Home / Fantasi / Batu Akar Raja / BAB 4: DEWI DARI SUNGAI BAWAH

Share

BAB 4: DEWI DARI SUNGAI BAWAH

Author: sayang ibu
last update publish date: 2026-03-25 17:49:58

Suara nyanyian semakin jelas seiring dengan setiap langkah yang Raden Jayaningrat tempuh. Cahaya yang menyinari jalur di bawah pepohonan mulai berubah dari warna hijau samar menjadi keemasan yang lembut, seolah tanah itu sendiri sedang membimbingnya. Akhirnya, dia keluar dari hamparan pepohonan yang lebat dan menemukan diri berada di tepi sungai yang tidak pernah dia lihat sebelumnya – airnya bening seperti kristal dan bersinar dengan cahaya dari dalam, seolah menyimpan ribuan bintang yang terbenam di dalamnya.

Di tengah sungai, tepat di bawah tirai air terjun kecil yang mengalir lembut dari atas tebing, seorang wanita sedang mandi. Rambutnya panjang seperti aliran air yang mengalir, berwarna kecoklatan keemasan dengan kilau hijau yang muncul setiap kali terkena cahaya. Dia berpakaian dari lembaran daun pisang yang dijahit dengan serat akar, dihiasi dengan mahkota dari bunga kantil dan tunas pohon palem yang masih muda. Wajahnya yang indah seperti permata yang telah dipoles oleh waktu, dengan mata berwarna hijau tua seperti dedaunan musim hujan.

Ini adalah wanita yang sama dengan yang dia lihat dalam mimpi – Dewi Shinta Sari, penjaga gerbang Bumi Akar.

Ketika Raden ingin mengucapkan sesuatu, dia mendapati dirinya tidak bisa berbicara. Seolah ada kekuatan yang membuat dia tetap tenang, menghormati keheningan dan keindahan momen ini. Wanita itu kemudian berbalik, dan matanya yang dalam langsung bertemu dengan Raden. Senyum lembut muncul di bibirnya, dan suara yang sama dengan nyanyian yang mengantar Raden datang terdengar lembut di udara.

“Kamu datang tepat waktu, Raden Jayaningrat,” ujarnya dengan nada yang merdu seperti aliran air di atas batu licin. “Saya sudah menunggu kamu. Nama saya Shinta Sari – penjaga gerbang dunia bawah tanah yang disebut Bumi Akar.”

Raden akhirnya bisa membuka mulutnya, meskipun suaranya masih sedikit gemetar. “Bagaimana Anda tahu nama saya, Nyai? Dan bagaimana mungkin sungai ini bisa bersinar seperti bintang di malam hari?”

Shinta Sari terdengar tawa lembut, seperti suara dedaunan yang bergesekan. Dia mengangkat tangannya, dan air sungai yang tadinya tenang mulai bergerak dengan anggun, membentuk pola-pola yang indah di permukaannya. “Semua yang terjadi di dunia atas tidak tersembunyi dari alam, anak muda. Kita adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan – seperti akar dengan pohonnya, seperti air dengan sungainya. Sungai ini bersinar karena ia menyimpan kesucian dari Bumi Akar, tempat di mana semua kehidupan bermula.”

Dia kemudian keluar dari sungai, dan secara ajaib, pakaiannya tidak sedikitpun basah. Dia berjalan menuju tepi di mana Raden berdiri, dan ketika mendekat, Raden merasakan getaran hangat yang sama seperti yang dia rasakan dari pohon jambu air di istana – namun jauh lebih kuat dan dalam. Seolah seluruh alam sedang berbicara melalui dirinya.

“Kamu memiliki kemampuan yang langka, Raden Jayaningrat,” lanjut Shinta Sari, menyentuh batang pohon bambu yang tumbuh di tepi sungai dengan lembut. Pohon tersebut langsung tumbuh lebih tinggi dan menghasilkan tunas baru dalam sekejap. “Kamu bisa merasakan bahasa alam – sebuah anugerah yang hanya diberikan kepada sedikit orang, termasuk leluhurmu yang mendirikan kerajaan ini, Raja Jayaputra.”

