LOGINLampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding.
Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi plastik yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu. Rian tidak sedang berbaring lemah seperti yang Aris bayangkan. Pria itu duduk tegak. Sangat tegak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, stabil dan tak tergoyahkan. Tatapannya lurus, mengunci pergerakan Aris tanpa sekali pun berkedip. Aris berdehem, mencoba mengusir rasa mencekik di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi duduk, mencari kenyamanan yang mendadak hilang. "Mas Rian... syukurlah sudah sehat," suara Aris keluar sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa tawar. "Maya bilang soal gedung sudah beres. Saya benar-benar tidak enak hati. Mas malah yang membereskan semuanya." "Jangan bahas soal uang." Suara Rian memotong udara dengan presisi sebuah pisau bedah. Rendah. Dingin. Berwibawa. Aris merasakan bulu kuduknya meremang. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis oleh kehadiran Rian. "Aku memanggilmu ke sini bukan untuk mendengar basa-basi." Aris terdiam. Napasnya tertahan di dada. Ia melirik ke arah ambang pintu dapur. Di sana, Maya berdiri mematung dengan jemari yang meremas ujung daster. Wajahnya pucat, penuh kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Rian mencondongkan tubuhnya ke depan. Gerakannya perlahan, namun penuh ancaman laten. Aris merasakan gelombang hawa hangat yang tidak wajar memancar dari arah pria itu. Seperti hawa panas dari mesin yang baru saja berhenti bekerja. "Kau akan menikahi adik pria ini," ucap Rian perlahan. Setiap kata ditekan dengan bobot yang luar biasa. "Katakan padaku. Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kau harus memilih antara nyawamu atau keselamatannya?" Pertanyaan itu menghantam Aris. Terlalu liar untuk obrolan santai di ruang tamu. Aris mengerjap. Ia mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya. "Maksud Mas? Ya... tentu saya akan jaga Maya, Mas. Saya sayang sama dia." "Aku tidak bertanya soal sayang." Mata tembaga Rian berkilat tajam di bawah cahaya lampu yang temaram. Ada sesuatu yang purba dan berbahaya di balik manik mata itu. "Perasaan bisa berubah seiring musim. Aku bicara soal janji." Rian mengetuk meja sekali. Pelan, namun tegas. "Jika kau mengambilnya dari rumah ini, kau mengambil seluruh beban yang selama ini dipikul pria ini." "Jika kau goyah sedikit saja, kau tidak hanya berhadapan dengan hukum manusia." Aris menelan ludah dengan susah payah. Bunyi tegukannya terdengar jelas di telinganya sendiri. Ia merasa sedang tidak berhadapan dengan calon kakak ipar. Ia sedang diinterogasi oleh sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang mutlak. Punggungnya mulai basah oleh keringat dingin. "Saya... saya janji, Mas. Saya tidak akan membiarkan Maya kesusahan." Suara Aris akhirnya keluar. Mencoba terdengar mantap meski dadanya bergemuruh hebat. Rian diam. Ia menatap Aris dalam-dalam, seolah sedang membedah lapisan daging dan tulang untuk mencari kejujuran di balik tulang rusuk pria itu. Keheningan yang menyesakkan itu berlangsung lama. Kemudian, Rian kembali bersandar. Ketegangan yang mencekik itu sedikit mengendur, namun tidak hilang sepenuhnya. "Ingat kata-katamu." Rian mengalihkan pandangan sejenak, seolah intensitas di matanya bisa membakar Aris jika diteruskan. "Besok, selesaikan sisa administrasi yang lain. Aku ingin semua selesai dalam tujuh hari." "Tidak boleh ada satu pun yang meleset dari jadwal semula." Aris hanya bisa mengangguk kaku. Gerakan lehernya terasa seperti mesin berkarat. Saat ia berdiri untuk berpamitan, ia menyodorkan tangan untuk bersalaman. Detik ketika telapak tangan mereka bersentuhan, Aris tersentak. Kulit Rian terasa sangat panas. Bukan panas demam biasa. Rasanya seperti menyentuh logam yang baru saja ditarik dari tungku pembakaran. Membara. Begitu pintu depan tertutup dan suara motor Aris menjauh, Maya mendekat ke meja. "Mas... Mas terlalu keras sama Aris. Dia sampai ketakutan begitu." Rian tidak menoleh. Ia tetap terpaku pada sisa teh di dalam cangkir yang sudah mendingin. "Ketakutan adalah tanda bahwa dia sadar akan beratnya janji," gumam Rian pelan. Suaranya kini terdengar seperti parutan kayu. Kering dan hampa. "Hanya orang bodoh yang