بيت / Fantasi / Batu Akar Raja / BAB 3: KUNJUNGAN KE HUTAN LARANGAN

مشاركة

BAB 3: KUNJUNGAN KE HUTAN LARANGAN

مؤلف: sayang ibu
last update تاريخ النشر: 2026-03-25 17:51:54

Fajar masih belum menunjukkan diri ketika Raden Jayaningrat menyelinap keluar dari kamarnya. Dia mengenakan pakaian perjalanan yang sederhana – baju lengan panjang dari kain kapas tebal dan celana yang diikat erat dengan tali kulit. Di pinggangnya tergantung keris pusaka yang diberikan ayahnya ketika dia mencapai usia dewasa, dan di dalam kantong bajunya ada beberapa biji beras kering serta kulit buah yang sudah dikeringkan – persediaan yang mungkin tidak cukup banyak, namun dia tidak berani membawa lebih banyak barang yang akan menyita kekuatan saat berjalan jauh.

Sebelum meninggalkan istana, dia berhenti sebentar di halaman belakang tempat pohon jambu air yang besar tumbuh subur. Dia menyentuh batangnya dengan lembut, dan seperti biasa, dia merasakan getaran hangat yang mengalir dari dalam pohon – sebuah pesan yang penuh dengan dukungan dan peringatan. “Hati-hati, anak muda. Jalur yang akan kamu tempuh penuh dengan misteri dan bahaya, namun alam akan selalu membantu mereka yang datang dengan niat baik.” Raden mengangguk perlahan, mengucapkan terima kasih dalam hati sebelum melanjutkan perjalanannya menuju gerbang belakang istana yang jarang digunakan.

Tumenggung Wiryatmaja sudah menunggu di sana, membawa sebuah kantong kecil yang berisi beberapa obat dari tumbuhan dan sebuah wadah air yang terbuat dari labu. “Saya tahu tidak akan bisa menghalangi Yang Mulia,” ujarnya dengan suara rendah, matanya penuh dengan perhatian. “Kakek saya pernah memberi tahu saya bahwa satu hari nanti, seseorang dari keluarga raja akan harus memasuki Hutan Wonomulyo untuk menyelamatkan kerajaan. Saya hanya berharap bahwa hari itu bukan hari ini.”

“Terima kasih atas dukungan Anda, Tumenggung,” jawab Raden sambil menerima kantong tersebut. “Saya berjanji akan berhati-hati. Jika saya tidak kembali dalam tiga hari, jangan kirim pasukan untuk mencari saya – itu hanya akan membawa malapetaka bagi kerajaan.”

Dengan itu, Raden memulai perjalanannya menuju arah Hutan Wonomulyo. Jalan yang dia tempuh adalah jalan kecil yang sudah jarang digunakan, penuh dengan batu licin dan rerumputan yang tumbuh liar akibat kemarau yang panjang. Matahari mulai muncul dari balik gunung Tengger, memberikan cahaya keemasan yang menerangi hamparan tanah yang tandus dan retak. Dia bisa melihat beberapa petani yang sedang berusaha menggali sumur dangkal di tengah sawah yang kering, wajah mereka penuh dengan keputusasaan yang menusuk hati.

Setelah berjalan selama hampir dua jam, dia akhirnya melihat gerbang kayu yang sudah lapuk yang menandai batas awal Hutan Wonomulyo. Di atas gerbang tersebut ada tulisan kuno yang sudah hampir tidak terbaca: “SIAPA YANG BERANI MASUK, HARUS SIAP MEMBAYAR HARGA YANG SESUAI.” Di sekeliling gerbang tumbuh semak berduri yang tampak lebih besar dan tajam dari semak biasa, seolah sedang menjaga pintu masuk dengan ketat.

