Share

Bab 2: Wadah yang Baru

Author: Binar Rasa
last update Last Updated: 2026-01-17 09:26:54

Bip. Bip. Bip.

Irama itu membelah kesunyian ruang perawatan. Monoton. Dingin.

Kelopak mata Rian terbuka.

Tidak ada napas tersentak. Tidak ada drama kepanikan. Hanya sepasang iris yang mendadak fokus, menatap langit-langit putih dengan ketajaman yang tidak wajar bagi seseorang yang baru kembali dari ambang maut.

Langit-langit itu membosankan. Putih yang mati.

Rian mencoba menggerakkan jari. Saraf-sarafnya memprotes.

Tubuh ini terasa asing. Berat dan kaku.

Rasanya seperti dipaksa memakai pakaian basah yang dua ukuran lebih kecil. Sesak. Nyeri di setiap persendian adalah pengingat bahwa wadah ini hampir saja hancur.

"Mas Rian?"

Suara itu melengking tipis di sisi kanan.

Maya terlonjak dari kursi kayu di samping ranjang. Wajahnya sembab, jejak air mata mengering di pipi yang pucat.

"Mas? Mas sudah sadar? Demi Tuhan..."

Rian menoleh pelan. Gerakannya presisi, tanpa emosi.

Ia menatap Maya. Memindai.

Ingatan di dalam tempurung kepalanya menyodorkan data secara otomatis: Maya. Adik perempuan. Satu darah. Sumber suara berisik.

Namun, tidak ada percikan haru. Tidak ada gelombang kelegaan yang seharusnya dirasakan seorang kakak.

Hatinya sedingin batu granit di dasar sungai. Kosong.

"Air," ucap Rian.

Suaranya bukan sekadar serak. Itu adalah suara logam yang bergesekan. Datar. Tanpa intonasi.

Maya buru-buru menyambar gelas di atas meja. Tangannya gemetar hebat saat mengarahkan gelas ke bibir Rian.

Rian menyesapnya sedikit. Sekadar membasahi kerongkongan yang terasa seperti padang pasir terbakar.

"Mas bikin aku takut..." Maya terisak lagi. Tangisannya pecah.

Gadis itu meraih tangan Rian, menggenggam jemarinya erat. Seolah takut kakaknya akan menguap jika ia melepaskannya.

Seketika, kening Maya berkerut. Matanya membelalak kaget.

"Mas demam? Tangan Mas panas sekali. Seperti mendidih!"

Rian tidak menarik tangannya. Ia membiarkan kontak kulit itu terjadi.

Ia bisa merasakan suhu tubuhnya sendiri yang meroket. Itu bukan demam biasa. Itu adalah tanda bahwa sistem di dalamnya sedang bekerja keras.

Nyalanya sedang menjahit sel-sel yang rusak. Memperbaiki jaringan yang robek dari dalam dengan panas yang ekstrem.

Bagi Rian, ini adalah proses teknis yang membosankan. Normal.

"Aku lelah," potong Rian singkat.

Ia tidak ingin mendengar rincian ketakutan Maya. Ia tidak butuh validasi emosional.

"Eh? I-iya, Mas istirahat lagi saja. Jangan banyak gerak dulu."

Maya dengan gugup merapikan selimut, meski ia bisa merasakan panas membara memancar dari balik kain itu.

Rian memejamkan mata.

Dunia di sekitarnya perlahan memudar.

Ia tidak tidur. Ia hanya mematikan seluruh sensor indranya dari dunia luar. Mengunci akses.

Wadah ini rusak parah. Terlalu banyak cacat yang harus ditambal.

Ia butuh ketenangan mutlak. Ia butuh sunyi yang murni untuk membangun kembali mesin ini sebelum bisa berdiri tegak dan menyelesaikan apa yang tertunda.

Sunyi.

****

Pintu kayu mahoni itu terbuka dengan suara decit halus.

Langkah kaki yang teratur mendekat. Dokter masuk, membawa papan klip di pelukannya.

Senyumnya profesional. Terlatih.

Ia mulai memeriksa refleks mata Rian dengan senter kecil. Cahaya itu menusuk pupil Rian, namun pria di ranjang itu tidak berkedip.

