Home / Urban / Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api / Bab 6: Bukan Lagi Manusia

Share

Bab 6: Bukan Lagi Manusia

Author: Binar Rasa
last update Last Updated: 2026-02-06 09:44:39

Hening yang mencekik.

Rian terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.

Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.

Tangan Rian mengepal kuat. Keras.

Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.

Di dekat mereka, rangkaian bunga lili putih yang menjadi dekorasi pesta mulai merunduk. Kelopaknya mencokelat, layu dalam hitungan detik seolah dipanggang api yang tak kasatmata.

"Siapa kau?"

Suara itu keluar dari tenggorokan Rian.

Namun, bukan suaranya. Ada nada parau yang menyakitkan di sana. Berat dan purba.

Sarah tersentak mundur.

Langkah kakinya tidak stabil, nyaris tersandung gaunnya sendiri.

Air mata jatuh di pipinya, membelah riasan yang mulai luntur.

"Ini aku, Rian. Kau... kau tidak ingat?"

Sarah menatap pria di depannya dengan saksama.

Ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Di dalam mata itu, ada kilatan tembaga yang berpendar redup.

Hawa panas menjalar di udara, membuat napas Sarah terasa berat dan kering.

Pertanyaan "Siapa kau?" itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun.

Nada itu asing. Terlalu dingin untuk pria yang pernah memeluknya.

Sarah tidak menangis lebih jauh. Isakannya berhenti seketika, digantikan oleh kesadaran yang dingin.

Ia menarik napas panjang. Paru-parunya terasa terbakar oleh udara panas di sekitar Rian.

Perlahan, ia menghapus air mata di pipinya dengan ujung jari yang gemetar.

Sarah menyadari satu hal yang menyakitkan.

Pria ini memang memiliki wajah Rian. Memiliki garis rahang yang sama. Namun, napas dan jiwanya bukan lagi milik pria yang ia cintai.

Ia sedang menatap sebuah cangkang yang dihuni oleh entitas lain.

"Jangan dilanjutkan," ucap Sarah lirih.

Suaranya kini tenang. Tajam seperti mata pisau yang baru diasah.

Rian tetap diam.

Tangannya masih mengepal, menahan debaran jantung yang terasa ingin mendobrak tulang rusuknya.

Darah di dalam pembuluh darahnya terasa mendidih.

"Mungkin benar kau tidak ingat," lanjut Sarah.

Ia mundur satu langkah. Menciptakan jarak yang tegas. Sebuah garis demarkasi yang tak boleh dilanggar.

"Atau mungkin kau memilih untuk tidak ingat."

Sarah menatap panggung pelaminan sejenak.

Di sana, Maya sedang tertawa bahagia di balik gaun pengantinnya yang mewah. Berkilau di bawah lampu kristal.

Kontras yang memuakkan.

"Kurasa... akan lebih baik jika kita berhenti di sini."

Kalimat itu menggantung di udara yang panas.

"Jangan cari aku, dan aku tidak akan mencarimu lagi. Jalani hidupmu yang sekarang, Rian. Aku akan menjalani hidupku."

Sarah kembali menatap Maya untuk terakhir kalinya.

"Kau sudah menyelesaikan tugasmu pada Maya. Itu sudah cukup," bisik Sarah.

Tanpa menunggu jawaban, Sarah berbalik.

Ia berjalan cepat menembus kerumunan tamu. Gaunnya berkibar, menabrak aroma parfum mahal dan obrolan kosong para undangan.

Ia tidak menoleh lagi.

Sosoknya menghilang di balik pintu keluar gedung yang megah itu.

Lenyap.

Rian berdiri terpaku.

Bara di dadanya perlahan meredup. Suhu udara di sekitar mulai turun, kembali normal seiring perginya wanita itu.

Namun, ada rasa nyeri yang ganjil tertinggal di sana.

Untuk pertama kalinya, sang Dewa merasakan kekalahan.

Bukan kalah dalam pertempuran besar atau adu kekuatan gaib.

Ia kalah oleh sisa rasa yang tertinggal di dalam pembuluh darah manusia yang ia tempati.

Residu memori yang menolak untuk mati.