Raden mengambil napas dalam sebelum melangkah masuk. Saat kakinya menyentuh tanah di dalam hutan, dia merasakan perubahan yang drastis – udara yang sebelumnya panas dan kering menjadi segar dan lembab, suara angin yang bergesekan dengan dedaunan menggantikan kesunyian gurun yang tandus. Pohon-pohon di dalam hutan menjulang sangat tinggi, sehingga hanya sedikit cahaya matahari yang bisa menembus ke tanah. Di atas tanah tertutup lumut berwarna hijau tua dan merah muda, serta berbagai jenis jamur yang bersinar dengan cahaya samar di bawah naungan pepohonan.

Namun yang paling membuatnya terkejut adalah bahwa setiap langkah yang dia ambil, jalur yang dia lewati seolah berubah dan bergerak. Jalan yang jelas terlihat di depannya bisa saja menghilang dalam sekejap, digantikan oleh rerumputan yang tumbuh dengan cepat atau akar pohon yang muncul dari tanah tanpa sebab. Raden mengingat kata-kata Tumenggung tentang orang yang tersesat selamanya di dalam hutan, dan dia menyadari bahwa dia harus mengandalkan lebih dari sekadar mata dan kaki untuk menemukan jalur yang benar.

Dia menutup mata sebentar, fokus pada kemampuan yang dia sembunyikan selama ini. Dia merasakan getaran dari setiap pohon, setiap semak, setiap akar yang ada di sekitarnya – semuanya berbicara dalam bahasa yang hanya dia bisa mengerti. Beberapa menginginkannya pergi, merasa bahwa manusia hanya akan membawa kehancuran. Namun yang lain – terutama pepohonan tua yang telah hidup selama berabad-abad – memberikan petunjuk tentang jalur yang benar, menunjukkannya ke arah dalam hutan yang lebih dalam.

Setelah berjalan selama beberapa jam lagi, Raden tiba di sebuah tempat di mana pepohonan menjadikan langit-langit hutan yang sangat lebat sehingga hampir tidak ada cahaya yang bisa masuk. Di tengah tempat tersebut ada sebuah hamparan lumut yang sangat indah, berbentuk lingkaran sempurna dan bersinar dengan cahaya hijau lembut – tempat yang sama persis dengan yang dia lihat dalam mimpi. Hatinya berdebar kencang, menyadari bahwa dia telah menemukan lokasi yang tepat.

Tiba-tiba, suara kecil seperti nyanyian terdengar dari sekelilingnya. “Dia datang… dia datang dengan hati yang bersih…” suara-suara itu berbisik, terdengar seperti suara daun yang bergesekan namun jelas bisa dimengerti. Raden melihat sekeliling dengan cermat, dan baru kemudian dia melihat mereka – sekelompok makhluk kecil yang tingginya tidak lebih dari satu depa, dengan kulit berwarna hijau muda seperti batang bambu, rambut dari serat daun, dan mata yang besar seperti biji buah rambutan yang bersinar cerah.

Mereka muncul dari balik akar pohon dan semak-semak, berkumpul membentuk lingkaran di sekitar Raden. Salah satu makhluk yang tampak lebih tua dari yang lain – dengan tanduk kecil seperti tunas pucuk di atas kepalanya – melangkah ke depan. “Kami adalah Pengawal Akar, penjaga jalur menuju Bumi Akar,” ujarnya dengan suara yang merdu seperti aliran air kecil. “Kami telah menunggu kedatanganmu, Raden Jayaningrat. Keturunan dari Raja Jayaputra yang membuat perjanjian dengan alam.”

Raden terdiam sejenak, tidak bisa berkata apa-apa. Dia pernah merasa bahwa kemampuannya untuk merasakan tumbuhan adalah sesuatu yang aneh dan harus disembunyikan, namun kini dia menemukan bahwa dia tidak sendirian. “Bagaimana kalian tahu nama saya?” tanya dia akhirnya, suara sedikit gemetar karena kegembiraan dan kekaguman.