menjanjikan surga tanpa merasa ngeri akan tanggung jawabnya." Ia memejamkan mata. Di dalam kepalanya, waktu terus berdetak. Menghitung mundur sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu. Selesai. **** Gedung itu terlampau megah untuk pernikahan sederhana. Namun, setiap sudutnya memancarkan presisi yang mengerikan. Bunga melati diatur dengan jarak yang simetris. Katering melimpah tanpa satu pun piring yang kosong. Semua berjalan sesuai jadwal. Tidak meleset sedetik pun. Penyebabnya berdiri tegak di dekat pintu masuk. Sosok itu adalah Rian. Beskap tradisional yang ia kenakan membungkus tubuhnya dengan sempurna. Luka-luka yang beberapa hari lalu menghiasi wajahnya kini lenyap tanpa bekas. Kulitnya tampak kencang. Terlalu sehat. Terlalu mulus untuk seseorang yang baru bangkit dari maut. Satu per satu tamu menyalami tangannya. Setiap kali kulit mereka bersentuhan, para tamu akan menarik tangan dengan cepat. Wajah mereka menunjukkan ekspresi bingung yang serupa. Telapak tangan Rian terasa seperti batu yang dijemur di tengah gurun. Panas yang menyengat, namun mati. Maya mendekat. Air mata mengalir tipis, merusak sedikit riasan di pipinya yang merona. "Mas... terima kasih," bisiknya parau. "Aku nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada Mas." Rian menatap adiknya. Tidak ada binar haru di sana. Ia tidak membalas pelukan itu. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang kaku. "Tugas pria ini sudah selesai." Kalimat itu meluncur seperti pernyataan resmi dari balik meja birokrasi. Dingin. Tanpa lemak emosional. Rian menuntun Maya menuju pelaminan. Langkahnya stabil, menciptakan irama yang mendominasi seluruh ruangan. Para tamu mendadak bungkam. Ada wibawa yang sangat berat, sesuatu yang purba, terpancar dari tiap gerak-geriknya. Aris menunggu di ujung panggung dengan lutut yang nyaris lemas. Saat jemari Maya berpindah ke tangan Aris, pria itu gemetar. Ia mengingat setiap kata yang diucapkan Rian di ruang tamu malam itu. Ancaman itu masih terasa seperti pisau yang menempel di lehernya. Rian mundur satu langkah. Ia berdiri di sudut panggung, mengamati prosesi itu dengan mata tembaga yang berkilat dingin. Di dalam rongga dadanya, sesuatu terasa melepaskan diri. Sebuah beban yang selama ini menghimpit saraf-sarafnya mendadak menguap. Wisanggeni merasakan kebebasan. 'Kontrak' dengan jiwa pemilik tubuh ini untuk menjaga adiknya telah lunas. Tuntas. Ia hendak berbalik. Ia ingin segera meninggalkan keramaian yang memuakkan ini. Namun, langkahnya mendadak terkunci. Di antara barisan tamu yang mengantre, berdiri seorang wanita. Kebayanya sederhana. Rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang lepas. Matanya yang lelah memancarkan kerinduan sekaligus ketakutan yang mendalam. Itu Sarah. Seketika, jantung di dalam dada Rian berdegup kencang. Reaksi otonom yang liar. Sebuah pemberontakan fisik yang tidak diperintahkan oleh sang Dewa yang menghuni raga itu. Bara di dadanya yang tadinya tenang tiba-tiba bergejolak hebat. Ada sisa-sisa memori yang menolak untuk padam, mencakar-cakar dinding kesadarannya. Sarah melangkah maju. Bibirnya bergetar hebat saat menatap wajah Rian dari dekat. "Rian..." suaranya hampir hilang ditelan kebisingan pesta. "Kau benar-benar sudah kembali sehat, syukurlah." Rian mematung. Untuk pertama kalinya, sang Dewa kehilangan kendali atas napasnya sendiri. Sesak.Hening yang mencekik.Rian terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.Tangan Rian mengepal kuat. Keras.Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.Di dekat mereka, rangkaian bunga lili putih yang menjadi dekorasi pesta mulai merunduk. Kelopaknya mencokelat, layu dalam hitungan detik seolah dipanggang api yang tak kasatmata."Siapa kau?"Suara itu keluar dari tenggorokan Rian.Namun, bukan suaranya. Ada nada parau yang menyakitkan di sana. Berat dan purba.Sarah tersentak mundur.Langkah kakinya tidak stabil, nyaris tersandung gaunnya sendiri.Air mata jatuh di pipinya, membelah riasan yang mulai luntur."Ini aku, Rian. Kau... kau tidak ingat?"Sarah menatap pria di depannya dengan saksama.Ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Di dalam mata itu, ada kilatan tembaga yang berpendar redup.Hawa panas menjalar di udara, membuat napas Sarah tera
Lampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding. Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi plastik yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu. Rian tidak sedang berbaring lemah seperti yang Aris bayangkan. Pria itu duduk tegak. Sangat tegak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, stabil dan tak tergoyahkan. Tatapannya lurus, mengunci pergerakan Aris tanpa sekali pun berkedip. Aris berdehem, mencoba mengusir rasa mencekik di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi duduk, mencari kenyamanan yang mendadak hilang. "Mas Rian... syukurlah sudah sehat," suara Aris keluar sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa tawar. "Maya bilang soal gedung sudah beres. Saya benar-benar tidak enak hati. Mas malah yang memberesk
Uap teh meliuk di udara. Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati. Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk. Maya menelan ludah. Ia duduk di hadapan kakaknya. Mencari celah di antara keheningan yang mendadak terasa padat. "Mas," panggil Maya lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu provokatif. Rian tidak bergeming. Tatapannya lurus pada permukaan teh yang tenang. "Aku senang kalau Mas mau bantu. Tapi... kenapa harus sekarang? Mas baru saja pulang." Maya meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan hawa gerah yang entah datang dari mana. "Aris dan keluarganya sudah setuju untuk menunggu. Aku tidak mau pernikahan ini jadi alasan Mas jatuh sakit lagi." Keheningan kembali turun. Berat dan menyesakkan. Rian meraih cangkir itu. Ia m
Tiga hari kemudian. Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terlalu cepat. Seolah tubuhnya menolak untuk tetap hancur. Di dalam taksi, Rian hanya diam. Wajahnya terpantul di kaca jendela yang buram oleh uap AC. Ia tidak bergerak saat mobil itu menghantam lubang jalan dengan keras. Sarafnya terasa mati rasa. Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Ia tidak peduli. Tagihan rumah sakit, urusan administrasi, dunia luar—semuanya terasa seperti kebisingan di balik tembok beton. Hampa. Maya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. **** "Kita sampai, Mas," bisik Maya. Suaranya kecil, hampir tertelan deru mesin taksi yang tua. Taksi itu berhenti di sebuah gang buntu. Di depan mereka, sebuah rumah kontrakan sempit berdiri den
Bip. Bip. Bip. Irama itu membelah kesunyian ruang perawatan. Monoton. Dingin. Kelopak mata Rian terbuka. Tidak ada napas tersentak. Tidak ada drama kepanikan. Hanya sepasang iris yang mendadak fokus, menatap langit-langit putih dengan ketajaman yang tidak wajar bagi seseorang yang baru kembali dari ambang maut. Langit-langit itu membosankan. Putih yang mati. Rian mencoba menggerakkan jari. Saraf-sarafnya memprotes. Tubuh ini terasa asing. Berat dan kaku. Rasanya seperti dipaksa memakai pakaian basah yang dua ukuran lebih kecil. Sesak. Nyeri di setiap persendian adalah pengingat bahwa wadah ini hampir saja hancur. "Mas Rian?" Suara itu melengking tipis di sisi kanan. Maya terlonjak dari kursi kayu di samping ranjang. Wajahnya sembab, jejak air mata mengering di pipi yang pucat. "Mas? Mas sudah sadar? Demi Tuhan..." Rian menoleh pelan. Gerakannya presisi, tanpa emosi. Ia menatap Maya. Memindai. Ingatan di dalam tempurung kepalanya menyodorkan data secara otomatis: Maya. Ad
Dengung mesin forklift itu bukan lagi suara. Bagi Rian, itu adalah detak jantung. Musik latar yang telah menyiksa telinganya selama dua belas tahun. Aroma debu kardus yang pengap memenuhi paru-parunya. Menyesakkan. Ia menatap selembar manifes logistik di tangannya. Kertas itu kusam, sama seperti hidupnya yang seolah berhenti berputar di usia tiga puluh. Waktu adalah penjara. Dan Rian adalah narapidana yang lupa caranya bebas. Rian melirik jam dinding kantor gudang yang berkerak. Pukul lima sore. Di luar sana, langit berubah warna menjadi abu-abu logam. Dingin dan tidak ramah. "Mas Rian, besok jangan lupa mampir ke vendor katering, ya?" Suara Maya, adik Rian terdengar dari dalam ponsel. "Mereka butuh tanda tangan Mas untuk pelunasan." Rian hanya mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir yang lebih mirip seringai luka daripada senyum. "Iya, nanti mas mampir." "Jangan lupa ya, Mas. Undangan buat Mbak Sarah harus dititipkan malam ini. Tadi dia nanya lagi, Mas