Rian menatap pintu tempat Sarah menghilang.

Keheningan yang ditinggalkan wanita itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada kobaran api mana pun di neraka.

Sunyi.

Hampa.

****

Kontrakan sempit itu kini terasa seperti peti mati.

Maya sudah pergi dengan seluruh masa depan yang baru ia bangun. Sarah pun telah memutus benang terakhir yang menghubungkan mereka.

Hanya ada sunyi. Pekat dan mencekik.

Rian atau sosok yang kini meminjam raga itu. Berdiri tegak di depan cermin.

Cahaya lampu di atasnya berkedip tidak stabil.

Ia mulai melepas kancing kemeja beskapnya satu per satu. Gerakannya presisi. Dingin.

Kain itu jatuh ke lantai yang lembap.

Di bawah lampu yang sekarat, keajaiban yang mengerikan itu terpampang nyata.

Luka-luka parut bekas kecelakaan hebat itu telah sirna sepenuhnya. Tak ada bekas. Tak ada trauma.

Hanya menyisakan kulit yang memancarkan pendar oranye samar. Redup, namun berdenyut seirama dengan tarikan napasnya yang berat.

Lidah api kecil menari di ujung kayu.

Ventilasi jendela kamar meniupkan angin malam yang cukup kuat, namun api itu tidak bergoyang. Ia tidak padam.

Lidah api itu mematung. Tunduk. Seolah sedang memberikan penghormatan kepada tuannya.

"Wadah ini terlalu sempit untuk api yang lahir dari kawah kanda."

Suaranya bukan lagi suara Rian yang rendah hati.

Ada gema purba yang bergetar di dalamnya. Berat seperti runtuhan gunung.

Ia menyentuhkan ujung jemarinya ke puncak api.

Bukannya melepuh, api itu justru tersedap masuk ke dalam pori-porinya.

Lidah api itu mengalir di bawah kulit, menyerupai emas cair yang merayap menuju jantung.

Rian menatap pantulannya di cermin. Tatapan yang menembus retakan kaca.

Seketika, pupil hitamnya lenyap.

Dua lubang api berkobar di sana. Menatap melintasi dimensi dan waktu yang tak terjangkau nalar manusia.

Aku telah melunasi utang darah pria ini.

Suara itu bergema di dalam kesadarannya sendiri. Sebuah pernyataan mutlak.

Ia bukan lagi Rian yang meratapi nasib. Bukan lagi manusia yang ringkih oleh gravitasi dan rasa sakit.

Ia adalah sang pembebas. Sosok yang dikonstruksi dari kobaran api suci.

Turun ke dunia bukan untuk membagi cinta, melainkan untuk membakar ketidakadilan yang telah membusuk hingga ke akar.

Ia mengepalkan tangan kuat-kuat.

Uap panas mengepul dari sela jemarinya, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma belerang yang samar.

"Nama itu..." ia berbisik pada kegelapan yang mengepung.

"Sudah terlalu lama tidak bergema di jagat ini."

Udara di dalam ruangan mendadak seberat tembaga. Oksigen seolah tersedot habis, digantikan tekanan hebat yang menghimpit dinding.

Ia menyebutkan identitas itu. Bukan pada manusia, tapi pada takdir yang menyeretnya ke raga ini.

"Wisanggeni."

PRANG!

Seluruh lampu di kontrakan itu meledak serentak. Pecah berkeping.

Padam.

Kegelapan total menelan segalanya, menyisakan sepasang mata merah yang masih menyala di balik bayangan.

Bara yang menolak untuk mati.

****

Kawah Candradimuka tidak pernah mengenal kata tenang.

Di sana, di kedalaman dimensi yang luput dari radar manusia, semesta sedang mendidih.

Tempat itu adalah kuali kosmik.

Ruang hampa di mana nyawa para ksatria ditempa menjadi belati, dan amarah dikristalkan menjadi senjata pemusnah.

Ribuan tahun berlalu dalam segel.

Rantai takdir membelit inti kawah dengan sisa-sisa api yang bahkan terlalu berbahaya untuk disimpan di surga.

Hening yang mematikan.

Hingga malam ini, satu mata rantai retak.