Mendengar nama leluhurnya membuat Raden terkejut. “Anda tahu tentang Raja Jayaputra?”

“Dia adalah salah satu orang yang paling dihormati di Bumi Akar,” jawabnya dengan wajah yang menjadi lebih serius. “Seratus tahun yang lalu, dia datang ke sini seperti kamu – mencari jawaban tentang kemarahan alam yang menghantui kerajaan. Dia adalah orang pertama yang berhasil membuat perjanjian dengan pemimpin Bumi Akar – sebuah perjanjian untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, dengan Batu Akar Raja sebagai bukti kesetiaan kedua belah pihak.”

Raden merasa detak jantungnya berdebar kencang. “Batu Akar Raja – itu adalah apa yang saya cari. Apakah batu itu benar-benar ada? Dan apakah ia bisa menyelamatkan kerajaan saya dari kemarau yang tak berakhir?”

Shinta Sari mengangguk perlahan, namun matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. “Batu itu benar-benar ada, dan ia menyimpan kekuatan untuk memberi kehidupan atau membawa kehancuran. Namun sebelum kita membicarakan lebih jauh, kamu harus tahu bahwa batu itu hilang – hilang karena keserakahan seorang pemimpin kerajaan yang mencoba mengambil kekuatannya secara sepihak, tanpa menghormati perjanjian kuno.”

“Siapa pemimpin itu?” tanya Raden dengan suara tegas.

“Dia adalah paman dari ayahmu, Raden Jayawiguna,” jawabnya dengan lembut. “Dan itulah rahasia yang telah disembunyikan oleh istana selama berabad-abad. Raja Jayawardhana – ayahmu – tahu tentang hal ini, namun dia memilih untuk menyembunyikannya dari kamu dan rakyat, takut bahwa kebenaran akan menyebabkan kerusuhan dan merusak nama baik keluarga kerajaan.”

Kata-kata itu seperti kilat yang menyambar Raden. Bagaimana mungkin ayahnya menyembunyikan sesuatu yang begitu penting? Semua keraguan tentang kemarau yang tak berakhir, tentang mengapa alam seolah marah pada kerajaan, kini mulai menemukan jawabannya. Dia harus kembali ke istana, harus bertanya pada ayahnya sendiri tentang kebenaran yang telah disembunyikan ini.

Namun Shinta Sari seolah membaca pikirannya. “Jangan terburu-buru kembali, Raden. Kamu perlu memahami seluruh cerita sebelum menghadapi ayahmu. Kesalahan yang dilakukan oleh Raden Jayawiguna bukan hanya tentang keserakahan – ia juga dibodohi oleh seseorang yang ingin mengambil alih kekuasaan kerajaan, seseorang yang melihat Batu Akar Raja bukan sebagai bukti kesetiaan melainkan sebagai alat untuk menguasai semua yang ada di bawah langit.”

Siapa orang itu? Raden ingin bertanya, namun sebelum itu, dia melihat bayangan hitam yang melintas cepat di balik pepohonan di kejauhan. Shinta Sari juga menyadari hal itu, dan wajahnya menjadi tegas.

“Kita tidak sendirian di sini,” bisiknya. “Ada yang mengikuti kita – seseorang yang tahu tentang perjalananmu dan ingin mengambil kekuatan Batu Akar Raja untuk dirinya sendiri. Kita harus pergi sekarang jika ingin sampai ke tempat yang aman dan melanjutkan cerita yang harus kamu ketahui.”

Dia mengajak Raden untuk mengikuti jejaknya menuju bagian dalam hutan yang lebih gelap, di mana sebuah gerbang tersembunyi di antara akar pohon raksasa yang saling terkait. Gerbang itu terbuat dari kayu yang sudah tua dan penuh dengan lumut, namun ketika Shinta Sari menyentuhnya dengan tangan yang penuh dengan cincin dari akar pohon, ia perlahan terbuka, mengungkapkan lorong gelap yang mengarah ke bawah tanah.

“Selamat datang, Raden Jayaningrat,” ujar Shinta Sari sambil memasuki lorong tersebut. “Ini adalah gerbang menuju Bumi Akar – dan tempat di mana kamu akan menemukan bahwa sejarah kerajaanmu jauh lebih kompleks dari yang pernah kamu bayangkan. Namun ingat – apa yang kamu pelajari di sana akan menjadi beban yang harus kamu pikul, sama seperti bagaimana akar pohon menopang berat batang dan daunnya.”

