LOGINMikhaila Ameera Violetta POV
Siapa sangka waktu siang hingga soreku justru aku habiskan dengan seorang Bara Nareswara di museum benteng Vredeburg. Tempat ini cukup aman bagi dirinya yang selebriti. Karena kami mengelilingi tempat ini terutama di bagian diorama yang tidak terlalu dipenuhi banyak pengunjung.
Bara Nareswara POV"Bar, buruan lo berangkat. Tiga jam lagi pesawatnya take off.""Iya, kagak usah berisik lo. Bentar lagi gue berangkat."Setelah mengatakan itu kepada Kafka, aku segera menutup teleponku. Andai saja sejak tadi Mikha tidak memilih duduk di dekat jendela sambil berusaha menyembunyikan rasa ikhlasnya, mungkin aku sudah berangkat ke bandara sejak tadi. Tapi rasanya aku tidak tega meninggalkan dirinya seperti ini. Yang ada aku akan kepikiran sepanjang jalan.Kini aku memilih melangkahkan kakiku ke arahnya. Saat sampai di belakang tubuh Mikha, aku memeluknya dari arah belakang dengan kedua tanganku. Aku taruh daguku di atas pundaknya.
Mikhaila Ameera Violetta POVSebagai menantu yang baik, aku memilih untuk memakai konsep yang dipilih Mama Belinda di acara baby shower hari ini. Semua aku lakukan karena aku menghargai usahanya untuk membuat pesta ini. Tentu saja pesta ini lebih banyak dihadiri teman-teman sosialita Mama mertuaku itu daripada teman-temanku. Aku bahkan hanya mengundang dua orang temanku saja, Maureen dan Kania.Saking aku tidak terlalu kenal dengan teman-teman Mama Belinda, aku akhirnya duduk di kursi yang ada di pojokan bersama dua sahabatku. Mama membiarkan aku duduk bersama mereka karena sudah hampir satu jam aku menyalami teman-temannya yang mulai berdatangan ke rumah ini."Gila sih, ini acara bahkan bisa lebih gede daripada mitoni kemarin,"
Bara Nareswara POVSudah sejak subuh suasana rumah begitu terasa ramai karena hampir semua anggota keluargaku maupun keluarga Mikha sibuk dengan persiapan mereka untuk merias diri. Tentu saja kesibukan ini hanya berlaku bagi para kaum wanita, tapi tidak bagi kaum pria. Mereka memilih duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi hitam.Sambil menunggu Mikha yang sedang mulai dirias, aku duduk bersama Papa di halaman samping rumah. Memang sudah cukup lama aku dan Papa tidak duduk berdua saja seperti ini karena kesibukan kami masing-masing. Kala mendengar perkataan Papa bahwa kemungkinan aku akan jauh lebih sibuk saat sudah menggantikan dirinya daripada saat ini, entah kenapa itu membuatku panas dingin. Sungguh, aku tidak mau menjadi orang yang harus bekerja keras apalagi sampai di atas usia 45
Mikhaila Ameera Violetta POV"Yang, turun, yuk. Itu kayanya mobil keluarga kamu sudah ada yang datang.""Biarin aja, Bar. Ini kaki aku yang sebelah belum kamu pijitin.""Ya Allah, Yang.... Nasib aku gini amat jadi suami. Sebulan enggak pulang ke rumah, pulang-pulang langsung disuruh jadi terapis pijat plus-plus.""Lho, 'kan ini sesuai dengan apa yang disarankan kemenkes lho, Bar. Menjadi suami siaga.""Iyain aja biar cepat."Aku tersenyum kala melihat wajah Bara yang terlihat pasrah dan memilih mengalah. Memang sejak dirinya pulang beberapa jam lalu, kami sama sekali tidak
Bara Nareswara POVKepalaku rasanya nyut-nyutan sejak kemarin karena sampai detik ini aku belum menemukan nama tengah yang akan aku sematkan kepada Langit kelak. Padahal setiap kali aku bertelepon atau video call dengan Mikha, selalu saja Mikha bertanya apakah aku sudah menemukan nama tengah yang cocok untuk Langit? Dan bodohnya aku selalu saja mengatakan bahwa aku sedang memilih nama yang cocok. Nanti akan aku kabarkan kepadanya saat pulang untuk acara mitoni. Ujungnya adalah sekarang aku pusing sendiri."Muka lo mirip orang yang lagi dikejar-kejar DC pinjol, Bar," ucap Kafka sambil ia mulai menghidupkan televisi yang ada di kamar kami.Aku hanya bisa menghela napas panjang. Kafka mana paham dengan apa yang aku alami dan sedang
Mikhaila Ameera Violetta POVSejak satu bulan yang lalu Bara benar-benar tidak pulang ke rumah. Sepertinya ia mengikuti jejak bang Toyib yang lupa jalan pulang hingga lupa istri dan calon anaknya. Untung saja Bara tidak lupa harus mentransfer uang bulanan ke mana. Seperti hari ini, aku harus membayar biaya vendor untuk acara mitoni yang rencananya akan menggunakan adat Jawa. Untung saja Bara sudah memberikan uang untuk membayarnya sejak semalam.Tentu saja ini bukan keinginanku yang sebenarnya tidak terlalu ingin menghabiskan uang untuk hal-hal seperti ini. Ini adalah keinginan keluargaku terutama Eyang Putri. Untung saja Mama Belinda tidak marah ketika acara baby shower yang ingin ia selenggarakan harus mundur dua hari demi acara ini yang akan berlangsung sesuai keingi







