/ Fantasi / Batu Akar Raja / BAB 5: RAHASIA RAJA YANG DISEMBUNYIKAN

공유

BAB 5: RAHASIA RAJA YANG DISEMBUNYIKAN

작가: sayang ibu
last update 게시일: 2026-03-25 17:45:38

Lorong gelap yang mengarah dari gerbang hutan segera menyambut Raden dan Shinta Sari dengan kesunyian yang dalam, hanya dipecahkan oleh suara langkah mereka yang menginjak tanah liat lembap dan suara tetesan air yang jatuh dari atas. Namun sebelum mereka bisa melangkah jauh, Shinta Sari menghentikannya dengan gerakan tangan yang lembut.

“Kita tidak bisa masuk ke Bumi Akar sekarang,” ujarnya dengan suara rendah, mata mengamati balik ke arah hutan yang mereka tinggalkan. “Bayangan itu sudah tahu kamu kembali ke istana. Kita harus memastikan kamu aman terlebih dahulu sebelum melanjutkan cerita yang harus kamu ketahui.”

Raden mengangguk, meskipun hatinya masih berdebar kencang karena berita tentang paman ayahnya yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Tanpa banyak bicara, Shinta Sari membimbingnya melalui jalur alternatif yang lebih sempit dan tersembunyi, keluar dari hutan dan menuju arah istana yang terletak di puncak bukit. Saat mereka semakin dekat, keadaan kerajaan yang parah semakin terlihat jelas – ladang-ladang yang tadinya hijau subur kini berubah menjadi hamparan tanah kering yang retak-retak, rakyat berkumpul di depan gerbang istana dengan wajah penuh keprihatinan, dan awan kemarau yang tebal tampak mengelilingi langit di atas benteng kerajaan.

“Kamu harus berbicara dengan ayahmu sendirian,” kata Shinta Sari saat mereka berada di balik pagar belakang istana. “Saya akan menunggu di sini, di balik pohon jambu air yang kamu kenal. Jika ada bahaya, kamu hanya perlu menyentuh batang pohon tersebut – saya akan merasakannya.”

Tanpa menunggu jawaban, dia menghilang ke balik semak-semak dengan kecepatan yang luar biasa, seolah menjadi satu dengan alam sekitarnya. Raden mengambil napas dalam, menyusuri koridor belakang yang jarang digunakan hingga sampai di kamar kerja Raja Jayawardhana – sebuah ruangan yang penuh dengan buku kuno, peta kerajaan, dan berbagai benda pusaka yang diturunkan dari leluhur.

Raja Jayawardhana sedang duduk di belakang meja besar yang terbuat dari kayu mahoni tua, memandangi peta tanah air yang dilukis dengan detail di atas meja. Rambutnya yang beruban tampak lebih banyak dari biasanya, dan kerutan di dahinya menunjukkan betapa beratnya beban yang dia pikul. Ketika dia menyadari kehadiran Raden, matanya yang biasanya tegas menjadi lembut namun juga penuh dengan kekhawatiran.

“Jayaningrat,” ujarnya dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Saya sudah tahu kamu pergi ke Hutan Wonomulyo. Patih Kala melaporkan bahwa ada orang yang melihatmu memasuki kawasan terlarang.”

Raden merasakan darahnya membara. “Dan Mengapa Yang Mulia tidak menghalangi saya? Atau setidaknya memberi tahu saya tentang apa yang ada di sana – tentang Shinta Sari, tentang Bumi Akar, dan tentang paman saya yang bernama Jayawiguna!”

Kata-kata itu seperti batu yang dilempar ke dalam kolam yang tenang. Raja Jayawardhana menutup matanya sejenak, kemudian menggeser kursinya dan menunjukkan kursi di hadapannya. “Duduklah, anakku. Sepertinya sudah saatnya cerita yang telah disembunyikan selama berabad-abad harus terungkap.”

Raden duduk dengan hati yang penuh keraguan, menyaksikan ayahnya mengambil sebuah kotak kayu kecil yang terkunci dari dalam lemari rahasia di belakangnya. Kotak tersebut dihiasi dengan ukiran pola akar pohon yang sama dengan yang dia lihat dalam mimpi dan yang baru saja dia dengar dari Shinta Sari. Dengan hati-hati, raja membuka kunci kotak dan mengeluarkan selembar kain sutra tua yang sudah menguning akibat usia, di dalamnya terdapat sebuah potret kecil yang dibuat dari batu kapur yang diukir dengan indah – sebuah gambar batu kecil bersinar dengan cahaya hijau keemasan, diapit oleh dua naga yang saling melilit.