Rian membiarkan tangan dingin sang dokter menekan perutnya, memeriksa titik nyeri yang seharusnya ada di sana.

Kosong. Tidak ada rasa sakit.

Dokter itu mencatat beberapa angka dari monitor yang terus berkedip. Gerakannya mulai terasa kikuk.

Ada satu hal yang mengusik ketenangan medis di ruangan itu. Sang dokter tidak berani menatap mata Rian lebih dari dua detik.

Ada sesuatu yang dia lihat di balik bola mata pasiennya. Sesuatu yang asing.

"Kondisinya stabil," ujar Dokter sambil menepuk pundak Maya dengan gerakan kaku.

"Tapi saya perlu bicara sebentar mengenai administrasi dan hasil lab di ruangan saya. Bisa ikut saya, mbak Maya?"

Maya mengangguk patuh. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa kecemasan yang akut.

Ia sempat melirik kakaknya yang kembali memejamkan mata, mengabaikan eksistensi orang-orang di sekitarnya.

Pintu tertutup. Sunyi kembali berkuasa.

****

Ruang konsultasi itu sejuk, nyaris dingin karena AC yang menderu rendah.

Dokter melepas kacamatanya, memijat pangkal hidung seolah baru saja menyelesaikan operasi yang melelahkan. Ia menghela napas panjang.

"Apa ada yang salah dengan Mas Rian, Dok?"

Suara Maya bergetar.

Dokter menggeleng. Raut wajahnya adalah perpaduan antara kebingungan dan kekaguman yang sulit disembunyikan.

"Justru sebaliknya. Ini keajaiban."

Ia memutar layar monitor ke arah Maya, memperlihatkan grafik yang bergerak stabil.

"Secara medis, dengan benturan sekeras itu, organ dalamnya seharusnya mengalami trauma hebat. Hancur."

Dokter menjeda, seolah masih tidak percaya dengan data yang ia baca sendiri.

"Tapi dari hasil cek barusan, pemulihannya sangat cepat. Mustahil, tapi terjadi."

"Bahkan kondisinya jauh lebih baik dari rata-rata orang sehat yang tidak pernah kecelakaan," lanjutnya.

Maya mengembuskan napas lega yang begitu berat. Bahunya yang tegang akhirnya meluruh.

"Syukurlah... jadi Mas Rian benar-benar sembuh?"

"Secara fisik, ya. Ini mukjizat."

Dokter itu kembali memakai kacamatanya. Tatapannya menjadi lebih dalam, lebih hati-hati.

"Tapi saya tahu Anda khawatir karena dia terlihat... berbeda."

Maya terdiam sejenak. Bayangan tatapan dingin Rian tadi melintas di benaknya.

"Iya, Dok. Mas Rian seperti orang asing. Dia tidak banyak bicara, seolah ikatan di antara kami tidak pernah ada."

Dokter mengangguk perlahan. Ia sudah menduga ini.

"Itu disebut retrograde amnesia pasca-trauma. Mekanisme pertahanan diri."

Ia menjelaskan bagaimana otak memblokir emosi agar tidak kelebihan beban setelah dihantam maut.

"Dia mungkin ingat nama Anda. Dia ingat fakta bahwa dia punya adik. Tapi sirkuit emosionalnya sedang terputus."

Putus.

Dokter mencondongkan tubuh, suaranya merendah menjadi peringatan serius.

"Saran saya, lakukan terapi pelan-pelan. Jangan paksa dia untuk merespons secara emosional."

"Biarkan dia beradaptasi dengan tubuhnya sendiri. Tekanan mental hanya akan memperlambat pemulihan fisiknya yang luar biasa ini."

Maya mengangguk mantap. Matanya berkaca-kaca, namun ada tekad di sana.

Setidaknya, raga kakaknya masih ada di sana.

Itu sudah lebih dari cukup.

****

Pintu tertutup.

Langkah kaki Maya yang terburu-buru perlahan memudar, tertelan oleh kebisingan rendah koridor rumah sakit.

Rian membuka mata.

Detik itu juga, aura di dalam kamar berubah. Kesan rapuh yang baru saja ia perlihatkan di depan dokter dan adiknya menguap tanpa sisa.