Raden mengambil napas dalam, menatap lorong gelap yang mengundangnya. Rahasia yang akan dia temukan mungkin akan mengubah segalanya – tentang dirinya, tentang kerajaan, dan tentang masa depan yang harus dia pimpin. Dengan tekad yang semakin kuat, dia mengikuti Shinta Sari ke dalam, meninggalkan cahaya hutan dan memasuki dunia bawah tanah yang penuh dengan misteri yang telah terlupakan selama berabad-abad.

--- AKHIR BAB 4 ---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Batu Akar Raja   BAB 26: KEKUATAN YANG DIAMBIKAN

    Cahaya keemasan dari Batu Akar Raja mengalir deras ke dalam tubuh Shinta Sari, menyatu dengan cahaya zamrud yang terpancar dari liontin di lehernya. Setiap serat energi yang masuk membuatnya merasakan getaran yang kuat, seolah-olah jiwa nenek moyangnya Dewi Shinta Kencana sedang menyatu dengan dirinya. Gambar-gambar masa lalu bergerak cepat di benaknya – perjuangan nenek moyangnya untuk melindungi perjanjian, kegoncangan ketika salah satu keturunan menyimpang, dan harapan yang tertanam dalam setiap generasi untuk menyelesaikan misi yang belum selesai.Di luar ruangan tengah Gunung Akar, suara pertempuran semakin ganas. Pasukan kerajaan Kala, yang dipimpin oleh para pembesar dengan wajah berselimut bayangan, telah berhasil menembus sebagian benteng luar Bumi Akar. Serangan sihir hitam menyambar ke segala arah, menghancurkan rerumputan hijau yang tadinya subur dan membuat tanah bergetar. Pasukan Bumi Akar dan pasukan kerajaan Mataram yang datang untuk membantu berjuang dengan gigih, nam

  • Batu Akar Raja   BAB 25: RAHASIA DARI MASA LALU

    Suara gemuruh dari pertempuran di luar gerbang semakin nyaring, namun di dalam lorong Gunung Akar, seolah ada kain penghalang yang memisahkan dunia luar dengan keheningan yang mengelilingi mereka. Dinding lorong yang dihiasi gambar-gambar sejarah memancarkan cahaya lunak emas, memperlihatkan momen-momen penting dari hubungan antara kerajaan Mataram dan Bumi Akar pada abad kelima Masehi. Ratu Akarwati berhenti di depan salah satu ukiran yang menggambarkan seorang wanita muda dengan rambut hitam bergelombang dan mata zamrud yang sama dengan Shinta Sari, berdiri bersanding dengan Ratu Dewi Jayasari dan Raja Jayaputra.“Lihatlah, Dewi Shinta Sari,” ujar Ratu Akarwati dengan suara yang penuh dengan emosi. “Ukiran ini menggambarkan Dewi Jayasari, nenek moyangku, dan putri tunggalnya – Dewi Shinta Kencana, yang telah dijadikan sebagai jembatan antara dunia atas dan bawah tanah dengan cara yang tak terduga.”Shinta Sari mendekat perlahan, matanya terpaku pada ukiran tersebut. Di dalam gambar,

  • Batu Akar Raja   BAB 24: PERTEMUAN DENGAN RATU BUMI AKAR

    Cahaya dari Gunung Akar menyilaukan mata saat pertempuran antar Raden dengan Patih Prabu Kala siap meletus. Namun sebelum sihir hitam dari tangan Patih Kala bisa menyentuh tanah, sebuah tirai cahaya hijau keemasan muncul dengan tiba-tiba di antara kedua pihak, membentang luas seperti dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Suara gemuruh lembut seperti getaran akar pohon menggema ke seluruh medan, dan angin yang membawa aroma bunga langka Bumi Akar mulai berhembus lembut.“Patih Prabu Kala,” suara yang tenang namun penuh dengan kekuasaan terdengar dari balik tirai cahaya. “Kekuatanmu tidak akan bisa menyentuh mereka di medan yang telah menjadi saksi janji kuno. Kau telah melanggar batas antara dunia atas dan bawah tanah dengan membawa kekerasan ke wilayah Bumi Akar – hukuman akan menimpamu jika kau terus berusaha menerobos.”Patih Kala mencoba menerobos tirai cahaya dengan serangan sihir hitamnya, namun energi tersebut hanya terpantul kembali dan membuatnya terjatuh beberapa langk

