LOGIN“Apa mereka baru saja bertengkar?” tanya Sandro.
“Tapi Teo bukan orang yang suka ngajak duluan!” sangkal Dion. Tangan Rian mengusap wajahnya. “Bukankah tadi Kapten bilang kalau kita tidak boleh merundungnya?” “Aku yakin pasti anak baru itu yang mencari masalah lebih dulu sama Teo!” dengus Sandro yang terlihat kesal. Sementara mereka berkerumun di luar tiba-tiba pintu kamar terbuka. Teo keluar lalu menutup pintu kamar, sedangkan Bayu“Untung saja aku bawa kamu masuk, aku tahu pasti tadi kamu mau duduk di sana dan nonton kan? Tapi aku yakin kamu nggak tertarik sama bola jadi pasti nggak enak juga cuma duduk aja.”Mendengar suara Teo di bawah ranjangnya membuat Bayu mengangguk karena apa yang dikatakan itu benar.“Iya juga, aku memang tidak terlalu mengerti apapun tentang bola. Jadi ….” “Heum, itu dia kamu pasti akan nggak enakan di sana. Makanya aku dorong kamu masuk,” sahut Teo.Bayu tidak lagi berbicara karena ia mulai memejamkan matanya bersiap untuk segera tidur. Begitu juga dengan Teo yang tidak lagi bersuara melainkan kini hanya suara dengkurannya yang terdengar.Malam berlalu … dan esok harinya Bayu berada diluar. Hari ini mereka tidak ada misi yang harus dijalankan.Di sore hari Bayu masih berada di luar bersama Teo. Mereka habis berjalan-jalan di sekitaran mall karena Teo lebih dulu mengajak Bayu.“Jadi apa tidak ada yang ingin kamu makan?”
“Jadi kamu curiga kemungkinan dia ada di sana?” Alex memajukan tubuhnya ke depan agak sedikit condong dengan tangan yang bertumpu di pahanya.“Itu benar, awalnya aku berpikir jika mereka tidak ditemukan di kawasan pemukiman peisir pantai. Bukankah ada kemungkinan penculik itu membawa korban sampai ke pulau terpencil itu? Belum lagi tempat itu sangat mendukung aksi kejahatannya,” jelas Bayu.Sambil memegang dagunya Alex mengangguk setuju. “Tapi bukankah ada kemungkinan juga mereka tidak akan kamu temukan di sana? Apa kamu bertindak mengikuti naluri?”Pandangan Lex masih menatap lekat Bayu. Ia mendengarkan setiap penjelasannya dengan seksama.“Ya, itu tentu saja. Aku mengikuti naluri karena bisa saja dia membawanya ke sana dan lagi jika tidak ada. Toh, tidak ada ruginya jika hanya mencari di sana jika tidak ada maka bisa cari di tempat lain.”Kemudian Bayu kembali berbicara, “Tadinya aku berniat pergi ke sana sendirian dan meminta Joni untu
Dian balas memeluk ayahnya. “Ya aku rasa ini memang salah ayah. Tapi bukan karena waspada.” Tiba-tiba Dian melepaskan pelukan sang ayah. “Itu karena kesalahan yang pernah ayah ambil di masa lalu!” Rudi mengerutkan alis, ia sama sekali tidak mengerti apa maksud putrinya. “Kesalahan-kesalahan di masa lalu?”“Benar karena kesalahan itu aku jadi menimpaku sekarang. Apa ayah ingat Danang? Dia mantan supir ayah kan?”“Itu benar, dan dia yang sudah menculikmu!” Kedua tangan Rudi mengepal, pandangannya yang tadinya lebur kini mengeras saat nama Danang diucapkan.“Itu karena ayah memanfaatkannya dengan melimpahkan kesalahan kak Erwin yang telah menabrak seseorang hingga tewas. Tapi ayah malah melimpahkan kesalahan itu pada Pak Danang!”Saat itulah Rudi akhirnya menyadari kesalahan besar yang pernah dilakukannya dulu. Karena kesalahan itu putrinya nyaris jadi korban balas dendam terhadap dirinya.“Ya … kamu benar itu a
Teo ikut duduk di bagian sampingnya. “Jadi, anda adalah Nona Wijaya?”“Iya, aku Dian Wijaya. Terima kasih sudah datang ke sini untuk menyelamatkanku,” jawab Dian.“Ya … sama-sama, tapi ini sudah menjadi tugas kami semua. Ayah Nona yang menyewa jasa kami jadi itulah mengapa kamu semua ada di sini.”Meski mendengar itu, wajah Dian tidak berubah ia tetap senang. “Aku tetap saja akan berterima kasih. Karena tidak semua orang bisa menemukanku. Ternyata ayah sangat khawatir, aku benar-benar sudah membuat banyak orang bersusah payah.”Dian terlihat begitu pengertian dan bahkan sangat rendah hati. Padahal ia bisa saja memarahi mereka semua karena tidak menyelamatkannya secepatnya. Tapi di ternyata dia sangat berbudi luhur tidak seperti nona muda kaya yang lainnya.“Eh, Sandro dan Rian naik speedboat?” tanya Dion yang sedang mengemudikan perahu.“Iya, mereka pergi berdua duluan,” sahut Joni.“Pantesan, Sandro tiba-tiba nggak ada.
“Jangan bergerak atau aku akan menembakmu!” tekan Bayu saat situasi mulai berbalik menguntungkannya.Tidak ada pilihan lain Danang langsung terdiam membeku. “Lepaskan pisau di tanganmu itu sekarang juga. Atau nanti kamu mau aku yang paksa lepas beserta tangan-tanganmu?!”Danang menatap ujung pistol yang diarahkan ke arahnya. Setiap kali suara pelatuk yang seakan ditarik membuat jantungnya terasa hampir mau copot.“Bayu, cepat tangani dia!” Joni melepaskan ikatan, dan penutup mulut hingga dengan sigap langsung mengamankannya korban.Wanita itu berdiri di dengan memegang punggung Joni dan bersembunyi di baliknya. Dengan tangan yang masih terasa dingin saat tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.Pisau dijatuhkan oleh Danang lalu setelah itu barulah Bayu lari mendekat dan memukul wajah Danang.Bugh!Dengan kekuatan penuh Bayu memukulnya dibagian titik lemah hingga Danang mulai kehilangan keseimbangan.Bu
Maka dari itu Bayu mendekatkan telinganya dengan menempelkan di dinding gubuk. “Hmph … hmph! Hhhh!” Suara seorang wanita yang sedang ditutup paksa mulutnya sedang berusaha untuk berteriak. “Diam, jangan berisik! Kalau berisik pun percuma. Kamu tahukan kita di mana? Tidak mungkin ada yang mau nolongin kamu!” bentak suara pria. Plak! Suara tamparan terdengar, hingga suara piring yang digeserkan ke arahnya. “Jika aku membukakan penutup mulutmu sebaiknya kamu diam. Jika tidak, kamu tidak akan bisa makan dan aku juga tidak akan memberimu minum lagi. Mengerti!” Lagi-lagi suara bentakan dari dalam terdengar. Bayu merasa semakin geram, rahangnya mulai mengeras, serta kedua tangannya mengepal di kedua sisi. Namun, karena tidak tahu kondisi seperti apa yang terjadi di dalam. Bayu semakin tidak sabar untuk menerobos masuk. Akan tetapi, ia tidak bisa terburu-buru membuka pintu. Sebaliknya B







