MasukTiga hari kemudian.
Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terlalu cepat. Seolah tubuhnya menolak untuk tetap hancur. Di dalam taksi, Rian hanya diam. Wajahnya terpantul di kaca jendela yang buram oleh uap AC. Ia tidak bergerak saat mobil itu menghantam lubang jalan dengan keras. Sarafnya terasa mati rasa. Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Ia tidak peduli. Tagihan rumah sakit, urusan administrasi, dunia luar—semuanya terasa seperti kebisingan di balik tembok beton. Hampa. Maya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. **** "Kita sampai, Mas," bisik Maya. Suaranya kecil, hampir tertelan deru mesin taksi yang tua. Taksi itu berhenti di sebuah gang buntu. Di depan mereka, sebuah rumah kontrakan sempit berdiri dengan getir. Pintu kayunya sudah mengelupas, menampilkan urat-urat kayu yang lapuk dimakan usia. Tempat ini adalah saksi bisu. Dua belas tahun. Rian yang asli telah memeras setiap tetes keringatnya di bawah atap ini untuk bertahan hidup. Rian turun dari mobil. Sepatunya menginjak aspal yang retak. Ia melangkah masuk. Aroma itu menyerang indranya seketika. Bau minyak goreng bekas, debu yang mengendap bertahun-tahun, dan wangi deterjen murah yang menyengat. Aroma kemiskinan yang jujur. Bagi entitas di dalam tubuhnya, bau ini terasa asing. Terlalu nyata. Terlalu menyesakkan. Rian berhenti di depan sebuah meja kayu tua yang permukaannya tidak rata. Di sana, sebuah foto kusam dalam bingkai plastik murahan menatapnya balik. Rian versi lama. Kurus, kulitnya kusam terbakar matahari, namun matanya bersinar hangat. Pria itu sedang merangkul Maya saat kelulusan SMA. Rian yang sekarang mengulurkan tangan. Ia menyentuh sudut bingkai foto itu dengan ujung telunjuknya. Cisss. Noda hangus tipis tertinggal di sana. Kayu itu bereaksi pada hawa panas yang tidak wajar dari kulitnya. Ia menarik tangannya kembali. "Mas mau dibuatkan teh?" suara Maya terdengar dari arah dapur. Gadis itu mencoba mencairkan keheningan yang membeku sejak mereka meninggalkan bangsal rumah sakit. Rian tidak menjawab. Ia tidak menoleh. Pandangannya terkunci pada sebuah jaket logistik yang tersampir rapi di sandaran kursi. Jaket itu bersih, harum sabun cuci, hasil kerja keras Maya untuk menyambut kepulangannya. Namun, bukan jaket itu yang menarik perhatiannya. Sebuah catatan kecil terselip di saku depan. Kertas putih bersih dengan tulisan tangan wanita yang anggun dan rapi. Cepat sembuh, Rian. – Sarah. Satu nama itu menghantam dadanya. Bukan sebuah ingatan yang muncul, melainkan sebuah denyut. Sesuatu yang panas merayap di sepanjang sarafnya. Residu emosi. Cinta atau benci, ia belum tahu. Namun, nama itu bergetar di dalam jiwanya seperti bara yang menolak padam. Sarah. Rian meremas kertas itu hingga hancur di telapak tangannya. Rian duduk di kursi kayu yang permukaannya sudah kasar, membiarkan jemarinya meraba guratan kayu yang lapuk. Matanya tertuju pada kalender dinding yang menguning. Sebuah lingkaran merah besar menandai sebuah tanggal. Tanggal pernikahan Maya. Seharusnya hari itu sudah lewat, atau setidaknya, rumah ini sudah penuh dengan keriuhan persiapan. Namun, ruangan ini terlalu sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding yang berkarat. Statis. "Mas, makan dulu. Aku cuma masak sayur bening." Maya meletakkan mangkuk keramik di atas meja. Gerakannya terlalu hati-hati. Terlalu pelan. Gadis itu tidak berani menatap mata kakaknya. Ia terus menyibukkan diri dengan menata sendok, seolah-olah