Crak.

Getarannya merobek realitas.

Namun, ledakan itu tidak dipicu dari dalam kawah.

Ada tarikan dari "bawah".

Sebuah magnet tak kasat mata yang berasal dari kerak bumi yang kusam dan bising.

Jakarta.

Kota itu berdenyut dengan polusi dan ambisi, tak menyadari bahwa di salah satu sudutnya, sebuah raga sedang menolak mati.

Rian.

Laki-laki itu seharusnya sudah menjadi statistik di kamar jenazah.

Napasnya tersengal, namun jantungnya berdegup dengan frekuensi yang ganjil.

Di kedalaman Candradimuka, esensi murni Wisanggeni mulai bergolak.

Api itu tidak lagi diam.

Ia merasakan panggilan.

Ada sebuah wadah kosong di dimensi manusia yang menuntut untuk diisi.

Rantai kedua putus.

Logam surgawi itu mencair, kalah oleh tarikan gravitasi dari raga Rian yang sekarat.

Esensi Wisanggeni melesat.

Ia bukan lagi sekadar api; ia adalah kesadaran yang haus akan pembalasan.

Kawah itu bergetar hebat.

Dewa-dewa mungkin sedang berpaling, atau mungkin mereka terlalu takut untuk melihat apa yang baru saja mereka lepaskan.

Wisanggeni tidak peduli.

Ia telah menemukan jangkar barunya.

Di sebuah gang sempit Jakarta, tubuh Rian tersentak hebat.

Suhu tubuhnya melonjak melampaui batas logika manusia.

Aspal di bawah punggungnya mulai retak dan menghitam.

Panas.

Hiduplah.

Suara itu bergema di balik tempurung kepala Rian.

Bukan suara manusia.

Itu adalah geraman api yang telah terkurung selama ribuan musim.

Mata Rian terbuka lebar.

Pupil matanya tidak lagi berwarna hitam.

Ada pijar jingga yang menari di sana.

Segel itu benar-benar hancur.

Neraka baru saja berpindah alamat.

Dan Jakarta adalah saksi pertamanya.

****

Langkah kaki itu membelah sunyi gang sempit menuju mess pekerja.

Tenang. Namun, setiap kali sol sepatu Rian menyentuh tanah, ada getaran halus yang menjalar.

Serangga malam yang tadinya riuh mendadak bungkam. Seolah alam tahu, pemangsa yang jauh lebih purba sedang lewat.

Di balik dahi itu, ingatan tentang khayangan masih terasa seperti luka bakar yang baru. Basah dan menyengat.

Ia mengingat perdebatan di ruang-ruang agung yang dingin. Tempat di mana para penguasa langit duduk di atas takhta awan, memilih untuk mengabaikan jeritan dari dunia bawah.

Mereka menyebut penderitaan manusia sebagai "siklus alam". Wisanggeni menyebutnya pembusukan.

Sesuatu sedang merayap di bumi.

Entitas tanpa rupa yang lahir dari rahim kerakusan. Ia mematikan nurani, mengubah manusia menjadi cangkang kosong yang beku.

Karena itulah ia mencuri jalan turun.

Ia butuh raga yang hancur untuk menyembunyikan kobaran aslinya. Dan Rian, pria yang remuk oleh nasib. Adalah pintu masuk yang sempurna.

Langkahnya terhenti tepat di sudut bayangan gudang logistik.

Udara yang tadinya lembap mendadak berubah menjadi dingin yang menggigil.

Ini bukan dingin yang dibawa angin malam. Ini adalah dingin yang lahir dari kehadiran sesuatu yang jahat.

Di bawah lampu jalan yang sekarat, berdiri sesosok pria. Mandra.

Mandor gudang yang dikenal keras itu berdiri terlalu tegak. Kepalanya miring dengan sudut yang tidak manusiawi, nyaris patah.

Dari celah bibirnya yang membiru, keluar uap hitam berbau busuk. Seperti bau bangkai yang tertimbun lama.

Di bawah kakinya, aspal tampak membeku. Mandra bukan lagi manusia; ia adalah lubang hitam yang menyerap seluruh kehangatan cahaya.