Makhluk tua itu tersenyum lembut, dan wajahnya tampak seperti bunga yang sedang mekar. “Kami tahu semua yang terjadi di dunia atas – terutama ketika itu berkaitan dengan keseimbangan alam. Kami telah melihat bagaimana kamu merawat tumbuhan di istana, bagaimana kamu merasa sedih ketika sawah mengering dan pepohonan tumbang karena kebutuhan manusia yang tidak pernah puas. Kemampuanmu bukan hanya kebetulan, Raden Jayaningrat. Kamu memiliki darah penjaga alam yang mengalir dalam nadimu.”

“Sebenarnya apa itu Batu Akar Raja?” tanya Raden dengan penuh harapan. “Dan apa hubungannya dengan kemarau yang menghantui kerajaan saya?”

“Batu Akar Raja adalah jantung dari semua kehidupan di dunia ini,” menjawab Pengawal Akar. “Ia menyimpan kekuatan untuk memberi kehidupan atau membawa kehancuran. Seratus tahun yang lalu, batu itu hilang karena keserakahan seorang pemimpin yang ingin menggunakannya untuk menjadi yang terkuat. Tanpa batu, keseimbangan alam terganggu – inilah sebabnya mengapa kemarau datang dan makhluk gaib mulai keluar dari tempat mereka untuk mencari keadilan.”

Makhluk kecil itu kemudian mengangkat tangannya yang tipis, dan seutas akar pohon yang tampak hidup muncul dari tanah, membawa sebuah daun besar yang berisi cairan bening seperti air mata. “Minumlah ini,” ujarnya. “Ia akan memberi kamu kekuatan untuk melanjutkan perjalanan dan melihat apa yang belum pernah kamu lihat. Namun ingat – jalan yang akan kamu tempuh selanjutnya tidak akan mudah, dan kamu harus selalu mengingat bahwa kekuatan hanya boleh digunakan untuk kebaikan umum.”

Raden menerima daun tersebut dan meminum cairan di dalamnya. Segera setelah masuk ke dalam tubuhnya, dia merasakan energi yang mengalir ke seluruh jasadnya – rasa lelah menghilang, dan dia bisa melihat dengan lebih jelas ke dalam hutan, bahkan bisa melihat jalur tersembunyi yang tidak terlihat sebelumnya. Dia juga merasakan hubungan yang lebih dalam dengan alam sekitarnya, seolah dia bisa merasakan setiap detil kehidupan yang ada di dalam hutan.

“Terima kasih,” ujar Raden dengan suara penuh rasa hormat. “Apakah kalian bisa menunjukkan saya jalan untuk menemukan batu tersebut?”

Pengawal Akar menggelengkan kepalanya perlahan. “Itu adalah jalan yang harus kamu tempuh sendiri, bersama dengan penjaga gerbang Bumi Akar. Kami hanya bisa menunjukkan jalur ke sungai di mana kamu akan bertemu dengannya. Perhatikan suara nyanyian – ia akan membimbingmu ke arah yang benar.”

Saat itu, suara nyanyian yang dia dengar dalam mimpi mulai terdengar lagi – lebih jelas dan lebih dekat dari sebelumnya. Suaranya mengalir dari arah dalam hutan yang lebih dalam, mengundangnya untuk melanjutkan perjalanan. Raden mengucapkan terima kasih kepada sekelompok Pengawal Akar, yang kemudian perlahan-lahan menghilang balik ke balik akar pohon dan semak-semak, menyisakan hanya suara nyanyian yang masih bergema di udara.

Dengan hati yang lebih kuat dan tujuan yang lebih jelas, Raden melanjutkan perjalanannya mengikuti suara nyanyian tersebut. Jalur yang dia tempuh kini tampak lebih jelas, dan tanaman di sekitarnya seolah menyambutnya dengan membuka jalur. Dia tahu bahwa dia telah memasuki babak baru dalam perjalanannya – babak yang akan membawanya bertemu dengan wanita dalam mimpinya dan mengetahui rahasia sebenarnya tentang Batu Akar Raja serta masa depan kerajaan yang dia cintai.

