MasukBara Nareswara POV
Sial ....
Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai Mikha tega mengatakan semua itu kepadaku. Apa Mikha pikir pernikahan itu sama dengan orang berpacaran? Ketika konflik terjadi maka ia bebas untuk pergi kapan saja seenak jidatnya? Oh, tentu saja tidak. Tidak bisa begitu. Pernikahan kami tidak hanya menyatukan aku dan Mikha sajaBara Nareswara POVSial ....Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai Mikha tega mengatakan semua itu kepadaku. Apa Mikha pikir pernikahan itu sama dengan orang berpacaran? Ketika konflik terjadi maka ia bebas untuk pergi kapan saja seenak jidatnya? Oh, tentu saja tidak. Tidak bisa begitu. Pernikahan kami tidak hanya menyatukan aku dan Mikha saja, tapi dua keluarga besar kami yang saat ini sedang kebakaran jenggot. Kepalaku bahkan hampir pecah kala mendengar handphone milikku bergetar terus menerus. Ingin aku matikan saja namun aku sadar konsekuensi setelah itu saat aku bertemu dengan mereka, kemungkin besar aku akan di cincang habis-habisan.Apalagi saat Mikha memilih keluar begitu saja menuju ke mobilnya, aku segera menyusulnya tanpa berpamitan kepada Bintang. Aku berhasil masuk
Mikhaila Ameera Violetta POVAku menatap Bara yang kali ini tengah tertidur dalam posisi tengkurap di sampingku. Sejak siang sampai sore hari tadi kami terus menerus memuja satu sama lain secara maraton di dalam kamar ini. Ya, mungkin aku sedikit gila tapi aku butuh dosis sentuhan akhir Bara di tubuhku. Setidaknya aku akan mengingatnya sebelum aku mengajaknya berpisah untuk selama-lamanya.Kini aku memilih untuk bangun dari atas ranjang dan langsung menuju ke arah kamar mandi. Aku tinggalkan Bara di atas ranjang kamar ini. Kala aku sudah berada di dalam kamar mandi, aku tatap diriku di depan cermin yang ada di dekat wastafel. Aku langsung menarik napas dalam-dalam dan pelan-pelan aku embuskan perlahan kala melihat tubuhku kali ini. Tanda kissmark yang Bara torehkan di atas tubuhku ben
Bara Nareswara POVAku mempertimbangkan permintaan seorang laki-laki yang bernama Bintang ini. Dia meminta tiga puluh juta rupiah untuk informasi tentang Mikha yang sangat valid. Berkali-kali sejak kemarin aku sudah mengelilingi Bandung bersama dengan Kafka. Kami datangi beberapa tempat dan tidak ada Mikha sama sekali. Jika benar memang Bintang memiliki informasi yang valid mengenai keberadaan Mikha, maka aku tidak akan keberatan untuk membayarnya sesuai dengan permintaannya.Bagiku uang bisa dicari, tetapi Mikha tidak akan terganti. Rasa khawatir sudah menyelimuti diriku selama tiga hari ini. Rasanya aku juga tidak akan sanggup jika rasa ini berdiam cukup lama di dalam diriku.
Mikhaila Ameera Violetta POV Kali ini aku menatap Maureen yang sedang mengoceh tiada henti di depanku. Terlebih ketika kami berhasil cek out dari resort tempat kami menginap di Lembang. Hal paling gila adalah kami memilih meminta bantuan om Andi untuk menginap di rumahnya yang ada di Bandung. Jika tanpa bantuan Kania, mana bisa kami berada di sini saat ini. Setidaknya punya teman seperti Kania yang memiliki cukup banyak koneksi sesekali bisa mempermudah kami saat memiliki masalah."Sumpah, laki lo sudah gila! Bisa-bisanya dia buat sayembara untuk cari bininya. Ini nih intinya cuma mau mempekerjakan orang tanpa keluar duit banyak. Bayar detektif lebih menguras kantong daripada buat sayembara.""Bukannya lo tadi sudah kasihan sa
Bara Nareswara POVSejak semalam aku terus mencari Mikha bersama Kafka. Setiap sudut kota Jakarta dari ujung Utara sampai selatan, barat sampai timur tidak ada yang terlewati, namun hasilnya nihil. Sumpah, aku lebih memilih Mikha yang menghujaniku dengan amarahnya daripada kabur seperti ini. Terlebih dia kabur dalam keadaan berbadan dua. Mengingat apa yang baru saja terjadi, aku takut jika Mikha justru akan berbuat hal-hal di luar batas tanpa berpikiran panjang.Aku mencoba menceritakan semua ini kepada Maureen namun Maureen tetap mengatakan jika ia tidak tahu Mikha berada di mana saat ini. Kania juga sama saja. Bahkan aku sampai menanyakan keberadaan Mikha kepada Julien dan Zema karena aku sempat meragukan jawaban dari Kania. Sepertinya mereka semua tidak berbohong kali ini tentang ketidaktah
Mikhayla Ameera Violetta POVPagi ini aku sedikit kesulitan membuka kedua mataku. Mungkin ini efek dari kegiatan menangis semalam yang aku lakukan. Sejak pukul sembilan malam hingga tiga dini hari, bukannya tidur, aku justru menangis seorang diri di dalam kamar ini ditemani sepi. Berkali-kali aku berpikir apa yang bisa aku lakukan. Jawabannya adalah bercerai dari Bara.Aku tidak akan sanggup untuk terus melihat Bara tanpa mengingat jika kebiasaan Bara dulu telah membuat calon anak kami mengalami hal ini. Aku tidak bisa pulang ke rumah Bara lagi. Aku harus mencari tempat tinggal yang bisa aku tempati setelah pulang dari Lembang nanti.Dengan badan yang masih terasa lemas, aku mencoba bangun dari atas ranjang. Setelah itu aku segera masuk k


![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