"Kau bukan milik dunia ini."

Suara Wisanggeni keluar dari mulut Rian.

Berat. Bergetar dengan otoritas yang tak terbantahkan.

Mandra, atau apa pun yang menghuninya, menoleh lambat. Matanya putih sempurna. Tanpa pupil. Tanpa jiwa.

Ia mengeluarkan suara geraman serupa gesekan es di atas batu makam.

Tanpa peringatan, sosok itu melesat.

Gerakannya sangat cepat, meninggalkan jejak embun beku yang menggantung di udara.

Tangan yang membiru itu mencengkeram leher Rian. Ia mencoba membekukan aliran darah dalam sekali sentuhan maut.

Rian tidak menghindar. Ia berdiri sekokoh gunung karang.

Ia membiarkan tangan dingin itu mengunci lehernya.

Sizzzz...

Suara daging yang bertemu dengan panas ekstrem terdengar menyayat.

Mandra tersentak mundur. Tangannya berasap hebat seolah baru saja memegang batang besi yang membara.

"Dinginmu tidak akan bisa memadamkan api ini," bisik Rian.

Wisanggeni tidak butuh senjata. Ia adalah senjata itu sendiri.

Ia mengepalkan tangan. Seketika, urat-urat di lengannya berpijar oranye terang di bawah kulit.

Saat tinjunya menghantam dada Mandra, bukan benturan fisik yang terdengar.

BOOM.

Suara ledakan kecil yang hampa berdentum di udara.

Api suci menyembur keluar dari telapak tangannya, menembus punggung Mandra.

Cahaya itu membakar bayangan hitam yang mencoba bersembunyi di dalam sumsum tulang sang mandor.

Makhluk itu melengking. Suara jeritan yang tidak terdengar oleh telinga, namun menggetarkan batin hingga ke dasarnya.

Dalam sekejap, bayangan itu menguap menjadi abu gaib. Meninggalkan tubuh Mandra yang jatuh berdebam, pingsan, namun kembali hangat.

Rian berdiri diam. Napasnya stabil, tidak terburu-buru.

Ia menatap telapak tangannya yang perlahan kembali ke warna kulit manusia normal.

"Satu."

Suaranya datar, namun mengandung janji yang mengerikan.

"Masih terlalu banyak sisa kegelapan di kota ini."

Ia tahu, pertempuran ini tidak akan masuk dalam berita pagi. Tidak akan ada saksi mata yang paham.

Ini adalah perang antara api yang terbuang dan dingin yang memangsa.

Dan dia baru saja menyalakan sumbunya.

Membara..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 6: Bukan Lagi Manusia

    Hening yang mencekik.Rian terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.Tangan Rian mengepal kuat. Keras.Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.Di dekat mereka, rangkaian bunga lili putih yang menjadi dekorasi pesta mulai merunduk. Kelopaknya mencokelat, layu dalam hitungan detik seolah dipanggang api yang tak kasatmata."Siapa kau?"Suara itu keluar dari tenggorokan Rian.Namun, bukan suaranya. Ada nada parau yang menyakitkan di sana. Berat dan purba.Sarah tersentak mundur.Langkah kakinya tidak stabil, nyaris tersandung gaunnya sendiri.Air mata jatuh di pipinya, membelah riasan yang mulai luntur."Ini aku, Rian. Kau... kau tidak ingat?"Sarah menatap pria di depannya dengan saksama.Ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Di dalam mata itu, ada kilatan tembaga yang berpendar redup.Hawa panas menjalar di udara, membuat napas Sarah tera

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 5: Tujuh Hari dan Satu Janji

    Lampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding. Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi plastik yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu. Rian tidak sedang berbaring lemah seperti yang Aris bayangkan. Pria itu duduk tegak. Sangat tegak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, stabil dan tak tergoyahkan. Tatapannya lurus, mengunci pergerakan Aris tanpa sekali pun berkedip. Aris berdehem, mencoba mengusir rasa mencekik di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi duduk, mencari kenyamanan yang mendadak hilang. "Mas Rian... syukurlah sudah sehat," suara Aris keluar sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa tawar. "Maya bilang soal gedung sudah beres. Saya benar-benar tidak enak hati. Mas malah yang memberesk