posisi logam itu adalah hal paling krusial di dunia. Rian tidak menyentuh sendoknya. Ia tidak lapar. Ia tidak butuh nutrisi dari sayur yang layu itu. Ia mengangkat dagunya, menunjuk ke arah kalender. "Waktunya sudah lewat," suara Rian datar. Dingin. Suaranya tidak keras, namun entah kenapa udara di ruangan sempit itu mendadak terasa berat dan menekan paru-paru. Punggung Maya menegang seketika. Ia memaksakan sebuah tawa kecil. Sebuah suara sumbang yang gagal menyembunyikan getaran di tenggorokannya. "Oh, itu... iya, Mas. Pihak gedung tiba-tiba bilang ada renovasi mendadak," Maya berucap cepat, kata-katanya tumpang tindih. "Vendor katering juga minta jadwalnya digeser. Ada kendala teknis katanya." Maya berbohong. Rian tidak perlu menjadi ahli psikologi untuk mengetahuinya. Ia bisa merasakan denyut nadi Maya yang berpacu liar dari jarak dua meter. Suhu ruangan seolah naik satu derajat. Keringat tipis muncul di pelipis adiknya. "Jadi," lanjut Maya, suaranya semakin tipis, "keluarga Aris bilang, sekalian saja cari tanggal baik yang baru. Biar Mas benar-benar pulih dulu. Kita undur dua bulan lagi." Rian menatap Maya. Tatapan itu tajam, membedah, dan tidak memiliki emosi manusiawi. Maya merasa seolah kulitnya sedang dipindai oleh sesuatu yang bukan lagi kakaknya. Di balik raga itu, entitas di dalamnya mendengus. Sisa-sisa kesadaran Rian yang asli bergejolak di dalam sarafnya. Sebuah obsesi yang tertinggal. Sebuah hutang rasa yang belum lunas. Rian yang lama sangat terobsesi dengan keberhasilan pernikahan ini. Selama urusan ini menggantung, 'residunya' akan terus mengganggu ketenangan jiwanya. "Kau berbohong," ucap Rian pendek. Maya terpaku. Gelas di tangannya meluncur turun, nyaris terlepas. "Mas... kok bicara begitu? Aku nggak—" "Tugas pria ini adalah memastikan kau aman," potong Rian tajam. Ia berdiri. Kursi kayu itu berderit keras, suaranya memekakkan telinga di ruangan yang sepi itu. "Undur kembali ke tanggal semula. Aku tidak suka urusan yang menggantung terlalu lama." "Tapi Mas, nggak bisa secepat itu! Persiapannya... biayanya..." "Urus semua yang perlu diurus," Rian menyambar jaket logistiknya. "Masalah biaya dan vendor, aku yang akan bicara." Ia melangkah menuju kamar. Langkah kakinya berat dan pasti, setiap hentakannya seolah menggetarkan lantai papan yang rapuh. Di ambang pintu, ia berhenti. Ia tidak menoleh, namun auranya memenuhi seluruh ruangan. "Jangan gunakan kecelakaan ini sebagai alasan untuk berhenti," ucapnya dingin. "Raga ini sudah bangun. Dan ia tidak suka menunggu." Rian menutup pintu kamar. Suara engsel yang berderit nyaring terasa seperti gergaji yang mengiris kesunyian rumah itu. Kamar itu sempit. Pengap. Hanya ada satu jendela kecil dengan teralis besi berkarat, menyisakan celah tipis bagi cahaya bulan untuk menusuk masuk. Rian berdiri mematung di tengah ruangan. Ia tidak bergerak untuk duduk, apalagi berbaring. Ia mengangkat tangannya ke depan wajah. Tangan itu kasar, penuh kapalan, dan kini memiliki bekas luka bakar kecil di ujung jari. Sisa gesekan dengan bingkai foto di ruang tamu tadi. Sakit. Rian yang asli bisa merasakannya. Sebuah denyut perih yang berusaha mendominasi saraf. Namun, bagi entitas yang kini menghuni raga tersebut, rasa sakit hanyalah sebuah sinyal listrik. Informasi yang tidak berarti. Ia melangkah ke arah cermin rias retak di sudut meja, yang diganjal lipatan kertas agar tidak miring. Rian menatap pantulannya. Wajah itu masih sama—rahang yang tegas dan tulang pipi yang