Home / Urban / Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api / Bab 4: Sesuatu yang Pulang Bersamanya

Share

Bab 4: Sesuatu yang Pulang Bersamanya

Author: Binar Rasa
last update Last Updated: 2026-01-17 09:46:25

Uap teh meliuk di udara.

Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati.

Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk.

Maya menelan ludah. Ia duduk di hadapan kakaknya.

Mencari celah di antara keheningan yang mendadak terasa padat.

"Mas," panggil Maya lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu provokatif.

Rian tidak bergeming. Tatapannya lurus pada permukaan teh yang tenang.

"Aku senang kalau Mas mau bantu. Tapi... kenapa harus sekarang? Mas baru saja pulang."

Maya meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan hawa gerah yang entah datang dari mana.

"Aris dan keluarganya sudah setuju untuk menunggu. Aku tidak mau pernikahan ini jadi alasan Mas jatuh sakit lagi."

Keheningan kembali turun. Berat dan menyesakkan.

Rian meraih cangkir itu. Ia menyesapnya tanpa ragu. Tanpa meniup.

Cairan mendidih itu seolah tidak menyentuh syarafnya sama sekali. Baginya, suhu itu pas. Sangat pas.

"Pria ini, kakakmu. Telah menghabiskan dua belas tahun hanya untuk satu tujuan."

Rian meletakkan cangkir. Bunyi yang beradu dengan meja kaca terdengar seperti vonis.

Suaranya tenang. Namun, ada wibawa dingin yang membuat oksigen di paru-paru Maya seolah menipis.

"Memastikan kau memiliki hidup yang tidak perlu ia khawatirkan lagi."

Mata Rian terkunci pada mata Maya. Tajam. Tak tertembus.

"Kecelakaan itu bukan penghalang. Itu hanya interupsi singkat."

Ia menyandarkan punggung. Gerakannya kaku namun presisi, seperti mesin yang baru saja dikalibrasi ulang.

"Menunda pernikahanmu tidak akan membuat raga ini lebih sehat. Justru beban yang belum tuntas inilah yang akan menghambatku."

Maya merasakan sesak di dadanya. Ia melihat sosok di depannya, namun merasa asing.

Bau obat-obatan rumah sakit yang samar kini berganti dengan aroma dingin yang sulit dijelaskan. Seperti bau tanah setelah hujan badai.

"Tapi Mas... Mas kelihatan beda sekali."

Suara Maya bergetar. Ia memperhatikan cara Rian duduk. Cara kakaknya itu tidak berkedip.

"Caranya bicara, tatapan Mas... seolah Mas sedang mengejar sesuatu yang aku tidak tahu. Apa Mas merasa tertekan karena biaya?"

Rian menarik sudut bibirnya tipis. Sebuah senyum yang tidak mencapai mata.

"Ini bukan soal biaya. Ini soal ketuntasan."

Ia menjeda sejenak. Menatap Maya dengan sorot yang sedikit lebih lunak, namun tetap terasa berjarak ribuan kilometer.

"Jangan cemas soal kesehatanku. Raga ini lebih kuat dari yang kau duga."

Rian memajukan tubuhnya. Bayangannya jatuh menutupi wajah Maya.

"Justru dengan melihatmu duduk di pelaminan, tugas besar yang mengikatku pada kehidupan yang lama ini akan selesai."

Ia menarik napas panjang. Berat.

"Hanya dengan begitu, aku bisa... benar-benar tenang."

Sunyi.

Maya mencerna kalimat itu. Kata 'tenang' yang diucapkan Rian tidak terdengar seperti kedamaian.

Itu terdengar seperti akhir. Seperti seseorang yang ingin segera menutup buku dan memadamkan lampu.

"Jadi... Mas benar-benar yakin?"

Maya membutuhkan kepastian. Bukan untuk pernikahannya, tapi untuk memastikan kakaknya masih ada di sana. Di balik cangkang yang tampak kaku itu.

"Panggil Aris," jawab Rian tanpa keraguan.

Datar. Final.

"Katakan padanya, tidak ada perubahan tanggal. Besok kita temui mereka yang menghambat urusan ini."

