnya gencatan senjata suci yang menyelimuti Bukit Walaing semalam suntuk. Kabut tebal yang sebelumnya beringsut melintasi lembah dengan kedamaian, kini menjelma menjadi tirai pengantar bagi ribuan prajurit yang bergerak senyap di kegelapan prasebelum fajar. Dingin menusuk kulit, namun gejolak di dada prajurit jauh lebih membara daripada dinginnya pagi. Nafas-nafas yang terhembus menjadi uap, bercampur dengan asap dupa yang menguar dari altar persembahan terakhir.Dari sektor timur, Pasukan Bayangan yang dipimpin Cangak Sabrang dan Pasukan Panji Hitam di bawah komando Dandang Wilis bergerak serentak, membenturkan formasi padat mereka ke barisan Pasukan Laturana dan para Rakai yang membangkang. Dentang senjata mulai sayup-sayup terdengar, mengawali kembali simfoni maut. Di sisi lain, derap ribuan kaki kuda memecah kesunyian bukit. Gagak Rukma dan Mahesa Seta, memimpin serangan kavaleri bertenaga besar, bergerak cepat memecah formasi say

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 269 Tangisan Kedua

    Namun, kegembiraan itu belum usai. Belum sempat Kayuwangi menghela napas lega, rintihan Ron Ayu kembali terdengar, disusul oleh deru perjuangan yang tak kalah heroik dan gigih. Kemudian, beberapa saat setelahnya, tangisan kedua, lebih nyaring dan tajam, merobek malam yang sakral. Kali ini, tangisan itu datang dari suara yang berbeda, membelah atmosfer yang sudah dipenuhi oleh keajaiban.Nyi Rumbangwangi, dengan suara bergetar dan mata tuanya berkaca-kaca haru, berkata, "Dan… dan seorang putri, Gusti! Astaga, sebuah anugerah tak terkira! Puji syukur, dua kali puji syukur kita haturkan… kembar dhampit, Gusti Rakai… Sepasang putra dan putri, lahir selamat di Malam Siwaratri yang sakral ini!"Keajaiban itu sungguh tak terduga. Sepasang putra dan putri, kembar dhampit, terlahir dengan selamat di bawah restu kegelapan malam, di tengah peperangan yang berkecamuk. Mereka terlahir seolah menjadi penawar paling mujarab atas segala kebencian dan permusuhan ya

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 268: Kelahiran di Malam Siwaratri

    Selama tiga hari tiga malam, perbukitan Walaing menjadi medan perseteruan tiada henti, kawah candradimuka yang membara di bawah langit Jawa yang dingin. Duel antara Rakai Kayuwangi, Mahamentri I Hino dari Kerajaan Mataram, dan Prabu Boko, Sang Rakai Walaing yang dikenal juga sebagai Mpu Kumbhayoni, tidak hanya menguras tenaga dan tekad kedua pendekar tangguh itu, tetapi juga mengguncang tatanan alam.Bumi seolah turut mengerang, saksi bisu atas keangkuhan dan kesakitan manusia. Dendam yang membara telah mengukir kisah pahit di antara wangsa-wangsa yang dahulunya terikat oleh ikatan suci. Namun, di tengah gema denting baja dan lolongan angin malam, tibalah Malam Siwaratri—malam tergelap dalam setahun, saat kegelapan paling pekat menyelimuti semesta, malam di mana Batara Siwa diyakini melakukan tarian Pralaya, tarian penghancuran sekaligus pemurnian, membawa siklus kehidupan kembali pada keheningan awal.Malam itu, dengan restu para brahmana dan pemimpin perang dari kedua belah pihak, g

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 267: Duel di Ambang Fajar

    Di tengah padang luas yang bergolak, nun jauh dari keramaian Istana Manguntur, sebidang bumi yang semula tenang kini menjadi saksi bisu pertumpahan darah yang mengerikan. Ribuan prajurit Dandang Wilis, di bawah komando Tumenggung Guntur Senawa yang wajahnya mengeras serupa batu karang, melepaskan anak-anak panah bertubi-tubi. Desing dan siulan membelah angkasa, menciptakan sebuah tirai kematian yang hitam, siap menerkam siapa pun yang bergerak atau menunjukkan tanda kehidupan. Debu berterbangan, bercampur asap dari obor-obor yang jatuh, dan di tengah lautan huru-hara tersebut, terciptalah sebuah lingkaran hening yang ganjil. Sebuah lingkaran kosong tempat tak satu pun prajurit, dari kedua belah pihak, berani melangkah mendekat.Di sanalah, dua sosok raksasa kanuragan berdiri saling berhadapan, bagai patung perunggu yang menjulang. Atmosfer di sekitar mereka berdenyut, memancarkan gelombang tenaga dalam yang dahsyat, mengoyak-ngoyak dedaunan dan mementalkan anak-anak panah yang berani

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 266: Pesta di Atas Bara

    Di tengah kegelapan malam yang mencekam, diselimuti bayang-bayang pepohonan tua yang melambai ditiup angin lembah, sebuah kereta kencana agung yang dilapisi kain beludru tebal meluncur pelan meninggalkan perbukitan Walaing. Roda-rodanya yang terbuat dari kayu jati pilihan berderak nyaris tanpa suara di atas jalan setapak berbatu, sementara lentera-lentera temaram yang menggantung di sisi kereta berayun mengikuti irama perjalanan, menciptakan fatamorgana cahaya di sekeliling. Di dalamnya, Ron Ayu, yang perutnya kian membuncit—membawa pewaris darah gabungan Walaing-Mamatripura yang kelak akan menyatukan dua entitas kekuasaan purba—menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada bahu Mayang Salewang, sang bibi yang senantiasa menaunginya. Aura kebingungan terpancar jelas dari raut wajah sang putri, sebuah tanda dari batin yang sedang tidak tenang.“Mengapa kita harus pergi pada saat rembulan baru merekah demikian, Bibi?” tanya Ron Ayu pelan, suaranya mengandung nada kecemasan yang mendalam

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 265: Genderang Puputan

    Hening yang mematikan menyelimuti balairung Puri Walaing setelah pengakuan mengejutkan yang memecahkan selubung misteri yang selama ini menyelubungi Kayuwangi. Suasana berubah drastis dari sidang perselisihan internal menjadi arena deklarasi takdir yang kejam. Prabu Boko, setelah mendengarkan dengan segenap sanubari dan nalar, perlahan-lahan menurunkan keris pusakanya yang sedari tadi terhunus, bukan sebagai tanda penyerahan diri atau penerimaan, melainkan sebagai persiapan untuk babak baru. Matanya yang sebelumnya berkaca-kaca menahan getir kini mengering sempurna, digantikan oleh sorot mata membeku seorang ksatria sejati yang telah membuang segala harapan, segala kelembutan, dan hanya menyisakan kobaran tekad untuk mempertahankan harga diri hingga titik darah penghabisan. Aura dukanya sirna, tergantikan oleh ketegasan baja yang memancar dari seluruh sosoknya."Jadi ini caramu, Kayuwangi?" suara Prabu Boko terdengar parau namun sarat dengan bobot otoritas dan kemarahan yang terkumpul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status