menonjol. Namun, matanya telah berubah. Ada kilat dingin yang merayap di balik pupilnya. Sesuatu yang purba. Sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini. Ia menempelkan telapak tangannya di atas permukaan meja kayu. Tanpa tekanan berarti. Tanpa amarah. Krak. Permukaan kayu itu merekah. Retakan halus menjalar cepat di bawah telapak tangannya, seolah struktur molekul benda itu menyerah pada kehadirannya. Suhu di dalam kamar mendadak turun drastis. Napas Rian menguap tipis di udara, putih dan dingin. Ia menarik napas panjang. Paru-parunya terasa penuh dengan debu dan sisa-sisa memori yang menyesakkan. Ingatan tentang Sarah. Tentang kerja keras yang berakhir sia-sia. Tentang sebuah pengkhianatan yang aromanya mulai tercium. Telinganya menangkap sesuatu dari balik pintu yang tertutup. Isak tangis tertahan. Itu Maya. Gadis itu sedang ketakutan di luar sana, namun Rian tidak merasa perlu untuk menghibur. Ia memejamkan mata. Di dalam kegelapan batinnya, ia melihat garis-garis merah yang berdenyut hebat. Jalur energi yang menghubungkan raga fana ini dengan entitas besarnya. "Dua bulan?" gumamnya lirih. Suaranya bergema rendah, bergetar di frekuensi yang membuat kaca jendela bergetar halus. Jauh lebih berat dari suara Rian yang dulu. "Terlalu lama." Ia melepaskan kemejanya dengan satu sentakan. Di depan cermin, ia membiarkan punggungnya yang penuh garis memar kemerahan terlihat. Memar itu bergerak. Merayap. Menutup. Kulitnya seolah menelan luka-luka itu dalam hitungan detik hingga kembali mulus tanpa cacat. Ini bukan lagi mukjizat medis. Ini adalah pernyataan perang terhadap takdir. Rian harus segera menyelesaikan urusan manusia ini. Sebelum sisi lain dari dirinya mengambil alih sepenuhnya dan menghanguskan segalanya. Musnah.Hening yang mencekik.Rian terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.Tangan Rian mengepal kuat. Keras.Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.Di dekat mereka, rangkaian bunga lili putih yang menjadi dekorasi pesta mulai merunduk. Kelopaknya mencokelat, layu dalam hitungan detik seolah dipanggang api yang tak kasatmata."Siapa kau?"Suara itu keluar dari tenggorokan Rian.Namun, bukan suaranya. Ada nada parau yang menyakitkan di sana. Berat dan purba.Sarah tersentak mundur.Langkah kakinya tidak stabil, nyaris tersandung gaunnya sendiri.Air mata jatuh di pipinya, membelah riasan yang mulai luntur."Ini aku, Rian. Kau... kau tidak ingat?"Sarah menatap pria di depannya dengan saksama.Ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Di dalam mata itu, ada kilatan tembaga yang berpendar redup.Hawa panas menjalar di udara, membuat napas Sarah tera
Lampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding. Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi plastik yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu. Rian tidak sedang berbaring lemah seperti yang Aris bayangkan. Pria itu duduk tegak. Sangat tegak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, stabil dan tak tergoyahkan. Tatapannya lurus, mengunci pergerakan Aris tanpa sekali pun berkedip. Aris berdehem, mencoba mengusir rasa mencekik di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi duduk, mencari kenyamanan yang mendadak hilang. "Mas Rian... syukurlah sudah sehat," suara Aris keluar sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa tawar. "Maya bilang soal gedung sudah beres. Saya benar-benar tidak enak hati. Mas malah yang memberesk