Maya hanya bisa mengangguk pelan. Ia tidak punya pilihan lain.

Ia merasa sedang berbicara dengan orang asing yang memakai wajah kakaknya.

Perintah.

Satu hal yang pasti: perintah itu tidak bisa dibantah.

****

"Kita ke kantor pengelola gedung sekarang."

Rian menapakkan kaki di aspal panas begitu turun dari taksi.

Suaranya datar, namun memiliki daya tekan yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.

Maya melangkah di belakang, jemarinya terus meremas tali tas kulit sintetisnya yang mulai mengelupas.

"Mas, tapi dendanya pasti besar," bisik Maya, suaranya bergetar tertiup angin jalanan.

"Karena kita sempat membatalkan sepihak, Aris bilang mereka minta tambahan tiga puluh persen. Itu gila, Mas."

Rian tidak berhenti. Langkahnya tetap stabil meski raga itu baru saja lolos dari maut.

"Ayo."

Hanya satu kata. Pendek. Tajam.

Kantor pengelola itu ber-AC dingin, namun suasana di dalamnya terasa pengap oleh aroma kertas tua dan parfum murah.

Seorang pria paruh baya bersandar malas di kursi kerjanya, menatap layar komputer dengan mata redup.

"Sudah saya bilang lewat telepon, Mbak Maya," ujar pria itu tanpa menoleh.

"Jadwalnya sudah kami geser untuk renovasi ringan. Prosedurnya rumit kalau mau balik ke tanggal semula."

Ia menghela napas panjang, seolah kehadiran Maya adalah beban kerja tambahan yang tidak diinginkan.

"Ada penalti, bunga keterlambatan, dan administrasi. Totalnya naik tujuh juta dari sisa pelunasan awal."

Maya menelan ludah. Tenggorokannya mendadak kering. tujuh juta bagi mereka adalah harga sebuah keajaiban.

"Pak, apa tidak bisa dikurangi? Mas saya baru saja kecelakaan..."

"Ini bisnis, Mbak, bukan yayasan sosial," potong pria itu ketus.

Rian melangkah maju.

Kehadirannya membuat suhu di ruangan ber-AC itu mendadak terasa kering, seolah oksigen tersedot habis.

Ia tidak menatap berkas di meja. Ia menatap langsung ke pusat mata pria itu.

"Hitung semuanya sekarang," titah Rian.

Suaranya rendah, namun memiliki vibrasi yang membuat pria di balik meja itu mendadak menegakkan punggung.

"M-maksudnya?"

"Sisa pelunasan dan semua denda yang kau sebutkan. Hitung totalnya."

Pria itu berdeham canggung. Jemarinya mendadak sibuk menekan kalkulator dengan ritme yang kacau.

"Totalnya... tiga belas juta lima ratus ribu. Termasuk pajak."

Maya bergerak, hendak menarik lengan Rian untuk mengajaknya pergi dari kegilaan ini.

Namun, gerakannya membeku.

Rian merogoh saku jaket logistiknya yang kusam dan lecek.

Bruk.

Sebuah amplop cokelat tebal mendarat di atas meja. Isinya menyembul keluar.

Tumpukan uang merah pecahan seratus ribu yang masih rapi. Masih kaku.

"Ambil bagianmu. Berikan kuitansi pelunasannya sekarang."

Pria pengelola itu tertegun. Tangannya gemetar saat mulai menghitung lembaran uang tersebut.

Maya berdiri mematung. Napasnya tertahan di pangkal kerongkongan.

Dunia di sekitarnya terasa melambat.

Setelah kuitansi berpindah tangan, Rian berbalik. Ia tidak butuh basa-basi.

****

Trotoar depan gedung itu bising oleh klakson kendaraan, kontras dengan keheningan di antara mereka.

"Mas!" Maya menarik lengan Rian. Memaksa pria itu berhenti.

"Mas... itu uang apa? Dari mana Mas dapat uang sebanyak itu?"

Rian berhenti, namun matanya tetap lurus menatap arus kendaraan yang tak putus.

"Uang itu sudah ada sejak lama," jawab Rian pelan.

"Pria ini menyimpannya di tempat yang tidak pernah kau tahu. Dia mencemaskan hari ini lebih dari nyawanya sendiri."

