Beranda / Historical / Bara Dendam Sang Prabu Boko / Bab 73: Kabar dari Jantung Medang

Share

Bab 73: Kabar dari Jantung Medang

Penulis: Alexa Ayang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-27 23:06:11

Markas rahasia pasukan Watak Walaing di Pulo Watu diselimuti oleh uap lembab, sisa pertempuran elemental yang memaksa mereka mundur dari Karasa beberapa hari lalu. Tenda utama, yang berfungsi sebagai ruang strategi sekaligus tempat bermusyawarah, kini diselimuti keheningan yang tegang. Di dalamnya, Mpu Kumbayoni, pemimpin Walaing, duduk dengan tegak di tengah dua komandan setianya, Megarana dan Wiyuh Mega. Lampu minyak temaram memancarkan bayangan, menambah nuansa serius dalam pertemuan rahasia mereka.

Di tangan Mpu Kumbayoni tergenggam sehelai surat yang terbuat dari kulit kambing tipis, selembar sandi berharga, diselipkan secara cermat dalam lipatan pakaian seorang kurir muda. Surat itu telah dibaca berulang kali, isinya meresapi benak Kumbayoni, membalikkan setiap strategi perlawanan yang telah mereka susun dengan susah payah. Pesan yang terkandung di dalamnya lebih dari sekadar informasi; ia adalah sepotong harapan dan dilema baru yang memaksa penyesuaian radikal.

"Kurir itu… Kaka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 214 Gugurnya Ular Syailendra

    Angin dingin menusuk tulang di lereng Candramuka, membawa serta embun beku yang merangkul setiap helai pinus dan dedaunan hutan. Kabut tebal menyelimuti area, menciptakan suasana mencekam yang seolah menahan napas, sebuah panggung alam yang murung bagi drama akhir. Di bawah komando Panglima Sanditaraparan, Gagak Rukma, pasukan elite Bhumi Medang telah mengepung posisi persembunyian terakhir Kunara Sancaka, duri dalam daging kemaharajaan yang tak kunjung layu. Strategi pengepungan telah direncanakan dengan cermat, tanpa celah bagi Sang Prahara untuk melarikan diri dari takdirnya.Kunara Sancaka, kini tampak kusam dengan jubah koyak dan rambut gimbal yang berserakan, berdiri tegak di atas sebongkah batu besar. Aura gelap masih menyelimutinya, meskipun pasukannya telah hancur dan semangat para pengikutnya telah padam. Matanya yang merah, bagai bara api iblis yang membara di tengah malam pekat, tetap memancarkan kobaran amarah yang tak terkendali. Di tangannya, cambuk sakti Pralayakusuma

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 213 Kepulangan dan Rahasia Darah

    ​Perjalanan Mudra yang panjang menuju kediaman sementara Mpu Kumbhayoni di pinggiran Giri Watangan membawa serta kabar yang tidak hanya mengejutkan secara politis, tetapi juga menggetarkan sisi emosional keluarga Sanjaya. Di sana, di antara hiruk pikuk persiapan dan kesibukan daerah transisi, Kumbhayoni sedang duduk menyendiri, menatap punggung pegunungan yang menjulang dengan perasaan campur aduk setelah kepergian adiknya, Mayang Salewang, ke tanah seberang. Kabar bahwa Mayang memutuskan untuk mengikuti suaminya dan anak-anaknya menyeberangi lautan menuju wilayah di bawah kekuasaan Rakai Warak tidak hanya meninggalkan kekosongan, tetapi juga rasa penyesalan yang dalam di benak Kumbhayoni. Ia tahu adiknya pergi untuk mencari ketenangan dan harapan baru, jauh dari intrik yang membelit wangsa mereka, namun kepergian itu seolah menegaskan isolasi dirinya yang semakin parah.​Kesendirian Kumbhayoni pecah ketika Mudra, dengan rombongan pengiring yang tak terlalu mencolok namun tetap menunj