Ia menarik tangannya dari balik selimut putih yang kaku.

Panas itu masih ada. Merayap di bawah permukaan kulitnya seperti aliran lava yang terkendali.

Ia membalikkan telapak tangan. Matanya menyipit, memindai setiap inci punggung tangannya dengan akurasi predator.

Bekas luka lecet akibat serpihan kaca itu hilang. Tidak ada keropeng. Tidak ada kemerahan.

Kulitnya kini rata. Mulus. Seperti kain sutra yang baru ditenun, namun sekeras baja di dalamnya.

Ia mengepalkan tinju.

Kraak.

Bukan suara tulang, melainkan suara udara yang terperangkap di sela jemarinya.

Kekuatan yang berdenyut di bawah otot-ototnya terasa asing. Ini bukan lagi tenaga manusia biasa yang sering merasa lelah setelah bekerja lembur di kantor.

Kekuatan ini berkali-kali lipat lebih besar dari apa yang pernah diingat oleh memori "Rian" yang asli.

Ini bukan sekadar pemulihan medis.

Ini adalah rekonstruksi total.

Rian bangkit dari posisi berbaring. Gerakannya terlalu halus, tanpa hambatan gravitasi yang biasanya menyiksa pasien pasca-kecelakaan.

Ia menoleh ke arah jendela besar yang memantulkan bayangan samar dirinya di atas kegelapan malam Jakarta.

Sosok di kaca itu memiliki wajah Rian—rahang tegas, hidung lurus, dan mata yang seharusnya hangat.

Namun, binar di mata itu telah mati. Digantikan oleh kekosongan hitam yang dalam dan berbahaya.

Rian yang lama mungkin memang sudah mati. Hancur bersama besi-besi tua yang menjepit tubuhnya di jalan raya malam itu.

Dan entitas yang kini menghuni wadah ini tidak memiliki ruang untuk sentimentalitas.

Ia tidak punya waktu untuk drama keluarga atau air mata seorang adik.

Ada dentum frekuensi di kepalanya. Sebuah panggilan yang hanya bisa didengar olehnya.

Ia punya tujuan lain.

Sesuatu yang jauh lebih besar dan gelap daripada sekadar menjadi seorang kakak yang baik.

Tangannya kembali meraba dada kiri. Jantungnya berdetak lambat, namun sangat bertenaga.

Satu detakan yang bisa meruntuhkan ekspektasi siapa pun yang meremehkannya.

Permainan baru saja dimulai.

Dan wadah ini, siap untuk berperang.

Tujuan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 6: Bukan Lagi Manusia

    Hening yang mencekik.Rian terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.Tangan Rian mengepal kuat. Keras.Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.Di dekat mereka, rangkaian bunga lili putih yang menjadi dekorasi pesta mulai merunduk. Kelopaknya mencokelat, layu dalam hitungan detik seolah dipanggang api yang tak kasatmata."Siapa kau?"Suara itu keluar dari tenggorokan Rian.Namun, bukan suaranya. Ada nada parau yang menyakitkan di sana. Berat dan purba.Sarah tersentak mundur.Langkah kakinya tidak stabil, nyaris tersandung gaunnya sendiri.Air mata jatuh di pipinya, membelah riasan yang mulai luntur."Ini aku, Rian. Kau... kau tidak ingat?"Sarah menatap pria di depannya dengan saksama.Ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Di dalam mata itu, ada kilatan tembaga yang berpendar redup.Hawa panas menjalar di udara, membuat napas Sarah tera

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 5: Tujuh Hari dan Satu Janji

    Lampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding. Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi plastik yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu. Rian tidak sedang berbaring lemah seperti yang Aris bayangkan. Pria itu duduk tegak. Sangat tegak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, stabil dan tak tergoyahkan. Tatapannya lurus, mengunci pergerakan Aris tanpa sekali pun berkedip. Aris berdehem, mencoba mengusir rasa mencekik di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi duduk, mencari kenyamanan yang mendadak hilang. "Mas Rian... syukurlah sudah sehat," suara Aris keluar sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa tawar. "Maya bilang soal gedung sudah beres. Saya benar-benar tidak enak hati. Mas malah yang memberesk