Uap teh meliuk di udara. Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati. Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk. Maya menelan ludah. Ia duduk di hadapan kakaknya. Mencari celah di antara keheningan yang mendadak terasa padat. "Mas," panggil Maya lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu provokatif. Rian tidak bergeming. Tatapannya lurus pada permukaan teh yang tenang. "Aku senang kalau Mas mau bantu. Tapi... kenapa harus sekarang? Mas baru saja pulang." Maya meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan hawa gerah yang entah datang dari mana. "Aris dan keluarganya sudah setuju untuk menunggu. Aku tidak mau pernikahan ini jadi alasan Mas jatuh sakit lagi." Keheningan kembali turun. Berat dan menyesakkan. Rian meraih cangkir itu. Ia m
Tiga hari kemudian. Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terlalu cepat. Seolah tubuhnya menolak untuk tetap hancur. Di dalam taksi, Rian hanya diam. Wajahnya terpantul di kaca jendela yang buram oleh uap AC. Ia tidak bergerak saat mobil itu menghantam lubang jalan dengan keras. Sarafnya terasa mati rasa. Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Ia tidak peduli. Tagihan rumah sakit, urusan administrasi, dunia luar—semuanya terasa seperti kebisingan di balik tembok beton. Hampa. Maya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. **** "Kita sampai, Mas," bisik Maya. Suaranya kecil, hampir tertelan deru mesin taksi yang tua. Taksi itu berhenti di sebuah gang buntu. Di depan mereka, sebuah rumah kontrakan sempit berdiri den
Bip. Bip. Bip. Irama itu membelah kesunyian ruang perawatan. Monoton. Dingin. Kelopak mata Rian terbuka. Tidak ada napas tersentak. Tidak ada drama kepanikan. Hanya sepasang iris yang mendadak fokus, menatap langit-langit putih dengan ketajaman yang tidak wajar bagi seseorang yang baru kembali dari ambang maut. Langit-langit itu membosankan. Putih yang mati. Rian mencoba menggerakkan jari. Saraf-sarafnya memprotes. Tubuh ini terasa asing. Berat dan kaku. Rasanya seperti dipaksa memakai pakaian basah yang dua ukuran lebih kecil. Sesak. Nyeri di setiap persendian adalah pengingat bahwa wadah ini hampir saja hancur. "Mas Rian?" Suara itu melengking tipis di sisi kanan. Maya terlonjak dari kursi kayu di samping ranjang. Wajahnya sembab, jejak air mata mengering di pipi yang pucat. "Mas? Mas sudah sadar? Demi Tuhan..." Rian menoleh pelan. Gerakannya presisi, tanpa emosi. Ia menatap Maya. Memindai. Ingatan di dalam tempurung kepalanya menyodorkan data secara otomatis: Maya. Ad
Dengung mesin forklift itu bukan lagi suara. Bagi Rian, itu adalah detak jantung. Musik latar yang telah menyiksa telinganya selama dua belas tahun. Aroma debu kardus yang pengap memenuhi paru-parunya. Menyesakkan. Ia menatap selembar manifes logistik di tangannya. Kertas itu kusam, sama seperti hidupnya yang seolah berhenti berputar di usia tiga puluh. Waktu adalah penjara. Dan Rian adalah narapidana yang lupa caranya bebas. Rian melirik jam dinding kantor gudang yang berkerak. Pukul lima sore. Di luar sana, langit berubah warna menjadi abu-abu logam. Dingin dan tidak ramah. "Mas Rian, besok jangan lupa mampir ke vendor katering, ya?" Suara Maya, adik Rian terdengar dari dalam ponsel. "Mereka butuh tanda tangan Mas untuk pelunasan." Rian hanya mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir yang lebih mirip seringai luka daripada senyum. "Iya, nanti mas mampir." "Jangan lupa ya, Mas. Undangan buat Mbak Sarah harus dititipkan malam ini. Tadi dia nanya lagi, Mas