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 4: Sesuatu yang Pulang Bersamanya

    Uap teh meliuk di udara. Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati. Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk. Maya menelan ludah. Ia duduk di hadapan kakaknya. Mencari celah di antara keheningan yang mendadak terasa padat. "Mas," panggil Maya lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu provokatif. Rian tidak bergeming. Tatapannya lurus pada permukaan teh yang tenang. "Aku senang kalau Mas mau bantu. Tapi... kenapa harus sekarang? Mas baru saja pulang." Maya meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan hawa gerah yang entah datang dari mana. "Aris dan keluarganya sudah setuju untuk menunggu. Aku tidak mau pernikahan ini jadi alasan Mas jatuh sakit lagi." Keheningan kembali turun. Berat dan menyesakkan. Rian meraih cangkir itu. Ia m

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 3: Residu Manusia

    Tiga hari kemudian. Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terlalu cepat. Seolah tubuhnya menolak untuk tetap hancur. Di dalam taksi, Rian hanya diam. Wajahnya terpantul di kaca jendela yang buram oleh uap AC. Ia tidak bergerak saat mobil itu menghantam lubang jalan dengan keras. Sarafnya terasa mati rasa. Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Ia tidak peduli. Tagihan rumah sakit, urusan administrasi, dunia luar—semuanya terasa seperti kebisingan di balik tembok beton. Hampa. Maya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. **** "Kita sampai, Mas," bisik Maya. Suaranya kecil, hampir tertelan deru mesin taksi yang tua. Taksi itu berhenti di sebuah gang buntu. Di depan mereka, sebuah rumah kontrakan sempit berdiri den

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 2: Wadah yang Baru

    Bip. Bip. Bip. Irama itu membelah kesunyian ruang perawatan. Monoton. Dingin. Kelopak mata Rian terbuka. Tidak ada napas tersentak. Tidak ada drama kepanikan. Hanya sepasang iris yang mendadak fokus, menatap langit-langit putih dengan ketajaman yang tidak wajar bagi seseorang yang baru kembali dari ambang maut. Langit-langit itu membosankan. Putih yang mati. Rian mencoba menggerakkan jari. Saraf-sarafnya memprotes. Tubuh ini terasa asing. Berat dan kaku. Rasanya seperti dipaksa memakai pakaian basah yang dua ukuran lebih kecil. Sesak. Nyeri di setiap persendian adalah pengingat bahwa wadah ini hampir saja hancur. "Mas Rian?" Suara itu melengking tipis di sisi kanan. Maya terlonjak dari kursi kayu di samping ranjang. Wajahnya sembab, jejak air mata mengering di pipi yang pucat. "Mas? Mas sudah sadar? Demi Tuhan..." Rian menoleh pelan. Gerakannya presisi, tanpa emosi. Ia menatap Maya. Memindai. Ingatan di dalam tempurung kepalanya menyodorkan data secara otomatis: Maya. Ad

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 1: Hening Sebelum Bara

    Dengung mesin forklift itu bukan lagi suara. Bagi Rian, itu adalah detak jantung. Musik latar yang telah menyiksa telinganya selama dua belas tahun. Aroma debu kardus yang pengap memenuhi paru-parunya. Menyesakkan. Ia menatap selembar manifes logistik di tangannya. Kertas itu kusam, sama seperti hidupnya yang seolah berhenti berputar di usia tiga puluh. Waktu adalah penjara. Dan Rian adalah narapidana yang lupa caranya bebas. Rian melirik jam dinding kantor gudang yang berkerak. Pukul lima sore. Di luar sana, langit berubah warna menjadi abu-abu logam. Dingin dan tidak ramah. "Mas Rian, besok jangan lupa mampir ke vendor katering, ya?" Suara Maya, adik Rian terdengar dari dalam ponsel. "Mereka butuh tanda tangan Mas untuk pelunasan." Rian hanya mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir yang lebih mirip seringai luka daripada senyum. "Iya, nanti mas mampir." "Jangan lupa ya, Mas. Undangan buat Mbak Sarah harus dititipkan malam ini. Tadi dia nanya lagi, Mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status