--- AKHIR BAB 3 ---

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Batu Akar Raja   BAB 26: KEKUATAN YANG DIAMBIKAN

    Cahaya keemasan dari Batu Akar Raja mengalir deras ke dalam tubuh Shinta Sari, menyatu dengan cahaya zamrud yang terpancar dari liontin di lehernya. Setiap serat energi yang masuk membuatnya merasakan getaran yang kuat, seolah-olah jiwa nenek moyangnya Dewi Shinta Kencana sedang menyatu dengan dirinya. Gambar-gambar masa lalu bergerak cepat di benaknya – perjuangan nenek moyangnya untuk melindungi perjanjian, kegoncangan ketika salah satu keturunan menyimpang, dan harapan yang tertanam dalam setiap generasi untuk menyelesaikan misi yang belum selesai.Di luar ruangan tengah Gunung Akar, suara pertempuran semakin ganas. Pasukan kerajaan Kala, yang dipimpin oleh para pembesar dengan wajah berselimut bayangan, telah berhasil menembus sebagian benteng luar Bumi Akar. Serangan sihir hitam menyambar ke segala arah, menghancurkan rerumputan hijau yang tadinya subur dan membuat tanah bergetar. Pasukan Bumi Akar dan pasukan kerajaan Mataram yang datang untuk membantu berjuang dengan gigih, nam

  • Batu Akar Raja   BAB 25: RAHASIA DARI MASA LALU

    Suara gemuruh dari pertempuran di luar gerbang semakin nyaring, namun di dalam lorong Gunung Akar, seolah ada kain penghalang yang memisahkan dunia luar dengan keheningan yang mengelilingi mereka. Dinding lorong yang dihiasi gambar-gambar sejarah memancarkan cahaya lunak emas, memperlihatkan momen-momen penting dari hubungan antara kerajaan Mataram dan Bumi Akar pada abad kelima Masehi. Ratu Akarwati berhenti di depan salah satu ukiran yang menggambarkan seorang wanita muda dengan rambut hitam bergelombang dan mata zamrud yang sama dengan Shinta Sari, berdiri bersanding dengan Ratu Dewi Jayasari dan Raja Jayaputra.“Lihatlah, Dewi Shinta Sari,” ujar Ratu Akarwati dengan suara yang penuh dengan emosi. “Ukiran ini menggambarkan Dewi Jayasari, nenek moyangku, dan putri tunggalnya – Dewi Shinta Kencana, yang telah dijadikan sebagai jembatan antara dunia atas dan bawah tanah dengan cara yang tak terduga.”Shinta Sari mendekat perlahan, matanya terpaku pada ukiran tersebut. Di dalam gambar,

  • Batu Akar Raja   BAB 24: PERTEMUAN DENGAN RATU BUMI AKAR

    Cahaya dari Gunung Akar menyilaukan mata saat pertempuran antar Raden dengan Patih Prabu Kala siap meletus. Namun sebelum sihir hitam dari tangan Patih Kala bisa menyentuh tanah, sebuah tirai cahaya hijau keemasan muncul dengan tiba-tiba di antara kedua pihak, membentang luas seperti dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Suara gemuruh lembut seperti getaran akar pohon menggema ke seluruh medan, dan angin yang membawa aroma bunga langka Bumi Akar mulai berhembus lembut.“Patih Prabu Kala,” suara yang tenang namun penuh dengan kekuasaan terdengar dari balik tirai cahaya. “Kekuatanmu tidak akan bisa menyentuh mereka di medan yang telah menjadi saksi janji kuno. Kau telah melanggar batas antara dunia atas dan bawah tanah dengan membawa kekerasan ke wilayah Bumi Akar – hukuman akan menimpamu jika kau terus berusaha menerobos.”Patih Kala mencoba menerobos tirai cahaya dengan serangan sihir hitamnya, namun energi tersebut hanya terpantul kembali dan membuatnya terjatuh beberapa langk