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 212: Fajar Penataan Medang

    Gema terompet keberangkatan kapal menuju Swarna Bhumi perlahan sirna di cakrawala, mengantarkan seberkas hening yang menyelubungi Bhumi Medang. Kegemparan peperangan dan gejolak intrik kekuasaan kini berangsur pudar, digantikan oleh keheningan penuh harap dan tanggung jawab. Rakai Pikatan, sang penguasa baru Bhumi Medang, tak sedikit pun membuang waktu. Ia menyadari sepenuhnya bahwa fondasi stabilitas kerajaan tak lain bergantung pada kecepatan serta ketepatan langkahnya dalam mengisi kekosongan kekuasaan dan menata kembali pilar-pilar yang retak.Di dalam balairung utama keraton, yang kini terasa lebih lapang namun juga sarat dengan beban tugas negara, Rakai Pikatan duduk di atas singgasana bersama Pramodhawardhani, Ratu Permaisuri yang memancarkan ketenangan serta kearifan. Di hadapan mereka, Mahesa Seta, kini diangkat sebagai Panglima Utama Bhumi Medang yang baru, berdiri tegap dengan sikap penuh hormat. Aura kesetiaan dan kesigapan terpancar dari wajahnya. Udara balairung dipenuhi

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 211: Fajar Baru di Bhumi Medang

    Pada fajar yang menyingsing di atas Bhumi Medang, balairung agung istana Poh Pitu, yang biasanya dihiasi dengan gelak tawa dan nyanyian pujian, kini diselimuti keheningan yang mencekam. Aroma dupa wangi bercampur dengan ketegangan yang pekat, memenuhi setiap sudut ruang yang diukir dengan relief para dewa. Para petinggi kerajaan, dengan busana kebesaran yang sarat makna, telah memadati balairung sejak sebelum sang surya memancarkan keemasan sepenuhnya. Raut wajah mereka mencerminkan campuran rasa lega, khawatir, dan antisipasi terhadap keputusan maha penting yang akan segera diumumkan.Di undakan tertinggi singgasana, Maharaja Samarattungga berdiri tegak, namun sebuah perbedaan mencolok nampak pada penampilannya. Mahkota kebesarannya yang bertahtakan permata kini tidak lagi menghiasi kepalanya, menandakan sebuah fase transisi yang tak terelakkan. Pakaiannya yang lebih sederhana namun tetap berwibawa menyiratkan kerendahan hati seorang pemimpin yang bersiap melepaskan bebannya. Di hada

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 210 Sumpah Di Bayang Kematian

    Malam di penjara bawah tanah istana Medang terasa begitu dingin dan pengap, melukiskan bayangan kegelapan yang pekat di setiap sudutnya. Bau apak tanah dan kelembapan yang menyengat menelisik hingga ke tulang, menambah suram suasana yang sudah menindas. Namun, suasana di dalam jeruji besi tempat Balaputeradewa mendekam jauh lebih menyesakkan secara batin. Sang Pangeran, yang kini statusnya tak lebih dari seorang terpidana yang menunggu vonis, duduk bersandar pada dinding batu yang lembab dan kasar. Matanya kosong, menatap lantai batu yang kotor, seolah tak lagi ada harapan yang tersisa di lubuk jiwanya. Ia adalah seekor singa yang terperangkap, energinya terkuras, semangatnya padam, dan kehormatannya tercabik. Pikirannya melayang tanpa arah, berkecamuk dalam labirin penyesalan dan ketidakberdayaan.Keheningan yang memekakkan telinga dipecahkan oleh suara gemerincing kunci dan langkah kaki halus yang terdengar semakin mendekat di lorong selasar yang remang-remang. Suara itu seolah-olah

  • Bara Dendam Sang Prabu Boko   Bab 209: Suara-Suara di Balik Mahkamah

    Ibu kota Medang diliputi suasana mencekam yang belum pernah terasa sepekat ini sebelumnya. Sebuah berita tersiar bak badai menggerus ketenangan, kabar tentang kepulangan Wiku Sasodara dan Wiku Amasu yang tidak membawa berita suka cita. Alih-alih merayakan kemenangan atau penumpasan pemberontakan, keduanya justru tiba dengan membawa Pangeran Balaputeradewa, sang Mahamentri I Halu, dalam kondisi yang memprihatinkan. Pangeran yang dahulunya angkuh dan perkasa itu kini tak lebih dari seonggok raga lemah, kekuatannya terkikis habis, terenggut entah oleh penderitaan fisik atau badai di dalam batinnya. Ia diseret ke hadapan Samgat Agung, dewan hakim tertinggi kerajaan yang terdiri dari para pendeta dan ahli hukum terkemuka, kumpulan cendekia dengan kearifan usia dan kebijakan tak terbantahkan.Ruang Mahkamah Agung, yang biasanya dipenuhi gema petuah-petuah bijaksana, kini terjejali ketegangan yang pekat. Udara terasa begitu berat, membebani setiap dada yang hadir. Tiang-tiang ukiran jati men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status