Maya mengerutkan kening. Pria ini? Siapa yang sedang Rian bicarakan?

"Tapi Mas... aku tahu semua tabungan Mas. Mas baru bangun dari koma! Kapan Mas mengambilnya?"

Logika di kepala Maya berteriak. Tidak ada bank yang buka di dalam ruang ICU.

Rian akhirnya menoleh.

Di bawah sinar matahari sore yang mulai miring, iris matanya tampak memantulkan kilatan asing. Dingin. Kelam.

"Ada banyak hal yang tidak kau ketahui tentang apa yang disimpan seseorang di saat-saat terakhirnya, Maya."

Ia menjeda, membiarkan kebisingan kota menjadi latar belakang kesunyian yang mencekam.

"Yang penting adalah urusan ini selesai."

Maya menatap kakaknya dengan ngeri yang berbalut haru.

Ia ingin memeluk kakaknya, namun ada pembatas tak kasatmata yang membuatnya segan untuk menyentuh.

Wajah itu adalah wajah kakaknya. Namun jiwa di dalamnya terasa seperti sesuatu yang jauh lebih tua.

Sesuatu yang mengerikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 6: Bukan Lagi Manusia

    Hening yang mencekik.Rian terdiam.Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari koma, raga ini melakukan sesuatu di luar kendalinya.Bukan sekadar refleks. Ini adalah pemberontakan sel-sel tubuh.Tangan Rian mengepal kuat. Keras.Suhu di sekitarnya melonjak drastis secara tidak wajar.Di dekat mereka, rangkaian bunga lili putih yang menjadi dekorasi pesta mulai merunduk. Kelopaknya mencokelat, layu dalam hitungan detik seolah dipanggang api yang tak kasatmata."Siapa kau?"Suara itu keluar dari tenggorokan Rian.Namun, bukan suaranya. Ada nada parau yang menyakitkan di sana. Berat dan purba.Sarah tersentak mundur.Langkah kakinya tidak stabil, nyaris tersandung gaunnya sendiri.Air mata jatuh di pipinya, membelah riasan yang mulai luntur."Ini aku, Rian. Kau... kau tidak ingat?"Sarah menatap pria di depannya dengan saksama.Ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Di dalam mata itu, ada kilatan tembaga yang berpendar redup.Hawa panas menjalar di udara, membuat napas Sarah tera

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 5: Tujuh Hari dan Satu Janji

    Lampu ruang tamu menyala kekuningan, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di dinding. Aris melangkah masuk dengan bahu yang kaku. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi buah apel dan pir terasa berat. Ia meletakkannya di atas meja kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Bunyi plastik yang bergesekan dengan permukaan meja terdengar seperti ledakan kecil di ruangan yang sunyi itu. Rian tidak sedang berbaring lemah seperti yang Aris bayangkan. Pria itu duduk tegak. Sangat tegak. Kedua tangannya terlipat di atas meja, stabil dan tak tergoyahkan. Tatapannya lurus, mengunci pergerakan Aris tanpa sekali pun berkedip. Aris berdehem, mencoba mengusir rasa mencekik di tenggorokannya. Ia membetulkan posisi duduk, mencari kenyamanan yang mendadak hilang. "Mas Rian... syukurlah sudah sehat," suara Aris keluar sedikit bergetar. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa tawar. "Maya bilang soal gedung sudah beres. Saya benar-benar tidak enak hati. Mas malah yang memberesk

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 4: Sesuatu yang Pulang Bersamanya

    Uap teh meliuk di udara. Maya menuangkan cairan kuning kecokelatan itu ke dalam cangkir di depan Rian. Gerakannya hati-hati. Terlalu hati-hati. Uap itu mendadak bergulung lebih cepat saat mendekati jemari Rian. Seolah ada hawa panas tak kasatmata yang menyedotnya masuk. Maya menelan ludah. Ia duduk di hadapan kakaknya. Mencari celah di antara keheningan yang mendadak terasa padat. "Mas," panggil Maya lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar begitu provokatif. Rian tidak bergeming. Tatapannya lurus pada permukaan teh yang tenang. "Aku senang kalau Mas mau bantu. Tapi... kenapa harus sekarang? Mas baru saja pulang." Maya meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan hawa gerah yang entah datang dari mana. "Aris dan keluarganya sudah setuju untuk menunggu. Aku tidak mau pernikahan ini jadi alasan Mas jatuh sakit lagi." Keheningan kembali turun. Berat dan menyesakkan. Rian meraih cangkir itu. Ia m