  • Batu Akar Raja   BAB 23: UJIAN KEBENARAN HATI

    Sinar keemasan dari buku-buku kuno dan prasasti batu menerangi ruangan bawah tanah yang masih utuh di bawah reruntuhan istana Kota Batu Akar yang Hilang. Kelompok beristirahat sambil mempelajari catatan-catatan kuno tersebut, sementara suara nyanyian sihir hitam dari kejauhan semakin jelas – Patih Prabu Kala dan pasukannya sudah memasuki kawasan kota, menghancurkan reruntuhan yang menghalangi jalur mereka dengan kekuatan sihir yang kasar dan tidak mengenal batas.“Informasi di buku ini menjelaskan bahwa sebelum mencapai Gunung Akar, setiap calon pemegang Batu Akar Raja harus melalui tiga tahap ujian yang terletak di jalur utama menuju gunung,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil menunjuk pada sebuah halaman yang dihiasi dengan gambar pola akar yang saling terjalin. “Ujian ini tidak menguji seberapa kuat kamu secara fisik, Raden, melainkan seberapa dalam kamu memahami makna dari perjanjian kuno dan seberapa tulus hatimu untuk menjaga keseimbangan alam.”Raden mendekat dan melihat gambar-gamb

  • Batu Akar Raja   BAB 22: KOTA BATU AKAR YANG HILANG

    Langkah kaki kelompok semakin mantap saat menjauhi Taman Pertumbuhan Akar, dengan cahaya dari Batu Akar Raja menerangi jalan yang kini tampak lebih jelas di antara reruntuhan akar dan batu yang mengelilingi lorong bawah tanah. Suara langkah kaki besar dan nyanyian sihir hitam dari kejauhan masih terdengar, namun kini mereka bisa merasakan bahwa getaran energi dari sumber tersebut bukan hanya ancaman – melainkan juga sebuah panggilan untuk menghadapi kesalahan masa lalu yang telah menyebabkan kehancuran.“Jarak ke Kota Batu Akar yang Hilang semakin dekat,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil mengamati pola cahaya yang menyala di langit bawah tanah. Cahaya keperakan yang mereka lihat sebelumnya kini semakin jelas, membentuk kontur puncak bangunan yang tampak megah meskipun sudah terlupakan. “Kita akan segera tiba di tempat di mana perjanjian kuno antara manusia dan alam hampir hancur karena keserakahan yang tidak terkendali.”Raden menatap ke arah cahaya tersebut, merasakan bagaimana tanda ak

  • Batu Akar Raja   BAB 21: PELAJARAN TENTANG PERTUMBUHAN

    Guncangan dari bawah tanah semakin kuat, dan nyala api sihir hitam yang mengikuti jejak mereka mulai menjilat ujung-ujung akar pohon yang menyilang lorong baru yang dibuka Ki Ageng Akarwana. Cahaya dari Batu Akar Raja di tangan Raden menyala lebih terang untuk menerangi jalan yang licin dan penuh dengan reruntuhan batu yang terus bergeser seiring dengan gemuruh yang menggema.“Kita perlu berhenti sebentar di tempat yang aman!” teriak Shinta Sari sambil mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Matanya yang terpapar cahaya hijau dari gelangnya menangkap sinyal energi yang tenang di seberang sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan dengan akar yang menjalar seperti tali yang terjalin rapi. “Di sana – Taman Pertumbuhan Akar yang pernah kubicarakan. Hanya ada di sini saat alam merasa kita membutuhkan pelajaran tentang kekuatan yang sebenarnya.”Ki Ageng Akarwana mengangguk dan mengarahkan tongkatnya ke arah lembah tersebut. “Benar sekali, putri. Kita tidak bisa melanjutkan perja

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status