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 4: Sesuatu yang Pulang Bersamanya

    Uap teh meliuk di udara. Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati. Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk. Maya menelan ludah. Ia duduk di hadapan kakaknya. Mencari celah di antara keheningan yang mendadak terasa padat. "Mas," panggil Maya lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu provokatif. Rian tidak bergeming. Tatapannya lurus pada permukaan teh yang tenang. "Aku senang kalau Mas mau bantu. Tapi... kenapa harus sekarang? Mas baru saja pulang." Maya meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan hawa gerah yang entah datang dari mana. "Aris dan keluarganya sudah setuju untuk menunggu. Aku tidak mau pernikahan ini jadi alasan Mas jatuh sakit lagi." Keheningan kembali turun. Berat dan menyesakkan. Rian meraih cangkir itu. Ia m

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 3: Residu Manusia

    Tiga hari kemudian. Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terlalu cepat. Seolah tubuhnya menolak untuk tetap hancur. Di dalam taksi, Rian hanya diam. Wajahnya terpantul di kaca jendela yang buram oleh uap AC. Ia tidak bergerak saat mobil itu menghantam lubang jalan dengan keras. Sarafnya terasa mati rasa. Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Ia tidak peduli. Tagihan rumah sakit, urusan administrasi, dunia luar—semuanya terasa seperti kebisingan di balik tembok beton. Hampa. Maya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. **** "Kita sampai, Mas," bisik Maya. Suaranya kecil, hampir tertelan deru mesin taksi yang tua. Taksi itu berhenti di sebuah gang buntu. Di depan mereka, sebuah rumah kontrakan sempit berdiri den

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 2: Wadah yang Baru

    Bip. Bip. Bip. Irama itu membelah kesunyian ruang perawatan. Monoton. Dingin. Kelopak mata Rian terbuka. Tidak ada napas tersentak. Tidak ada drama kepanikan. Hanya sepasang iris yang mendadak fokus, menatap langit-langit putih dengan ketajaman yang tidak wajar bagi seseorang yang baru kembali dari ambang maut. Langit-langit itu membosankan. Putih yang mati. Rian mencoba menggerakkan jari. Saraf-sarafnya memprotes. Tubuh ini terasa asing. Berat dan kaku. Rasanya seperti dipaksa memakai pakaian basah yang dua ukuran lebih kecil. Sesak. Nyeri di setiap persendian adalah pengingat bahwa wadah ini hampir saja hancur. "Mas Rian?" Suara itu melengking tipis di sisi kanan. Maya terlonjak dari kursi kayu di samping ranjang. Wajahnya sembab, jejak air mata mengering di pipi yang pucat. "Mas? Mas sudah sadar? Demi Tuhan..." Rian menoleh pelan. Gerakannya presisi, tanpa emosi. Ia menatap Maya. Memindai. Ingatan di dalam tempurung kepalanya menyodorkan data secara otomatis: Maya. Ad

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 1: Hening Sebelum Bara

    Dengung mesin forklift itu bukan lagi suara. Bagi Rian, itu adalah detak jantung. Musik latar yang telah menyiksa telinganya selama dua belas tahun. Aroma debu kardus yang pengap memenuhi paru-parunya. Menyesakkan. Ia menatap selembar manifes logistik di tangannya. Kertas itu kusam, sama seperti hidupnya yang seolah berhenti berputar di usia tiga puluh. Waktu adalah penjara. Dan Rian adalah narapidana yang lupa caranya bebas. Rian melirik jam dinding kantor gudang yang berkerak. Pukul lima sore. Di luar sana, langit berubah warna menjadi abu-abu logam. Dingin dan tidak ramah. "Mas Rian, besok jangan lupa mampir ke vendor katering, ya?" Suara Maya, adik Rian terdengar dari dalam ponsel. "Mereka butuh tanda tangan Mas untuk pelunasan." Rian hanya mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir yang lebih mirip seringai luka daripada senyum. "Iya, nanti mas mampir." "Jangan lupa ya, Mas. Undangan buat Mbak Sarah harus dititipkan malam ini. Tadi dia nanya lagi, Mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status