  • Batu Akar Raja   BAB 23: UJIAN KEBENARAN HATI

    Sinar keemasan dari buku-buku kuno dan prasasti batu menerangi ruangan bawah tanah yang masih utuh di bawah reruntuhan istana Kota Batu Akar yang Hilang. Kelompok beristirahat sambil mempelajari catatan-catatan kuno tersebut, sementara suara nyanyian sihir hitam dari kejauhan semakin jelas – Patih Prabu Kala dan pasukannya sudah memasuki kawasan kota, menghancurkan reruntuhan yang menghalangi jalur mereka dengan kekuatan sihir yang kasar dan tidak mengenal batas.“Informasi di buku ini menjelaskan bahwa sebelum mencapai Gunung Akar, setiap calon pemegang Batu Akar Raja harus melalui tiga tahap ujian yang terletak di jalur utama menuju gunung,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil menunjuk pada sebuah halaman yang dihiasi dengan gambar pola akar yang saling terjalin. “Ujian ini tidak menguji seberapa kuat kamu secara fisik, Raden, melainkan seberapa dalam kamu memahami makna dari perjanjian kuno dan seberapa tulus hatimu untuk menjaga keseimbangan alam.”Raden mendekat dan melihat gambar-gamb

  • Batu Akar Raja   BAB 22: KOTA BATU AKAR YANG HILANG

    Langkah kaki kelompok semakin mantap saat menjauhi Taman Pertumbuhan Akar, dengan cahaya dari Batu Akar Raja menerangi jalan yang kini tampak lebih jelas di antara reruntuhan akar dan batu yang mengelilingi lorong bawah tanah. Suara langkah kaki besar dan nyanyian sihir hitam dari kejauhan masih terdengar, namun kini mereka bisa merasakan bahwa getaran energi dari sumber tersebut bukan hanya ancaman – melainkan juga sebuah panggilan untuk menghadapi kesalahan masa lalu yang telah menyebabkan kehancuran.“Jarak ke Kota Batu Akar yang Hilang semakin dekat,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil mengamati pola cahaya yang menyala di langit bawah tanah. Cahaya keperakan yang mereka lihat sebelumnya kini semakin jelas, membentuk kontur puncak bangunan yang tampak megah meskipun sudah terlupakan. “Kita akan segera tiba di tempat di mana perjanjian kuno antara manusia dan alam hampir hancur karena keserakahan yang tidak terkendali.”Raden menatap ke arah cahaya tersebut, merasakan bagaimana tanda ak

  • Batu Akar Raja   BAB 21: PELAJARAN TENTANG PERTUMBUHAN

    Guncangan dari bawah tanah semakin kuat, dan nyala api sihir hitam yang mengikuti jejak mereka mulai menjilat ujung-ujung akar pohon yang menyilang lorong baru yang dibuka Ki Ageng Akarwana. Cahaya dari Batu Akar Raja di tangan Raden menyala lebih terang untuk menerangi jalan yang licin dan penuh dengan reruntuhan batu yang terus bergeser seiring dengan gemuruh yang menggema.“Kita perlu berhenti sebentar di tempat yang aman!” teriak Shinta Sari sambil mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Matanya yang terpapar cahaya hijau dari gelangnya menangkap sinyal energi yang tenang di seberang sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan dengan akar yang menjalar seperti tali yang terjalin rapi. “Di sana – Taman Pertumbuhan Akar yang pernah kubicarakan. Hanya ada di sini saat alam merasa kita membutuhkan pelajaran tentang kekuatan yang sebenarnya.”Ki Ageng Akarwana mengangguk dan mengarahkan tongkatnya ke arah lembah tersebut. “Benar sekali, putri. Kita tidak bisa melanjutkan perja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status