LOGINSementara di dapur ada jendela kecil untuk melihat view belakang rumah Bayu membuka dan udara luar langsung masuk dan karena langit gelap jadi pemandangan tidak terlihat jelas.Bayu pun kembali menutup jendela lalu menyalakan api kompor. Barulah setelah itu panci juga diletakkan di atas kompor. Begitupun Joni di sampingnya ia memasak menggunakan kompor yang ada di sebelah tempat Bayu.Sambil menunggu mendisih mereka menatap panci masing-masing dengan suntuk.“Hoaam … jadi malah ngantuk gini ya, Bay!” Joni menutup mulutnya dengan tangan.Bayu mengangguk dengan matanya yang mulai merasakan hal yang sama.“Iya nih, buset jam segini di sini kita malah udah ngantuk aja.” Blubuk-blubuk!Suara didihan air di panci sudah mulai terdengar. Sedangkan Bayu dan Joni buru-buru mendekat kembali ke arah kompor. Mereka memasukkan mis bersama-sama ke dalam panci. Lalu Bayu segeravmengambil tiga mangkuk mie lalu menuangkan bumbu
“Teo, mau dibukain juga nggak jendelanya? Biar angin segarnya masuk ke dalam. Lihat itu Bayu excited banget!” “Haah … nggak ah! Aku nggak mau soalnya udah bosen,” tolak Teo mentah-mentah kemudian ia pun hanya bersandar sambil memejamkan matanya seolah sedang tertidur.Melihat reaksi Teo, Joni hanya bergeleng kepala. “Hedeh, bocah ini benar-benar nggak ada semangatnya sama sekali!” Tapi Joni ingin mereka semua tetap menikmati perjalanan lebih menyenangkan. Meski ini hanya sebuah perjalanan untuk menyelesaikan misi saja.Jadi untuk merubah suasana jadi lebih menyenangkan walau sesaat, Joni akhirnya mematikan pendingin ruangan lalu membuka jendela di bagian Teo dan juga dirinya karena di bagian Bayu sudah terbuka.Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah Teo langsung membuatnya membuka mata, rasa segar dengan bau khas dari tanaman padi tercium terasa lebih segar. Matanya seketika semakin terbuka lebar sambil merasakan hembusan angin dan aroma
“Iya nanti kalian tunggu saja informasi dari kami,” jawab Dion.Mereka bertiga pun akhirnya berangkat sedangkan Teo, Bayu, dan Joni masih di ruang tamu.“Semoga perjalanan mereka aman sampai tujuan.” Joni kembali duduk ke sofa sambil menghela nafas panjang.“Misi kali ini kita benar-benar akan pergi ke desa tapi itu adalah desa terpencil. Apa nggak salah kita terima mosi ini?” Teo melihat kenarah Joni.“Ya lagian kan, Sandro udah terima misi kali ini kita pergi ke sana. Aku yakin dia tertarik setelah mendengar gadis desa itu yang cantik-cantik.” Joni melirik Bayu. “Aku yakin gadis-gadis itu akan terpikat pada Bayu. Wajah tampannya pasti memukailu banyak gadis.”“Aku sih nggak keberatan kalo mereka tertarik.” Bayu mulai terkekeh pelan. “Tapi itupun kalau kita sempat, aku rasa misi kali ini akan cukup menyibukkan.” “Benar juga. Ah … baru juga kita mau senang-senang di sana.” Suara nafas Joni kembali terdengar gusar.
“Ah … pantasan. Terus kamu mau bawa aku ke mana?” Mila mengikuti Bayu keluar dari mobil lalu kembali masuk ke pintu depan.Dengan menyesuaikan tempat duduk dengan Bayu yang siap menyetir, Mila memegang lengan Bayu lali bersandar di sana.“Oh iya, tadi kamu bertanya aku akan membawamu kemana kan?” tanya Bayu saat mobil sudah mulai melaju di jalanan.“Eung … jadi kemana?”“Aku akan membawamu ke tempat kos Rara untuk sementara ini. Apa kamu keberatan tinggal di sana untuk sementara ini?”“Tapi emang Rara nggak keberatan?” Mila terlihat gelisah.“Aku sudah mengirim pesan padanya tadi. Dia juga sudah membalas pesannya, katanya tidak apa-apa dia suruh datang saja. Tenang jangan khawatir hanya untuk malam ini karena ibu kos sudah tidur jam segini. Jadi besok kamu bisa sewa kamar untuk sebulan.”Mila mengangguk tapi wajahnya masih terlihat gelisah. Bayu yang melihat itu pun mencoba untuk bertanya,“Apa yang sedang kamu
Sambil mengatakan, “Aku baik-baik saja sekarang karena kamu ada di sini!” Mila tanpa ragu mulai mencium bibir Bayu ia mengecupnya dengan lembut. Namun, perlahan mulai melumat dan memasukkan lidahnya. Sedangkan Bayu malah ikut larut dalam hasrat yang membara, ia tidak bisa menahan tekanan membara yang dilakukan oleh Mila terhadapnya.Perlahan-lahan Bayu ikut meraba-raba tubuh Mila, di setiap lekukannya hingga berhenti di buah dada. Di sana Bayu meremasnya dengan penuh nafsu hingga membuat Mila basah di bawah sana.“Bayu aku …!” Tatapan Mila penuh gairah meski sesekali cahaya kendaraan yang melewati gang masuk sedikit tapi tidak membuatnya terganggu. Dengan nafas yang memburu keduanya benar-benar terjebak dalam gelora hasrat penuh nafsu. Di saat tangan Bayu mulai turun dan mengangkat rok mini yang dipakai Mila langsung membuatnya merasakan basah dan becek. Di ujung jarinya terasa licik membuat jemari Bayu bisa masuk dengan mudah ke dalam
Awalnya Mila menolak. Mengingat kalau ibunya yang sakit dan harus dirawat tetapi Riska bilang kalau dengan bekerja dengannya ia akan memberikan uang pinjaman untuk biaya berobat ibunya.Lalu jika sudah bekerja dengannya nanti bisa sambil cicil lalu sisanya bisa dikirim ke kampung karena biaya makan sudah ditanggung.Sekilas hal itu terdengar menggiurkan dan sangat membuat tertarik. Bahkan Mila sendiri mulai setuju mendengar apa yang dikatakan oleh Riska.Tanpa berpikir panjang Mila pun bertanya, “Lalu aku akan bekerja sebagai apa di sana?” “Hanya melayani pengunjung saja kok, aku selalu punya banyak tamu jadi kamu hanya perlu menemaninya saja untuk mengobrol.” Mendengar itu Mika setuju-setuju saja dengan wajah senang. Setelah itu Riska memberikan sejumlah uang yang dipinjamkan untuk berobat ibunya—Mila.Namun pekerjaan itu terdengar sangat mudah untuk dikerjakan. Mila sama sekali tidak berpikir kalau itu akan menjadi bencana besar d







