LOGINBara Nareswara POV
Aku tersenyum dengan puas ketika mengetahui jika Ero membelikan tiket penerbangan untukku. Tidak hanya itu saja, aku tidak pernah mengira jika Mikha ada di sampingku. Ero tidak pernah mengatakan kepadaku jika aku akan terbang bersama Mikha yang duduk di sampingku. Kali ini dirinya tidak bisa pergi ke mana-mana. Tidak mungkin juga ia akan l
Dua minggu ini aku memilih mengambil WFA. Itu semua karena janjiku pada Kafka dan El. Aku harus menghargai mereka karena mereka juga sudah menghormati pilihanku selama beberapa bulan ini untuk fokus pada kehidupan rumahtangga dan pekerjaan baruku. Kini tibalah saatnya kami untuk mempromosikan mini album terbaru kami sekaligus ini adalah momment di mana aku bisa keluar dari rutinitas harianku di kantor yang nyatanya membuatku cukup jenuh. Memang aku menikmati waktu pagi dan malamku karena aku bisa selalu bersama dengan Mikha, namun sebenarnya pekerjaan inilah yang aku cintai."Lo ngapain sih, Bar di balkon sendirian gini? Home sick lo?"Aku tersenyum kala mendengar perkataan Kafka."Enggak.""
Mikhaila Ameera Violetta POVHari-hari berlalu dan tak terasa kini sudah hampir satu tahun aku kehilangan Langit. Sampai detik ini juga aku belum hamil lagi. Selain karena aku masih memiliki ketakutan-ketakutan bahwa hal yang terjadi pada kehamilan pertamaku terulang lagi, sejak enam bulan yang lalu, Bara juga mulai sibuk kembali dengan pekerjaannya. Bedanya kini ia bekerja di perusahaan Papanya dari hari Senin sampai hari Jum'at. Setiap Sabtu-Minggu baru ia gunakan untuk bekerja bersama Kafka dan El.Rumah tangga kami selama satu tahun ini tentunya juga tidak selalu adem tentram, terkadang kami juga memiliki konflik layaknya rumah tangga lain. Untungnya semakin lama kami bersama, kami semakin mengenal satu sama lain. Ego kami juga tidak terlalu menggebu-gebu seperti dulu. Kehidupan sex kami j
Bara Nareswara POVAkhirnya Mikha kehilangan salah satu keluarganya lagi. Jika kemarin ia kehilangan anak, maka kali ini ia kehilangan adiknya. Sebagai suami yang baik, aku memilih untuk berada di sampingnya. Meksipun aku tidak bisa membantu banyak untuknya, setidaknya aku tidak akan meninggalkannya sendirian melalui semua hal yang menyakitkan ini.Meskipun sebenarnya aku sedikit keberatan untuk tinggal sementara di rumah orangtua Mikha ini, tapi aku tidak bisa menolak. Inilah rumah yang menurut Mikha tidak seindah apa yang terlihat. Meskipun besar dan mewah namun kehidupan di dalamnya begitu rapuh. Tidak ada kehangatan keluarga, apalagi sejak mertuaku bercerai. Hanya Chava yang tinggal di sini bersama para asisten rumah tangga dan satpam.
Mikhaila Ameera Violetta POVDengan rasa hancur yang masih aku rasakan di dalam diriku, kali ini aku kembali mengantarkan salah satu keluargaku ke tempat peristirahatan terakhirnya. Saat jenazah Chava dimasukkan ke liang lahat, aku bisa melihat Mama yang pingsan lagi untuk yang kesekian kalinya. Bahkan Papa sampai didudukkan di kursi karena kondisinya sebelas dua belas dengan Mama. Dari semua keluargaku, hanya Bara, Mas Rio dan Om Chandra yang ikut turun untuk membantu menguburkan Chava.Sesuai permintaan terakhir Chava yang ingin menemani Langit, maka kami memakamkan Chava di samping makam Langit. Air mataku terus menetes namun aku berusaha menahannya agar tidak semakin deras. Jangan sampai Chava tahu bahwa aku serapuh ini.Ada rasa meny
Mikhaila Ameera Violetta POVEntah aku harus marah atau merasa bahagia mendengar alasan Bara yang mengeluarkan bikini milikku dari dalam koper. Padahal aku sengaja membeli bikini-bikini itu khusus untuk aku bawa ke Queensland. Gagal sudah sepertinya menggoda suami dengan menggunakan bikini. Kalo tahu ujungnya begini, aku juga tidak mau repot-repot berselancar di aplikasi belanja cuma untuk mencari mana yang menurutku cocok untuk menjalankan misiku ini."Ayo, Yang kita jalan-jalan ke pantai.""Jalan-jalan? aku pakai daster batik ini?""Iya, Yang enggak pa-pa. Beneran serius aku enggak malu gandeng emak-emak."Sompret ....Ba
Bara Nareswara POVSeminggu di rumah Grandma benar-benar membuatku jadi anak rumahan. Baru sekali ini ketika aku jauh-jauh mudik ke Australia, namun kami tidak berlibur ke mana-mana. Hampir seluruh hari dihabiskan di rumah saja. Mungkin salahku juga yang tidak protes kepada Mikha tentang hal ini. Kalo aku protes mungkin ia juga akan memahaminya dan mau berjalan-jalan meskipun hanya disekitar Royal Botanic Gardens atau ke kebun binatang Taronga. Karena aku yakin jika aku mengusulkan pergi ke Opera House, pasti Mikha menolaknya dengan alasan sudah pernah ke sana.Kini yang ada di depanku sekarang adalah Mikha yang sedang duduk di sofa sambil menangis sesenggukan. Ia masih baper karena besok kami akan terbang ke Queensland. Semoga saja besok Mikha mau aku ajak untuk berpetualang di sana.