“Ini adalah Batu Akar Raja,” kata Raja Jayawardhana dengan nada yang penuh penghormatan. “Pusaka kerajaan yang telah ada sejak masa Raja Jayaputra mendirikan Mataram. Batu ini adalah jembatan antara dunia manusia dan alam – dengan kekuatannya, kita bisa menjaga kesuburan tanah, menyembuhkan penyakit, dan melindungi kerajaan dari bahaya. Namun dengan kekuatannya juga bisa datang kehancuran jika jatuh ke tangan yang salah.”

Dia menjelaskan bahwa seratus tahun yang lalu, Raden Jayawiguna – adiknya sendiri – menjadi sangat terpikat dengan kekuatan batu tersebut. Dia percaya bahwa dengan menguasai seluruh kekuatan Batu Akar Raja, kerajaan bisa menjadi tak terkalahkan dan menguasai seluruh wilayah Nusantara. Tanpa menghormati perjanjian dengan Bumi Akar, dia mencoba mengambil batu secara sepihak pada malam hari yang tanpa bulan.

“Ketika dia menyentuh batu dengan niat yang salah,” lanjut Raja Jayawardhana, matanya melihat jauh ke masa lalu. “Kekuatan batu yang keluar bukanlah kekuatan kehidupan melainkan kehancuran. Pohon-pohon di sekitar istana mulai layu dalam sekejap, sungai-sungai mulai mengering, dan makhluk alam yang dulunya ramah menjadi marah dan menyerang warga. Dalam kekacauan itu, Batu Akar Raja menghilang tanpa jejak – dipercaya telah kembali ke Bumi Akar untuk melindungi dirinya sendiri.”

“Mengapa Anda menyembunyikannya dari saya dan rakyat, Yang Mulia?” tanya Raden dengan suara yang penuh rasa sakit. “Jika rakyat tahu kebenaran, mereka tidak akan meragukan pemerintahan Anda. Mereka akan mengerti bahwa kemarau yang kita alami bukanlah kutukan melainkan konsekuensi dari kesalahan masa lalu!”

Raja Jayawardhana menghela napas dalam. “Karena saya takut, anakku. Saya takut bahwa kebenaran akan membuat rakyat marah pada keluarga kerajaan, membuat mereka mudah diperdaya oleh orang-orang yang ingin mengambil alih kekuasaan. Dan saya takut bahwa kamu akan merasa harus membawa beban untuk memperbaiki kesalahan yang bukan milikmu.”

Sementara mereka sedang berbicara, suara teriakan tiba-tiba terdengar dari arah pelabuhan kerajaan. Kedua orang itu berdiri dengan cepat dan berlari ke teras istana, melihat sekelompok makhluk aneh yang sedang mendekat dari arah pantai – makhluk berbentuk manusia namun memiliki kulit kayu kasar dan rambut yang terbuat dari dedaunan kering, dengan mata yang menyala seperti bara api. Mereka bergerak dengan cepat, menghancurkan setiap bangunan yang mereka lewati dan membuat rakyat berlari menyelamatkan diri.

“Itu adalah Makhluk Hutan yang Marah,” bisik Raja Jayawardhana dengan wajah pucat. “Mereka datang sebagai balasan atas pelanggaran terhadap perjanjian. Saya sudah khawatir hal ini akan terjadi sejak saya mendengar bahwa kamu bertemu dengan penjaga Bumi Akar. Mereka merasakan bahwa kekuatan batu mulai muncul kembali di kerajaan.”

Raden merasakan getaran hangat dari dalam dirinya, seperti yang dia rasakan ketika bersama Shinta Sari. Dia melihat ke arah pohon jambu air di belakang istana dan melihat sosok wanita yang sedang mengamati kejadian dengan wajah tegas. Shinta Sari mengangguk perlahan kepadanya, seolah mengatakan bahwa waktunya telah tiba untuk menghadapi konsekuensi dari rahasia yang telah disembunyikan terlalu lama.

“Anakku,” ujar Raja Jayawardhana dengan menaruh tangannya di bahu Raden. “Saya telah menyembunyikan kebenaran untuk melindungi kerajaan, namun sekarang saya menyadari bahwa perlindungan semacam itu hanya akan membawa kehancuran lebih besar. Kamu adalah satu-satunya harapan kita – kamu memiliki darah leluhur yang bisa berkomunikasi dengan alam, yang bisa memperbaiki kesalahan masa lalu. Batu Akar Raja harus ditemukan kembali, namun kali ini harus dengan niat yang benar.”