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 3: Residu Manusia

    Tiga hari kemudian. Rian melangkah keluar dari lobi rumah sakit yang steril. Dokter yang menanganinya masih berdiri di ambang pintu geser. Pria itu menatap punggung Rian dengan dahi berkerut dalam. Bingung. Surat jalan di tangan Rian adalah bukti sebuah kejaiban medis. Luka-lukanya menutup terlalu cepat. Seolah tubuhnya menolak untuk tetap hancur. Di dalam taksi, Rian hanya diam. Wajahnya terpantul di kaca jendela yang buram oleh uap AC. Ia tidak bergerak saat mobil itu menghantam lubang jalan dengan keras. Sarafnya terasa mati rasa. Ponsel di saku celananya bergetar beberapa kali. Ia tidak peduli. Tagihan rumah sakit, urusan administrasi, dunia luar—semuanya terasa seperti kebisingan di balik tembok beton. Hampa. Maya duduk di sampingnya, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. **** "Kita sampai, Mas," bisik Maya. Suaranya kecil, hampir tertelan deru mesin taksi yang tua. Taksi itu berhenti di sebuah gang buntu. Di depan mereka, sebuah rumah kontrakan sempit berdiri den

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 2: Wadah yang Baru

    Bip. Bip. Bip. Irama itu membelah kesunyian ruang perawatan. Monoton. Dingin. Kelopak mata Rian terbuka. Tidak ada napas tersentak. Tidak ada drama kepanikan. Hanya sepasang iris yang mendadak fokus, menatap langit-langit putih dengan ketajaman yang tidak wajar bagi seseorang yang baru kembali dari ambang maut. Langit-langit itu membosankan. Putih yang mati. Rian mencoba menggerakkan jari. Saraf-sarafnya memprotes. Tubuh ini terasa asing. Berat dan kaku. Rasanya seperti dipaksa memakai pakaian basah yang dua ukuran lebih kecil. Sesak. Nyeri di setiap persendian adalah pengingat bahwa wadah ini hampir saja hancur. "Mas Rian?" Suara itu melengking tipis di sisi kanan. Maya terlonjak dari kursi kayu di samping ranjang. Wajahnya sembab, jejak air mata mengering di pipi yang pucat. "Mas? Mas sudah sadar? Demi Tuhan..." Rian menoleh pelan. Gerakannya presisi, tanpa emosi. Ia menatap Maya. Memindai. Ingatan di dalam tempurung kepalanya menyodorkan data secara otomatis: Maya. Ad

  • Bara Wisanggeni: Reinkarnasi Dewa Api   Bab 1: Hening Sebelum Bara

    Dengung mesin forklift itu bukan lagi suara. Bagi Rian, itu adalah detak jantung. Musik latar yang telah menyiksa telinganya selama dua belas tahun. Aroma debu kardus yang pengap memenuhi paru-parunya. Menyesakkan. Ia menatap selembar manifes logistik di tangannya. Kertas itu kusam, sama seperti hidupnya yang seolah berhenti berputar di usia tiga puluh. Waktu adalah penjara. Dan Rian adalah narapidana yang lupa caranya bebas. Rian melirik jam dinding kantor gudang yang berkerak. Pukul lima sore. Di luar sana, langit berubah warna menjadi abu-abu logam. Dingin dan tidak ramah. "Mas Rian, besok jangan lupa mampir ke vendor katering, ya?" Suara Maya, adik Rian terdengar dari dalam ponsel. "Mereka butuh tanda tangan Mas untuk pelunasan." Rian hanya mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir yang lebih mirip seringai luka daripada senyum. "Iya, nanti mas mampir." "Jangan lupa ya, Mas. Undangan buat Mbak Sarah harus dititipkan malam ini. Tadi dia nanya lagi, Mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status