Dengung mesin forklift itu bukan lagi suara. Bagi Rian, itu adalah detak jantung. Musik latar yang telah menyiksa telinganya selama dua belas tahun. Aroma debu kardus yang pengap memenuhi paru-parunya. Menyesakkan. Ia menatap selembar manifes logistik di tangannya. Kertas itu kusam, sama seperti hidupnya yang seolah berhenti berputar di usia tiga puluh. Waktu adalah penjara. Dan Rian adalah narapidana yang lupa caranya bebas. Rian melirik jam dinding kantor gudang yang berkerak. Pukul lima sore. Di luar sana, langit berubah warna menjadi abu-abu logam. Dingin dan tidak ramah. "Mas Rian, besok jangan lupa mampir ke vendor katering, ya?" Suara Maya, adik Rian terdengar dari dalam ponsel. "Mereka butuh tanda tangan Mas untuk pelunasan." Rian hanya mengangguk kecil. Ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir yang lebih mirip seringai luka daripada senyum. "Iya, nanti mas mampir." "Jangan lupa ya, Mas. Undangan buat Mbak Sarah harus dititipkan malam ini. Tadi dia nanya lagi, Mas
Last Updated : 2026-01-17 Read more