Raden menatap ayahnya dengan mata yang kini penuh tekad. Dia tahu bahwa perjuangan yang akan dia hadapi tidak akan mudah – ada orang yang menginginkan kekuatan batu untuk kepentingan pribadi, ada konsekuensi dari kesalahan masa lalu yang harus dibayar, dan ada tanggung jawab besar yang harus dia pikul sebagai calon pemimpin kerajaan. Namun dengan dukungan ayahnya dan bantuan Shinta Sari, dia siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang.

Saat makhluk-makhluk itu semakin dekat dengan gerbang istana, suara gemuruh dari kaki mereka mengguncang tanah. Raden mengambil langkah maju, merasa kekuatan yang terkadung dalam dirinya mulai bangkit, siap untuk menghadapi ancaman yang akan mengubah takdir kerajaan selamanya.

--- AKHIR BAB 5 ---

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Batu Akar Raja   BAB 26: KEKUATAN YANG DIAMBIKAN

    Cahaya keemasan dari Batu Akar Raja mengalir deras ke dalam tubuh Shinta Sari, menyatu dengan cahaya zamrud yang terpancar dari liontin di lehernya. Setiap serat energi yang masuk membuatnya merasakan getaran yang kuat, seolah-olah jiwa nenek moyangnya Dewi Shinta Kencana sedang menyatu dengan dirinya. Gambar-gambar masa lalu bergerak cepat di benaknya – perjuangan nenek moyangnya untuk melindungi perjanjian, kegoncangan ketika salah satu keturunan menyimpang, dan harapan yang tertanam dalam setiap generasi untuk menyelesaikan misi yang belum selesai.Di luar ruangan tengah Gunung Akar, suara pertempuran semakin ganas. Pasukan kerajaan Kala, yang dipimpin oleh para pembesar dengan wajah berselimut bayangan, telah berhasil menembus sebagian benteng luar Bumi Akar. Serangan sihir hitam menyambar ke segala arah, menghancurkan rerumputan hijau yang tadinya subur dan membuat tanah bergetar. Pasukan Bumi Akar dan pasukan kerajaan Mataram yang datang untuk membantu berjuang dengan gigih, nam

  • Batu Akar Raja   BAB 25: RAHASIA DARI MASA LALU

    Suara gemuruh dari pertempuran di luar gerbang semakin nyaring, namun di dalam lorong Gunung Akar, seolah ada kain penghalang yang memisahkan dunia luar dengan keheningan yang mengelilingi mereka. Dinding lorong yang dihiasi gambar-gambar sejarah memancarkan cahaya lunak emas, memperlihatkan momen-momen penting dari hubungan antara kerajaan Mataram dan Bumi Akar pada abad kelima Masehi. Ratu Akarwati berhenti di depan salah satu ukiran yang menggambarkan seorang wanita muda dengan rambut hitam bergelombang dan mata zamrud yang sama dengan Shinta Sari, berdiri bersanding dengan Ratu Dewi Jayasari dan Raja Jayaputra.“Lihatlah, Dewi Shinta Sari,” ujar Ratu Akarwati dengan suara yang penuh dengan emosi. “Ukiran ini menggambarkan Dewi Jayasari, nenek moyangku, dan putri tunggalnya – Dewi Shinta Kencana, yang telah dijadikan sebagai jembatan antara dunia atas dan bawah tanah dengan cara yang tak terduga.”Shinta Sari mendekat perlahan, matanya terpaku pada ukiran tersebut. Di dalam gambar,

  • Batu Akar Raja   BAB 24: PERTEMUAN DENGAN RATU BUMI AKAR

    Cahaya dari Gunung Akar menyilaukan mata saat pertempuran antar Raden dengan Patih Prabu Kala siap meletus. Namun sebelum sihir hitam dari tangan Patih Kala bisa menyentuh tanah, sebuah tirai cahaya hijau keemasan muncul dengan tiba-tiba di antara kedua pihak, membentang luas seperti dinding tak terlihat yang memisahkan mereka. Suara gemuruh lembut seperti getaran akar pohon menggema ke seluruh medan, dan angin yang membawa aroma bunga langka Bumi Akar mulai berhembus lembut.“Patih Prabu Kala,” suara yang tenang namun penuh dengan kekuasaan terdengar dari balik tirai cahaya. “Kekuatanmu tidak akan bisa menyentuh mereka di medan yang telah menjadi saksi janji kuno. Kau telah melanggar batas antara dunia atas dan bawah tanah dengan membawa kekerasan ke wilayah Bumi Akar – hukuman akan menimpamu jika kau terus berusaha menerobos.”Patih Kala mencoba menerobos tirai cahaya dengan serangan sihir hitamnya, namun energi tersebut hanya terpantul kembali dan membuatnya terjatuh beberapa langk

  • Batu Akar Raja   BAB 23: UJIAN KEBENARAN HATI

    Sinar keemasan dari buku-buku kuno dan prasasti batu menerangi ruangan bawah tanah yang masih utuh di bawah reruntuhan istana Kota Batu Akar yang Hilang. Kelompok beristirahat sambil mempelajari catatan-catatan kuno tersebut, sementara suara nyanyian sihir hitam dari kejauhan semakin jelas – Patih Prabu Kala dan pasukannya sudah memasuki kawasan kota, menghancurkan reruntuhan yang menghalangi jalur mereka dengan kekuatan sihir yang kasar dan tidak mengenal batas.“Informasi di buku ini menjelaskan bahwa sebelum mencapai Gunung Akar, setiap calon pemegang Batu Akar Raja harus melalui tiga tahap ujian yang terletak di jalur utama menuju gunung,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil menunjuk pada sebuah halaman yang dihiasi dengan gambar pola akar yang saling terjalin. “Ujian ini tidak menguji seberapa kuat kamu secara fisik, Raden, melainkan seberapa dalam kamu memahami makna dari perjanjian kuno dan seberapa tulus hatimu untuk menjaga keseimbangan alam.”Raden mendekat dan melihat gambar-gamb

  • Batu Akar Raja   BAB 22: KOTA BATU AKAR YANG HILANG

    Langkah kaki kelompok semakin mantap saat menjauhi Taman Pertumbuhan Akar, dengan cahaya dari Batu Akar Raja menerangi jalan yang kini tampak lebih jelas di antara reruntuhan akar dan batu yang mengelilingi lorong bawah tanah. Suara langkah kaki besar dan nyanyian sihir hitam dari kejauhan masih terdengar, namun kini mereka bisa merasakan bahwa getaran energi dari sumber tersebut bukan hanya ancaman – melainkan juga sebuah panggilan untuk menghadapi kesalahan masa lalu yang telah menyebabkan kehancuran.“Jarak ke Kota Batu Akar yang Hilang semakin dekat,” ujar Ki Ageng Akarwana sambil mengamati pola cahaya yang menyala di langit bawah tanah. Cahaya keperakan yang mereka lihat sebelumnya kini semakin jelas, membentuk kontur puncak bangunan yang tampak megah meskipun sudah terlupakan. “Kita akan segera tiba di tempat di mana perjanjian kuno antara manusia dan alam hampir hancur karena keserakahan yang tidak terkendali.”Raden menatap ke arah cahaya tersebut, merasakan bagaimana tanda ak

  • Batu Akar Raja   BAB 21: PELAJARAN TENTANG PERTUMBUHAN

    Guncangan dari bawah tanah semakin kuat, dan nyala api sihir hitam yang mengikuti jejak mereka mulai menjilat ujung-ujung akar pohon yang menyilang lorong baru yang dibuka Ki Ageng Akarwana. Cahaya dari Batu Akar Raja di tangan Raden menyala lebih terang untuk menerangi jalan yang licin dan penuh dengan reruntuhan batu yang terus bergeser seiring dengan gemuruh yang menggema.“Kita perlu berhenti sebentar di tempat yang aman!” teriak Shinta Sari sambil mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Matanya yang terpapar cahaya hijau dari gelangnya menangkap sinyal energi yang tenang di seberang sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh pepohonan dengan akar yang menjalar seperti tali yang terjalin rapi. “Di sana – Taman Pertumbuhan Akar yang pernah kubicarakan. Hanya ada di sini saat alam merasa kita membutuhkan pelajaran tentang kekuatan yang sebenarnya.”Ki Ageng Akarwana mengangguk dan mengarahkan tongkatnya ke arah lembah tersebut. “Benar sekali, putri. Kita tidak bisa melanjutkan perja

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status